All posts by Zulhaq

About Zulhaq

Zia Ulhaq - 30 M pekerja keras kadang-kadang twitter: @zulhaq_

4 Hal Penentu Betah dan Tidaknya Seseorang di Tempat Kerja

Tulisan ini hanya kupindahkan dari linimasa burung biru alias twitter tanpa kukurangi dan kutambahi lagi kata dan kalimatnya. Soalnya kalau di sana, semakin tertimbun dan sulit untuk melacak keberadaannya di kemudian hari. Mending aku simpan juga di sini, supaya lebih mudah dibaca ulang oleh orang-orang yang membutuhkan. Bisa jadi bagian dari orang itu adalah aku sendiri.

Berikut ya tulisannya (kata orang zaman now, thread twitter)…

Ada 4 hal penting yang menjadi faktor penyebab betah dan tidak betahnya seseorang di tempat kerjanya. Sangat penting dipahami, supaya gak melulu ngomongin gaji.

“Yah, gaji lo sudah gede di situ, sayang kalo lo tinggal resign?!”

“Kok lo bisa betah sih dengan gaji sekecil itu?”

Boy, gaji itu hanya salah satu faktor saja di dalam eksistensi seseorang bekerja dengan sepenuh hati. Banyak faktor lain yang mempengaruhi kinerja dan loyalitas. Bahkan bukan hanya 4 faktor, banyak. Tapi umumnya adalah 4 yang mau saya bahas ini.

1. Faktor Intelektual

Ini berkaitan dengan: pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman. Tak heran banyak pekerja baru yang tidak peduli soal gaji, yang penting dapat kerjaan dulu. Karena mereka butuh bisa bekerja dengan baik, dari pengalaman dan pelatihan yang diberikan.

Semakin seseorang di tempat kerjanya merasa: mendapat banyak ilmu, keterampilannya meningkat signifikan, banyak exposure dan challenge dalam mengalami berbagai tugas yang membuat pengalamannya kerjanya semakin kaya–maka semakin ia betah dan loyal.

Makanya penting di awal bekerja atau saat bekerja di tempat baru, beradaptasi menyerap ilmu dan pengalaman sebanyak mungkin. Kalau bisa jangan pasrah sama keadaan, gak ada pelatihan formal–dekati senior atau orang yang menurut kita mumpuni. Dengan begitu kerja gak bosan.

Kalau kamu atasan, bahkan pemberi kerja: beri pelatihan memadai buat pekerja, bimbing mereka supaya lebih terampil. Beri kepercayaan, beri tantangan, supaya pengalaman mereka memiliki nilai tinggi. Dengan demikian, pekerja dan pengusaha saling diuntungkan. Juga, mencerdaskan.

Banyak kasus begini: awalnya bilang mau kerja apa saja, yang penting kerja. Di tengah jalan, mendadak mengeluh dan resign tanpa babibu, banyak yang mengaku karena gajinya gak layak. LOH! GAJI INI DIBERITAHU DARI AWAL, KENAPA DIAMBIL KALAU RECEH, MALIH?!

Karena… Orang yang melanggar ucapannya sendiri “yang penting kerja”, lantas resign karena gaji gak layak yang sudah dia tahu dari awal, itu karena benefit ilmu, keterampilan, dan pengalaman berharga tidak ia dapat juga. Tapi gak nyadar faktornya apa saja…

Jadi taunya mengkambinghitamkan gaji saja. Padahal… Dengan tahu faktor-faktor penentu kita mencintai pekerjaan, kita bisa memilih dari awal: gaji kecil, yang penting kerja, tapi kerja yang ada value intelektual. Kalau tanpa faktor penunjang yang baik, berarti itu terpaksa.

2. Faktor Sipiritualitas

Berkaitan dengan: nilai ibadah, unsur agamis, dan meaning (sesuatu yang dirasa sangat berarti, apa saja, tetapi bukan uang dan intelektualitas).

