All posts by Zulhaq

About Zulhaq

Zia Ulhaq - 30 M pekerja keras kadang-kadang twitter: @zulhaq_

Security Check Bandara Yang Menggelikan

Baru saja terjadi ketegangan antara saya dan pikiran bingung saya serta petugas saat penggeledahan dalam tanda kutip setelah melewati mesin X-Ray Bandara Soekarno – Hatta.

Laptop sudah saya keluarkan, sabuk tak lagi melekat di pinggang, ponsel di tas, jam tangan sudah dilepas, saya yakin semua pemicu bunyi wiung wiung tidak ada lagi. Seharusnya aman.

Begitu kaki sampai kepala saya berdiri tegak di screening gate machine, bunyi wiung wiung pun mengundang mata melototnya petugas. Seorang petugas langsung menginstruksikan saya untuk masuk ke mesin personnel screening (quickly screens personnel) dengan kecanggihan Automatic Detection Target-nya. Santai saja saya masuk di situ, disuruh angkat tangan saya lakukan, disuruh geser kaki ke titik tapak saya lakukan dengan efek goyang pinggul yang tentunya gak diminta, dan…mesin tersebut mendeteksi adanya metal di area pantat saya. Wuing wuing tak terhindarkan lagi.

Petugas langsung bergegas memutar badan saya dan menjangkau bagian belakang tubuh saya, lalu kaget nanggung karena tidak menemukan apa-apa. Saya bilang memang tidak membawa apa-apa, petugasnya menyahut: paling ada metal bawaan celana di sekitar kantung. Oh, saya bilang kalau anggapan itu gak benar. Saya paling tahu bentuk rupa dan seluk beluk celana yang saya pakai. Saya sampaikan tak ada apa-apa. Petugas kembali merogoh kantung celana saya dan tidak menemukan apa-apa lagi. Dia percaya betul sama mesin keamanannya, tak mungkin salah bekerja. Saya juga percaya betul sama celana dan tubuh saya. Gak mungkin anus saya seketika menjadi besi.

Akhirnya saya raba sendiri bagian belakang tubuh saya, dan saya menemukan sebiji isi staples menempel di tali celana bagian belakang–yang adalah penanda laundry hotel. Saya dan petugas saling tatap-tatapan sambil menertawai.

Sungguh pagi yang sabtu!

Kenapa Menjadi Kaya Itu Penting

Kenapa harus Kaya?

Kenapa tidak?

Sesuatu yang sangat menggairahkan saya untuk menjadi kaya itu adalah hasrat belajar yang tinggi dan kemampuan berbagi tak berbatas. Semakin bertambah usia, kebutuhan belajar semakin tinggi. Semakin matang sang diri, kebutuhan untuk berbagi semakin besar. Semakin menua, kebutuhan menjadi bermanfaat semakin tak terkendali. Untuk menjadi orang yang memenuhi paling tidak tiga kebutuhan besar tersebut, tentu butuh cara khusus melipatgandakan waktu kehidupan, salah satunya dengan menjadi kaya.

Begini…

Pergi ke sana ke mari yang hampir setiap hari dilakukan, cukup menguras banyak sekali waktu untuk menyetir. Belum lagi waktu tunggu yang tidak sedikit. Belum lagi macet dan hal-hal penyita waktu lainnya. Dengan menjadi kaya, saya bisa membayangkannya dengan sangat jelas, menyetir cukup dilakukan oleh Bapak sopir pribadi, saya tinggal duduk manis di samping atau di belakang melakukan hal yang lebih penting: membaca buku, update majalah bisnis, menelepon orang tua dan kerabat sahabat lebih sering, membantu mengurus persoalan bisnis dan orang lain secara digital, membuat konsep karya-karya besar, memantau perkembangan pasar modal, dan lain sebagainya.

Menyetir memang sebuah kesenangan, tetapi kalau menjadi suatu rutinitas yang karenanya waktu kita jadi sempit, sebaiknya oleh sopir saja. Kalau mau memenuhi kesenangan lewat menyetir, sesekali kalau lagi pengin rehat dari konsep paragraf selanjutnya. Atau sekalian main di sirkuit off road ataupun on road proffesional. Atau paling tidak lewat kegiatan touring keluarga atau touring relasi.

Kalau sekadar kaya dalam konteks punya banyak harta, punya sopir pribadi hanya untuk manja-manjaan atau malas-malasan, saya pikir inilah sedikit kekeliruan yang membuat banyak orang memandang sinis situasi kekayaan, lantas tidak sedikit yang antipati. Baik antipati terhadap orang kaya, maupun antipati terhadap menjadi kaya itu sendiri. Jadilah kaya untuk kemudian menjadi manfaat besar bagi kehidupan.

Dengan kaya juga, hal-hal remeh temeh lain yang menyita waktu dengan hasil manfaat kecil, bisa diganti dengan membayar orang untuk melakukannya, kemudian waktunya kita pakai untuk melakukan hal lebih penting yang manfaatnya besar. Salah satunya dengan terus membuat tulisan inspiratif, yang menggungah selera jiwa sebanyak mungkin umat manusia.

