Kisah Si Sinting:Sisi Lain
Tulisan ini sudah gw posting di ngerumpi dan notes fesbuk beberapa hari yang lalu. Gw gak nyangka, ternyata mendapat respon yang luar biasa. 60an komen dan 50an jempol. Gak tau kenapa, pengen aja memindahkannya disini. Yah, sekali-kali gak apa-apa diisi dengan coretan kisah dibalik sebuah kesintingan. “Bukan kata maafmu, tapi senyummu yang kupinta bunda”. Seperti itulah judul awal dari tulisan ini. Disini, judul dan isinya sedikit gw edit. Biar lebih enak dibaca.
***
Mungkin ini pertama kali saya menulis sekelumit kisah perjalanan hidup saya yang bisa dikatakan “sedih”, mellow. Tak apalah, sesekali berbagi tentang sisi lain dari sosok seorang Zulhaq Sinting. Bukankah di dunia ini Tuhan menciptakan beragam hal secara berpasangan, termasuk suka dan duka? Terdengar aneh memang. Tapi itulah kenyataannya. Berhubung masih ada suasana valentine, sekalian aja. Tulisan ini saya persembahkan buat bunda saya, dan orang-orang yang mengalami kisah serupa, yaitu single parent.
Walaupun saya gak merayakan valentine. Namun saya pengen merasakan suasana itu, selayaknya kebanyakan orang. Memang sih, cinta dan kasih sayang tak sebatas pada hari valentine. Lebih dari itu. Cinta dan kasih sayang meliputi segala ruang dan waktu. Melibatkan segala kondisi lahir dan bathin.
Kurang lebih 20 tahun yang lalu, saya dan kedua saudara saya (1 kakak, 1 adik) harus dihadapkan pada kondisi yang sangat berat. 3 bersaudara yang notabene cowok semua itu, tak punya pilihan lagi selain menerima dan menghadapi kenyataan yang pahit.
Kala itu, kedua orang tua saya memustuskan untuk pisah atau bercerai. Semenjak saat itu, kami harus belajar mandiri. Sementara umur saya baru menginjak angka 6. Sedangkan Kakak saya berumur 8 tahun. Yang paling memprihatinkan adalah adik saya. Dia masih menyusui. Umurnya belum genap 1 tahun. Masih membutuhkan kasih sayang dari orang tua yang komplit. Namun, keadaan berkata lain. Miris memang.
Adik dan kakak saya dibawa oleh bapak. Padahal adik saya masih harus merasakan nikmatnya air susu ibu. Keegoisan orang tua menjauhkannya dari hal itu. Saya ngotot, untuk ikut dengan Bunda. Terlalu perih kalo harus membiarkan bunda seorang diri. Saya sadar, saya gak bisa berbuat apa-apa untuk bunda. Saya gak akan bisa membantunya saat itu. Tapi saya yakin, bahwa cita-cita saya untuk membahagiakan sang bunda kelak nanti akan terwujud.
Umur segitu, masih gak begitu paham dengan warna-warni kehidupan. Warna warni yang terkadang terlalu buram untuk ditangkap oleh mata. Akan tetapi, Keributan, serta pertengkaran yang terjadi sebelum proses akhir yakni perceraian yang saat itu menjadi santapan hari hari, mengajarkan saya akan bentuk kehilangan, wujud keterpurukan, pentingnya kebahagiaan, perlunya kasih sayang. Dunia bak neraka. Penuh dengan bising pertikaian, panas pertengkaran, bara ego.

Selang berapa lama setelah perceraian. Ungkapan haru sang bunda dalam peluk tangisnya teramat menyentuh hati bocah kecilnya ini. Ungkapan yang memaksa saya untuk meneteskan airmata pengiring tetesan serta luapan air mata sang bunda.
