Electone Sinting
Electone atau yang umum di sebut dengan organ tunggal merupakan alat musik sejenis keyboard yang di mainkan untuk acara hiburan tertentu sebagai pengganti alat band penuh. Karena, hanya dengan 1 alat ini, bisa menghasilkan suara dari berbagai alat musik yang di inginkan. Sebenarnya sih, electone itu merupakan salah satu jenis produk yamaha, tapi berhubung keyboard pada umumnya yang di gunakan untuk acara kondangan dan sejenisnya di sebut electone oleh kebanyakan orang, gw juga ikut-ikutan deh *senengnya kok ngikut* he2. Memainkannya cukup mudah, karena dapat di mainkan dengan memutarkan file musik dalam format midi dari flasdisk ataupun disket untuk electone jaman baheula.
”Salah satu hal yang membuat gw mau nggak mau harus mempelajari organ tunggal beserta pengaplikasiannya, adalah undangan mengisi untuk acara yang di adakan oleh salah satu perusahaan. Yang tak lain, adalah customer dari perusahaan tempat gw mengais sesuap nasi. Katanya, mereka akan mendatangkan istri-istri karyawan, guna memberikan gambaran tentang kondisi lingkungan kerja para suami-suaminya yang berprofesi sebagai pekerja tambang.
Gw nggak tau, kenapa kok tiba-tiba di undang. Padahal, gw nggak pintar memainkan electone. Awalnya, gw menolak dengan memberi penjelasan, ”maaf pak, saya nggak mampu dan nggak bisa memainkannya, lebih-lebih menyanyi. Bisa-bisa pada mual mendengarkannya”. Tapi, mereka tetap kekeuh, ”sebisanya aja lah mas, bukan acara resmi juga, yang penting ada hiburan. Dan kami yakin, kamu bisa memainkannya”. Setelah beliau mengatakan itu, tiba-tiba di keluarkannya amplop berisikan 1 juta rupiah. Hahhh!!! Di bayar mahal pula??? Yaelah, si bapak, kok yakin amat sih.
Gw masih ragu. Tapi, di satu sisi, gw lagi butuh duit tambahan. Karena ada sesuatu hal yang harus gw penuhi, tapi duitnya kurang. Yah, akhirnya gw mengiyakan juga. Toh, masih punya waktu kurang lebih 1 minggu. Jadi masih bisa mempersiapkan dan mempelajari segala sesuatunya. Amplop itu pun gw terima dengan beban dan tanggung jawab yang di percayakan sama gw.
Setelah tawaran di terima, gw baru ingat, ”loh, gw kan nggak punya electone”. Wedeww, cari pinjaman dimana nih, mana duit sudah di tangan. Gw ingat-ingat, siapa yang punya electone yang bisa di pinjam. Oh ya!!! Electone kantor. Huhuyyy, bisa di manfaatkan tuh. Ujar gw dalam hati, sambil senyum-senyum nggak jelas. Sore pulang kerja, gw ke studio kantor, memastikan electone-nya masih bisa di pake atau nggak, bisa untuk ngisi acara atau nggak *benar-benar nggak modal*
Begitu di cek, gw sedikit nggak percaya, ”gila, masih pake disket, bukan flashdisk”. Kok jaman canggih kayak sekarang, masih ada mahluk yang menggunakan disket. Emang masih ada yang jual disket gitu??? Gw minta tolong teman sana sini untuk mencarikannya. Tapi nggak ada yang bisa memenuhi permintaan temennya yang paling ganteng ini. Pikiran gw jadi kacau.
