Alastair dan Sekolahnya

Tak terasa sudah setahun Alastair punya seragam sekolah dan bergaya selayaknya anak sekolahan. Senin dia mengenakan seragam putih merah dibalut rompi mungilnya bergambar dua santri junior di dada kiri. Selasa dia mengenakan seragam putih-putih bak dai kecil yang sedang siap-siap mengisi tausyiah. Rabu dia mengenakan seragam biru kuning berbahan kaus katun–semacam seragam olahraga gitu. Alastair tampak laki dengan seragam-seragamnnya itu.

Setahun lalu usianya baru dua tahun. Kami mengikutkan dia ke playgroup supaya bersosialisasi, punya teman, dan punya kegiatan yang terstruktur. Kasihan di rumah saja sama mamanya. Nanti gak bisa gaul seperti bapaknya. Kasihan mamanya juga, di rumah melulu nanti jadi kuper. Paling tidak di sekolahnya Al, Ifat bisa ketemu dan berbincang dengan ibu-ibu lain. Asal jangan sampai rumpi tidak jelas saja.

Al adalah anak murid paling kecil di antara teman-temannya yang lain. Anak lain paling gak tiga tahun baru dimasukin ke playgroup. Udah gitu, Alastair sama sekali belum bisa bicara waktu itu. Benar-benar mengandalkan bahasa kalbu saja. Pastinya para guru cukup kesulitan, tetapi saya yakin–dengan banyak modal kesabaran yang mereka miliki, mereka akan berinteraksi asik dengan Al. Alhamdulillah, Al juga nyaman meski awalnya selalu nangis ketika mamanya meninggalkan ruang kelas bermain mereka.

Al lebih nyaman sama kelasnya semenjak bangku dan meja mini di dalam kelas yang tadinya ditaruh di pinggir untuk mainan, dipindah dan disusun rapi sebagai meja belajar. Sehingga anak-anak bisa duduk di bangku dan meja masing-masing mendengarkan instruksi main dan bernyanyi dari guru. Ternyata Alastair lebih suka dengan setingan agak resmi seperti itu daripada duduk melantai. Dari sekolah inilah dia sangat suka diajak bernyanyi dan membaca doa berulang kali waktu rebahan di kasur.

Alastair sekolah pada hari senin sampai rabu. Setiap harinya satu setengah jam. Tidak terlalu banyaklah, sehingga kami yakin dia tidak akan bosan dengan yang namanya sekolah. Apalagi, prinsip saya dan ifat cukup fleksibel. Niat memasukan Alastair ke situ dari usia dua tahun, supaya punya teman dan belajar bersosialisasi. Jadi, kalau pas dia malas diajak mandi, malas ke mana-mana, ya gak berangkat sekolah. Kalau dia lagi gak mau bangun pagi, kami tidak akan membangunkannya untuk berangkat sekolah–biarkan saja dia tidur. Kalau dia bangun pagi, berangkat. Kalau dia kesiangan, ya gak berangkat. Sesederhana itu saja.

Sedari awal Ifat sudah membicarakan hal tersebut ke pihak sekolah, mengingat usianya yang masih sangat dini. Meningat komunikasi verbalnya Al juga masih terbatas. Kan susah dia menyampaikan suka tidak suka kalau begitu. Jangan sampai dia menjalani sesuatu dengan terpaksa. Maka, kamilah yang membangun kesepakatan fleksibilitas. Kasarannya, kita membayar sekolah itu untuk belajar semampunya Al saja–dari segi waktu, kesiapan, kesediaan, dan otaknya.

Mungkin terkesan sekolah kok suka-suka. Gak ngajarin disiplin. Ngajarin mangkir. Ah, saya pikir kesan seperti itu tidak tepat. Anak sekecil Al mana tau disiplin sekolah apa tidak. Sangat bisa lah nanti kami ajarin ketika usianya sudah pantas mendapatkan makanan bernama disiplin. Kan, itulah pentingnya sepakat di depan. Supaya tidak muncul asumsi dan kesan aneh-aneh. Bahkan Al pasti akan datang terlambat setiap hari sudah dibicarakan. Kalau pihak sekolah menolak, kami tidak memaksa. Kami cari yang cocok pastinya. Syukurnya, pihak sekolah tidak keberatan dengan itu semua.

Bahkan pihak sekolah lebih membebaskan lagi. Kan ada kelas lain, yang belajar sekaligus bermainnya rabu, kamis, dan jumat. Kalu di kamis dan jumat Alastair bosan di rumah dan pengin ke sekolah, Al boleh ikut kelas lain tersebut. Benar-benar fleksibel.

Atas kebaikan dan permakluman itulah saya dengan sukarela membantu kegiatan sekolah. Seperti beberapa waktu lalu saya menjadi MC acara perpisahan TK B sekolah tersebut. Saling membantu. Begitulah.