Bahkan yang ada di benak saya, nantinya saya memiliki fotografer sekaligus videografer pribadi dan editor pribadi. Mereka akan sangat sering ke mana-mana bersama saya. Tidak hanya memotret diri dan kegiatan saya, melainkan memotret apa saja konsep yang saya inginkan. Saya terima jadi, tinggal pakai dan posting. Saya tinggal ngomong, baik bicara depan kamera atau biacarain konsep, sudah ada tim yang menggarap hingga jadi. Modal saya yang besar, dan yang bisa saya lakukan dengan maksimal adalah berkata-kata. Jadi, kalau saya mau update IG, foto sudah siap disajikan oleh tim sendiri, saya tinggal meracik caption yang indah dan fantastis. Kalau soal tulis menulis, sampai detik ini, adalah sesuatu yang bagi saya tidak bisa tergantikan. Karena tulisan bagi saya, adalah ide dan pemikiran dan gaya yang di dalamnya saya punya energi besar untuk membuat tulisan menjadi hidup. Bukan dalam rangka berbangga diri berlebihan, melainkan ini tentang area atau hal yang dapat saya lakukan sangat maksimal, dibandingkan kemampuan lain saya yang minimal. Selain menulis, saya juga punya kemampuan yang maksimal dalam berkomunikasi dan berbicara. Keduanya adalah tentang berkata-kata.

Dan yang paling menyenangkan dalam benak saya saat ini, ketika menvisualisasikan itu semua, adalah betapa banyaknya orang yang bekerja bersama saya, mengambil manfaat dari pemikiran dan ide saya, menjadi orang yang tumbuh kembang karena ajakan saya untuk besar dan sukses bersama. Terlebih keluarga, tentu akan memetik manfaat yang sangat besar dari ini semua.

Yang terpenting adalah, kita senantiasa menjadi orang yang pandai bersyukur, dan tidak lupa diri.

gambar diambil dari: sini

Merayakan Hidup Dengan Cara Bersyukur

Hal paling nomor satu yang harus harus harus kita syukuri karena kita diberi kesempatan hidup adalah memiliki hidung, tenggorokan hingga paru-paru. Dengan itu, kita bisa menghirup udara memasuki lubang hidung, melewati kerongkongan atas atau naro pharinx, kemudian melewati tenggorokan, glotis, trakea, lalu masuk ke bronchus dan bronchiolus. Ujungnya, udara berakhir pada alveolus. Manusia yang penuh dengan istilah keren menyebut menarik napas sebagai inspirasi, dan mengeluarkan napas sebagai ekspirasi.

Saat inspirasi, otot diafragma berkonstraksi alias melengkung menjadi lurus. Kemudian rongga dada terangkat dan membesar, atas otot antar tulang rusuk yang berkontraksi. Karena rongga dada mengembang, maka tekanan udara di dalam lebih kecil dari tekanan udara luar alias mengecil, sehingga udara luar bisa masuk ke dalam paru-paru.

Ketika ekspirasi, kita mengeluarkan udara, otot diafragma berelaksasi alias lurus menjadi lengkung. Rongga dada mengecil atas otot antar tulang yang berelaksasi, maka tekanan udara di dalam lebih besar dari tekanan udara luar alias membesar, akibatnya udara keluar dari dalam.

Begitulah proses kita menghirup gas oksigen (O2) dan mengeluarkan gas karbon dioksida (Co2), yang mana oksigen tersebut kita gunakan dalam proses menguraikan zat glukosa sehingga pada akhirnya kita mendapatkan energi. Proses kompleks namun terasa simpel itu, kita lakukan setiap detik dan detaknya.

Sederhananya: BERSYUKUR KITA MASIH BERNAPAS!

Segala sesuatu yang Tuhan anugerahkan ke kita itu luar biasa, tidak sederhana. Kita hanya perlu mengaguminya dengan cara paling sederhana, yaitu bersyukur.

Mengingat untuk meningat (eling).
Mengingat untuk bersyukur.

MATA
Saat kita melihat laut, pantai, gunung, sawah, pelangi, bangunan megah, kendaraan mewah, manusia rupawan lain dan keindahan lainnya, yang utama kita syukuri adalah anugerah kemampuan untuk melihat.

Sehingga, saat yang kita lihat hanya sudut kamar atau kekeringan belaka, kita masih tetap bisa bersyukur.

TELINGA
Setiap kali telinga kita menangkap suara lantunan merdu ayat-ayat indah, lagu-lagu, kicauan burung, deru angin, ilmu verbal, ungkapan-ungkapan bijak, yang utama kita syukuri adalah anugerah kemampuan mendengar.

Sehingga, saat yang kita dengar hanyalah kritik atau nasihat pahit belaka, kita masih tetap bisa bersyukur.

LIDAH
Berbagai jenis makanan dan minuman enak yang tadinya menggoda mata dan hidung, lantas menggugah selera, masuk ke mulut, dikecap oleh lidah, didalami makna rasanya oleh pangkal lidah, dan mak nyus! Dan, yang utama kita syukuri adalah anugerah kemampuan untuk merasa (mengecap rasa).

Sehingga, saat yang kita rasa hanyalah pahit, asin, atau bahkan hambar belaka, kita masih tetap bisa bersyukur.

Begitu juga dengan indera peraba, dan segala bentuk kenimatan lainnya.

Apalah arti pemandangan indah tanpa mampu kita melihatnya.
Apalah arti suara merdu jika kita tak mampu mendengarnya.
Apalah arti kuliner enak selama kita tidak sanggup mengecap rasanya.
Dan, apalah arti kita tanpa-Nya?

