What? What the kamsut? Eitsss, jangan berburuk sangka dulu. Judul tinggal judul. Judul hanya sekedar awalan. Mana mungkin gw menodai blog dengan pajangan foto-foto maupun video yang berbau porno dan tidak senonoh. Apalagi yang dipajang sosok tante-tante bugil. Oh tidaaaak. Mendingan majangin foto gw yang lagi gandengan sama Aura Kasih.
Kalo masih gak percaya, silakan di scroll sampe bawah. Gw jamin gak ada video ataupun foto. Termasuk link unduhan. Seperti apakah pemaparan tentang video bugil tante sinting? Mari ikuti jejak perjalanan gw.
Kejadian memalukan tersebut gw temui dibis umum. Bis berukuran tiga perempat. Gak terlalu gede, gak terlalu kecil. Gak begitu bagus, dan gak juga memprihatinkan seperti metromini yang sudah tua dan berasap dengan tempat duduk tak berbusa itu. Gw seakan gak percaya dengan adanya bugil-bugilan dibis waktu itu. Apalagi yang mempertontonkan hal itu adalah seorang tante, forty something. Tante…tante. Mbok ya ingat umur.
Perjalanan dengan durasi waktu tempuh sekitar tiga setengah jam yang gak terlupakan. Gak akan pernah lupa karena kekonyolan seorang tante. Bukan gak terlupakan karena kenangan indah. Yah, kehidupan selalu diselingi dengan hal-hal yang mengusik ketenangan iman. Terlalu banyak godaan yang harus ditatap oleh sorot mata memang. Gak dibis, gak di jalanan, gak dipantai, gak disemak-semak, gak ditaman yang beralaskan koran, gak di pos kamling, gak di toilet umum, gak diruang ganti, semua dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal yang gak senonoh. Mau ditempat mewah, mau ditempat kumuh, sama aja.
“gw pernah menangkap basah, sepasang penjelajah kenikmatan sesaat ditengah lapangan bola yang sudah jarang terpakai. Penjelajahan diantara rerumputan tak bertuan itu, mereka lakoni disaat malam belum begitu sunyi. masih terhitung sore. Sekitar jam 10 malam. Dan yang lebih memalukan lagi, lakonnya adalah mereka yang masih berstatus mahasiswa. Lagian, kenapa harus ditengah lapangan sih? Kenapa harus beralaskan rumput liar? Apa pengen mencoba sensasi liar yang baru? Atau seneng dengan kegelian tambahan atas rangsangan sang rumput terhadap kulit yang polos tak berbalut helaian kain? Gatal kaleee…
Ada-ada aja. Aneh-aneh aja. Gila-gila aja. Ingat!!! Kemaksiatan terjadi bukan hanya karena gelap mata, tapi terjadi juga karena kesemprulan.
Back to tante. Back to video bugil. Gw dipertemukan dengan tante tante dan tontonan bugilnya dalam bis tersebut, berawal dari perjalanan dari kota Sumbawa Besar menuju daerah Sumbawa Barat. Tepatnya menuju daerah pertambangan. Satu-satunya industri pertambangan legal yang ada di pulau Sumbawa bahkan di Propinsi Nusa Tenggara Barat. Tempat dimana gw menghabiskan sebagian besar waktu dan keseharian dalam jangka waktu empat setengah tahun terakhir (Udah jamuran juga yah gw tinggal di hutan. Empat tahunan, lama euy). Pilihan…iya, pilihan. Gw harus menghabiskan banyak waktu di hutan memang. Karena dari situlah gw bisa memenuhi kebutuhan materi. Dari situlah gw harus mengais sesuap nasi dan segenggam harapan akan masa depan.
Saat perjalanan telah ditempuh dua setengah jam. Yang artinya, perjalanan masih sejam lagi. Si Tante yang gw bilang tadi, tiba-tiba heboh dibangku paling belakang. Bangku yang paling panjang diantara bangku-bangku lainnya dalam bis. Sejajar dengan deretannya dia, yaitu pojok belakang dekat kaca, adalah batang hidung gw yang teramat muak dengan tindak-tanduknya si tante yang gak jelas dan sok heboh itu.
Tau apa yang dia lakukan? Memalukan. Dia memutar sebuah video porno di henpon Nokia N93-nya. Ditengah kerumunan penumpang bis yang berdesakan seperti karung beras karena terlalu penuh, dia cengar-cengir selayaknya kuda binal yang habis kawin. Tontonannya video bugil dengan sejuta desahan, tapi ekspresinya si tante kok kegirangan kayak sedang nonton dagelan. Tante yang aneh. Gak mengenal tempat dan situasi. Gw jadi berasumsi negatif, “Jangan-jangan niy tante jablay lagi. Seumur hidupnya gak pernah merasakan jamahan sang lelaki. Makanya dilampiaskan lewat tontonan begituan”. Ah, bodohlah. Bukan tante gw ini.
