24 Tahun Usman di Balik Kemudi

Usman

“Kalo kredit kendaraan, bikin untung ‘china’ aja itu, Mas.” – Usman, 59 Tahun.

Hampir setiap hari saya melihat Pak Usman di kantor, walaupun ia tidak berstatus sebagai karyawan lagi. Nada suara yang sedikit tinggi dengan sisipan tawa masih begitu akrab di telinga kami. Mantan karyawan yang berprofesi sebagai driver di kantor kami ini, pensiun di tahun 2011 lalu, setelah beliau berkarya dengan kemudinya selama 24 tahun.

Satu hal yang membuat beliau menarik perhatian saya adalah sikap tegar penuh semangatnya setelah pensiun. Ia tak suka mengeluh, meskipun sering komplain terhadap hal-hal yang menurutnya tidak sesuai aturan. Dari tahun lalu pengin mengajaknya ngobrol lebih panjang, tentang kesetiaannya bersama perusahaan dulu, tentang kebugarannya yang masih terus berkarya di balik kemudi hingga saat ini sebagai karyawan usahanya sendiri.

Selayaknya driver, tentu bayaran tenaganya tidaklah tinggi. Sampai pada masa kerja 24 tahun, Pak Usman dibayar dengan gaji pokok kurang dari 2 juta. Baginya, itu gaji pokok yang sudah cukup banyak–dengan lembur, ia akan mendapatkan gaji bulanan hingga tiga bahkan empat kali gaji pokoknya, terutama pada bulan yang terdapat banyak tanggal merah. Pendapatan berlipat seperti itu bisa didapatnya dengan masuk kerja jam 5 subuh, pulang jam 8 malam, sabtu-minggu-tanggal merah tetap masuk. Ketika ia menginjak umur 55 tahun, uang pensiun yang didapatnya tidaklah terlalu banyak, karena perhitungannya berdasarkan gaji pokok saja.

Apa yang dilakukannya setelah itu?

Pak Usman membeli mobil kijang innova baru, cash. Ia menggabungkan uang pensiun yang didapatnya sekian puluh juta dengan hasil penjualan sejumlah lembaran saham yang pernah dimilikinya, dan uang tabungan untuk kuliah anak tunggalnya yang kini masih SMA. Tak disangka, uangnya terkumpul hampir 300 juta. Saya jadi iri dengan kegigihannya mengelola keuangan sampai punya uang cash sebanyak itu.

“Wow! Pak Usman beneran beli cash mobilnya?” Saya memastikan lagi dengan pertanyaan standar.

“Oh iya, Mas. Ngapain kredit. Kalo kredit kendaraan, bikin untung china aja itu, Mas.” Jawabannya membuat saya tertawa–tepatnya menertawakan diri sendiri, yang hingga saat ini masih mengendarai mobil kredit.

Dengan mobil barunya, Pak Usman bergabung dengan komunitas rental mobil yang bertempatkan di sekitaran Pelabuhan Semayang, Balikpapan. Komunitas tersebut dinaungi oleh badan usaha, CV. Kemudian ia menawarkan tenaga sekaligus kendaraannya untuk melayani karyawan perusahaan kami yang bertugas di proyek lokasi Batu Kajang, seberang Balikpapan, dengan waktu tempuh perjalanan darat 3 jam-an setelah menyeberang. Kebetulan driver dan mobil yang ada di kantor kami tidak cukup untuk melayani proyek tersebut.

Alhamdulillah, penawarannya disetujui, dengan hasil yang banyak–tenaganya dibayar sebagai driver, mobilnya dibayar sebagai kendaraan sewa. Kalimat sekali mendayung dua tiga pula terlewati, ternyata bukan mitos. Pendapatan 7 juta-an sebulan ia kantongi hingga saat ini.  Masa pensiunnya masih produktif.

“Penghasilan yang sekarang saya tabung buat kuliah anak saya, Mas. Toh, sebagian banyak uang untuk beli mobil ini adalah tabungan untuk kuliah anak saya. Bisa dibilang, uang untuk anak, saya pakai dulu untuk usaha, hasil usahanya ya untuk kuliah dia.” Jelasnya tentang rencana keuangan yang dihasilkannya. Saya mendengarkan penuturannya sambil memegang tangannya, seperti orang bersalaman tak berkesudahan.

“Ngomong-ngomong istri masih kerja, Pak?”

“Oh, masih. Istri saya PNS, mengajar di salah satu sekolah dasar. Sebenarnya untuk makan sehari-hari kami bisa ditutupi oleh gaji istri. Tapi, masa istri capek kerja suaminya makan tidur di rumah? Malu lah, Mas. Sebagai suami, saya tetap harus bertanggung jawab, termasuk kebutuhan keuangan.” Lanjutnya.

Kedengarannya enak, tapi untuk mendapatkan itu semua, beliau menanamkan kedisiplinan tinggi yang menjadi bagian dari prinsip hidupnya. Selama bekerja, ia pantang menolak pekerjaan, sesulit apapun tantangan tugas yang diberikan. Pak Usman juga pantang membuat masalah. Katanya, “kita diberi kesempatan bekerja, mendapatkan rejeki di perusahaan, masuk baik-baik, jangan sampai membuat masalah sedikitpun. Bikin masalah berarti tidak tau terimakasih. Apapun kondisinya ya dijalani saja, namanya juga mengabdi.”

Selain itu, Pak Usman rutin berolahraga lari minimal dua kali dalam seminggu, entah subuh ataupun sore ke malam, tergantung senggangnya. Yang jelas minimal dua kali seminggu harus berolahraga, sampai saat ini. Begadang enggan dilakukannya, karena sadar tugasnya adalah mengendarai mobil, menanggung banyak nyawa penumpang. Gaya hidup sehat adalah utama baginya. Saya seperti disentil untuk urusan yang satu ini.

Juga, menerima telpon atau menelepon saat mengemudi, bisa dikatakan hal haram baginya. “Mengemudi bagi saya pekerjaan seratus persen, gak boleh disambi. Saatnya nyetir ya nyetir. Saatnya menelpon atau sms ya berhenti. Kalau bisa menelepon atau sms ketika sampai tujuan atau pas berhenti istrahat, kenapa tidak? Sekalipun bos yang menelepon. Kalau sudah sampai tinggal minta maaf, bilang tadi masih menyetir sehingga tidak bisa menerima telepon. Selesai.” Tegas sekali Pak Usman menyampaikan aturan mengemudi yang satu ini.

Saya cukup mendapat pelajaran tentang semangat hidup dari Pak Usman.

“Sepanjang apapun perjalanan hidup ini, sebisa mungkin tidak melakukan hal yang sia-sia.”