Pemandangan indah, suara merdu, dan makanan minuman enak memang pantas kita syukuri. Tetapi itu semua hanyalah representasi dari betapa mahalnya sesuatu anugerah yang melekat di dalam diri kita. Iya. Dunia di luar diri adalah representasi dari betapa besarnya dunia di dalam diri kita, Mahluk Tuhan semata.

CINTA
Setiap rangkaian kebahagiaan yang kita alami karena memiliki keluarga dan hubungan baik, yang utama harus kita syukuri adalah anugerah cinta.

Karena anugerah indah ini, kita bisa mendapatkan cinta melalui proses kita memberi cinta terlebih dahulu. Ingat, memberi baru menerima.

Sehingga, dengan atau tanpa memiliki keluarga, kita tetap bisa bersyukur.

Dengan modal cinta, kita bisa memanen kebahagiaan di mana saja, kapan saja, dan dari siapa serta apa saja.

Selamat menjalani hidup penuh syukur, penuh cinta, dan penuh persatuan yang mendamaikan.

Tips Kemudahan Buang Air Besar di Pesawat

INI ADALAH TIPS PALING SPEKTAKULER SEPANJANG SEJARAH KEHIDUPAN MANUSIA

Ketika perutmu mulas dan ampas tak beraroma baik itu berasa di ujung penyemburan, bagaimana perasaanmu ketika itu terjadi di pesawat?

Mari berbagi cerita dan berbagi tips di sini.

Sebelumnya saya tidak pernah kepikiran untuk buang air besar di pesawat, bukan karena tampak ribet, tetapi memang tidak terpikirkan. Semacam menganggap toilet pesawat itu hanya layak untuk buang air kecil. Sebulan terakhir, entah mengapa terpikirkan: “kalau kebelet di pesawat, gimana beol dan ceboknya ya?” tanya saya dalam hati. “Gak usah dipikir keleus!” jawab saya dalam hati.

Berawal dari pikiran yang entah dari mana itu, kurang dari sebulan kemudian kejadianlah. Perut saya mulas tak karuan. Kesungkanan untuk bertanya pun saya tepis. “Kalau mau BAB, cara ngebersihinnya selain pakai tissue gimana ya?” tanya saya ke pramugari. “Pakai ini saja”, jawab pramugari sambil menyodorkan gelas sekali pakai.

Awalnya sempat bingung, ngeuh-nya pas dibilangin manfaatin wastafel. Gelas tadi adalah pengganti gayung.

Singkat cerita, lega lah seorang saya yang berhasil buang air besar di bilik toilet pesawat yang amat sempit itu berkat 5 tips paling spektakuler di bawah ini:
1. Pelorotin celana sambil tersenyum
2. Ngeden tanpa ragu, tetap jaga pose
3. Kalau ada tanda-tanda akan ada bunyi BROT menggelegar, pura-pura batuk saja atau tekan flush supaya gak tengsin sama pramugari yang lagi ngobrol di belakang
4. Sambil ngeden, tekan keran air dengan posisi saluran wastafel tertutup, sampai penuh
5. Arahkan gelas yang terisi air ke ***** secara perlahan, jangan ke mulut. Beres deh

Kekhawatiran terhadap kekuatan sedotan angin kloset pun terjawab sudah, ternyata galak di suaranya saja. Kan repot kalau pas diflush, anus kita kesedot keluar, semacam ambeyen level wahid. Ternyata tidak demikian.

Suara sedotan angin kloset itu tak ubahnya preman pasar yang takut sama jarum suntik. Tampak sangar, tetapi aslinya lemah!

Sebagai bukti valid bahwa kekuatan angin kloset itu tidak ada apa-apanya, saya cek dengan teliti, bahwa tidak ada sehelai bulu pun yang mampu ia rontokkan. Bersih. Tidak ada jejak. 😁

Cita-Citaku di Hari Senin

Hari senin aku mencatat cita-citaku di buku tulis berwarna cokelat lembut dan hijau pucuk. Sengaja aku menulis ulang supaya cita-cita yang aku catat di hari senin itu bisa menggandakan dirinya pada hari selasa, rabu, kamis, jumat, dan sabtu. Hari minggu tidak perlu. Bercita-cita pun butuh liburan, seperti pendidikan dan pekerjaan.

Cita-citaku adalah memiliki perusahaan sendiri, yang memperkerjakan ribuan orang-orang baik. Bajingan juga boleh, tetapi yang sudah belajar menjadi baik. Sebenarnya ini adalah kembangan dari cita-cita terdahuluku. Dulu, aku sangat berkeinginan bekerja mengelola ribuan orang, atau ratusan orang tak apalah, mengelola dalam artian sejumlah ratus dan ribu yang kusebut tersebut adalah di bawah kendaliku langsung.

Paling tidak dengan cita-cita seperti itu aku bisa berbuat baik semaksimal mungkin terhadap sebanyak mungkin orang dengan jumlah yang kusebutkan tadi. Bukan mau sok-sokan punya banyak anak buah. Urgh. Aku tidak suka istilah anak buah, seringkali bikin orang tertentu gila hormat dan gila jabatan. Aku lebih suka menyebutnya anggota atau partner, rasanya lebih nyaman di hati dan senyuman.

Cita-cita awal belum kuraih. Aku bekerja tidak memiliki anggota sebanyak itu. Hanya lima orang. Karena tidak kesampaian bekerja mengelola langsung ratusan hingga ribuan orang, jadi cita-citanya kuubah saja dengan memiliki perusahaan sendiri. 

