Amazing Seller Yang Bikin Garuk Kepala

Teringat pesan ibu sewaktu saya masih kecil, “Jangan berlama-lama di depan cermin, tidak baik. Dan, jangan sering-sering bercermin, juga tidak baik.” Sisi tidak baiknya tidak pernah dijelaskan lebih lanjut hingga saya berperut buncit seperti yang tidak kalian lihat ini. Mungkin nasihat itu sama membingungkannya dengan peringatan kalau sering foto-foto akan mengurangi umur. Hingga akhirnya saya menyadari sendiri kenapa bercermin lama-lama itu tidak baik, ternyata karena membuat kita bikin bingung diri sendiri.

Contoh saja, waktu saya mau menulis postingan ini saya duduk di meja samping lemari bercermin yang awalnya tidak kepikiran akan memulai dengan paragraf di atas. Tetapi karena pada saat menunggu proses mengunggah foto saya terus menengok ke kanan ke arah cermin, hingga menunda niat menulis. Saat saya kembali ke cermin untuk ketiga kalinya, saya mengubah kemiringan poni dari kanan ke kiri. Saya terus mengulang, membandingkan bagusan miring kiri atau miring kanan. Ada kelebihan dan kekurangannya. Kalau miring ke kanan saya tampak ganteng dari sudut kiri tapi jidat tampak lebih lebar, kalau miring kiri saya tampak ganteng dari arah depan tetapi kepala tampak aneh dari sisi samping. Habis itu saya mikir lagi, kenapa hal begini saja dipusingin? Bagaimana kalau poni dihilangkan saja biar beres? Saya jawab tidak, karena seorang Zia Ulhaq tanpa poni itu ibarat buku tanpa sampul. Bentar. Sepertinya analogi buku tanpa sampul tidak tepat tetapi saya tidak ada ide lain dan lebih senang melanjutkan tulisan ini ketimbang menghapusnya. Itulah jeleknya bercermin lama-lama, rasa tidak puas diri jadi muncul, kebingungan terus terjadi, dan saya jadi tidak fokus dengan tulisan.

Padahal, yang mau saya tulis adalah tentang kegilaan salah satu quiz hunter #AmazingSeller OLX yang bikin saya pengin garuk kepala sampai hari pelantikan Gubernur DKI Jakarta. Hanya karena bercermin, saya jadi memulai tulisan yang saya niatin dari awal–baru di paragraf ini.

Quiz Hunter yang saya maksud membuat akun baru OLX pada tanggal 17 Februari 2017, tanggal yang sama persis dengan dimulainya perlombaan menjual barang bekas berhadiah tersebut. Bisa jadi setelah 16 April nanti dia tutup akun, karena kuisnya hanya sampai di tanggal tersebut. List barang iklannya panjaaaaaang, sampe harus pinjam jempol tetangga buat bantu scroll list jualannya. Isi iklannya (hampir) sama semua, apapun jenis barangnya: “kami menyediakan barang bekas berkualitas dengan harga terjangkau… hanya melayani COD. Thanks OLX.” Kurang lebih begitu aja iklannya, tinggal copy-paste ubah nama barang. Dari judul hingga di deskripsi isinya hestek yang sudah saya tulis di paragraf sebelumnya.

Mau tau apa saja list jualannya yang bikin saya tertawa sekaligus pengin nimpukin?

Pakaian satu lemari diiklankan, tetapi bukan lemari difoto gitu. Pakaiannya difoto satu persatu dengan latar belakang bagian dalam pintu rumahnya, baju digantung menggunakan hanger. Paling banyak dipakai hanger warna hijau berbahan flat. Buku segudang, latar belakangnya beda-beda. Saya jadi bertanya, ini buku dia beneran atau tidak? Karena ada salah satu latar belakang yang tampaknya kalau gak toko buku, perpustakaan.

Atas pertanyaan saya di paragraf di atas saya hubungi dia menanyakan buku ESQ yang dia iklankan apakah (masih) ada atau tidak dan janjian nanti malam ketemuan bertukar buku dengan uang, sekaligus saya pengin melihat langsung orangnya seperti apa.

Oke, barang yang dia jual yang menurut saya menggelikan adalah tutup gelas sebiji, sapu lidi bekas seikat, garpu bekas satu, piring bekas satu dua lingkaran, sutil, kuas kue ukuran super kecil sepotong, talenan kayu yang sudah pucat pasi, botol kecil buat naruh merica sebiji, sampe sikat plastik buat sikat pakaian, YA ALLAH!

Iyasih, dia mau jual apa saja terserah dia. Orang tertarik atau tidak, merasa barang jualannya layak atau tidak, terserah dia. Tinggal calon pembeli mengabaikan apa-apa yang menurutnya tidak pantas dibeli. Tapi… gimana ya, kelihatan banget kalau dia jualan berburu hadiah kuis yang hadiah utamanya mobil itu.

Rencana bertemu pun batal, sambil menulis, saya menghubunginya terus. Ternyata buku yang dia iklankan gak ada, katanya mau pesan dulu. Disuruh tunggu dua tiga hari, ya males lah. Ngapain menunggu yang gak jelas begitu. Saya sempat menanyakan–apakah dia serius menjual printilan dapur yang menurut saya kurang pantas dijual itu, atau hanya sekadar mengejar poin kuis? Perhitungan poin pun saya kurang mengerti. Kalau berdasarkan barang laku, gampang saja menangin kuisnya: tinggal iklan sebanyak mungkin, bikin transaksi bohongan, terus laporkan bahwa barang-barang itu sudah laku terjual. Kalau poin lainnya terhitung dari banyaknya orang yang melihat, tinggal iklanin barang-barang menarik dengan deskripsi dan harga yang menarik, kalau dihubungi tinggal bilang barangnya sudah laku.

Semoga itu hanya asumsi negatif saya saja.