Lekong Sinting

Posted on 27. May, 2010 by Zulhaq in Uncategorized

Beberapa waktu terakhir ini, kok tulisan gw beraroma lemah gemulai. Sebelumnya tentang “Ngerumpi”, sekarang “Lekong” (bahasa banci : Laki-laki). Tenang, gw bukan mahluk transgender/transeksual. Gw cowok asli. Masih normal. Masih dan tetep nafsu sama cewek.  Alat kelamin gw (sebagai cowok) masih berfungsi dengan baik, sebagaimana mestinya.

Tangan gw mendadak gatel, pengen nulis tentang ini, gara-gara kejadian mem-bego-kan dengan seorang banci yang mengaku dirinya sudah sembuh dari kebancian, sudah pensiun dari dunia perbancian.

Dia (sekarang) adalah seorang tukang bakso. Gw sering beli bakso di tempatnya dia, tapi gw gak tau kalo dia itu (katanya) pernah jadi banci.  Paling sekali-sekali, hati gw berkhutbah, “Kok orang ini kemayu yah?”. Karena gak begtiu kelihatan. Kelihatan hanya dalam kondisi tertentu atau lagi ngobrol sama orang tertentu.

Taunya, ketika gw makan bakso disitu, siang bolong. Habis memperkosa biji bakso, gw gak bisa langsung pulang. Karena hujan deres. Terpaksa gw duduk, bercerita, plus nambah teh botol lagi biar gak garing. Dia cerita banyak tentang pengalaman hidupnya di dunia yang penuh dengan jari lentik mahluk-mahluk lekong.

PERNYATAANNYA:

Sebelum jadi tukang bakso, dia memilih profesi banci hanya karena tuntutan ekonomi. Itu masa lalu. Katanya kebanyakan orang memilih jadi banci, karena gak mau kerja yang berat-berat selayaknya cowok pada umumnya. Satu hal yang dia (syukuri) dapet dari dunia perbancian, adalah dia jadi pinter meracik menu masakan. Itu menjadi penghasilan utamanya saat ini selain jualan bakso. “Saya ini, apa aja dijual mas. dari jual diri, sampe jual bakso”. Bagooosss!!!

Walaupun dia (ngakunya) udah sembuh, tapi secara tingkah laku, secara fisik, masih terlihat kecewek-cewekannya. Kalo duduk, pahanya dirapetin banget. Sampe handuk yang dileher, warna pink. Kalo ngomong, mulutnya kek orang ngunyah daun sirih.

Setelah sembuh dari perbancian, dia ngerokok dan minum kopi banyak banget dalam sehari (Katanya sih begitu). “Gw jadi mikir, ngerokok dan ngopi kok dijadikan tolak ukur untuk cewek dan cowok. Cewek cowok sama-sama ngerokok, sama-sama ngopi. *Arghhh…banci lebay*

Gak lama setelah cerita ngalor-ngidul, dia ditelfon temennya (banci juga). Cara duduknya semakin rapet. jari jemari semakin lentik. Sering lempar muka kek cewek yang lagi ngebasin rambut, walaupun dia gak punya rambut panjang untuk dikebasin.

“Akika sekarang jadi tukang bakso high class bow. Seherong bisa dapet banyak. Bakso akika maharani loh. Emangnya ye, masih jual diri kesana kemari di pinggiran jalan. masih ngumpul rumpik di salon kalo gak krejong. Plis deh cyn…masih mawar sama lekong? gak nepsong deh…Eh, kapan-kapan capcus yuk”

Itu hanya potongan potongan kalimat yang gw tangkep dari oborlan mereka. Gila!!! Banyak gak ngertinya gw. Nya nya nyi nyi…nya nya nye nyo…tetat tetot. Ngomong cepet banget. kek film kartun yang dialognya dicepetin. Bahasa begituan pula. “Katanya udah sembuh? ngomongnya kok lebay jijay gitu?”, Tanya gw dengan sedikit sindiran. “kalo ngobrol dengan temen yang (masih) banci, saya tetep ngomong kek gitu. Gak ingin menyinggung perasaan mereka dengan sok-sokan”, Jawab si bencis.

