Alastair dan Ketakutannya

Apa yang ditakuti Alastair adalah sesuatu yang tidak seharusnya ditakuti di mata saya ataupun di mata kebanyakan orang, mungkin. Sebaliknya, keberaniannya dia adalah sesuatu yang nekat menurut saya maupun di mata kebanyakan orang, mungkin. Mari kita simak satu persatu keberanian sekaligus ketakutannya yang bikin geleng-geleng kepala atas.

TAKUT SAMA SUARA MUSIK DI MOBIL

Dia suka menyanyi, menonton lagu anak-anak di TV ataupun di youtube, terkadang dia menyanyi di saat kesadarannya sudah level theta–hampir tertidur masih mengeluarkan bunyi nada. Anehnya, ketika masuk mobil dan mendengar suara musik dia akan menarik tangan saya untuk segera mematikan musik. Kalau tangan saya tak kunjung bergerak dan mematikan, dia akan terus memaksa, kemudian jurus terakhir keluar: teriak dan menangis.

Ketakutannya soal musik di mobil hanya berlaku saat naik mobil sendiri. Kalau di mobil orang lain, apalagi angkot, mau suaranya sekencang apapun dia tidak akan protes atau ketakutan. Ketakutan pilih kasih ini namanya. Saya tidak pernah lagi mendengarkan musik di jalan, kecuali sedang nyetir sendirian.

Pernah dia takut dengan suara musik dari speaker active di rumah. Waktu itu saya menyalakan ipod dan menyambungkannya ke speaker active, dia bingung, lari keluar kamar, dan teriak minta suara itu dihilangkan. Tapi terus saya biasakan, sampai akhirnya dia tidak terganggu lagi dengan musik di rumah. Saya menyimpulkan, dia tidak suka ada suara tanpa wujud sumber suara. Mungkin dikira suara  hantu kali. Tapi yang di mobil, belum ada obatnya sama sekali.

TAKUT NAIK LIFT

Mau sedingin dan sewangi apapun setingan lift, tidak akan sanggup membuat Alastair suka menaikinya. Baru berdiri menunggu pintu lift terbuka saja dia sudah berontak, lebih liar dari seekor anak kuda yang dijauhkan paksa dari ibunya. Masalahnya, ketika hendak menaiki gedung yang tidak punya tangga selain tangga darurat, harus naik lewat situ. Alastair tentu tidak peduli. Selama di lift dia akan terus berontak sepaket dengan tangisannya–tangan, kaki, badan, kepala, gigi, terkadang angin dari lubang anus, semuanya bergerak bebas. Kalau pas lift penuh, tahan-tahan perasaan gak enak sama orang lah.

TAKUT DOKTER DAN RUMAH SAKIT

Alastair anaknya kuat menghafal, terutama menghapal lokasi. Ke jalur rumah kakak sepupunya saja, meski masih jauh, kalau sudah masuk jalan menuju ke sana dia akan memanggil nama kakak sepupunya tersebut. Dari umur 2 tahun loh seperti itu. Saya juga gak tau deh, bagaimana caranya dia menghafal jalan.

Dampak repot dari hafalannya adalah dia menghafal semua rumah sakit yang pernah didatangi dan tempat dokter anak. Baru belok menuju pintu gerbang rumah sakit, dia itu merengek minta putar balik. Dia akan berhenti menangis kalau sudah masuk parkiran. Masuk rumah sakit, dia suka lari-lari di ruang tunggu pendaftaran. Jadi ketakutannya gak sepaket, hanya bertahap. Setelah lari-lari di ruang tunggu, kita angkat menuju dokter yang dituju, belum masuk ruang praktek saja sudah menangis duluan. Bulan lalu sih agak kalem dia masuk ruang praktik dokter, semoga saja awet.

