[#30 Kembar Sial] Kota Minyak dan Masa Depan

Ketika sahabat yang biasa kau temui dalam suasana santai, di suatu waktu kau bertemu dengannya dalam suasana sangat formal sebagai pewawancara dan yang diwawancara, suka tidak suka, mau tidak mau, kau harus bersikap profesional, bahkan seperti orang yang tak kau akrabi. Aku sedang berada di posisi itu.

 Sudah satu tahun tiga bulan aku bekerja di Balikpapan, dan aku menemukan diriku yang sesungguhnya di sini: sebagai karyawan sekaligus sebagai penulis awalan. Aku telah menerbitkan novel berjudul Home Tweet Home, dan aku sangat dianggap ‘ada’ di pekerjaan oleh atasan-atasanku. Menghabiskan banyak waktu di kota membuat otakku tak lagi sinting, setidaknya menurut ukuranku sendiri.

Atasan-atasanku memberi pujian atas keberhasilanku menerbitkan buku. Tak sedikit kawan-kawan kantor yang membeli buku hasil karya sederhanaku, sebagai penulis awalan. Buku Home Tweet Home aku ketik menggunakan laptop pinjaman dari Hary, sebab laptopku sendiri harus aku kasih buat Iwan—ia membutuhkannya sangat. Hary juga memujiku atas keberhasilan ini, tumben-tumben dia memuji. Biasanya meledek dan tetap menganggapku jelek. Sialan!

Hary yang biasa aku temui di tempat dan suasana tidak formal, kini ia sedang di hadapanku bersama bos Australinya dan seorang HRD Officer dan seorang engineer mekanik dan seorang lain seprofesinya yang berbeda divisi dengannya, melakukan wawancara terhadapku beramai-ramai.

Ya. Aku melamar pekerjaan di perusahaan tempat kerjanya Hary, PT. Thiess Contractor Indonesia. Sebentar lagi Hary akan pindah ke kantor pusatnya, di Jakarta, sebab ia mendapat promosi—dari koordinator menjadi superintendent. Aku melamar posisi yang akan ia tinggal, tak beda dengan posisiku di perusahaan sekarang.

Aku melamar di PT. Thiess bukan karena ada masalah di kantorku. Seperti yang sudah aku katakan, di perusahaanku sekarang aku sangat dihargai. Aku hanya mulai merasa lelah bekerja jam enam pagi hingga jam enam sore. Terlalu pendek waktu pagi dan senjaku untuk menikmati hidup di luar pekerjaan. Aku ingin bekerja normal selayaknya orang-orang di kota lainnya, bekerja dari jam delapan pagi hingga jam lima sore. Itu saja.

Hary dan bosnya dan lainnya menjejaliku dengan banyak pertanyaan rumit mengenai kepemimpinan dan perihal teknik dalam bahasa inggris yang membuatku sedikit ciut. Aku tidak begitu nyaman bertanya jawab dalam inggris yang terlalu formal, sebab perasaanku selalu takut akan salah dalam kondisi demikian.

 Benar saja. Bos Austrlianya Hary beberapa kali memintaku mengulang kalimat karena dia merasa bingung. Hampir dua jam bersama mereka membuat perutku lapar sebelum waktunya. Huft.

Ada beberapa kandidat lain di luar yang menunggu giliran wawancara. Saat aku keluar meninggalkan ruang wawancara, aku mendapati mereka dengan wajah tegang, jauh lebih tegang dari apa yang aku rasakan, menurutku.

Aku tak langsung pulang. Aku menunggu Hary untuk pulang bersama, sebab aku sudah berjanji akan mampir di rumahnya yang tak jauh dari kantor.

Aku pulang dengan Hary ke rumahnya sembari membicarakan Yadi yang sudah tiada berkabar lagi. Yadi, kau tahu, ia pernah bekerja di perusahaan tempat kerjaku sekarang, tapi ia sudah lama keluar. Terakhir bertemu dengannya awal tahun lalu, ia mengaku bekerja di seberang Balikpapan—butuh waktu tiga jam dari Balikpapan untuk mencapai lokasi proyek, katanya. Dua tiga kali ia menemuiku dan Hary saat berlibur ke Balikpapan.