Jangan heran, dan jangan menyepelekan ketika ada seseorang yang menanggapi kritik dan saranmu terhadap pekerjaannya: “aku rapopo. Kerja kie ibadah. Opo meneh kerjaane melayani orang banyak. Aku ikhlas, aku senang menjalaninya.” Nilai dia di situ!

Atau di unsur agamis… Teman saya (muslim) dulunya banyak yang berlomba-lomba pindah kerja ke luar negeri karena gajinya besar menggila, dan ilmu serta pengalamannya juga oke. Tapi begitu merasa jadi minoritas, beribadah susah, Jumatan seringkali terlewat, resign juga.

Permudah proses orang beribadah, apapaun agamanya, akan memperkuat orang itu betah dan loyal terhadap pekerjaan dan instansinya.

Atau paling tidak, saling menumbuhkan nilai kehidupan yang berarti, juga bisa membuat orang mikir-mikir untuk kerja loncat sana loncat sini seperti kutu yang… ya begitulah. Kerja bukan sekadar: finger print, kelarin tugas, balik kanan pulang. Betapa membosankan jika iya.

3. Faktor yang mewujud (physical)

Berkaitan dengan: gaji, bonus, fasilitas kesehatan, penghargaan. Yang begitu-begitulah. Sekali lagi, ini bukan faktor utama. Ini adalah salah satu faktor saja. Baru mau kerja sudah mengejar faktor ketiga ini, hmmm… bakal jadi tukang ngeluh!

Orang yang sangat pantas mengincar bayaran terbaik, fasilitas terbaik, adalah mereka yang: pengetahuan, skill, pengalamannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Jangan anggap songong competent persons yang jual mahal, karena faktor lainnya tidak begitu ia kejar lagi.

4. Faktor sosial/emosional

Terakhir, ini berkaitan dengan: – Keterbukaan – Kenyamanan – Hubungan baik antar personal, antar superior dan subordinat, lintas departemen, dll. Terkadang, hal ini dianggap jauh lebih penting dari uang. Apalagi bagi yang punya penghasilan sampingan.

Bayaran gede, perusahaannya kelas setinggi langit, tantangannya bergengsi, tetapi manusia di dalamnya mayoritas brengsek, saling sikut, saling menjatuhkan, apalah artinya ya… Neraka dunia itu sih…

akanya pahami kebutuhan diri sendiri, faktor mana yang paling dititikberatkan dari 4 faktor tersebut, cari tempat kerja yang bisa memenuhi kebutuhan yang sudah kamu identifikasi itu.

Begitu juga saat kamu memutuskan untuk resign, pahami faktor mana dari 4 itu yang membuat kamu harus mundur. Lalu, cari tempat baru yang menyediakan kebutuhan itu, yang tidak ada di tempat yang ditinggalkan.

Banyak orang resign, gak 100% jelas akar masalah ia ketahui, dan gak 100% tahu apa yang disediakan tempat baru. Jadinya menyesal. Anehnya, di tempat baru mengeluh, bahkan memuji tempat lama, padahal jelas-jelas tempat lama membuatnya bengah sampai resign. MENURUT NGANA?

Akhirnya lagi, orang ‘linglung kebutuhan dirinya sendiri’ begitu banyak yang gagal move on. Kembali ke tempat lama, sedikit pasang muka tembok melupakan keluh kesahnya dulu. Dalil “ternyata tidak ada tempat yang lebih baik di luar sana, seperti di sini” keluar bertubi-tubi.

DASAR MANUSIA PLIN MANUSIA PLAN! Bukan gak ada tempat yang lebih baik di luar sana, lo sendiri yang gak paham masalah lo sendiri dan dunia luar yang luas membentang cakrawala. Huh!

Kalau sudah mengetahui kebutuham sendiri, punya usaha mencari tahu tempat mana saja yang bisa mengakomodir kebutuhan kamu, paling tidak kamu akan menjadi: Orang yang tidak mudah menyalahkan orang lain. Orang yang tidak mudah menyalahkan keadaan. Orang yang mudah introspeksi.

