Alastair dan Jam Tidurnya

Salah satu momen intim dengan anak adalah bersamanya satu bantal, menemaninya hingga tertidur lelap. Ada sentuhan hampir seluruh panca indera yang terlibat, dan saya suka sekali memegang telapak tangannya–saya selalu merasa ada energi terlembut yang ditransfer ke saya. Sentuhan telapak tangan ini hanya bisa saya lakukan lama ketika dia tidur, saat terjaga sulit untuk saya melakukannya. Bisa dipastikan tangan saya dihempas, mungkin dia risih. Atau mungkin dalam hatinya Alastair berkata, “emang gue cowok apaan, pegang-pegangan tangan lama-lama sesama cowok?”

Dulu, waktu dia berusia di bawah satu tahun, saya sering memijatnya sebelum atau sesudah mandi. Membersihkan pupnya juga sering, dulu. Sekarang sudah jarang sekali saya melakukan itu, apalagi memijatnya–gak pernah lagi. Dia meronta-ronta kalau dipijat, semacam belut yang ditangkap dengan tangan yang bukan tangan dominan. Untuk itulah saya mencoba membuatnya tertidur, supaya saya tetap bisa merasakan momen spesial bersamanya.

Awalnya saya agak ogah-ogahan. “Tugas papanya kan meniduri mamanya, bukan meniduri anaknya,” jawab saya ngawur ketika mamanya meminta saya untuk membuat Alastair tidur. Setelah saya coba, ternyata bikin ketagihan.

Tahun 2017 ini adalah tahun tidur teraturnya Alastair. Sebelumnya, dia susah sekali tidur teratur, dan ada-ada saja syaratnya. Kadang harus dibawa naik kendaraan mutar sana-sini supaya dia mau tidur. Kadang harus gendong ke sana kemari. Kadang harus naik sepeda, dorong sampai megap-megap. Apalagi siang, kadang gak mau tidur sama sekali. Sekarang, dia sendiri yang tau jam tidurnya. Siang jam setengah dua belas dan malam jam sembilan, dia yang justru mengajak masuk kamar, berlari-lari kecil sambil bilang, “bobooook!” Kalau sudah demikian, harus disusul segera. Ah, lucu sekali.

Memang sih, saat menempelkan kepala di bantal, bukan serta merta dia akan segera memejamkan mata lalu larut dalam kesadaran terbawahnya. Tidak. Testimoninya agak panjang, kadang bisa sampai setengah jam sendiri. Dia akan mengutik-ngutik tembok, sampai tipis loh cat-nya. Bahkan sudah ada bagian tembok yang menampakkan lapisan keduanya, cat lama. Dia gak ke mana-mana seperti sebelumnya, tetap diam di tempat tetapi harus ditepok pantatnya atau dielus punggungnya. Sesekali harus digoyang-goyang badannya semacam diayun. Kalau sebelumnya, menjelang tidur dia akan gegoleran dari ujung ke ujung. Dia akan menghinggap dari satu bantal ke bantal lainnya, tergeletak di atas bantal seperti anak kucing yang sedang menikmati kehangatan yang empuk.

Tadi malam adalah bagian satu bantal bersamanya yang paling menggemaskan. Lewat beberapa menit saya menepuk pantatnya, saya menyanyikan lagu Nina Bobo. Saya terkejut, dia melanjutkan nyanyiannya sesaat setelah saya merampungkan bait pertama. Rupanya dia sudah menghapal lagunya, padahal jarang saya menyanyikannya. Itupun liriknya saya ubah, biasanya. Tetapi entah dari mana dia belajar, kok dia bisa merampungkan–dengan lirik aslinya. Mamanya gak pernah mengajari dia lagu itu, karena menyanyikan lagu akan mengulur waktu tidurnya. Kalau mamanya, biasa membacakan dongeng Little Miss Sunshine dalam bahasa Indonesia. Nina Bobo versi saya begini: nina bobo oh…. nina bobo, kalau tidak bobo matanya ngantuk. Karena saya merasa aneh dengan lirik terkahir digigit nyamuk, kenyataannya memang tidak demikian.

“Bobo bobo oh… bobo boooobo. Tida tida boboooo gigi namuuuk. Bobo bobo oh… bobo boooobo. Tida tida boboooo gigi namuuuk. Bobo bobo oh… bobo boooobo. Tida tida boboooo gigi namuuuk…” saya tertawa ngakak setiap dia mengakhiri nyanyiannya, Alastair lebih cekikik lagi dari saya. Lalu saya memeluknya erat, melepaskannya, dia mengulang nyanyian lagi, cekikian, terus berpelukan gemas lagi. Begitu terus sampai mamanya ketiduran duluan. Kali ini, saya sengaja mengulur waktu tidurnya karena belum pengin momen itu usai. Dan… perlakuan tidur meniduri jadi terbalik. Alastair terus menyanyikan lagu Nina Bobo, saya menyusul mamanya–ketiduran. Alastair justru yang tidur terakhir. HAHAHAHA!

Hal-hal seperti itulah yang membuat saya semakin betah di rumah dan semakin tidak masalah dengan kebiasaan baru–minim memegang telepon genggam. Ya, masa kecilnya ini, masa lucu bangetnya ini, saya pikir sayang sekali jika banyak saya lewati tanpa mengetahuinya. Toh, masa ini tidak akan pernah kembali lagi, terlebih ketika nanti dia punya dunianya sendiri.