“Maafkan bunda nak. Maafkan bunda yang tak bisa mempertahankan kebahagiaan. Maafkan bunda yang harus memisahkan kalian dengan kehangatan keluarga. Maafkan bunda yang menjauhkan kalian dari kasih sayang. Bunda rindu si kecil. Bunda kangen abangmu. Bunda rindu kelengkapan kalian”
Saya hanya bisa mengikuti tangisan bunda. Saya belum mampu merespon ungkapan itu. Masih terlalu kecil untuk memaknainya. Masih terlalu polos untuk bisa mengusap airmata beliau.
Seiring berjalannya waktu yang terus mengajarkan saya tentang ketegaran menghadapi keadaan itu. Didikan serta pengertian yang senantiasa diberikan oleh sang bunda, akhirnya membuat saya memaklumi kenapa perceraian itu harus terjadi. Hingga pada satu ketika, dimana saya dan bunda berbagi cerita lagi tentang masa-masa awal perceraian. Yang sukses, mencucurkan airmata haru lagi. Momen yang mengulang kembali ungkapan maaf dari bunda. Dan saya pun mampu memberikan sedikit banyak ungkapan balik pada bunda. Sebagai bentuk pembuktian, bahwa buah hatinya bisa menerima keadaan yang ada. Bahwa buah hatinya telah tumbuh dan berkembang.
“Bunda tak perlu minta maaf. Apalagi merasa bersalah dengan keadaan ini. Aku hanya ingin melihat bunda tersenyum. Bukankah bunda mengajarkanku ketegaran? Rasa syukur? Bukankah bunda yang bilang, perpisahan adalah satu-satunya jalan yang terbaik? Bukan kata maaf mu bunda, tapi senyum bunda yang ingin selalu saya lihat”.
Senyum…iya, senyum. Senyum yang menggambarkan ketegaran, kekuatan, keteguhan sosok yang saya anggap sebagai malaikat. Senyumannya adalah kekuatan bagi saya, senyumannya adalah semangat bagi saya, senyumannya adalah pelajaran bagi saya. “Bunda…surgaku tak hanya ditelapak kakimu. Surgaku bisa kutatap dari tulusnya senyummu”.
Waktu berlalu, hari terus berganti. Semakin lama semakin bisa saya memaklumi keadaan. Yah, kalo memang perpisahan adalah satu-satunya jalan yang terbaik. Yaudah, keputusan itu haruslah diambil. Seberat apapun keputusan itu. Daripada dipaksa untuk mempertahankannya, dengan pertengkaran yang tak pernah berujung. Dengan ketidakcocokan atas ego diri yang tak pernah usai. Apakah penderitaan dari ketidakhangatan rumah tangga harus dijalani sepanjang perjalanan hidup? Apakah tekanan bathin harus ditanggung selama sisa hidup? Saya rasa, gak. Teramat banyak kebahagiaan yang bisa diraih dalam proses hidup. Terlampau panjang perjalanan hidup ini, kalo harus berjalan diatas duri-duri derita. Hidup itu pilihan. Kebahagiaan pilihan. Keputusanpun bagian dari pilihan. “Segala sisi kehidupan memiliki kekurangan dan kelebihan. Hanya sikap positif dan rasa syukur yang mampu menyempurnakannya”.
Saya gak menyesali keadaan tersebut. Saya menjalani dengan tulus, setulus bunda menghadapi kenyataan hidupnya. Karena saya yakin, Tuhan punya skenario untuk saya beserta keluarga. Siapapun memang sudah ada skenarionya masing-masing.
Dibalik keterpurukan, pasti ada hikmah yang tersirat. Dan dari keterpurukan jualah, terbentuknya sosok diri yang jauh lebih kuat dalam menghadapi kerasnya proses hidup. Dan mungkin, kalo bukan karena keadaan itu, saya gak akan pernah menjadi sosok yang seperti saat ini. Mungkin saya akan menjadi anak manja, brutal, tak punya rasa syukur, tak menghargai cinta dan kasih sayang, yang bahkan selalu menyusahkan orang tua. Saya sangat bersyukur atas semua yang ada.