Hidup Hari Ini Adalah Yang Terbaik, Selebihnya Serba Tidak Pasti

Ini adalah foto lima tahun lalu, di waktu saya menikah. Kami berlima berkumpul, tinggal di rumah kontrakan saya. Saat itu saya ngomong sendiri di kamar, “lima orang ini berada di waktu dan atap yang sama, terakhir saat aku umur 5 tahun-an. Puluhan tahun silam.” lalu saya tersenyum, hidup sudah sejauh ini.

Bapak dan Ibu dulu adalah sepasang orang bodoh, lalu oleh waktu ia buktikan bahwa ternyata mereka begitu hebat dan tidak bodoh.

Mereka menikah melawan dunia di usia 19 tahun, meluluh-lantah-kan restu yang ditarik ulur. Ibu di waktu itu adalah yatim piatu, tiadalah repot soal restu. Bapak yang adalah harapan orang tuanya untuk menempa ilmu lebih tinggi atau bekerja di kantoran tentu sulit mendapat restu, sebab menikah muda saat status pengangguran bukan pilihan yang tepat. Dasar pemuda keras kepala yang tak bisa dibelokkan keinginannya, ia menikah, dan oleh orang tuanya tidak diberi modal kecuali sepuluh jari tangannya. Pernikahan yang dibangun penuh peluh keringat itu hanya bertahan kurang lebih sepuluh tahun. Mereka bercerai di usai 30 tahun. Usia di bawah usia saya saat ini. Bodoh, kan?

Waktu SMA saya pernah punya misi menyatukan mereka, dan akan melakukan segala daya upaya. Saya sampaikan kemauan itu satu per satu ke mereka, lantas ibu menangis tetapi tidak berkata apa-apa. Lantas Om Em, adiknya Ibu datang menasihati Si Zia kecil yang sok-sokan ingin mengendalikan dunia. “Niatmu baik sebenarnya,” katanya pelan. “Tapi kamu hanya akan mengulangi kedukaanmu pada adik-adikmu yang lain. Bapakmu punya kehidupan sendiri, dengan anak istrinya yang lain. Ibumu punya kehidupan sendiri, dengan suami anaknya yang lain. Jumlah mereka lebih banyak dari kalian. Kan cukup kalian saja yang merasakan orang tua pisah, jangan mereka lagi.”

Napas saya terhenti, seakan dicabut dari atas kepala, lalu dihembuskan kembali lewat telinga kiri dan kanan serta lewat hidung dan mulut dengan kesejukan yang begitu melegakan. Betul. Betul itu. Betul betul kebenaran itu. Aku tak boleh egois. Itu betul. Aku menyetujui nasihat Si Om itu hingga aku mengulang-ulang kata betul di dalam hati dan kepalaku. Semenjak saat itu, kukuburkan rencana gila itu. Apa yang ada di depan mata, situasi hidup yang sedang dijalani, itulah yang terbaik. Selebihnya, serba tidak pasti. Jika kita (khususnya saya) menuruti nafsu memaksakan yang tidak pasti, kemungkinan besar hal lebih buruk bisa terjadi, dan saat ini tidak akan ada tulisan ini.

Aku meneruskan hidup dengan bertumpu pada pesan ibu, “kau tak hidup sendirian. Tuhan selalu menyertai. Berjuanglah. Jangan takut!”

Iya, aku tidak takut, Bu. Aku pemberani! Buktinya aku berhasil berdamai dengan dunia dan segala pelosok nusantara, kan kan kan? Buktinya aku berhasil berdamai dengan diri sendiri, kan?

Sialan. Saya menangis sebentar. Sialan.
Maaf, bagian di atas (3-4) paragraf di atas adalah momen paling emosional, saya mesti menangis bahagia karena merasa berhasil pernah melewati itu. Dan kalau kalian sadar, saya pun baru menyadarinya setelah menulis paragraf ini, kalau sebutan untuk saya berubah menjadi aku. Kalau kalian perhatikan (maaf jadi membuat kalian kembali membaca lagi ke atas).