Minum obat juga dia menangis kejer. Misalnya, saya baru mengambil botol obat di atas lemari, dia sudah menangis heboh sampai beranjak sedikit melompat dari tempat tidur–berusaha menghalau saya. Dia bisa berontak hebat sampai keringatan disko. Pas obat sudah masuk mulut, langsung diam, karena terasa manis kan. Begitu terus setiap berurusan dengan obat. Dia takut sama urusan medis ini, berawal dari suntik imunisasi. Di kepala dia, sudah melekat urusan medis dengan suntik.

Di balik sedikit ketakutannya itu, tersimpan banyak keberanian yang menggetarkan lutut saya dan Ifat;

Dia sering menagih main ke mal. Kalau melewati mal tapi tidak belok masuk dia akan menangis, sampai akhirnya dia lupa. “Main main main…” katanya merengek. Kalau pas dibawa ke mal, yang dia maksud main itu adalah naik turun eskalator. Mendebarkannya lagi, dia gak mau dipegang. Makanya pada saat mau naik eskalator, dia harus bergelut sama saya. Dia gak tau bahayanya, jadi sok yes saja mau naik sendiri dengan badan dan kestabilan sekecil itu. Pernah sekali dia sampai melantai, menangis sampai rebahan di lantai hanya karena saya pegang dan menahannya dekat eskalator. Ini kan keberanian yang nekat. Pas turun juga begitu. Dia akan meresa naik eskalatornya batal kalau di ujungnya saya yang pegang dia keluar, bukan dia turun sendiri. Cobaaaaak.

Dia berani melompat dari ketinggian yang dia yakini. Dari atas kursi kerja, kursi bar, meja,  dan lemari pendek. Tapi kalau dari atas lemari yang agak tinggi, modelnya begini: dia minta diangkat naik, nanti turunnya dia lompat dengan cara minta saya tangkap. Jadi saya harus nunggu dia menjatuhkan diri. Kalau gak, siap-siap saja dia merengek dengan tangisannya. Capeknya itu kalau dia minta berkali-kali, berkali-kali, berkali-kali. Mau dicuekin, takut dia nekat dan melompat. Hiiiii…

Dia berani kabur dari rumah, sementara begitu keluar langsung jalan ramai kendaraan. Kaburnya tanpa sepatu atau sandal. Lari telanjang kaki saja. Makanya, pagar rumah selalu dalam keadaan tertutup. Kalau gak tertutup, berarti ada keluarga yang tidak tinggal di situ datang main ke rumah, dan tidak menutup pintu pagar karena tidak tau alasannya. Atau, tau, tapi tidak terlalu peduli. Dan, seringkali dia memanjat pagar sampai setengah. Terus mengguncang-guncangkan pintu. Dia berharap pintu itu akan rubuh oleh hentakannya, dan bisa kabur dengan penuh bangga dan kemenangan.

Dia berani memanjat tiang lampu merah. Ini absurd sungguh. Dia suka banget melihat lampu merah. Pernah sekali saya bawa dia keliling kampung Gunung Sari, baliknya lewat pinggir jalan utama. Tadinya dia duduk di sepeda gitu, saya dorong dia. Di tengah jalan dia turun dan mendorong sendiri sepedanya. Pas di lampu merah, dia lepas sepedanya langsung mau lari ke jalanan. Saya kaget setengah kaya mendadak, langsung saya tahan. Dia berontak, menangis, teriak, orang-orang yang berhenti di lampur merah melepas tatapan tak sedap–seakan saya ini penculik anak. Dia ngotot mau ke tiang lampu merah tengah. Tapi gak mau digendong. Saya paksa gendong lah. Pas nyampe tiang lampu merah saya turunin, dia kegiarangan. Langsung memeluk tiang dan mencoba memanjat besi yang licin tersebut. Aduhai. Begitu kesusahan dia memanjat, akhirnya dia mau saya gendong kembali. Tapi minta saya angkat naik gitu supaya dia bisa menjangkau lampunya. Pastinya ketinggian saya gak sampai lah ya kan. Dia putus harapan, dan mau dibujuk untuk pulang saja. Fiuh.

Begitulah Alastair Sang Jagoan!