Kalau kamu punya cita-cita yang belum kesampaian, coba saja cara seperti ini. Bukan menurunkan tingkat dari cita-cita itu sendiri, melainkan justru mengubahnya menjadi lebih besar lebih hebat lebih fantastis lebih spektakuler lebih wow lebih aduhai. Tidak perlu terpengaruh dengan bisikan pesimis orang-orang yang bukan isi hatimu sendiri.

Seperti hal lalu yang pernah kualami–meski bukan soal cita-cita–sewaktu kuliah, di mana beberapa kawan menertawaiku yang sedang berbahasa jawa. Cara bicaramu sungguh aneh, katanya. Sebaiknya kau berbahasa Indonesia saja, katanya lagi dan lagi. Sindiran seperti itu seringkali kudengar, tidak sekadar sekali dua. Memang dasarnya aku, bukannya gentar, bukannya mengikuti saran mereka, aku justru semakin bicara dan terus bicara tanpa kenal malu. Mau benar mau salah, peduli setan saja lah, pikirku. Justru karena terdengar aneh itu lah aku harus terus belajar dan berbicara sampai tidak terdengar aneh. Setidaknya tidak aneh-aneh amat.

Sama halnya juga dengan seseorang yang membuat karya video, awalnya tidak begitu dipandang karena karya-nya bisa banget. Orang sukses, harus semakin menempa dirinya supaya lebih pantas untuk dianggap ada. Bukan sebaliknya, meninggalkan usaha dan karya hanya karena sindiran tidak penting itu. Sindiran itu penting sebenarnya jika kita melihatnya sebagai pemicu untuk menjadi lebih baik, tetapi tidak penting jika sindiran itu membuat kita kepikiran dan jadi orang pesimistis.

Kamu kamu yang sudah membaca hingga di barisan ini, tanggung dong kalau sudah sejauh ini tanpa berucap amin? 

Semoga segera datang saatnya saya memiliki perusahaan sendiri. Aaa? Aaamiiinnnn….

Bukan Tentang Kopiah Jum’at

Ini soal Respect in harmony!

Tiada arti Visi-Misi besar, tanpa diikuti semangat bersama-sama membangun organisasi yang tak kalah besar.

Tiada arti membangun mimpi organisasi yang besar, jika gerak dan langkah tim tak seirama.

Tiada arti jerih payah memperindah peradaban organisasi, apabila tidak dibarengi dengan senyum tawa yang saling menghangatkan.

Kunci dari segala kesuksesan sebuah organisasi adalah RESPECT. Mau pakai metode gerakan perubahan apapun, tak akan pernah berhasil secara maksimal kalau satu dan lainnya tak saling Respect.

Tugas paling besar dalam membangun organisasi, membangun tim, bahkan membangun usaha dan perusahaan adalah memastikan budaya respect each other terjadi di setiap orang yang terlibat di dalamnya.

Respect itu harus ditanam, lalu ditumbuhkan, hingga berbuah, dan tumbuh kembang, lagi dan lagi. Sebab dari situlah lahirnya kepercayaan, motivasi, dan kekuatan.

Jaga energi
Jaga semangat
Jaga kebersamaan

Just respect each other.

Surga di Telapak Kaki Ibu dan Bapak

Katanya, anak yang baik adalah anak yang mengangkat (derajat) orang tuanya. Mari kita menggendong orang tua! 😁

Menurut saya surga itu ada di Ibu dan Bapak. Kita tidak akan memiliki seorang Ibu jika Bapak tidak berjuang merayu Ibu hingga menikahlah keduanya. Kita tidak akan memiliki Ibu jika darah daging Bapak tidak diturunkannya. Ibu itu surga, Bapak itu jalan dan pintu menuju surga. Mana bisa kita bisa tiba di surga jika tidak ada jalan dan pintunya?

Sebelum saya lanjut menulis, daripada para pembaca yang budiman berkutat dengan pertanyaannya, sebaiknya saya jawab dulu pertanyaan para pembaca yang tidak terucap itu. Kok mau sih ibu-bapaknya difoto seperti itu? Kok mau-maunya sih digendong begitu? Kok kuat sih?

Jawabannya sederhananya hanya 2:
1. Untuk meyakinkan orang tua agar mau digendong dan mau difoto sambil digendong dengan hati riang gembira, itu butuh skill komunikasi yang diasah sepanjang hidup dengan cinta dan kasih sayang
2. Menggendong orang tua seberat itu tanpa merasa berat, juga butuh skill, dan hanya mampu dilakukan dengan kekuatan cinta dan kasih sayang.

Ahay!

Setelah mengikuti agenda ‘Indonesia OSH Leader Summit 2018″ di Hotel Anvaya Bali pada tanggal 24-25 Oktober kemarin, Jum’at 26 Oktober saya usahakan ke Bima dua hari, demi bertemu memeluk Ibu sama Bapak. Kangen euy!

Seperti kebiasaan saya yang sudah-sudah, pulang selalu menjadi kejutan. Saya tidak memberitahu orang tua, tiba-tiba nongol saja di rumah. Bahkan waktu mudik lebaran dengan anak istri pun, kami tiba-tiba muncul di depan rumah. Apa orang tuanya gak teriak mau copot jantung? Hahaha.

