Alastair dan Es Krimnya

Kalau ditanya apa makanan kesukaan yang kalau sehari tidak makan akan membuat hati bimbang gundah gulana, Alastiar akan menjawab dengan lantang gegap gempita: “Aiski!” Bisa dibilang, Alastair dan Es Krim itu seperti saya dan Ifat–sulit untuk dipisahkan.  Tsah. Lumayan dapat wadah buat gombalin istri. 

Kesukaan Al terhadap es krim membuat saya dan Ifat seringkali kebingungan. Sehari bisa tiga  kali empat kali menagih es krim. Kalau gak diikutin maunya, pura-pura bosan di rumah terus minta naik sepeda keluar rumah. Baru jalan beberapa meter, dia mencelat keluar dari sepeda, lalu melipir ke warung. Ujung-ujungnya memanjat freezer. Tak peduli malam hari, sedang hujan, becek, Cinta Laura diculik tukang ojek, kalau lagi minta es krim–Al akan merengek heboh. Suka sih suka, tapi kok ya segitu amat.

Pernah Ifat mengakali dengan membuat es krim sendiri, supaya bahannya lebih aman lah buat Al–karena kita yang memilih semua komposisi bahan. Sayangnya upaya ini tidak bertahan lama, karena dia tidak begitu suka. Yang ada malah kasihan Ifatnya, sudah repot bikin sedemikian rupa dicuekin sama anaknya. Saya tidak menyerankan untuk melanjutkan usaha itu, nanti Al dibilang gini: “Kayak bapaknya aja loh, sudah disedian makanan tapi malah gak dimakan.”  Dengan terhentinya usaha itu, otomatis sindiran ke saya tidak terjadi. Yeah! Hihihi…

Yang mengkhawatirkan dari kegemaran berlebihannya Al terhadap es krim ini adalah, dia jadi semakin tidak suka mengkonsumsi buah. Padahal dulu sampai umur setahun-an suka banget dia makan alpukat sama buah naga. Sekarang? Dia lebih tertarik melihat pup-nya sendiri daripada mendekati buah-buahan tersebut. Mana minum susu formula atau susu pertumbuhan gak mau sama sekali. Sesekali sih dia mau minum susu ultra, itupun sewindu sekali. 😀

Tolong kasih saya ide, bagaimana cara lembutnya untuk membuat Al tidak begitu suka dengan es kirim? Siapa tau teman-teman punya pengalaman serupa.