Alastair dan Berat Badannya

Berkorban adalah melepaskan hal baik untuk sesuatu yang jauh lebih baik lagi, kurang lebih demikian pengertiannya yang pernah saya baca di buku 8 Habbit. Dan, sekarang kami sedang mengalaminya, lagi. Kebiasaan setiap pagi saya diantar dan dijemput sama istri sekaligus Alastair harus dihentikan.

Setiap pagi dan sore saya menumpangi bus kantor, tempat naik sekaligus turunnya tidak jauh dari rumah–hanya perlu jalan kurang dari seratus meter. Alastair dan mamanya selalu bersama saya menuju jalan raya yang tak jauh dari rumah itu, bersama menunggu bus datang. Ketika bus datang, saya naik bus–pasti akan mengambil tempat duduk dekat jendela kanan karena Alastair dan mamanya akan melambai-lambaikan tangannya. Saya pun senantiasa membalasnya dengan penuh semangat, hingga kami saling beradu senyum. “Dadah papa… dadah papa…” mereka begitu kompak.

Pernah sekali dua saya diambekin sama mereka, karena pas mau duduk di bangku bus, ada barang yang terjatuh. Di saat bersamaan supir bus melanjutkan perjalanan, saya tidak sempat menengok ke arah Alastair dan mamanya. Lambaian tangan mereka tak mendapat balasan, saya pun turut menyesalinya. Kebiasaan yang sudah terjadi lebih dari setahun itu memang sayang jika ada kelalaian saya yang terselip begitu.

Hingga pada akhirnya, kebiasaan antar jemput ini kami putuskan dihentikan. Keputusan tersebut kami ambil karena perut mamanya sakit tak karuan belakangan ini. Pada saat diperiksakan, dokter hanya berpesan: jangan mengangkat beban berat dulu, dan harus benar-benar dijaga kalau mau aman. Berat Alastair 13 kilogram memang cukup membuat mamanya kewalahan, terlebih mamanya dulu melahirkan caesar dan pasang KB jenis spiral. Efek samping dari kedua pengorbanan besar itu memang menyakitkan.

Sebisa mungkin saya membantunya menghindari menggendong Alastair, kecuali saya sedang tidak di rumah. Kalau saya di rumah, menggendong Al dari lantai dua ke kamar mandi lantai satu pun sekarang saya yang melakukannya. 13 kilogram sebenarnya bukan berat yang berlebihan, tetapi masalahnya, Alastair banyak gerak, banyak polah kalau sedang digendong. Ada-ada saja kehebohannya.

Saya senangnya adalah, porsi kemelekatan Al ke saya atau ke mamanya jadi seimbang. Jadi, dia tidak menempel banget ke salah satunya. “Kita bersahabat sampai kita sama-sama tua ya,” begitu kata saya ke Alastair.