Mereka adalah pemuda bodoh yang oleh waktu membuktikan ternyata mereka hebat dan tidak bodoh.

Ibu adalah orang hebat. Kelebihannya adalah menyadari bahwa manusia tiada daya, semua daya adalah milik Tuhan. Ia tak pandai memasak, tak pandai berkata manis yang menyenangkan hati anaknya, tak pandai mengumpulkan uang buat beli mainan anaknya, tak pandai ilmu pengetahuan untuk mengajari anak-anaknya. Ia tak pandai semua persoalan itu. Tapi… oleh karena kekurangan yang adalah kelebihannya itu, ia sukses membuat anaknya bisa rindu dan kagum dan cinta dan bangga dengan dirinya tanpa embel-embel. Oleh karenanya, anak-anaknya tidak rindu dengan masakannya atau kenangannya atau lainnya, kami hanya rindu dengan ibu, apa ada dirinya. Sebab kehebatannya yang luar biasa adalah do’a murni. Do’a yang berangkat dari kesadaran bahwa ia bukanlah apa-apa, semua daya adalah milik Tuhan. Ia terus berdoa meminta segala kekuatan Tuhan itu, untuk anaknya. Itu dahsyat sekali.

Bapak juga hebat. Kehebatannya adalah pernah melakukan banyak sekali kesalahan di masa lalu, sehingga seumur hidupnya dihabiskan dengan meminta maaf pada dirinya sendiri. Oleh karenanya, ia tak pernah merasa lebih baik dari orang lain, apalagi dari anak-anaknya. Dari situlah energi kecintaan itu begitu kuat di hati kami. Ia tak malu untuk menangis didepan kami atau bersama kami, jika ia ingin. Kami tak pernah ragu untuk saling berpelukan hingga menua bersama. Lalu kekuatan apalagi yang melebihi kekuatan cinta seperti itu? Kesalahannya lah yang selalu menjaga kami untuk menjalani hidup dengan baik. Dan saya sangat sayang sama dia. Bapak adalah inspirasi besar saya, untuk mengenal dunia di dalam diri.

Ini bukan cerita kesedihan. Ini adalah cerita tentang kekuatan dan kesenangan hidup. Saya sangat bangga dengan semua jalan hidup yang menyenangkan ini. Punya orang tua yang mengantarkan saya pada dunia yang luar biasa ini.

Situasi hidup hari ini adalah yang terbaik, bagi semua orang, selebihnya serba tidak pasti.

Jalani hidup dengan sebenar-benarnya hidup. Jangan hidup dalam angan apalagi dalam sesal.

Bersyukurlah
Berbanggalah
Berbahagialah!

Cerita Ojek Online, GoCar: 101 Jalur Rezeki Ala Pak Hamdani Kadafi

Rezeki sudah ada yang mengatur, kelancaran urusan hidup sudah ada yang mengatur, tinggal bagaimana usaha kita menemukan jalur dan lelancaran dan keteraturan itu, tanpa dicemari oleh nafsu keserakahan gelap mata. Kurang lebih begitulah pelajaran singkat dari Pak Hamdani, sang driver Go-Car siang ini.

“Mas tunggu sebentar ya, saya tidak terlalu jauh dari situ,” ujarnya, lantas menutup telepon, setelah saya melakukan order Go-Car untuk ke Bandara Balikpapan.

Saya menunggu agak lama, beliau tak kunjung muncul. Saya yang tadinya tidak ingin makan, akhirnya makan siang sampai kenyang, namum beliau tak kunjung datang pula. Saya telepon tidak ada respon. Saya keluar depan rumah, sudah pakai sepatu, menenteng dua tas sekaligus. Baru beliau muncul, dan… telolet! Beliau menyalakan klakson saat melihat pria berbaju kuning dengan tentengan tasnya di pinggir jalan komplek, yaitu ES A SA YE A YA, SAYA!