Ibu kan ada kios. Pulang kemarin saya datang berpura-pura jadi pembeli, jaket dan helm dan wajah yang agak ditutup tak saya lepas. Begitu beliau nanya mau beli apa, saya buka helmnya, dan… Eaaaaaa Ibu menangis. Lalu saya diamkan dengan pelukan dan kecupan. Muah!

Tak lama saya ke tempat Bapak. Bapak sedang duduk di motor, menunggu seseorang. Dengan gaya rem mendadak tapi gak sampai ban berdecit, saya berhenti persis di samping bapak sambil berteriak, “Assalamualaikuum…” Bapak kaget dan hampir terjatuh dari duduknya. Lalu beliau terus bicara kok gak dikasihtahu, kok diam-diam bae, kok gitu kok gini, diulang-ulang. Bapak agak susah diam meski sudah dipeluk. Mungkin karena gak dikecup muah seperti ibu. Hahaha.

Satu malam tidur di tempat Ibu.
Satu malam tidur di tempat Bapak.
Di tempat Ibu dulu, baru di tempat Bapak.
Semoga adil adanya.

Alhamdulillah, diberi rezeki dan kesempatan untuk menengok orang tua. Dan hari ini harus mengucapkan sampai jumpa kembali, melanjutkan perputaran dunia seperti biasanya.

Mari menyayangi orang tua mumpung beliau-beliau hidup, siapa dan apapun beliau-beliau adanya, mumpung kita masih diberi kesempatan hidup, sebab hidup di dunia tiada terjadi dua kali.

4 Hal Penentu Betah dan Tidaknya Seseorang di Tempat Kerja

Tulisan ini hanya kupindahkan dari linimasa burung biru alias twitter tanpa kukurangi dan kutambahi lagi kata dan kalimatnya. Soalnya kalau di sana, semakin tertimbun dan sulit untuk melacak keberadaannya di kemudian hari. Mending aku simpan juga di sini, supaya lebih mudah dibaca ulang oleh orang-orang yang membutuhkan. Bisa jadi bagian dari orang itu adalah aku sendiri.

Berikut ya tulisannya (kata orang zaman now, thread twitter)…

Ada 4 hal penting yang menjadi faktor penyebab betah dan tidak betahnya seseorang di tempat kerjanya. Sangat penting dipahami, supaya gak melulu ngomongin gaji.

“Yah, gaji lo sudah gede di situ, sayang kalo lo tinggal resign?!”

“Kok lo bisa betah sih dengan gaji sekecil itu?”

Boy, gaji itu hanya salah satu faktor saja di dalam eksistensi seseorang bekerja dengan sepenuh hati. Banyak faktor lain yang mempengaruhi kinerja dan loyalitas. Bahkan bukan hanya 4 faktor, banyak. Tapi umumnya adalah 4 yang mau saya bahas ini.

1. Faktor Intelektual

Ini berkaitan dengan: pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman. Tak heran banyak pekerja baru yang tidak peduli soal gaji, yang penting dapat kerjaan dulu. Karena mereka butuh bisa bekerja dengan baik, dari pengalaman dan pelatihan yang diberikan.

Semakin seseorang di tempat kerjanya merasa: mendapat banyak ilmu, keterampilannya meningkat signifikan, banyak exposure dan challenge dalam mengalami berbagai tugas yang membuat pengalamannya kerjanya semakin kaya–maka semakin ia betah dan loyal.

Makanya penting di awal bekerja atau saat bekerja di tempat baru, beradaptasi menyerap ilmu dan pengalaman sebanyak mungkin. Kalau bisa jangan pasrah sama keadaan, gak ada pelatihan formal–dekati senior atau orang yang menurut kita mumpuni. Dengan begitu kerja gak bosan.

Kalau kamu atasan, bahkan pemberi kerja: beri pelatihan memadai buat pekerja, bimbing mereka supaya lebih terampil. Beri kepercayaan, beri tantangan, supaya pengalaman mereka memiliki nilai tinggi. Dengan demikian, pekerja dan pengusaha saling diuntungkan. Juga, mencerdaskan.

Banyak kasus begini: awalnya bilang mau kerja apa saja, yang penting kerja. Di tengah jalan, mendadak mengeluh dan resign tanpa babibu, banyak yang mengaku karena gajinya gak layak. LOH! GAJI INI DIBERITAHU DARI AWAL, KENAPA DIAMBIL KALAU RECEH, MALIH?!

Karena… Orang yang melanggar ucapannya sendiri “yang penting kerja”, lantas resign karena gaji gak layak yang sudah dia tahu dari awal, itu karena benefit ilmu, keterampilan, dan pengalaman berharga tidak ia dapat juga. Tapi gak nyadar faktornya apa saja…

Jadi taunya mengkambinghitamkan gaji saja. Padahal… Dengan tahu faktor-faktor penentu kita mencintai pekerjaan, kita bisa memilih dari awal: gaji kecil, yang penting kerja, tapi kerja yang ada value intelektual. Kalau tanpa faktor penunjang yang baik, berarti itu terpaksa.

2. Faktor Sipiritualitas

Berkaitan dengan: nilai ibadah, unsur agamis, dan meaning (sesuatu yang dirasa sangat berarti, apa saja, tetapi bukan uang dan intelektualitas).

Jangan heran, dan jangan menyepelekan ketika ada seseorang yang menanggapi kritik dan saranmu terhadap pekerjaannya: “aku rapopo. Kerja kie ibadah. Opo meneh kerjaane melayani orang banyak. Aku ikhlas, aku senang menjalaninya.” Nilai dia di situ!