Gw sebenarnya gak peduli. Dia mau ngelakuin apapun, dimanapun. Hak haknya dia. Urusannya dia. Kebebasannya dia. Toh dia juga sudah tua. Masalahnya, si tante sinting ini memutar video bugil-bugilan di loudspeaker. Kenceng pula. Suara desahan dibalik henponnya memecah kebisingan para penumpang bis. Oh yes…oh no…owhhh awhhh ughhh. Suara plin plan dalam desahan itu terdengar jelas ditelinga yang mendambakkan ketenangan. Hoh hoh hoh…ahhh ahhh ahhh…uhhh ohhh. Semakin dongkol, semakin terdengar jelas. Tak hanya gw yang menatap sinis ke arahnya si tante. Semua orang-orang disekitar dia yang mendengar, melongo, menganga, meringis, terheran-heran. Eh, semakin dia nyengir. *Ikat si tante, masukin bagasi ma kambing bego*
Oh yes…oh no…oh my god. Haduh. Tanteee…*pengen teriak*. Kok suara itu masih ada aja sih. Gak sadar apa, diliatin orang banyak. Bangga apa dengan hal seperti itu? Bedebah!!! Suara plin-plan kayak gitu kok di nikmati. Oh ya, satu alasan yang membuat gw gak suka nonton film bokep ya itu tadi, dialognya gak konsisten. Terkesan plin plan. Yang bener yes ato no? udah gitu, adegan panas, tapi kadang trekesan religius. “oh my god”. Kok bawa-bawa nama Tuhan.
Gak hanya mengencangkan suara. Si tante malah nawarin ke orang-orang disebelah untuk ikutan nonton. Syaraf ni orang. Salah satu korbannya adalah gw. “Mas, mas, ikutan nonton mas. Bagus loh. Lucu. Liat deh”. Ajaknya dengan suara memuakkan sembari menghadapkan layar henpon ke muka gw. Njrrriiittttt!!! “gak, gak, gak. Ogah nonton begituan”. Sahut gw mencoba menunjukkan pada dia, kalo gw muak dengan kelakuannya.
Ditengah terik matahari yang menyengat hingga menusuk pori-pori, bis melaju tanpa mengeluh. Supir tetap konsetrasi. Terpaku pada jalur jalan yang berliku. Supir terus menatap pasti kearah depan tanpa mempedulikan apa yang terjadi pada penumpangnya dibelakang. Tanpa menghiraukan apa yang dilakukan oleh para pengguna jasanya.
Duorrrr. Tusssshhhh!!! Ada apa ini, ada apa ini? Tiba-tiba bis terasa sedikit oleng. Doh. Bannya pecah. Iya, ban bis sebelah kiri belakang pecah. Modar aku. Perjalanan bakal lebih lama lagi. “Niy gara-gara tante. Di bis kok nonton video porno. Akhirnya pecah ban kan? Semua jadi korban kan?”. Ucap gw ke si tante penuh emosi. Tapi dia gak menghiraukannya. Semua penumpang, termasuk gw, maupun si tante, turun dari bis. Hingga proses penggantian ban selesai. *garuk garuk tanah*
Gw emosi dan ngomong kayak gitu ke dia, karena gw merasa pecah ban adalah teguran. Banyak kejadian serupa yang terjadi. Ban mobil atau ban kendaraan lainnya pecah setelah tindakan asusila dilakukan dalam kendaraan tersebut. Memang gak selalu, tapi sering terjadi. Antara percaya dan gak percaya memang. Yah, percaya atau gak, gak perlu diperdebatkan. Benar atau tidaknya, kembali pada keyakinan masing-masing. Toh, tanpa berbuat apapun, atau sebersih apapun, pecah ban pasti tetap terjadi kok kalo kondisi ban atau kondisi jalan gak bagus.
Itu salah satu gambaran yang menurut gw perlu direnungkan dengan baik dan bijak. Akibat ulah satu atau sekelompok orang, banyak orang-orang tak berdosa merasakan imbasnya. Sama halnya dengan kejadian bencana tertentu. Mungkin Sang Pencipta Alam Semesta memberi peringatan, teguran, terhadap sekelompok atau sebagian orang yang memang seharusnya ditegur. Tapi pada kenyataannya? Banyak kaum tak bersalah yang terpaksa menerima dampaknya. Mari kita sama-sama merenung dalam segala kekuarangan dan kelebihan yang telah di anugerahkan.
Salam Sinting!!!
118 comments so far
Leave a reply