All posts by Zulhaq

About Zulhaq

Zia Ulhaq - 30 M pekerja keras kadang-kadang twitter: @zulhaq_

Malu-Malu Yang Tak Kucing Lagi

Saya punya guru keluarga baru, namanya Asep. Saya bertemu tidak sengaja dengannya, di perjalanan panjang penuh tantangan. Dia belum berkeluarga, tetapi dia punya segudang ilmu cinta tentang keluarga.  Tentu, nasib bertemu dengannya adalah keberuntungan buat saya.

Pertengahan November 2017 saya ada tugas ke salah satu Tambang Batu-Bara di daerah Tabang, Kutai Kartanegara—sekira sebelas jam perjalanan dari Balikpapan—melewati Samarinda, Tenggarong, dan Kota Bangun. Sepulang dari sana lah saya bertemu dengan Asep. Continue reading

Tersenyum Dalam Kesederhanaan

Delapan setengah tahun lalu, hal yang membuat laman blog ini jadi ada adalah kebiasaan saya mengikuti tulisan-tulisan lucu di berbagai blog orang-orang yang sangat asing bagi saya saat itu. Saya selalu membawa pulang tawa dan kesenangan usai mengunjungi blog-blog yang sudah saya tandai. Di kepala saya, blog itu adalah kelucuan yang melimpah. Lalu tergeraklah hati dan jari untuk membuat blog sendiri supaya bisa berbagi tawa ala kadar, bukan saja sebagai penikmat. Tanpa pikir panjang saya beri tema blog ‘Tersenyum Dalam Kesederhanaan’.

Selain tema senyum yang sederhana, foto profile yang saya pakai pun tak kalah sederhana; sesosok saya di atas batu sungai besar yang dikelilingi hutan hijau dengan kaus oblong pinjaman serta kacamata hitam pinjaman bertengger di hidung minim ciuman. Gambaran singkat dari foto saya kala itu adalah Ian Kasela gagal rekaman. Begitulah kebanyakan orang menilainya. Continue reading

Antara Nasib Pengusaha Nikel dan ‘Perusahaan Nakal’

Gambar dari sini

Selisih pendapat antara pihak pemerintah dan pengusaha smelter nikel semacam dua orang pemuda yang terus meributkan tentang duluan mana antara telur dan ayam. Padahal sudah jelas telur duluan, karena ketika telur muncul di dunia–ia tidak pernah melihat ayam. Sementara saat ayam melek, ia sering melihat adanya telur. Makin bingung, ya? Sama!

Sebenarnya sih tidak perlu meributkan siapa yang duluan, berdamai saja dengan kesepakatan bahwa ayam berproses dari telur dan telur dihasilkan oleh ayam itu sendiri. Sudah, gampang. Semisal pun ada yang memecahkan misteri duluan mana telur dan ayam, apakah lantas dunia ini akan mendadak indah? Saya pikir sih tidak. Lain halnya kalau dunia ini damai, kesepakatan saling menguntungkan terjadi setiap saat, barulah dunia ini tampak indah.

Indonesia ini sangat kaya. Pendapatan negara saja, yang diterima pada semester pertama 2017 ini sebanyak 32,4 trilliun, padahal dengan kondisi keributan dunia pertambangan yang terjadi di sana-sini. Kalau semuanya selaras, pemerintah dan pengusaha stabil berjalan di tengah tanpa saling sikat sikut, dengan berdiri tegak di atas kebenaran Undang-Undang yang berlaku, pasti pendapatan negara akan jauh lebih besar lagi. Kemakmuran bersama akan lebih terasa dampaknya.