“Maaf, Mas, jadi terlambat. Pas sudah mau masuk jalan sini, saya mendadak kepikiran apakah kompor sudah saya matikan atau belum,” katanya pelan. “Namanya firasat, mending saya putar balik dan memastikan. Apalagi musim panas begini, lebih rawan lagi terjadi kebakaran. Alhamdulillah kompor sudah saya matikan. Tapi paling tidak pikiran saya tenang dan enak ke mana-mana. Tadi saya mau telepon ngabarin Mas, tapi saya urungkan biar cepat-cepat saja.”

Saya mengarahkan wajah ke samping, ke arahnya, mengembangkan sedikit senyum, dengan tatapan agak centil penuh kalimat tidak apa-apa. Woles.” Tenang saja, Pak, saya senang bapak memastikan rumah bapak aman. Apa yang bapak lakukan sangat lah benar. Toh, kita masih punya banyak waktu untuk ke Bandara,” jawab saya menenangkan. Padahal tadinya saya sempat risau, karena waktu yang tidak terlalu longgar sebenarnya.

Awalnya saya meminta untuk keluar lewat jalan potong, di Hotel Sagita, namun beliau minta izin supaya tidak lewat situ. “Sedang ada perbaikan jalan di situ,” katanya. “Saya khawatir macet.”

Beliau menjelaskan beberapa opsi yang lebih aman. Saya pasrahkan saja pada pilihannya, karena orang baik yang begitu peduli sama keselamatan rumahnya ini pasti punya feeling yang lebih mantap. Beliau memutar balik, untuk keluar ke jalur utama Gunung Sari, yang sebenarnya akan lebih jauh lagi. Tetapi saya harus menurut karena opsi itu jalurnya lebih lancar.

Alam semesta mendukung. Begitu keluar jalur utama, pas ada mobil Alphard TNI yang sedang dikawal oleh Pajero putih di depannya dan Innova hitam beserta ambulance TNI di belakangnya. Kami berada persis di belakang ambulance. Akhirnya jalan bebas hambatan sampai di Bandara, karena mobil-mobil TNI yang menyalakan lampu hazard beramai-ramai tersebut beriringan ke arah bandara. Entah ke mana tujuan akhirnya, kami belok kanan ke Bandara, mobil TNI terus ke arah depan. Pak Hamdani tidak ikut menyalakan lampu hazard memanfaatkan situasi, hanya ikut saja di belakang, dan beruntungnya tak ada yang memotong dan ya tak ada hambatan. Inilah maksud dari kelancaran hidup itu memang ada yang mengatur, selama tidak dicemari dengan nafsu gelap mata.

Tiba di bandara saya minta izin untuk mengobrol sebentar, beliau tidak langsung pulang. Saya bertanya lebih detail soal dia kembali ke rumah memastikan kompor. Saya juga menanyakan apakah tidak ada orang di sana.

Singkat cerita hasil obrolan:

Tidak ada orang di rumah Pak Hamdani, anaknya yang baru lulus STM lagi ke suatu tempat yang tidak diceritakan. Istri bekerja di salah satu hotel. Jadi, beliau sendiri lah yang tadinya di rumah.

Di depan rumahnya ada warung klontong, Pak Hamdani sendiri lah yang menjaga warung itu. Bingung kan? Saya tadi juga bingung.

Pak Hamdani membuka dan menjaga warung klontong sambilan menjadi driver go-car. Bingung? Sudah, lanjut baca saja. Usai mengantar penumpang beliau akan kembali ke warungnya dan standby di sana.

“Tenang saja, selalu ada orang di sekitar warung, dan aman saja tanpa harus saya tutup,” ucapnya penuh percaya diri. “Saya biarkan warungnya terbuka.

