Alastair dan Crayonnya

Setelah ia bosan mencoret-coret tangannya, kakinya, dan pipinya dengan crayon, kini Alastair memerlakukan  alat pewarnya itu seperti peluru yang sedang dijauhkan dari senjatanya: kalau  tidak disimpan rapi dalam kotaknya, ya, diberdiri-sejajarkan di atas meja.

Menata crayon pada posisi berdiri-tegak-sejajar tidak selalu berhasil ia lakukan sendiri, terlebih ketika dia melakukannya di lantai rumah yang tidak sepenuhnya rata ini. Ketika ia tidak berhasil melakukannya, ia akan teriak dan menangis dan meronta-ronta. Kalau dia berhasil melakukannya tetapi setelahnya ada yang tersenggol atau jatuh terkenan angin, ia akan bereaksi sama dengan ketika ia gagal melakukannya. Sungguh anak yang belum berdamai dengan kegagalan.

Kalau sudah demikian, ia akan mendatangi saya atau mamanya untuk meminta melakukannya–sesuai keinginannya. Kalau maunya sama saya, harus sama saya, tidak boleh digantikan oleh siapapun. Kalau maunya sama mamanya, tidak bisa ditawar-tawar lagi. Yasudah, kami turuti saja maunya.

Menuruti permintaannya untuk menata-berdiri-sejajar-kan crayonpun masih ada aturan tambahan menyusul. Saya atau istri harus duduk manis di titik yang dia tentukan, tidak boleh mengambil crayon dari kotaknya dan menatanya di meja atau di lantai. Harus dia sendiri yang mengambil dari kotak, ia serahkan dengan tangan kanan dan diterima dengan tangan kanan, baru saya atau istri menatanya. Itupun, masih ada aturan susulan lagi. Penyusunannya memanjang ke samping, ketika dia menyerahkan warna tertentu–misalkan kuning–lalu kami menyusunnya memanjang ke kiri, akan ada dua reaksi: dia bertepuk tangan sambil melompat kecil atau merengek. Kalau merengek, itu artinya dia tidak setuju kalau yang warna kuning dibariskan ke kiri, maunya ke kanan. Dengan sigap harus dipindah memanjang ke kanan. Dalam hal ini, kadang harus memainkan intuisi, kira-kira harus disusun ke kiri atau ke kanan. Dan satu lagi, tidak boleh ada crayon yang miring atau jaraknya terlalu longgar, siap-siap dia ber-ehek-ehek. Sungguh anak yang belum berdamai dengan ketidaksempurnaan.

Setelah semua crayon tersusun rapi, ia akan menghitungnya dari ujung ke ujung. Saat dia menghitung dengan bahasa indonesia, ia mentok di angka sepuluh. Sementara crayon ada dua belas. Lalu, dia akan mengulang penghitungan dengan bahasa inggris, karena dengan bahasa antah berantah ini dia mampu menghitung sampai tigapuluh. Sungguh anak yang belum berdamai dengan bahasa ibunya.

Tahap terakhir adalah mengembalikan crayon ke dalam kotak. Dia sendiri yang akan mengambil dan memasukannya ke kotak. Tetapi…bukan berarti tugas kami–orang tuanya–selesai sampai di situ. Harus tetap duduk manis dan menjaga. Karena ketika terjadi senggolan yang menyebabkan crayon sebelahnya jatuh, kami harus beradu cepat: memperbaikinya segera atau dia bakal teriak belaka. Begitu semua crayon selesai dimasukan ke kotak, setelah itu baru bagian akhir, yakni pemberian tepuk tangan dan teriakan… horeeeeeee yang ia tunggu-tunggu.

Itupun kalau dia udahan mainnya, kalau dia masih mau main lagi, kembali ke proses awal. Anggap saja mainnya sampai sepuluh kali putaran, rasanya itu seperti… membaca tulisan ini dari paragraf dua sampai akhir sebanyak sepuluh kali. Berani coba?