Atau di unsur agamis… Teman saya (muslim) dulunya banyak yang berlomba-lomba pindah kerja ke luar negeri karena gajinya besar menggila, dan ilmu serta pengalamannya juga oke. Tapi begitu merasa jadi minoritas, beribadah susah, Jumatan seringkali terlewat, resign juga.

Permudah proses orang beribadah, apapaun agamanya, akan memperkuat orang itu betah dan loyal terhadap pekerjaan dan instansinya.

Atau paling tidak, saling menumbuhkan nilai kehidupan yang berarti, juga bisa membuat orang mikir-mikir untuk kerja loncat sana loncat sini seperti kutu yang… ya begitulah. Kerja bukan sekadar: finger print, kelarin tugas, balik kanan pulang. Betapa membosankan jika iya.

3. Faktor yang mewujud (physical)

Berkaitan dengan: gaji, bonus, fasilitas kesehatan, penghargaan. Yang begitu-begitulah. Sekali lagi, ini bukan faktor utama. Ini adalah salah satu faktor saja. Baru mau kerja sudah mengejar faktor ketiga ini, hmmm… bakal jadi tukang ngeluh!

Orang yang sangat pantas mengincar bayaran terbaik, fasilitas terbaik, adalah mereka yang: pengetahuan, skill, pengalamannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Jangan anggap songong competent persons yang jual mahal, karena faktor lainnya tidak begitu ia kejar lagi.

4. Faktor sosial/emosional

Terakhir, ini berkaitan dengan: – Keterbukaan – Kenyamanan – Hubungan baik antar personal, antar superior dan subordinat, lintas departemen, dll. Terkadang, hal ini dianggap jauh lebih penting dari uang. Apalagi bagi yang punya penghasilan sampingan.

Bayaran gede, perusahaannya kelas setinggi langit, tantangannya bergengsi, tetapi manusia di dalamnya mayoritas brengsek, saling sikut, saling menjatuhkan, apalah artinya ya… Neraka dunia itu sih…

akanya pahami kebutuhan diri sendiri, faktor mana yang paling dititikberatkan dari 4 faktor tersebut, cari tempat kerja yang bisa memenuhi kebutuhan yang sudah kamu identifikasi itu.

Begitu juga saat kamu memutuskan untuk resign, pahami faktor mana dari 4 itu yang membuat kamu harus mundur. Lalu, cari tempat baru yang menyediakan kebutuhan itu, yang tidak ada di tempat yang ditinggalkan.

Banyak orang resign, gak 100% jelas akar masalah ia ketahui, dan gak 100% tahu apa yang disediakan tempat baru. Jadinya menyesal. Anehnya, di tempat baru mengeluh, bahkan memuji tempat lama, padahal jelas-jelas tempat lama membuatnya bengah sampai resign. MENURUT NGANA?

Akhirnya lagi, orang ‘linglung kebutuhan dirinya sendiri’ begitu banyak yang gagal move on. Kembali ke tempat lama, sedikit pasang muka tembok melupakan keluh kesahnya dulu. Dalil “ternyata tidak ada tempat yang lebih baik di luar sana, seperti di sini” keluar bertubi-tubi.

DASAR MANUSIA PLIN MANUSIA PLAN! Bukan gak ada tempat yang lebih baik di luar sana, lo sendiri yang gak paham masalah lo sendiri dan dunia luar yang luas membentang cakrawala. Huh!

Kalau sudah mengetahui kebutuham sendiri, punya usaha mencari tahu tempat mana saja yang bisa mengakomodir kebutuhan kamu, paling tidak kamu akan menjadi: Orang yang tidak mudah menyalahkan orang lain. Orang yang tidak mudah menyalahkan keadaan. Orang yang mudah introspeksi.

Hidup Hari Ini Adalah Yang Terbaik, Selebihnya Serba Tidak Pasti

Ini adalah foto lima tahun lalu, di waktu saya menikah. Kami berlima berkumpul, tinggal di rumah kontrakan saya. Saat itu saya ngomong sendiri di kamar, “lima orang ini berada di waktu dan atap yang sama, terakhir saat aku umur 5 tahun-an. Puluhan tahun silam.” lalu saya tersenyum, hidup sudah sejauh ini.

Bapak dan Ibu dulu adalah sepasang orang bodoh, lalu oleh waktu ia buktikan bahwa ternyata mereka begitu hebat dan tidak bodoh.

Mereka menikah melawan dunia di usia 19 tahun, meluluh-lantah-kan restu yang ditarik ulur. Ibu di waktu itu adalah yatim piatu, tiadalah repot soal restu. Bapak yang adalah harapan orang tuanya untuk menempa ilmu lebih tinggi atau bekerja di kantoran tentu sulit mendapat restu, sebab menikah muda saat status pengangguran bukan pilihan yang tepat. Dasar pemuda keras kepala yang tak bisa dibelokkan keinginannya, ia menikah, dan oleh orang tuanya tidak diberi modal kecuali sepuluh jari tangannya. Pernikahan yang dibangun penuh peluh keringat itu hanya bertahan kurang lebih sepuluh tahun. Mereka bercerai di usai 30 tahun. Usia di bawah usia saya saat ini. Bodoh, kan?