Beliau menyediakan dua papan catur di samping warungnya, kebetulan tidak jauh dari situ juga ada pangkalan ojek konvensional. Orang-orang yang mampir main catur itulah yang menjaga warungnya ketika beliau narik. “untunya dua, Mas,” katanya. “Warung aman saya tinggal, dan mereka pasti membeli rokok dan kopi di warung saya.”

Wueee hebat bener!

Beliau dulu tulang ojek angkalan. Begitu gojek masuk, beliau memilih jati tulang ojek online. Atas kerja kerasnya, seiarang beliau punya mobil, makanya jadi driver Go-Car.

Bahkan sebagian rumahnya lagi dibongkar untuk usaha bengkel kecil-kecilan anaknya. “Anak saya itu pengin kerja di rumah saja,” ucapnya penuh antusias. “Yasudah, saya bongkar saja sebagian rumahnya.”

LUAR BIASA! *beri hormat, cekrek!*

Cerita Ojek Online, Gojek: Berguru Sama Pak Fa’at

Beliau adalah rider Gojek, usia 57 tahun, memiliki dua orang puteri. Puteri pertamanya lulusan Sastra Inggris UGM, puteri keduanya sedang kuliah semester 3 jurusan Hukum di Universitas Islam Indonesia (UII).

Awal mula kami mengobrol adalah ketika saya menggunakan jasanya dari KM 5 untuk menuju ke KM 14 Kaliurang, Yogyakarta, beliau bilang: “Kebetulan, Mas, rezeki. Mas mau ke UII, pas saya berniat mau menjemput anak saya di UII. Alhamdulillah ketemunya pas.”

Beliau bertanya apa sih bedanya jurusan Hukum Umum dengan Hukum Islam, beliau hanya pengin tahu lebih banyak tentang pendidikan anaknya. Saya menjawab ala kadarnya yang saya paham: mahasiswa/i Hukum Islam bakal menyandang gelar Sarjana Hukum Islam atau SHI, bukan SH saja seperti pada umumnya. Soal peluang kerja sesuai jurusan, ya, bisa menjadi hakim di Pengadilan Agama (PA), Panitera PA, Staf KUA, Pengacara di PA, Dosen Syari’ah, Peneliti di bidang sosial dan keperdataan Islam, SDM Departemen Agama, dan ini dan itu. Beliau semakin memperlambat laju motor karena kami sama-sama tidak terburu waktu. Santai.

Beliau tampak senang mendengar bahwa hukum yang dipelajari–selain ilmu dasar hukum umum–adalah hukum berdasarkan sudut pandang agama, yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dab Hadist. “Syukurlah, anak saya bisa belajar seimbang antara ilmu dunia dan akhirat,” katanya.

Waktu di tengah jalan Alastair minta berhenti karena kebelet pipis, kami pun mengobrol lebih banyak lagi, dan… cekrek!

Beliau pernah menjadi karyawan swasta, dua tahun-an lalu pensiun. Beliau pensiun saat puteri pertamanya baru lulus kuliah. Dua wisuda yang berbeda kepentingan.

Uang pensiun dan dana tabungan yang beliau kumpulin selama bekerja, ia pakai buat bangun kos-kosan. Untuk operasional hari-hari beliau memilih menjadi rider ojek online.

Jadi tukang ojek bukan terpaksa, bukan perkara semata tuntutan ekonomi. Beliau senang berinteraksi dengan banyak orang, memberi salam sapa senyum sesering mungkin sepanjang hari setiap hari, mengantarkan orang pada tujuannya dengan selamat, membantu orang tiba di tujuan tepat waktu, dan mengobrol banyak hal dengan banyak orang, semua itu sesuatu yang sangat bernilai baginya. Uang halal adalah bonusnya. Jiwa sehat karena memiliki banyak kegiatan meski sudah pensiun juga bonus plus plus.