Bijih mentah nikel masih bisa diekspor, mineral mentah emas dan tembaga masih bisa diekspor, sementara UU Minerba pasal 170 yang diterbitkan pertama kali tahun 2009 mewajibkan perusahaan tambang dalam negeri untuk membangun fasilitas smelter selama 5 tahun sejak UU Minerba diterbitkan dan mulai berlaku pada tahun 2014. Belum lagi penguatan Putusan Makhamah Agung No. 10 / PUU-VIII / 2014 saat itu yang melarang ekspor bahan mineral mentah. Hingga saat ini masih terjadi relaksasi ekspor mineral mentah. Sudah hampir 2 X 5 tahun. Di satu sisi, ketika para pengusaha pengelola mineral mentah dalam negeri yang sudah berinvestasi banyak membangun smelter komplain tentang relaksasi–pemerintah tidak mau disalahkan. Apakah pengusaha smelter yang kian merugi itu harus mengadu kepada telur atau kepada ayam? Kan tidak mungkin.

Saat ini biaya produksi smelter nikel bisa mencapai US$9.600 – 9.800 per ton, sementara harga jual nikel hanya US$9.000-9.600 per ton.  Ya rugilah. Itu belum biaya lain-lain, baru biaya produksi belaka. Sebelum pemerintah merelaksasi larangan ekspor mineral mentah, harga nikel bisa mencapai hingga US$ 11.000 per ton. Apakah ini perlu dianggap sebagai kebetulan semata? Hmmm… jadi pengin menarik napas di puncak gunung Sahara rasanya.

Kata Bapak Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi dan Kerja Sama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sih–pada siaran pers beliau bulan Juli lalu–kerugian smelter nikel saat ini lebih karena turunnya harga jual dan meningkatnya biaya produksi. Melemahnya permintaan nikel pada industri stainless steel di kuartal kedua 2017 ditenggarai menjadi penyebab utama turunnya harga nikel dunia. Mari kita telaah kalimatnya, saudara-saudari!

Kerugian karena harga turun dan biaya produksi naik. Iya  iya iya, kami tau, Pak. Ta ta tapi…kenapa harganya bisa turun signifikan? Bukankah dengan adanya relaksasi ekspor mineral mentah, lalu nikel kualitas terbaik diekspor membabi buta dan yang beredar banyak di Indonesia adalah nikel kualitas biasa bahkan rendah yang kalau diproduksi di smelter lokal jadinya barang murahan?

Melemahnya permintaan nikel pada industri stainless steel menjadi sebab kerugian di sisi lain. Iya iya iya, kami tau, Pak. Ta ta tapi…kenapa permintaan itu tiba-tiba turun? Pisang ambon saja kalau pasar gak banyak minta, pasti harganya turun. Tukang parkir magang di Indomaret saja tau soal begituan. Yang terpenting adalah, kenapa permintaan menurun? Bukankah kalau nikel kualitas terbaik kita beredar banyak di luar Indonesia, lalu kualitas stainless steel yang kita produksi jadi kurang bersaing? Kalau kurang bersaing, pasti produksinya sedikit. Ngapain memproduksi banyak barang yang jadinya kurang laku?

Itu pemikiran sederhana saya, Pak. Semoga tidak tampak lancang. Menurut saya yang punya pendapat, itu lebih masuk akal. Berbicara tentang sebab lebih mencerahkan ketimbang hanya berbicara tentang akibat awal dan akibat lanjutan. Kita tidak bisa menjual nama akibat sebagai sebab. Sebab adalah sebab. Akibat adalah akibat. Raisa adalah cantik dan Hamish adalah ganteng. Meski banyak orang yang patah hati atas pernikahan mereka, mereka tetaplah pasangan ideal. *siul-siul bengis*

Nasib pengusaha smelter nikel bisa dibilang memprihatinkan. Di sisi lain, para pengusaha tambang yang terus meminta relaksasi ekspor mineral mentah–diam-diam tertawa cekikikan. Ih, nakaaaaal!

Lagian nih ya, kalau relaksasi terus terjadi, negara akan mengalami sejumlah kerugian seperti hilangnya kesempatan untuk meningkatkan aspek ekonomi dalam negeri, berkurangnya penerimaan pendapatan pajak, terjadinya PHK besar-besaran (diperkirakan hingga 21,000 karyawan terdampak PHK), dan hilangnya investasi asing sebesar US$ 18 miliar. Ujung-ujungnya sama-sama rugi. Apa untungnya sama-sama merugi? Eh, sudah sama merugi, memang gak akan ada untungnya sih ya. 

