Angka 3 (tiga)

31 Desember; dunia disibukkan oleh pro-kontra pesta kembang api, suara petasan, warna-warni hiasan persiapan sambutan tahun baru, dan resolusi demi resolusi. Meriah. Tak dipungkiri itu. Tak ada yang benar-benar bisa menghalangi euphoria-nya.

31 Desember; waktu di mana seorang malaikat yang gue sebut Ibu melahirkan anak keduanya, di kampung, jauh dari mimpi-mimpi tinggi. Ia hanya tau, anaknya ini akan menjadi senyum baginya, pada waktu yang tak terbatasi.

31 Desember; tanggal yang tidak ibu tau, bahwa di tanggal dan bulan yang sama telah lahir orang-orang hebat dunia, salah satunya George C. Marshall–Jendral AS tahun 1947. Ia juga tidak tau, bahwa anaknya ini bermimpi jadi orang hebat. Ia hanya tau, anaknya ini masih menjadi senyum baginya, dalam keyakinan yang sama–dalam waktu yang tak terbatasi.

31 Desember 2013; adalah akhir tahun terakhir umur gue menetap di angka 2 (dua), sekaligus akhir tahun pertama gue hidup berdua dalam rumah yang sebenarnya–rumah tangga. Sebuah kejutan gue dapati saat itu; gue berangkat ke kantor bersama seorang malaikat yang gue sebut istri, tiba-tiba mengajak teman-teman di kantor mengantarkan kue ultah ke ruangan gue, kue yang diambilnya dari bagasi mobil. Entah kapan kue itu dimasukkan ke bagasi mobil, sementara istri terus bersama gue di rumah.

31 Desember 2014; Hari berlalu seperti hari-hari lain, biasa saja. Bangun tidur subuh, disusul oleh istri beberapa saat kemudian. Diucapkannya selamat ulang tahun, diikuti sebuah kecupan dan pelukan pagi. Datar dan biasa. Tapi gue senang. Toh, gue bukan orang yang terbiasa (harus) merayakan ulang tahun. Diajak merayakan, hayuk, gak diajak merayakan, juga biasa saja.

Gue dan istri berangkat ke kantor bersama-sama, bagian dari rutinitas keseharian kami. Sampai kantor mendapat kabar baik, bahwa seluruh karyawan diperbolehkan pulang lebih awal–jam 3 sore. 2 jam lumayan. Hal baik lainnya, tidak ada blast email dari resepsionis kantor yang mengirim email ucapan selamat ulang tahun dengan –cc– seluruh karyawan kantor; biasanya itu dilakukan jika ada yang berulang tahun, sebab dia punya data tanggal lahir seluruh karyawan. Gue bebas dari teriakan pagi-pagi, dan juga bebas dari di-kerja-in.

Usai makan siang, gue dan seluruh teman-teman di kantor telihat mulai beberes, siap-siap untuk pulang cepat. Gue pengin pulang cepat-cepat karena senang akan punya waktu lebih banyak bersama Alastair, my little zombie, selain di waktu libur.

Satu jam menjelang pulang, terdengar dari kejauhan riuh rama nyanyian, “happy birthday to you….happy birthday to youuuuuuu…” Gue tengok keluar kaca ruangan, ternyata istri gue, bersama teman-teman kantor sedang mendekat, membawa kue ulang tahun. Ah, tetap aja gak bisa menghindar dari hal demikian, di kantor.

“Selamat ulang tahun, sayang.” Istri gue senyum-senyum campur malu-malu kucing mengucapkannya di depan teman-teman kantor. Gue membalasnya dengan perasaan campur aduk. Mengejutkan? Sedikit. hehe.

Lalu…

Datanglah kejutan yang sebenarnya.

Seorang teman kantor dengan langkah cepat dia mendatangi kerumunan di ruangan gue, bersama… ALASTAIR!!! Wuaaaa…. my little zombie, yang suka menggigit apa saja, datang ke kantor, menemui papanya…. wuaaaaa. Sungguh kejutan yang benar-benar mengejutkan!

Untuk pertama kalinya gue meneteskan air mata di hari ulang tahun.

“Selamat ulang tahun, Papaaaa…” Istri gue mewakili Alastair yang pastinya belum bisa ngoomong. “Setahun lalu, Dedek Al juga ke sini loh sama Mama, ngucapin selamat ulang tahun. Bedanya, Dedek waktu itu masih dalam perut mama.” Lanjutnya.

ultah

Gue mengambil Alastair, memeluknya erat, menciumnya dalam rasa bahagia penuh syukur. Tak begitu peduli lagi dengan riuh ramai teman-teman. “Ya Allah, terimakasih atas segala berkahMu, atas kado anugerah terindah ini.”

Mamanya mengatur skenario yang gak gue sangka; menelpon taksi untuk menjeput Alastair dan Babysitter-nya di rumah, terus didatangkan ke kantor.  Gak nyangka gitu, loh! *cium cium gemas*

Selamat datang angka 3. Akhirnya usia gue menginjak di angka segitu. Dulu, gue menganggap umur segitu sudah termasuk agak tua, ternyata salah besar! Umur 30 itu masih muda, belia. Buktinya, muka gue masih terlihat sangat muda, kok. Hahaha!

“Yang tua itu pikiran, bukan fisik.” – The Secret.