Apalah Arti Sebuah Nama?

Nama? Bagi gue, arti nama itu penting. Oh, tepatnya, tau arti nama itu penting. Karena kita tinggal di negeri penuh pertanyaan. Nanya nama aja, pake nanya lagi artinya sekalian. Nanya punya pacar aja, pake nanya lagi kapan nikah. Nanya kabar pernikahan aja, pake nanya lagi kapan punya anak. Nanya kabar anak aja, pake nanya lagi sudah bisa apa? Kzl!

Contoh gue sendiri; Zia Ulhaq meniru nama Perdana Menteri Pakistan , ortu gue gak tau artinya apaan. Pokoknya niru aja. Huft. Banyak yang menganggap nama gue aneh, gak sedikit juga yang menanyakan artinya. Gue memberi arti di nama tersebut, ‘sinar kebenaran’. Arti yang sedikit mengandung unsur karangan, juga sedikit pemaksaan. Untung aja gak ada bahasa negara tertentu yang menggunakan kalimat ‘zia ulhaq’ yang artinya pantat hitam. Hancur reputasi gue sebagai anak.

Well. Tulisan ini gue persembahkan buat Bapak Irafdi beserta kedua istrinya–Ibu Erni dan Ibu Henny, yang telah memberi nama super absurd terhadap keenam anaknya. Absurd tapi seenggaknya kreatif, muncul dari ide sendiri, dan kocak.

Beliau adalah orang tua dari temen kantor gue, yang berdarah padang, yang masuk ke dalam golongan padang anyui’ alias padang hanyut. Namanya Iko.

Iko adalah anak kedua dari tiga bersaudara kandung, sementara tiga saudara lainnya adalah beda Ibu. Pelaku utama dari nama-nama absurd di keluarga mereka adalah bokapnya. Yuk, mari kita simak sejarah nama-nama mereka.

Sebut saja keluarga Ibu Erni adalah keluarga (a) dan keluarga Ibu Henny adalah keluarga (b).

1(a)

Cowok.

Le Ditto Irafio. Artinya, anak laki-laki dari Iraf alias Irafdi.

Nama anak pertamanya ini belum menggunakan bahasa padang, masih menggunakan bahasa campur, yang…uhm, gue lupa nanya diambil dari bahasa apaan. Itali? Anak kedua dan seterusnya lah yang menggunakan bahasa padang.

Setelah kelahiran anak pertamanya tersebut, Ibu Erni memasang KB cukup lama, hingga memutuskan untuk punya anak kedua setelah 5 tahun kemudian. Dengan jeda yang cukup lama, untuk anak kedua diputuskan untuk mengikuti program khusus dengan harapan punya anak cewek.

Dan lahirlah si anak kedua, yang tak lain adalah teman kantor gue itu.

2(a)

Cowok lagi, ternyata!

Dia diberi nama Iko Yandi Aghie. Artinya, ini yang dikasih. Karena waktu lahir, sang ibu berkata , “Yah…iko nan di agiah.” Untung aja kalimatnya gak diambil seluruhnya, bisa bisa nama temen gue jadi kacau–Yah Iko Yandi Aghie. Hilang kesan kerennya.

Karena belum mendapatkan anak cewek seperti yang diharapkan, pasangan suami istri tersebut memutuskan untuk segera punya anak lagi. Dua tahun kemudian, lahirlah anak ketiga.

3(a)

Cewek, alhamdulillah.

Yochiko Imphiami. Dalam bahasa padang; yo co’iko impian kami. Artinya, Ya, yang seperti ini impian kami.

Dengan arti nama adiknya itu, Iko Yandi Aghie mengalami kegalauan, betapa namanya menggambarkan bahwa kehadirannya tak sepenuhnya diharapkan. *ikut sedih, tapi sambil ngakak*

Setelah beberapa waktu kemudian, Bapak Irafdi dan Bu Erni mengalami masalah rumah tangga hingga mereka memutuskan untuk berpisah. Lalu, Bapak Irafdi menikah lagi–dengan Bu Henny. Juga, dengan tiga anak.

1(b)

Cowok.

Pabiala Fitrio Ramadhan. Dalam bahasa padang; pabialah iko jadi fitrah ramadhan. Artinya, Biar sajalah dia jadi fitrah bulan ramadhan. Konotasinya semacam whatever gitu lah ya.

Dengan diteruskan nama-nama absurd oleh bapaknya di istri keduanya, Iko Yandi Aghie gak lagi merasa tersinggung dengan nama pemberian untuknya. Terlebih, dia sangat dekat dengan adik-adiknya yang beda ibu.

2(b)

Cewek. Seperti sebelumnya, kalo anak cewek dibuat kesan indah pada namanya.

Laisa Ayuko Nakami. Dalam bahasa padang, lai saayu iko anak kami. Artinya, sudah secantik ini anak kami.

Kesan namanya sangat bertolak belakang dengan artinya. Dan, sepertinya ide pemberian nama sudah mencapai titik penghabisan. Hingga lahirlah anak terakhir. Dan arti namanya lebih mengenaskan dari sebelum-sebelumnya.

3(b)

Cewek.

Yoanna Mandela. Dalam bahasa padang, yo anak mande lah. Artinya, memang anak bapaknya.

hahahahaha! Gue gak bisa menahan tawa mendengar penjelasan nama-nama saudaranya Iko. Parah.

Di keluarga mereka, kocaknya tidak hanya di nama, tapi pada kesehariannya memang kocak-kocak. Semacam, tidak pernah terjadi masalah rumah tangga. Ketika Iko berkomunikasi dengan nyokapnya, bokapnya, atau kakak dan adiknya, cara mereka berbahasa dan berekspresi selayaknya sahabat yang sama-sama tau baik-busuknya kepribadian.

Memang begitu. Di pertemuan keluarga, kata Iko, mereka sering saling membuka aib pribadi masing-masing, walaupun tidak semuanya. Tak terkecuali ibunya, Bu Erni, pecinta anjing kelas kakap.

Kalau kalian, punya cerita unik apa dibalik nama sendiri atau nama-nama keluarga?