 Aku sama sekali tidak tahu kabarnya Yadi, terlebih Hary yang lebih jarang berkomunikasi dengannya. Yadi telah mengganti nomor telepon dan PIN BBM, entah ke mana ia pergi. Semoga ia baik-baik saja.

***

Satu bulan setelah aku mengikuti wawancara di kantornya Hary, HRD Officer mengirimku email. Aku tidak diterima dan hasil tak sukses itu ia beri tanda tebal:

Dear Applicants,

Thank you for your recent application and participation of the selection processes for the Coordinator Safety position with PT Thiess Contractors Indonesia.

I wish to advise you that unfortunately your application result has been unsuccessful.

Thank you for your interest in Thiess. We wish you every success in your future career endeavours.

 Thanks & Regards,

YB.

Dua minggu sebelum email itu aku terima, Hary menyampaikan padaku, “Jo, orang-orang kantor mengubah keputusan—merekrut kandidat dari luar untuk kantor Balikpapan tidak jadi dilakukan. Kalau pun ada kandidat dari luar, akan di tempatkan di proyek pedalaman di Kalimantan Tengah. Posisiku akan digantikan oleh kandidat internal.”

Tentu aku sangat keberatan jika ditempatkan di lokasi pedalaman. Di seberang Balikpapan yang hanya butuh waktu dua puluh menit jalan darat dan lima belas menit menjangkaunya dengan boat saja pengin aku tinggalkan. Aku benar-benar ingin bekerja jam delapan ke jam lima, di kota. Tak lebih.

Dua minggu setelah Hary menyampaikan padaku tentang perubahan keputusan dari kantornya tentang kandidat luar, sekaligus dua minggu sebelum aku mendapat email dari pihak HRDnya, aku mendapat promosi dari koordinator menjadi superintendent di perusahaanku—dan aku akan bekerja di kantor kota dari jam delapan hingga jam lima, tidak lagi perlu menyeberang tidak perlu lagi bangun jam setengah lima pagi tidak perlu lagi tiba di kos selepas maghrib.

Seakan aku sedang bermimpi saja mendapat promosi di masa kerjaku yang baru satu tahun tiga bulanan. Atasan-atasanku memang baik belaka, memberi kepercayaan yang tak pernah kusangka-sangka. Aku senang tak tertandingi!

Tak salah aku jatuh cinta dengan Kota Minyak dan pola kerja di perusahaanku dan seseorang di kantor kota, sebab cinta itu tak bertepuk sebelah tangan.

Pernah suatu waktu aku berdoa begini:

Ya Allah, jika kota ini adalah benar bagian dari takdir hidupku, maka tunjukkan aku jalan untuk bekerja di waktu normal dan jodohkanlah aku dengan seseorang yang ada di kantor kota.

 Aku membayangkan muka seseorang yang aku maksud itu dan seluruh kota ini dalam do’aku. Doaku terkabul. Terimakasih, Tuhan.

 Hary berpamitan, meninggalkanku dan Balikpapan, melanjutkan hidup di Ibu Kota. Ia membawa serta barang-barang dan kendaranaan dan anak dan istrinya. Ia meninggalkanku foto kopi KTPnya supaya aku tidak perlu kerepotan mencarinya ketika membayar pajak sepeda motor yang jatuh tempo di awal Februari, sebab aku mengambil sepeda motor kredit atas nama Hary yang sudah ber-KTP Balikpapan ketika baru lima bulan di kota ini.

Aku memulai kesibukanku di kantor kota dengan rambut baru dan potongan rapi jali. Kesukaanku terhadap rambut lebat panjang berantakan berubah belaka. Kini aku lebih suka gaya rambut tak terlalu panjang dengan gel. Kini aku juga senang berkemeja dan bercelana kain dan bersepatu pantofel selayaknya orang kantoran.