Ya mending sama-sama untunglah. Pemerintah dengan tegas menghentikan ekspor mineral mentah, se ge ra! Pabrik-pabrik smelter kembali beroprasi dan bersinar terang. Pengusaha untung, pembayaran pajak lebih lancar, negara pun meningkat pendapatannya. Rakyat pekerja tidak ada yang mengalami pemutusan hubungan kerja, tingkat pengangguran tidak meningkat, citra keberhasilan negara pun bakal mendapat sorak sorai tepuk tangan. Kan e n a k!

Kalau ada pihak yang merasa keadaan saat ini cukup sulit untuk berlaku saling menguntungkan, ya mari kita sama-sama main ke taman menemui sang kupu-kupu dan para bunga nan indah. Dua mahluk yang menjalin hubungan simbiosis mutualisme itu, selain menggemaskan juga cukup untuk menjadi guru kehidupan dalam hal untung menguntungkan; Kupu-kupu begitu suka memakan sari manis atau nektar yang ada di berbagai jenis bunga. Sedangkan bunga sebagai organ reproduksi pada tumbuhan sangat terbantu karena kupu-kupu bekerja menyebarkan serbuk sari. Ketika kupu-kupu hinggap di bunga, kakinya akan menyentuh bagian putik dan benang sari pada bunga yang mereka hinggapi sehingga mengakibatkan serbuk sari menempel pada putik dan terjadi proses penyerbukan pada bunga.

Simbiosis mutualisme antara kupu-kupu dan bunga kalau diterjamahkan ke urusan pemerintah dan pengusaha smelter…emmm…nganu...boleh mikir sendiri kan, ya? Saya mau masuk dulu, teman-teman SMP saya sudah menunggu. Guru Biologi saya galak, kalau telat saya bakal dihukum. Bye!

Hidup dan Mati Bersama

Ketika tak ada lagi usaha yang dapat kau lakukan dengan tanganmu, maka serahkan segala sesuatu sepenuhnya pada tuhan. Lewat. Doa.

Tanggal 23 Juni 2017 merupakan pengalaman mendebarkan buat saya dan Ifat dan Alastair, seakan-akan diingatkan “hiduplah bersama-sama dengan sebaik-baiknya karena kalian telah diberi kesempatan untuk itu.” Continue reading

Duka Cita Perusahaan Smelter

Foto: dari sini

Setiap melihat gambar slag dump, tempat di mana ampas bijih mineral ditumpah-tumpah-ruah-kan, pikiran saya selalu melayang ke Sorowako sepuluh tahun silam. Di sana, pertama kali saya melihat langsung pabrik smelter. Di sana, tempat pertama kali saya melihat lahar yang begitu panas begitu dekat begitu berapi-api. Di sana, tempat pertama kali saya bisa membeli rambutan sepohon buah rimbun hanya cukup di bayar dengan uang seratus ribu. Di sana, tempat pertama kali saya membawa uang kurang dari seratus ribu ditukar dengan durian sekarung kecil. Tidak ada hubungan antara ampas bijih dengan buah, jadi tidak usah dipikirkan. Lanjut membawa saja, ya? Continue reading

Rezeki Yang Tak Tertukar

“Beb, motor kita gak ada loh,” kata saya ke istri–Ifat–sesaat setelah kami membalikkan badan usai membeli tolak angin di sebuah apotek.

Kami duduk dan menaruh helm depan apotek, membicarakan kesalahan apa saja yang baru-baru ini kami perbuat. Apakah ada orang yang sengaja dan tidak sengaja kita sakiti? Kami sama-sama menggelengkan kepala setelah berusaha mengingat untuk mengoreksi diri. Motor hanya berjarak sedikit meter, stang motor terkunci, transaksi di apotek hanya sedikit menit. Agak janggal memang kalau motor itu hilang. Continue reading