Buat siapapun yang memiliki kisah serupa, tak usah menyalahakan diri, tak perlu menyalahkan keadaan. Hadapilah dengan senyuman ketegaran. Mungkin bagi sebagian orang tua, ada yang merasa dipersalah oleh anak-anaknya. seperti yang pernah dialami oleh bunda saya. Buktinya, saya gak menyalahkan beliau. Saya menyayangi beliau dengan sepenuh hati, segenap jiwa. Apapun kondisinya, siapapin beliau, bagaimanapun masa lalunya, mereka tetaplah orang tau saya yang mengantarkan saya pada dunia ini.
Yang paling penting adalah, bagaimana memberikan penjelasan serta pemahaman terhadap anak anak itu sendiri. Memberikan mereka pemahaman tentang pilihan. Pilihan akan jalan yang terbaik dari sebuah rumah tangga yang mengalami sedikit banyak masalah. Dan kalo perceraian adalah jalannya, berikan pemahaman tersebut hingga anak-anaknya mengerti dengan sepenuhnya tanpa mengungkit dan mempermasalahkannya hingga dipenghujung waktu.
Buat adik dan kakak saya, kalian tak perlu menatap terpaku pada masa lalu. Kalian gak boleh terkalahkan oleh keadaan. Kita bisa, kita mampu. dan kita harus yakin, bahwa masih terlampau banyak kebahagiaan dan masa depan yang lebih baik yang akan kita nikmati. Tetaplah tersenyum walau dalam kesederhanaan.
Buat papa, semoga bahagia dengan pilihan hidup yang papa pilih dan putuskan. Jangan pernah menyesali apa yang telah lalu. Nasi telah menjadi bubur. Apalagi kalo buburnya sudah basi. Apa mau dikata, bubur tak akan pernah menjadi nasi kembali. Basipun tak akan pernah bisa tuk dicicipi kembali.
Buat sang bunda yang telah saya tinggal jauh dari rantauan semenjak hampir 11 tahun yang lalu, tetaplah menjadi sosok wanita yang tegar, bijak, kuat dibalik senyum tulusmu menghapi kehidupan yang teramat pahit. Jagoan-jagoanmu ini teramat sayang sama bunda. Melebihi apa yang kami miliki. Takkan pernah cukup segala kata untuk mengungkapkannya. Sayang kami sama bunda tak pernah terbatas oleh ruang dan waktu serta keadaan. Mohon do’a restumu agar supaya anak-anakmu ini menjadi “orang” yang bisa bunda banggakan. Yang bisa memberikan kebahagiaan hingga kelak.
Buat semuanya, ini adalah bentuk lain dari cara saya berbagi senyum. yang biasanya saya berbagi dalam bentuk kekonyolan. Saya berharap kali ini, bisa berbagi senyum dalam makna yang lebih dalam, makna yang sebenarnya. Tersenyumlah…walau dalam keadaan apapun. hingga senyuman itu meluluhkan kerasnya dunia
Ah, ternyata saya terlalu lemah untuk menuliskan kisah ini. Rasa haru, tetap meneteskan butiran airmata. Bukan karena sedih sebenarnya. Tapi saya rindu sama bunda yang jauh disana. Love u mom
Salam Sinting!!!
Ps: Gambar Dari Sini






Petromax kah??
komen nyusul..takut didahului orang
tulisan ini indah..
tetaplah dengan ketegaran itu, brotha..
*sayangnya disini ga ada jempol ^_*
kok illa bisa pertamax sih?!
ijutan ris….
Semoga, ini menjadi pembelajaran bagi kita semua..
Kisah yang sangat menyentuh Bro.
Salam
terharu…ntar kalau dirimu nikah jangan cerai yah
setuju ma mawi…. kalo om menikah jgn mpe cerai ya….