Waktu SMA saya pernah punya misi menyatukan mereka, dan akan melakukan segala daya upaya. Saya sampaikan kemauan itu satu per satu ke mereka, lantas ibu menangis tetapi tidak berkata apa-apa. Lantas Om Em, adiknya Ibu datang menasihati Si Zia kecil yang sok-sokan ingin mengendalikan dunia. “Niatmu baik sebenarnya,” katanya pelan. “Tapi kamu hanya akan mengulangi kedukaanmu pada adik-adikmu yang lain. Bapakmu punya kehidupan sendiri, dengan anak istrinya yang lain. Ibumu punya kehidupan sendiri, dengan suami anaknya yang lain. Jumlah mereka lebih banyak dari kalian. Kan cukup kalian saja yang merasakan orang tua pisah, jangan mereka lagi.”

Napas saya terhenti, seakan dicabut dari atas kepala, lalu dihembuskan kembali lewat telinga kiri dan kanan serta lewat hidung dan mulut dengan kesejukan yang begitu melegakan. Betul. Betul itu. Betul betul kebenaran itu. Aku tak boleh egois. Itu betul. Aku menyetujui nasihat Si Om itu hingga aku mengulang-ulang kata betul di dalam hati dan kepalaku. Semenjak saat itu, kukuburkan rencana gila itu. Apa yang ada di depan mata, situasi hidup yang sedang dijalani, itulah yang terbaik. Selebihnya, serba tidak pasti. Jika kita (khususnya saya) menuruti nafsu memaksakan yang tidak pasti, kemungkinan besar hal lebih buruk bisa terjadi, dan saat ini tidak akan ada tulisan ini.

Aku meneruskan hidup dengan bertumpu pada pesan ibu, “kau tak hidup sendirian. Tuhan selalu menyertai. Berjuanglah. Jangan takut!”

Iya, aku tidak takut, Bu. Aku pemberani! Buktinya aku berhasil berdamai dengan dunia dan segala pelosok nusantara, kan kan kan? Buktinya aku berhasil berdamai dengan diri sendiri, kan?

Sialan. Saya menangis sebentar. Sialan.
Maaf, bagian di atas (3-4) paragraf di atas adalah momen paling emosional, saya mesti menangis bahagia karena merasa berhasil pernah melewati itu. Dan kalau kalian sadar, saya pun baru menyadarinya setelah menulis paragraf ini, kalau sebutan untuk saya berubah menjadi aku. Kalau kalian perhatikan (maaf jadi membuat kalian kembali membaca lagi ke atas).

Mereka adalah pemuda bodoh yang oleh waktu membuktikan ternyata mereka hebat dan tidak bodoh.

Ibu adalah orang hebat. Kelebihannya adalah menyadari bahwa manusia tiada daya, semua daya adalah milik Tuhan. Ia tak pandai memasak, tak pandai berkata manis yang menyenangkan hati anaknya, tak pandai mengumpulkan uang buat beli mainan anaknya, tak pandai ilmu pengetahuan untuk mengajari anak-anaknya. Ia tak pandai semua persoalan itu. Tapi… oleh karena kekurangan yang adalah kelebihannya itu, ia sukses membuat anaknya bisa rindu dan kagum dan cinta dan bangga dengan dirinya tanpa embel-embel. Oleh karenanya, anak-anaknya tidak rindu dengan masakannya atau kenangannya atau lainnya, kami hanya rindu dengan ibu, apa ada dirinya. Sebab kehebatannya yang luar biasa adalah do’a murni. Do’a yang berangkat dari kesadaran bahwa ia bukanlah apa-apa, semua daya adalah milik Tuhan. Ia terus berdoa meminta segala kekuatan Tuhan itu, untuk anaknya. Itu dahsyat sekali.

Bapak juga hebat. Kehebatannya adalah pernah melakukan banyak sekali kesalahan di masa lalu, sehingga seumur hidupnya dihabiskan dengan meminta maaf pada dirinya sendiri. Oleh karenanya, ia tak pernah merasa lebih baik dari orang lain, apalagi dari anak-anaknya. Dari situlah energi kecintaan itu begitu kuat di hati kami. Ia tak malu untuk menangis didepan kami atau bersama kami, jika ia ingin. Kami tak pernah ragu untuk saling berpelukan hingga menua bersama. Lalu kekuatan apalagi yang melebihi kekuatan cinta seperti itu? Kesalahannya lah yang selalu menjaga kami untuk menjalani hidup dengan baik. Dan saya sangat sayang sama dia. Bapak adalah inspirasi besar saya, untuk mengenal dunia di dalam diri.

Ini bukan cerita kesedihan. Ini adalah cerita tentang kekuatan dan kesenangan hidup. Saya sangat bangga dengan semua jalan hidup yang menyenangkan ini. Punya orang tua yang mengantarkan saya pada dunia yang luar biasa ini.

Situasi hidup hari ini adalah yang terbaik, bagi semua orang, selebihnya serba tidak pasti.

Jalani hidup dengan sebenar-benarnya hidup. Jangan hidup dalam angan apalagi dalam sesal.

Bersyukurlah
Berbanggalah
Berbahagialah!

Cerita Ojek Online, GoCar: 101 Jalur Rezeki Ala Pak Hamdani Kadafi

Rezeki sudah ada yang mengatur, kelancaran urusan hidup sudah ada yang mengatur, tinggal bagaimana usaha kita menemukan jalur dan lelancaran dan keteraturan itu, tanpa dicemari oleh nafsu keserakahan gelap mata. Kurang lebih begitulah pelajaran singkat dari Pak Hamdani, sang driver Go-Car siang ini.

