Alastair dan Mamanya

Kemarin saya cukur rambut supaya kepala gak tampak terlalu bulat seperti kembang kol. Alastair juga sekalian dicukur, karena rambut bagian sampingnya dia sudah merambat ke kuping serta poninya tak beraturan. Alastair dipotong cepak, setengah sentimeter. Sudah ketebak sih, bentukannya pasti jelek. Potong pendek berakhir jelek bukan sekali ini saja, sudah ketiga kalinya. Niatnya supaya awet pendek, dan lama baru cukur lagi. Modusnya, tidak mau kerepotan membujuk dan memegang dia yang suka berontak di tempat cukur. Tapi apapun itu, Alastair tetap sosok yang selalu berhasil membuat saya rindu, seperti halnya saya rindu terhadap mamanya. Apalagi kalau harus dinas ke sekitaran Ibu Kota seperti hari ini, rindu membuncah muncul sedari saya belum meninggalkan rumah.

Tadi malam saya tiba di Bintaro, berbuka puasa seorang diri dan sahur pun seorang diri. Sungguh kondisi rindu yang tidak tepat rasanya. Tugas tetaplah tugas yang harus saya jalani penuh cinta juga, apa mau dikata, ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai pekerja.

Sempat hati ini tidak tenang karena Mamanya Alastair mendadak sakit–lemas dan muntah cukup banyak. Saya hanya bisa memberinya kalimat penyemangat lewat tampilan video call, tanpa bisa mengelus dan memanjakannya. Untungnya agenda ke kantor Bintaro hanya sehari, besok pagi sudah kembali ke pelukan anak dan istri. Yay!

Apa yang membuat rindu kali ini begitu membucah? Apa yang membuat rindu ini beda dengan rindu yang biasanya? Sehari sebelum saya ke luar kota, saya dan Ifat mengobrol banyak sekaligus serius tentang rencana ia melanjutkan kuliah tahun depan di tanah Jawa. Dua tahun kami akan berjauhan. Alastair akan terkadang sama mamanya saja, terkadang sama  saya saja. Kami sudah menyiapkan mental dan persiapan-persiapan lainnya, tetapi untuk rasa rindu, sudah muncul dari saat kami mengobrol serius tentang ini.

Ada misi kehidupan di masa tua yang harus kami raih dengan mental terbaik kami, sehingga harus dibekali dengan salah satu mimpi melanjutkan kuliah. Kalau saya bilang sangat berat, nanti dibilang berlebihan. Kalau saya bilang enteng, saya membohongi hati saya sendiri. Saya sudah membayangkan akan bolak-balik Kalimatan Jawa setiap bulan, bahkan bisa lebih dari sekali sebulan. Kemudian kalau cuti akan menengok anak istri ke tanah Jawa. Ngebayanginnya saja sudah meleleh hati ini.

Saya ingat kata-katanya Stephen R Covey di buku 8 Habbit: pengorbanan adalah melepaskan hal baik untuk sesuatu yang lebih baik lagi.

Menanggapi kalimat tersebut, untuk kesekian kalinya saya harus berkata: BAIKLAH!