Apa Itu Konsisten?

Sesungguhnya penyakit tidak konsisten adalah sesuatu yang sudah mendarah daging di diri saya, apapun urusannya, selalu berurusan dengan  ketidakkonsistenan yang konsisten. 

Sudah berapa banyak pola pelatihan konsisten yang saya mulai dan berakhir di tengah jalan. Saya pernah memotivasi diri sendiri untuk menulis setiap hari, meski hanya satu lembar. Pernah berhasil. Bertahan tiga puluh hari, yang menghasilkan tiga puluh bab tulisan bersambung. Ambisi penuh ego meruntuhkan konsistensi tersebut. pada hari ke tiga puluh satu, ada kawan yang tiba-tiba menanyakan apakah saya punya naskah yang bisa disubmit ke penerbit. “Ada nih, kebetulan baru selesai aku tulis sebulan terakhir.” Saya minta waktu dua hari untuk merapikan tulisan dan tata letak pengurutan cerita. Lalu saya kirim ke kawan yang saat itu bekerja sebagai editor salah satu media ceta tersebut.

Seminggu tidak ada kabar. Minggu kedua dia menghubungi, “maaf baru sempat baca-baca tulisanmu.” Setelah itu tak ada kabar lagi. Minggu ketiga dia kembali memberi kabar, masih belum kelar membacanya. Sampai pada akhirnya di minggu keempat dia memberi jawaban yang menurut saya tidak tegas. Semacam disuruh turun dari lantai lima ke lantai satu, harus turun lewat tangga darurat terlebih dahulu baru naik lewat lift, kemudian turun kembali terjun bebas lewat jendela. Intinya basa basinya, naskah saya harus dirombak total–masih menggunakan plot cerita yang sama. Inti yang paling inti, naskah saya ditolak.

Karena kadung lama menunggu ketidakpastian, semangat merombak sama sekali tidak ada. Semangat melanjutkan menulis selembar seharipun buyar. Setelah itu menulis kalau pengin menulis saja, kebanyakan enggaknya.

Ganti tema. Saya menulis tentang perjalanan pernikahan saya, rencananya untuk hadiah kelahiran Alastair. Sayangnya gak kelar di saat kelahirannya Al di bulan Juli. Kemudian saya targetkan untuk hadiah ulang tahun pernikahan saya di bulan September, gak kejadian. Kehabisan periode hadiah untuk bla bla bla…saya mengajak kawan yang pernah menulis satu novel namun tak pernah muncul lagi–untuk berkolaborasi. Kebetulan dia juga belum lama menikah, jadi tidak ada salahnya untuk membubuhkan dua cerita sekaligus dua keluarga dalam satu buku. Gagal di tengah jalan.

Selang beberapa bulan, saya mengikuti pelatihan grafologi, dalam rangka penasaran dan iseng. Di akhir kelas grafologi yang berdurasi dua hari itu, ada sesi penyampaian masalah pribadi yang mentornya bakal ngasih solusi. Saya sampaikan masalah ketidak-konsistensian saya itu. Sama mentornya dikasih latihan ringan yang harus saya lakukan setiap hari selama sebulan. Latihannya: menulis tangan kata “didik” sebanyak setengah halaman A4 dan atau selama lima belas menit per hari. didik didik didik didik didik didik didik didik didik didik didik didik didik didik didik didik didik didik didik didik didik… begitu terus sampai elek. 

Pada hari kesembilan, saya kelupaan. Bahkan di hari kesepuluh, ingatnya pada saat mata sudah menagih tidur banget. Sementara pesannya mentor, kalau ada satu hari terlewatkan maka saya harus mengulang dari awal. Fiuh. Saya coba lagi. Hari ke empat belas, gagal lagi. Mau mencoba yang ketiga kali, saya pun kadung malas. Yasudahlah, kata saya. Untuk latihan mencapai tingkat konsisten yang baik saja, saya tidak konsisten.

Makanya saya mengadakan #RamadhanMenulis seperti sekarang ini. Misinya adalah belajar konsisten, menulis minimal satu blog post setiap hari selama satu bulan penuh. Dengan mengajak teman-teman yang lain, paling tidak membantu saya untuk saling mengingatkan. Kemarin saja saya  posting mundur dua kali karena terlewat. Tapi saya tidak mau merasa bersalah karena itu, namanya juga belajar. Belajar konsisten yang tak ada ujungnya. Saya tetap melanjutkan semangat menulis setiap hari ini. Gerakan menulis setiap hari seperti ini pernah saya lakukan. Dulu temanya Kisahnya Masa Kecil. Suapaya banyak yang ikut, saya siapkan hadiah satu juta untuk tiga blogger yang ikutan dan konsisten selama sebulan.

Kalau saya benar-benar bisa konsisten terhadap banyak hal di hidup saya, saya jamin saya akan jadi Presiden 2019-2024. Dan saya pastikan kalimat barusan, adalah mimpi dan asal ketik belaka.

Saya menulis tema inipun karena hampir kelewatan saya menulis hari ini. Setengah jam menjelang jam 12 saya belum menulis. Mata sudah mengantuk. Daripada mikir tema yang harus ngumpulin data, saya menulis begini saja. Aman. Mau menulis tentang Alastair lagi, kelihatan betul malas mikirnya mencari bahan tulisan.

Salam tidak konsisten!