“Mas tunggu sebentar ya, saya tidak terlalu jauh dari situ,” ujarnya, lantas menutup telepon, setelah saya melakukan order Go-Car untuk ke Bandara Balikpapan.

Saya menunggu agak lama, beliau tak kunjung muncul. Saya yang tadinya tidak ingin makan, akhirnya makan siang sampai kenyang, namum beliau tak kunjung datang pula. Saya telepon tidak ada respon. Saya keluar depan rumah, sudah pakai sepatu, menenteng dua tas sekaligus. Baru beliau muncul, dan… telolet! Beliau menyalakan klakson saat melihat pria berbaju kuning dengan tentengan tasnya di pinggir jalan komplek, yaitu ES A SA YE A YA, SAYA!

“Maaf, Mas, jadi terlambat. Pas sudah mau masuk jalan sini, saya mendadak kepikiran apakah kompor sudah saya matikan atau belum,” katanya pelan. “Namanya firasat, mending saya putar balik dan memastikan. Apalagi musim panas begini, lebih rawan lagi terjadi kebakaran. Alhamdulillah kompor sudah saya matikan. Tapi paling tidak pikiran saya tenang dan enak ke mana-mana. Tadi saya mau telepon ngabarin Mas, tapi saya urungkan biar cepat-cepat saja.”

Saya mengarahkan wajah ke samping, ke arahnya, mengembangkan sedikit senyum, dengan tatapan agak centil penuh kalimat tidak apa-apa. Woles.” Tenang saja, Pak, saya senang bapak memastikan rumah bapak aman. Apa yang bapak lakukan sangat lah benar. Toh, kita masih punya banyak waktu untuk ke Bandara,” jawab saya menenangkan. Padahal tadinya saya sempat risau, karena waktu yang tidak terlalu longgar sebenarnya.

Awalnya saya meminta untuk keluar lewat jalan potong, di Hotel Sagita, namun beliau minta izin supaya tidak lewat situ. “Sedang ada perbaikan jalan di situ,” katanya. “Saya khawatir macet.”

Beliau menjelaskan beberapa opsi yang lebih aman. Saya pasrahkan saja pada pilihannya, karena orang baik yang begitu peduli sama keselamatan rumahnya ini pasti punya feeling yang lebih mantap. Beliau memutar balik, untuk keluar ke jalur utama Gunung Sari, yang sebenarnya akan lebih jauh lagi. Tetapi saya harus menurut karena opsi itu jalurnya lebih lancar.

Alam semesta mendukung. Begitu keluar jalur utama, pas ada mobil Alphard TNI yang sedang dikawal oleh Pajero putih di depannya dan Innova hitam beserta ambulance TNI di belakangnya. Kami berada persis di belakang ambulance. Akhirnya jalan bebas hambatan sampai di Bandara, karena mobil-mobil TNI yang menyalakan lampu hazard beramai-ramai tersebut beriringan ke arah bandara. Entah ke mana tujuan akhirnya, kami belok kanan ke Bandara, mobil TNI terus ke arah depan. Pak Hamdani tidak ikut menyalakan lampu hazard memanfaatkan situasi, hanya ikut saja di belakang, dan beruntungnya tak ada yang memotong dan ya tak ada hambatan. Inilah maksud dari kelancaran hidup itu memang ada yang mengatur, selama tidak dicemari dengan nafsu gelap mata.

Tiba di bandara saya minta izin untuk mengobrol sebentar, beliau tidak langsung pulang. Saya bertanya lebih detail soal dia kembali ke rumah memastikan kompor. Saya juga menanyakan apakah tidak ada orang di sana.

Singkat cerita hasil obrolan:

Tidak ada orang di rumah Pak Hamdani, anaknya yang baru lulus STM lagi ke suatu tempat yang tidak diceritakan. Istri bekerja di salah satu hotel. Jadi, beliau sendiri lah yang tadinya di rumah.

Di depan rumahnya ada warung klontong, Pak Hamdani sendiri lah yang menjaga warung itu. Bingung kan? Saya tadi juga bingung.

Pak Hamdani membuka dan menjaga warung klontong sambilan menjadi driver go-car. Bingung? Sudah, lanjut baca saja. Usai mengantar penumpang beliau akan kembali ke warungnya dan standby di sana.

“Tenang saja, selalu ada orang di sekitar warung, dan aman saja tanpa harus saya tutup,” ucapnya penuh percaya diri. “Saya biarkan warungnya terbuka.

Beliau menyediakan dua papan catur di samping warungnya, kebetulan tidak jauh dari situ juga ada pangkalan ojek konvensional. Orang-orang yang mampir main catur itulah yang menjaga warungnya ketika beliau narik. “untunya dua, Mas,” katanya. “Warung aman saya tinggal, dan mereka pasti membeli rokok dan kopi di warung saya.”

Wueee hebat bener!

Beliau dulu tulang ojek angkalan. Begitu gojek masuk, beliau memilih jati tulang ojek online. Atas kerja kerasnya, seiarang beliau punya mobil, makanya jadi driver Go-Car.

Bahkan sebagian rumahnya lagi dibongkar untuk usaha bengkel kecil-kecilan anaknya. “Anak saya itu pengin kerja di rumah saja,” ucapnya penuh antusias. “Yasudah, saya bongkar saja sebagian rumahnya.”

LUAR BIASA! *beri hormat, cekrek!*