Tak ada kendala berarti dalam menjalani posisi baruku. Atasan-atasanku, baik yang nasional maupun expat, menunjukkan respectnya terhadapku. Hal itu membuatku senang bekerja tanpa perhitungan—setiap akhir pekan tetap aku sempatkan ke kantor menyiapkan hal-hal penting untuk minggu selanjutnya. Kebetulan seseorang yang aku sisipkan dalam do’a juga rajin bekerja di akhir pekan. Aha!

Selamat datang kehidupan baru!

***

            September 2015.

Aku kembali rajin menulis, menjadikannya bagian dari hari-hariku. Kau tahu, aku adalah tukang cerita hal-hal lalu, untuk itu aku kembali mengingat-ingat dan mencatat masa lalu yang perlu perlu aku catat. Tak sedikit hal lalu yang aku ingat tapi tak aku catat dan tak aku tulis.

 Keinginanku untuk punya karya buku kedua mendesak dadaku. Aku memilah-milah kisah lalu yang ingin aku tulis lebih banyak. Aku menulis plot cerita tentang kekonyolanku dan bosku selama bekerja di Martabe, tetapi aku merasa sedang tidak lucu—akhirnya menulis tema ini aku hentikan.

Aku berganti menulis plot cerita tentang hal-hal konyol awal menikah hingga awal menjadi seorang bapak. Ya. Aku kini telah memiliki anak—jagoan kecil berumur empat belas bulan bernama Alastair Zikril Haq—hasil pernikahanku dengan seseorang yang aku sisipkan dalam do’a menjelang masa promosi: adalah Fatkhuriah, istriku yang tak boleh bernasib malang dalam berumah tangga. Kami menikah pada 28 September 2013 lalu. Menjelang ulang tahun kedua pernikahanku, aku menulis hal-hal yang berlalu dalam rumah tanggaku. Tapi tak aku lanjutkan lagi, karena aku ingin menuliskannya ketika umur pernikahan kami sudah panjang, entah kapan, nanti.

Ketiga kalinya aku mencoba menulis tema komedi, yaitu pengalamanku berbelanja online, mencari rumah kontrakan secara online, mencari rumah untuk dibeli lewat online, dan pengalamanku menjual sesuatu secara online beserta kejadian-jedian unik di balik transaksinya. Masih saja aku sedang tak merasa lucu. Sehingga aku hentikan menulis tema ini.

Setelah melewati perenungan tak panjang, aku menemukan status facebook seseorang yang tak kukenal tentang rasa rendah dirinya akan kekurangannya yang sebenarnya bukan kekurangan menurutku. Dari situ terpikirkan olehku menulis tentang keterbatasanku sendiri: aku yang lancar berbahasa indonesia setelah kuliah, aku yang bisa mengendarai sepeda motor aku yang bisa menggunakan komputer setelah dua tahun kuliah, aku yang memulai karir dari ketiadaan, aku yang bisa sekolah saja sudah alhamdulillah, aku yang kurang dan aku yang terbatas lainnya. Aku ingin menulis hal itu untuk membuka mata orang-orang yang merasa rendah diri—betapa hal itu tak perlu terjadi!

Aku mulai menulis keterbatasan itu. Setiap kali aku mengetik kalimat demi kalimat dan mengingat hidupku semasa kuliah, yang muncul adalah Hary—sahabat yang melekat dalam ingatan. Ia yang kini telah memiliki tiga orang anak dan menetap di Jakarta, aku telepon malam-malam, mengkhabarkan padanya bahwa aku akan menulis tentang persahabatanku dengannya selama tiga puluh hari penuh, di bulan Oktober.

Aku mengumpulkan serpihan-serpihan ingat sekaligus kelupaan. Dan, berkembanglah menjadi tulisan yang telah kau baca hingga seri terakhir ini.

Terimakasih telah bersama ceritaku hingga hari ini.

Mari merayakan kebahagiaan!