Esok harinya, saat gw kembali bekerja, masih kepikiran, bagaimana mendapatkan barang langka yang bernama disket itu. Pas makan siang, gw iseng ke ruangan tetangga kantor. Eh, dia lagi beres-beres lemari, mau membuang barang-barang yang nggak terpakai lagi. Ajaib!!! Dari tumpukan barang-barang nggak terpakai tersebut, terpampang rapi 5 kotak atau 5 lusin disket dalam bungkusannya. Gw ngeliat disket, serasa ngeliat Sandra Dewi habis mandi dengan pakaian minim dan rambut sedikit basah, *rejeki memang tak kemana* hi hi hi…
Pas hari H, tepatnya hari Minggu, gw datang paling awal di tempat yang telah di tentukan. Gw hanya membawa electone pinjaman saja, sound system dan perlengkapan lainnya di sediakan oleh panitia. Tak lama kemudian, istri-istri pekerja tambang pada datang. Lumayan rame, karena mereka membawa anak-anaknya juga. Panitia menginstruksikan gw memainkan musiknya, sebagai pengiring kedatangan para ibu-ibu. Baru beberapa lagu, tiba-tiba beberapa anak kecil langsung kedepan menghampiri gw *gila, sampe anak kecil aja naksir yah* he2…
”om om, minta nyanyiin lagunya wali yah, yang cari jodoh”, kata mereka dengan manja. Kok manggilnya om sih? Kan ABG, masih 18 tahun kurang 2 hari. Lagian, kok lagunya yang itu? Kalian nyindir yah? Tau aja, kalo gw nggak laku-laku. Eh, mereka malah cekikikan. Yaudah, mau nggak mau, gw nyanyiin. Mereka bukannya kembali ke tempat masing-masing, malah ikutan nyanyi. Dan justru mereka lebih hafal liriknya, ketimbang gw. Anak kecil kok, hafal banget ma lagu orang dewasa yah. Apa karena minimnya lagu anak-anak saat ini? *geleng-geleng*


”Ibu-ibu, bapak-bapak, siapa yang punya anak bilang aku, aku yang tengah malu sama teman-temanku, karena Cuma diriku yang tak laku-laku”. Potongan lirik lagu wali tersebut, bikin gw jadi gimana gitu. ”om om, satu lagi, lagunya ungu, hampa hatiku”. Jiaahhh, ni anak-anak sengaja ngerjain gw deh kayaknya. Ujar gw dalam hati. Masa minta lagunya, yang kayak gitu mulu. Ampuuunn deh. Untung aja file lagu tersebut ada. Kalo nggak, mau di taruh dimana muka gw yang ganteng ini!!!
Akhirnya panitia memulai acara inti. Dan gw istrahat, serta terbebas dari siksaan anak kecil *nyengir onta*. Gw main lagi pas jam istrahat sama coffee time aja. Menjelang acara selasai, sekitar jam 2 siang, salah satu ibu-ibu menghampiri gw dan berkata “Mas, bisa ngisi acara kondangan juga nggak?”. What!!! Nanya apa ngejek nih. “ Maaf bu, ini aja cuman iseng, bukan karena saya bisa”, kata gw. Si ibunya tertawa dan pergi dengan mengucapkan kata terimakasih. Bujubusyeet, gw di kira pemain organ tunggal beneran, yang biasa mengisi acara kondangan. Beliau nggak tau kalo gw benar-benar mutarin file midi yang tersimpan di disket. Tanpa di sentuh pun, tetap bunyi dan musiknya tetap jalan. Tinggal ngatur transpose sama tempo sesuai dengan kemampuan suara. Anak kecil yang masih netek aja bisa kok *lebay*.
Setelah seharian mengisi acara, badan terasa capek. Ternyata nyanyi dalam waktu yang lama, benar-benar menguras tenaga. Apalagi suaranya serak-serak becek *nggak nyambung*. Mana besoknya harus masuk kerja lagi. Tapi, gw cukup puas, bisa memberikan sedikit hiburan terhadap ibu-ibu beserta anak-anak kecil yang telah ngerjain gw secara tidak langsung. Walaupun gw mengorbankan waktu libur yang cuman bentar.
Namun, satu hal yang gw syukuri adalah rejeki yang begitu mudahnya. Hanya mengisi acara seperti itu, gw dapat bayaran di saat gw sedang membutuhkan duit tambahan. Gw juga belajar bahwa ”Jangan pernah terpaku pada waktu dan kondisi yang terbatas. Sebab hal itu akan mendatangkan kesusahan”. Jadi, tak ada gunanya juga merasa terhimpit oleh waktu, keadaan, atau apapun itu. Karena yang namanya keadaan pasti akan berubah, selama kita mau menanti kemudahan dengan sabar sambil berusaha dan berdo’a. Apalagi dengan roda kehidupan yang terus berputar. Setelah lapar akan ada kenyang, setelah begadang ada tidur lelap, di setiap kegelapanpun akan terang benderang. Begitu juga dengan kesulitan, pasti akan ada kemudahan setelahnya.
119 comments so far
Leave a reply