Aroma Kuburan Yang Memesona

Sehari menjelang puasa, komplek kuburan selalu ramai dengan orang berziarah. Banyak yang menyebutnya sebagai kegiatan nyekar. Rezeki penjual kembang kuburan membuncah di momen seperti itu. Sampai-sampai penjualnya kelimpungan melayani bungkusan demi bungkusan kembang. Beruntung saya mendapat kesempatan pulang cepat dari kantor, sehingga masih tetap bisa turut menjadi bagian dari keramaian itu. Saya suka bau pandan, tak ada penjelasan atas itu. Oleh karenanya, saya suka terpesona dengan aroma kuburan baru, bertabur bunga dan do’a-do’a, meski terselip sejuta tangisan di antaranya.Kemarin pas ke kuburan, area parkiran depan kuburan penuh dengan motor dan mobil, tentu saya dan keluarga yang datang lebih lambat tidak kebagian. Untuk berjalan saja agak kesusahan, harus mengalami senggolan kiri kanan sesekali dua. Beruntunglah ada pemilik rumah yang tidak begitu jauh dari kuburan mempersilakan kami memarkir kendaraan di halaman rumahnya. Lucunya, anak-anaknya melihat itu sebagai kesempatan mendapatkan uang jajan tambahan—lumayan buat beli es krim, katanya. Oleh si anak-anak kecil ditariklah tarif parkir seikhlasnya. Saya perhatikan gelagat polos mereka setiap mengatur kendaraan keluar, tampak sungkan menagih tarif tetapi lirikan matanya begitu jelas ngarepin. Begitu pengendara tampak merogoh kantung atau mengulurkan tangan, begitu lincah salah seorang dari mereka lari mendekat. Mereka akhirnya terus mengajak kendaraan-kenadaraan berikutnya untuk parkir di situ, dan tetap ketika kendaraan-kendaraan hendak pergi mereka mengatur lalu lintas dan mendapatkan imbalan jasa parkir. Sungguh keadaan saling menguntungkan.

Orang tua mereka yang melihat itu terkekeh-kekeh, terlebih pada saat anak cowoknya yang berumur sekitar 10 tahun dengan semangat menyuruh sang pengemudi untuk mundur padahal jalur maneuver masih begitu luas. Jelas. Anak kecil mana lah mau mengambil keputusan berisiko, mereka pasti memilih menghindari  masalah meski kemungkinan masalah timbul sangatlah kecil.

Tak terasa kembali dari kuburan sudah waktunya Maghrib. Setiba di rumah, baru leyeh-leyeh sedikit sudah adzan Isya. Memang ya, ramdhan itu waktu terasa padat, setidaknya bagi saya. Padat dalam konteks positif, saking banyaknya ibadah-ibadah tambahan yang ingin kita lakukan. Ehm. Saya dan istri pun bergegas ke Musholla sebelah untuk ikut shalat tarawih.

Saya suka dengan kejelasan di awal yang diatur oleh petugas Musholla. Usai shalat Isya, ada ceramah singkat sekaligus penjelasan mengenai aturan main tarawih. Bahwasanya, telah disepakati sepanjang Ramadhan, di Musholla tersebut akan menjalankan yang 20 rakaat—namun dengan ayat pendek-pendek. Kemudian disampaikan bahwa bacaan rukuk dan sujud yang biasanya tiga kali—cukup satu kali saja, karena selain 4 bagian utama (takbiratul ikhram, Al-fatihah, Tahiyat, dan salam) selebihnya adalah Sunnah. Pesannya, yang Sunnah lebih baik dibaca sekali putar daripada pengin tiga tetapi belepotan. Lebih baik baca ayat pendek tapi jelas dan berirama daripada ayat panjang tapi belepotan. Belepotan itu Bahasa saya saja, ustad semalam tidak menggunakan kata melainkan contoh praktik. Sehingga begitu berjalan, seluruh jamaah mampu mengimbangi iramanya tanpa harus merasa terburu-buru apalagi ngos-ngosan. Menyenangkan sekali.

Di akhir ceramah, dihimbau pula pada jamaah yang tetap memilih shalat tarawih 8 rakaat untuk hari berikutnya ikut ke Masjid atau Musholla yang memang setingannya 8 rakaat, karena yang memilih 8 cenderung menggunakaan bacaan ayat-ayat yang lebih panjang. Bukan mengusir atau tidak menerima jamaah seperti itu, hanya karena sistem yang dipakai Musholla ini untuk pilihan 20 rakaat. Jika jamaah keluar setelah rakaat ke-8 itu terlalu singkat. Berasa gak tarawih. Semacam seseorang yang sahur dengan waktu WIB namun berbuka puasa dengan waktu WIT. Selain itu, akan terasa aneh jika di tengah proses tarawih sebagian jamaah keluar, ujug-ujug Musholla jadi kosong setengah. Cara menyampaikan bagus, analoginya sederhana, dan sangat dipahami oleh seluruh Jamaah. Kenapa semuanya harus dijelaskan di awal, karena katanya: Allah tidak menyukai Imam yang tidak disukai Makmumnya.

Saking senangnya menyambut Ramadhan—uhuk—saya jadi tak sempat mandi kemarin sore itu. Bahkan sepulang tarawih juga tidak mandi. Mungkin karena setelah tarawih masih sibuk mengutak-atik kompor gas yang sedikit bermasalah, jaidnya makin lupa. Uhuk. Dan, saya nyadar tidak mandi adalah ketika tadi pagi mencari handuk. Lalu merasa kebauan sendiri. Rasa-rasanya lebih enak bau kuburan dari bau badan sendiri. Aduhai…

Apa cerita Ramadhan pertamamu?