Sinting masuk kelas? Gw jadi teringat Abri Masuk Desa. Tapi, tak apalah. Daripada Abri Masuk Angin. *apa sih*. Sinting masuk kelas, hanyalah sekedar cerita tentang gw yang ikut training awal tahun kemarin. Seperti biasa, kelakuan gw tetap aja kumat. Walaupun dalam kelas dan dengan orang-orang yang baru gw temui. Training di adakan di daerah Cileungsi. Jl. Narogong. Daerah industri yang jalanannya penuh dengan truk-truk raksasa, perusak jalan. Asli, jalanannya gak banget deh. Gak ada hiburan pula. *dohhh*.
Training berlangsung selama 5 hari. Dari tanggal 4 january sampe tanggal 9 january 2010. Judulnya SHE TOT training gitu. Sebenarnya training seperti itu, gak cocok buat mahluk seperti gw yang ketidakjelasannya melebihi nilai ambang kewajaran. Bayangin, TOT itu kan Training of Trainer. Sedangkan SHE adalah Safety, Health and Environment. Gak salah, gw jadi pengajar??? Apalagi yang harus di ajarkan, masalah yang berhubungan dengan Keselamatan, Kesehatan dan Lingkungan. Apa gak pada tersesat nanti, yang di ajarin??? Ho ho ho, mudah-mudahan aja gak ada yang tersesat amieenn.
Peserta training ada belasan orang. Ada yang dari Irian, Balikpapan, Sangatta, Banjarmasin, Samarinda, Jakarta, Pekanbaru, Palembang, Batam, Sumbawa, Surabaya, Sulawesi Selatan, Dan gw sendiri berasal dari dunia antah berantah. Peserta cewek hanya ada 3 orang. Coba pesertanya cewek semua yah, kecuali gw *ngarep* he2. Secara keseluruhan, orangnya asyik-asyik, lucu-lucu, unik-unik. Tapi yang paling rusuh, kayaknya gw deh.
Modul trainingnya tebel banget. Kalo di bandingkan dengan materi kuliah, sama kayak materi kuliah selama 1-2 semester. Dijadikan bantal juga lebih dari cukup. Bandingin dengan apalagi yah? Pokoknya gitu deh. Kuandel buanget katanya orang jawa. Ngeliatnya aja, kepala gw langsung terasa seperti diinjak gajah, ketabrak becak, terbentur beton, kejatuhan buah kelapa (yang terakhir bohong semua). Mumet mumet mumet.
Di hari terakhir, ada ujian. Berupa ujian tertulis dan ujian presentasi. Artinya, malam harus belajar dan belajar. Ini nih, yang bikin terasa lebih berat lagi. Namun pada kenyataanya, gw gak pernah belajar tuh malamnya. Justru main ke bekasi, ke jakarta. Eh, yang ke jakarta, gw nebeng sama Mbok Venus dan Elia Bintang *Makasih ya Mbok, makasih ya Elia*.
Well. Walaupun materinya banyak, waktunya padat, ujiannya seharian, Gak ada hiburan, suasananya gitu-gitu aja, gw dan temen-temen melakukan sesuatu hal untuk menyiasati kondisi tersebut. (Jiaahhh, menyiasati. Sok resmi amat kata-kata gw). Menghibur diri ceritanya.
Malam sebelum hari H, temen-temen pada patungan 20 ribu per orang untuk beli gitar bolong. Cuman 20ribu loh per orang. Dapet gitar. Emang sih, di kali sekian banyak orang. Bener-bener niat. Demi kebersamaan, dan hiburan, di bela-belain beli gitar. Demen gw yang kayak gini. Semua memiliki pemahaman yang sama. Yaitu, gak mau mengalah dengan keadaan yang monoton.
Esok paginya, gitar tersebut di tandatangani oleh semua peserta training. Termasuk Instrukturnya juga. Masuk kelas, gw sodorin gitarnya ke Instruktur. ”Ini mau di apain?” Tanyanya dengan sedikit heran. ”Di tandatangani aja Pak”, jawab gw sambil senyum gombal.
Sesuai dengan kesepakatan bersama, sebelum kelas di mulai, harus diawali dengan live performance. Cihuyyy. Nyanyi dulu, penyemangat suasana kelas. Lagu pertama dinyanyiin oleh Brother Leon. Gw hanya sebagai pengiring aja. Oh ya, Brother Leon itu orangnya dah cukup berumur. Tapi jiwa mudanya luar biasa. Dia maunya di panggil Brother Leon. Gokil, rame. Apalagi kalo masalah berbagi cerita konyol, jago deh. Suara nyanyiannya, merdu sangat. Coba Instrukturnya waktu itu, cewek gitu yah. Pasti jatuh cinta deh mendengar suara merdunya Brother Leon ha ha ha *kemplang zulhaq*.
Yang gw ingat banget ceritanya dia, tentang Pak Haji dan Pak Pendeta. Begini ceritanya:
“Seorang Pendeta dan Pak Haji hendak menyeberangi sebuah sungai. Ternyata, Pak Pendeta gak bisa berenang waktu itu. Beliau takut terbawa arus sungai. Akhirnya, dia minta tolong sama Pak Haji untuk menggendongnya sampe seberang. Dengan segala kemurahan hati, Pak Haji mengabulkan permintaanya. Pas nyampe seberang, Pak Pendeta langsung ketawa terbahak-bahak”.
”Hehhh, bukannya berterimakasih, malah ketawa”
”Tau gak, saya ketawanya kenapa?”
”Emangnya kenapa”
”Saya adalah Pendeta pertama yang naik Haji”
Huakakakak, Pak Pendeta tak mampu menahan tawanya. Tiba-tiba Pak Haji menyeburkan Pak Pendeta kedalam sungai.
”Loh. Kok saya di ceburin?”
”Itu artinya, saya adalah Haji yang pertama kali membaptis seorang Pendeta”
Hauakakakakakk. Pak Haji pun tak mampu menahan tawanya. Begitu juga dengan gw. Ngakak mampus gw dengan cerita itu. Soalnya belum pernah denger sebelumnya. Ada-ada aja.
Dah Suara Jelek, Pake Kacamata Pula!!!
Kembali lagi pada soal gitar dan menyanyi. Hari-hari selanjutnya, kelas selalu di awali dengan nyanyian dan genjrengan gitar. Hanya saja, Brother Leon udah gak mau nyanyi lagi. Terpaksa deh gw sendirian yang nyanyi dan main gitar. Walaupun main gitarnya masih jauh dari kata baik, dan suara nyanyiannya gw bikin orang mual-mual , pusing 7 keliling, truama 7 turunan, serta bikin telinga sakit, tapi suasana jadi lebih enak dan santai. Jarang-jarang kan ada training yang seperti itu. Yah, itu semua karena kekompakkan semua peserta beserta instrukturnya yang baik hati *nunggu recehan dollar*.
Training yang awalnya berasa berat, jadi jauh lebih ringan. Semua dinikmati bersama. Ternyata patungan yang cuman 20 ribu bisa mengubah suasana sampe seperti itu. Kekompakkan merubah kejenuhan menjadi keceriaan. Itulah indahnya kebersamaan. Tak akan pernah ada yang berat dan tak akan pernah ada kesulitan jika segala sesuatu dilakukan secara bersama. Akan selalu ada jalan keluar untuk sebuah kesulitan, jika kita selalu terbuka untuk menghadapinya secara kebersamaan dan kekeluargaan. Mari bersama, saling genggam, saling mengisi.
Salam Sinting!!!
85 comments so far
Leave a reply