^_^
tetap tegar kawan, tulisanmu adalah kerja kerasmu yang menggugah, sampai detik ini ku ulang membaca artikel kisah masa lalu ini, tak henti merinding pada tubuh ini, semoga tetap di berikan jalan terbaik untuk hidupmu kawan, jangan menyerah…
saya tersenyum, tersenyum seperti yang diminta zulhaq. ikutan bangga sama ketegaran sang Bunda dan zulhaq juga. look what were live did to you ! being a great person
betul tuh.. yang lalu biarlah berlalu. semua orang pasti ada kesalahan. jangan itu bikin hidup jadi berhenti hanya untuk menyesali.
life must go on. yang penting gimana kita berusaha untuk memperbaiki hidup dan bisa hidup yang lebih baik lagi untuk sekarang dan masa depan… ya gak…
Wempi hampir mengalami hal serupa, tapi… wempi suruh pisah dulu (menyendiri di kampung masing-masing) untuk introspeksi diri, apa yang salah? selama penyendirian mereka masing-masing segala usaha wempi lancarkan. alhamdulillah mereka bersatu kembali. mungkin karena umur zulhaq baru angka 6 jadi belum bisa berbuat apa-apa. Salam sinting
Manusia memiliki sisi cerita masing2 bro.. lupakan masa lalu.tatap kedepan, hadapi aral.
Hidup adalah perjuangan
Zia, tak ada yang sia-sia.. masa lalu yang sedih untuk pembelajaran bagi kita ke depan.
Zia yang ada hari ini, yang lucu tapi juga sensitif adalah hasil perjalanan panjang itu. Salam sayang juga buat Ibunda.
Kisah hidup yang sangat inspiratif dan sebagai pembelajaran bagi kita semua. Semoga, kedepan segalanya lebih baik
syit! postingan ini bikin saya berkaca-kaca pagi-pagi.. huhuhuhuhu
kasih jempol juga di sini! +1 like this!
Ternyata di balik ceritanya yang aneh, sinting, gembira dan penuh canda ada sisi lain dibalik seorang sinting yang membuat kita terharu dan membuat kita tersentuh…
waduhwaduh….
ternyata manusia ini memiliki ekspresi yang segalanya,, ekspresiv banget..
nice telah berbagi cerita mengenai dirimu yang positif ini.
wah..salut sama kamu. ..
Selamat siang, kunjungan waktu istirahat & big bosnya ga hadir,
gue tambahin “like this” di sini bro.. Ternyata dari kesintingan elo ada juga ya 1% yang mellow *ya iyyalah*
Salam buat bunda elo hehehe
idem sama Dodi
Gak ente telepon aja?
11 tahun? waw, aku ngga bisa selama itu ningalin mamaku, hiks T^T
aku percaya mas zia akan tetep semangat seperti hari-hari biasanya
cerita fakta yang setdih banget mas….rangkaian tulisan yang kreatif jadilah seperti itu..
salam tetep semangat mas…
Mas Zul,bunda sangat terharu dgn kisah hidupmu, namun bunda kagum atas ketegaran dan kebijakanmu dlm menjalani hidup,justru krn pengalaman hidup.
Bundamu pasti bangga punya anak yg hebat,bijak dan tegar sepertimu,Mas Zul.
Sampaikan salam sayang dan hormat bunda untuk bundamu tecinta.
tetap pelihara ketegaranmu ya Mas.
dan syukurilah segalanya, kehidupan seperti ini, insyaallah yg terbaik yg diberikan oleh Allah swt.
Salam.
OOT:
20 tahunan yang lalu, umur sudah 6 tahun, jadi mana yang bener umur lo Zia? Katanya masih abegeh 17 tahun?