The Power of Keberuntungan

“Mohon maaf seat pesawatnya penuh, Pak,” kata petugas di counter check in Garuda sedikit gugup. “Saya antar ke kantor customer service ya, Pak, untuk bantu menjelaskan permasalahannya.” Saya melempar senyum, berjalan gegas namun tenang. Tak ingin menjadi bagian dari masalah, saya menunjukan sikap biasa yang tak sedikitpun menggambarkan kekesalan. “Tuhan tahu apa yang terbaik buat hambaNya,” kata saya dalam hati. Continue reading

Mengenal Adaro Lebih Dekat

Gema suara petugas bandara begitu merdu meski tak saya kenali, menginstruksikan kepada para penumpang yang akan menuju Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin Kalimantan Selatan untuk segera menaiki pesawat melalui pintu 21. Bagian kecil kepala saya berkata, kok semacam disuruh masuk pintu theater bioskop ya? Waktu menunjukan pukul 19:30 WIB, mata saya sudah kantuk tak tertahankan. Itu pula yang membuat saya kegirangan dengan suara merdu tadi, serasa akan menuju kasur menikmati tidur pelepas lelah setelah seharian meeting serius di kantor Bintaro tanpa makan siang sebab sedang bulan Ramadan. Buka puasa yang buru-buru di Bandara Soekarno-Hatta pun menambah porsi ngantuk karena sedikit menyunyah banyak menelan dengan jumlah makanan yang tak sedikit. Begitu menempelkan pantat di bangku pesawat, saya langsung menyerahkan diri pada putri tidur dan pulas begitu saja. Mimpi demi mimpi saling tumpang tindih berebut tayang di alam tak nyata seorang saya, sampai-sampai saya bingung–sebenarnya, saya sedang bermimpi apa dan di mana? Setelah kelelahan menghadapi kebingungan di dalam mimpi, saya terbangun, mendapati pesawat sudah berhenti dan ruang kabin begitu terang dan nyata. “Ya Allah sudah nyampe di Banjar, cepat banget ya kalau tidur pulas begini,”  kata saya kepada punggung bangku depan. Saya mengucek mata, sedikit banyak bingung melihat semua penumpang lain tak ada yang beranjak dari tempat duduknya. Saya mengecek jam, ya, sudah waktu tibanya saya di Banjarmasin. Apakah orang-orang begitu lelah menjalani puasa hari ke dua puluhnya sehingga pada enggan membangkitkan diri? Ada yang aneh. Selidik punya selidik, ternyata pesawatnya masih nyangkut di Bandara Soekarno-Hatta, karena cuaca sedang tidak baik dan jalur penerbangan hanya dibuka satu, sehingga sejumlah banyak pesawat harus mengantri lama. Continue reading

Teman Begadang Baru: Campuran Kopi Hijau

Saya punya masalah yang membuat hati penasaran soal kopi, yakni dampak bau kencingnya. Apakah ini terjadi pada semua orang, atau pada sebagian orang saja, atau hanya saya seorang—kalau minum kopi pasti habis itu bau kencing serupa kopi? Saya menyadari hal ini sekira dua tahun terakhir, dan baru kali ini saya menanyakannya. Seingat saya, sebelumnya tidak pernah mengalami kondisi demikian. Entah karena dulu hidungnya saya mengalami sensor error, atau saya yang kurang peka terhadap bau air seni? Kalau makan durian sih iya, dari dulu pasti bau kencing saya serupa durian. Tetapi kopi ini baru terjadi. Makan jengkol, pete dan sekawanannya juga bikin kencing saya bau baru-baru ini. Dulu gak pernah, karena saya baru mau makan jengkol dan pete di tahun 2017. Terkadang pertanyaan yang muncul di kepala agak banyak unsur khawatirnya: Normal gak yah bau kencing seperti kopi begini? Jangan-jangan ada sistem metabolisme saya yang bermasalah? Jangan-jangan segumpal tuyul masuk tidak sengaja lewat mulut—menelusuri kerongkongan—hingga lolos ke dalam perut saya, dan mencuri salah satu bagian penting dalam tubuh saya yang menyebabkan bau makanan dan minuman yang masuk akan sama dengan bau keluarnya. Semoga ini hanya kekhawatiran berlebihan saya saja, tolong dibantu jawab di kolom komentar untuk membantu menenangkan diri saya. Continue reading