KENYATAANNYA:

Ah, gw gak jadi salut dan gak begitu percaya dengan cerita kesembuhannya dia. Kamuflase!!! Ketidakpercayaan gw dengan pengakuannya,  berawal saat gw pamitan pulang. Kebetulan hujannya udah berhenti. Tinggal sisa gerimis kecil. “Nanti aja pulangnya, mas. ntar sakit loh”, Ujar dia. Anjrit! Geli gw dengernya. Kalo cewek sih gak apa-apa *Ngarep ya, nyet?*

Beberapa hari setelah itu, gw makan bakso sama temen gw. Cewek. Si Banci mendadak aneh. Cuman ngomong seperlunya doang. Cemberut gak jelas. Anjrit! Lagi PMS apa yah. “Woiii…gw ini pelanggan!”. Dilokasi tambang tempat gw kerja, cuman disitu satu-satunya yang jualan bakso. Kalo ada pilihan lain, gak bakal deh gw kesitu. Nasib pecinta bakso *nangis ganteng*.

Besok-besoknya, tiap gw makan bakso disitu, dia selalu nanya, “kok sendirian? pacarnya mana?” *Pacar dari arab?*. Hmmm…kecurigaan gw semakin mendekati kebenaran. Hingga pada suatu hari, gw becandain dia, gw panggil dia mas mas mas…bla bla bla…Tambah ngambeklah dia. Eh, dikasihtau sama asistennya. Maksudnya, yang bantuin dia. “Dia itu marah, karena dipanggil mas. Maunya dipanggil Mbak Ocha. Dia juga suka aneh kalo mas kesini sama temen-temen cewek”.

Njrit Njrit Anjrit!!! Muka lw jauh. Gw udah salut sama pengakuannya dia yang sembuh dari kebancian. Ternyata ada  udang dibalik selangkangan bakwan. Kalo emang masih memilih jadi banci, ya silakan. Itu haknya dia memilih cara hidupnya. Kenapa harus sok ngaku-ngaku sembuh. Gw akan lebih menghargai kalo dia jujur dengan apa adanya. Gak takut apa, tiba-tiba burungnya ilang hihihi.

Gw kasian sama orang kek gitu. Gak dapet jatah warisan dari orang tua ato keluarganya. Karena ahli waris yang diatur oleh peraturan agama maupun peraturan negeri ini, hanya ada dua. Ahli waris laki-laki dan ahli waris perempuan. Gak ada istilah ahli waris banci wakakakak *Dilempar gerbong kereta*

Salam Sinting!!!

64 Responses to “Lekong Sinting”

  1. zee 25 June 2010 at 9:04 am #

    Bener itu, boong dia…. sembuh apaan. Mana ada laki kayak gitu. Beda lho ya gay sama banci. Mending gay lah, setidaknya masih cowok dan gak ngomong miring2 kayak si doi itu :D .

  2. hanif 28 June 2010 at 12:45 pm #

    Akhirnya kamu ditaksir juga Zul..sayangnya sama mantan banci yang ngaku dah sembuh…Perlu banyak sedekah Zul, cobaanmu makin berat…Ga ga ga

  3. Zippy 1 July 2010 at 4:02 am #

    Sumpah deh, itu apal bener bahasa bancinya, hahaha…
    Direkam apa emang karena udah terbiasa pake bhs itu juga? Wkakakaka…
    *Kabuuur! :p

  4. vivi 10 July 2010 at 3:25 pm #

    wkwkwkwkwkwkwk…. si bencis naksir ma bang zul hahahah,,,,
    cew g dpt, begituan de yg dpt hoho

  5. cake lover 20 July 2010 at 12:33 pm #

    ikut ngakak aja deh wkwkwkwkw…

  6. bilman 15 May 2011 at 9:45 am #

    ih lekong pek… :p

  7. andre yansah 25 February 2012 at 1:46 pm #

    kulop

  8. andre yansah 25 February 2012 at 1:47 pm #

    kulopppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppp

Leave a Reply, please...