Ikut mengerjap-ngerjapkan mata juga baca kisahnya…
*bantuin gw dong, kelilipan nih*
gua salut ama lu bisa jadi seperti sekarang… *walau gua ga tau lu dulunya sinting juga kaya sekarang kah?!*
meskipun berpisah, semoga tali silaturahmi tetap terjaga…
skses mmbuat Q terharu bang….
te o pe be ge te dah
Nggak nyangka kalau bro zul yang kelihatan ceria dan sinteng ini,punya penderitaan yang begitu berat.Semoga tabah dan sabar menjalani ya bro.Ikut bersedih saya.Allah bersama kalian selalu…
seperti comentku dfb mas zi memang anak hebat
awalnya gak mau baca tulisanmu mas terlalu puanjang… tapi setelah baca kata demi kata ternyata malah pingin baca trus, dan akhirnya jadi ikut sedih
terlalu melow
bener2 deh gua terharu ama postingan lu ini zi, mungkin cuma skali2nya dalam seabad lu post kata2 menyentuh kaya gini..
keep the spirit!
Tersenyumlah…walau dalam keadaan apapun. hingga senyuman itu meluluhkan kerasnya dunia
Like this bang…!!huwaa…jdi terharu
waa.. 11 tahun itu sangatlah lama.. saya aja dulu cuma 3 tahun kangen banget
Merindukan ibu salah satu tanda kita menyayanginya. Kasih sayang ibunda tentunya tak tergantikan oleh siapapun. Slam untuk Bundamu Zul
Satu lagi pelajaran hidup… ternyata, gak selamanya anak bisa jadi pengikat tali pernikahan ya…
pastinya tiap orang punya sisi lain, sisi lain juga ada 2 yang baik & buruk Bro…,
zul, terharu sekali membaca tulisanmu… pilihan hidup orang tua menjadi penentu masa depan seorang anak, perceraian bisa membentuk karakter anak yang sayang ibu dan selalu cinta.
Hidup itu siang malam, gelap terang … hanya pergantian
Semangat ya Zia..
Gak usah comment lagi ya, coz udah comment di fb. Jadinya specless baca cerita ini, gak bisa comment apalagi…
tumben ngenah
Masa lalu patut untuk dikenang dan diingat. Tapi, bukan untuk ditangisi, justru harus dijadikan sebagai pengingat bagi persiapan masa depan. Hanya orang-orang hebatlah yang mampu keluar dari keterpurukan masa silam dan bangkit meraih kesuksesan masa depan…
Zul, sungguh, aku terharu membaca kisahmu
Ternyata, meskipun sinting bisa juga ya ingat masa lalu…
Saya jadi terenyuh membacanya sobat.
Aku jadi teringat Almarhumah Ibu.
Tetep speechless bacanya
aku juga kangen ibuku..udah 3 tahun lebih g ketemu
biar bagaimanapun Tuhan maha adil dan itu selalu gw percayai sob..wlau pun perpisahan orang tua membawa efek yang membuat trauma, gw percaya suatu saat Tuhan akan mengakhiri semua yang pernah kita alami
gw tetep suka sama notes lw yang ini bahkan 1000 jempol pun serasa kurang tuk kalimat-kalimat diatas salam buat Ur Mom sob..
selamat malam & selamat beristirahat
-salam hangat-
dunia seolah biru jika kita memakai kaca mata biru. dunia pun seolah kuning jika kita memakai kaca mata kuning.
baik atau buruknya hidup.. semuanya tergantung dari cara kita memandangnya. pada dasarnya, semua yg berasal dari Tuhan itu memiliki tujuan yg baik.
semangat watson!
tetep semngat bang!
hidup itu cuma sekali
pasti ada cobaan dan ujian dari Tuhan
jalani aja
sisi lain dari zia.. touching..but meaningful…
mogabundanya bisa terus tersenyum ngeliat jagoan2nya sukses
merinding dan terharu mbacanya….
smoga bang zulhaq n ibunya n seluruh kluarga selalu diberikan kesehatan yah, amiin
semangka eh semangattt !!!
Brother…ternyata kamu lebih keras dan lebih lama ditempa oleh palu kehidupan ya?
salah satu tulisan luar biasa yg saia baca ini pagi. makasih zia…
dan hanya mereka yang menghagai ibu-nya dengan setinggi-tingginya lah yang akan sebenarnya berhasil dalam hidup ini.