Pak Fa’at senantiasa berusaha untuk tidak merepotkan anak-anaknya. Repot itu bagian orang tua. Nanti anak akan mendapatkan bagian itu saat menjadi orang tua. Sehingga, saat puteri pertamanya berhenti bekerja karena memutuskan untuk menikah waktu baru dua tahun lulus, beliau sangat ridha. Puterinya memutuskan ikut suaminya tinggal di Jakarta, ya tidak ada sedikitpun keberatan.

Tapi yang namanya rezeki ya… tak disangka nyana, tahun lalu beliau dan istrinya mendapat kejutan dari menantunya: berangkat umroh bareng-bareng.

Yang paling berkesan lagi dari Pak Fa’at adalah murah senyumnya. Saya melihat beliau selalu tersenyum. Lebih tepatnya, saat sedang tidak tersenyum pun, wajahnya tetap tampak tersenyum.

“Senyum dulu baru bahagia.
Bukan menunggu bahagia dulu baru senyum.”

Kalau Sudah Dapat Yang Baik, Ya Sudahlah Ya…

Tentang tempat kerja, kota tinggal, makanan, acara TV, seseorang, musik, dan apa saja. Kalau sudah dapat yang baik, tak usah terlalu sibuk mencari yang lebih baik, sebab itu akan menguras energi dan membuat kita lupa dengan kesyukuran.

Ketika kita mendengarkan musik dengan setingan volume tertentu, sudah nyaman dan sangat menikmati, tiba-tiba terdengar lagu yang lebih disukai dari lagu lainnya, lantas tangan kita usil menaikkan volume. Begitu muncul lagu yang tidak begitu kita sukai setelah itu, spontan menurunkan volume bahkan lebih kecil dari yang semula. Parahnya lagi, jadi sibuk ganti CD atau ganti folder atau ganti channel radio. Padahal bisa jadi kenyamanan yang timbul di awal itu, selain karena lagu-lagunya, juga karena tingkat volumenya sudah pas untuk telinga dan saraf kita. Keasikan itu tak melulu soal volume menggelegar.

Saat kita sudah tahu penjual nasi goreng enak adalah di warung Skidipapap Subidab sebelah pangkalan ojek gang Harapan, ya kembali beli saja di situ saat pengin beli nasi goreng lagi. Tak usah sibuk coba-coba nasi goreng yang kita tidak tahu referensinya. Kecuali tutup, atau ada referensi jelas lain yang sama-sama enak. Memperkaya referensi tempat makan enak boleh, tetapi tidak dengan niat mencari yang lebih enak untuk meninggalkan warung Skidipapap Subidab.

Begitu pun tentang seseorang. Kalau sudah menemukan seseorang yang baik buat kita, nyambung dan nyaman dengan keadaan kita saaat ini, tak usah mencari seseorang yang lebih baik lagi. Jika suatu saat kemudian keadaan kita berubah dan seseorang itu belum mengikuti perubahan, maka ingatlah keadaan kita dulu. Atau, bantu dia untuk lebih mampu menyesuaikan keadaan yang berubah, bukan menuntut tanpa membantu apa-apa. Apalagi dengan berpaling mencari yang lebih baik dan menganggap seseorang itu gak asik lagi, itu namanya lupa diri.

Terus mencari yang lebih baik itu hanya akan menempatkan diri kita pada situasi yang serba tidak pasti. Selalu ada dua sisi kemungkinan, memang dapat yang lebih baik atau malah dapat yang buruk lalu menyesal tiada berguna.

Contoh nyata dari teori ‘sudah dapat yang baik tapi sibuk mencari yang lebih baik’ adalah foto selfie Bapak-Bapak Muda yang lagi nungguin anaknya main, di samping ini. Sudah dapat pose yang pas, eh diulang-ulang sampai garuk-garuk kepala hingga rambutnya kusut. Pada akhirnya dikira orang, dia adalah Ian Kasela habis naik Gojek lupa pakai helm. Daradam daradam hoek…daradam daradam uh!

Habis itu malah diedit pakai beauty camera: menghaluskan kulit wajah, meniruskan pipi, memancungkan hidung. Begitu selesai diedit: hasil yang terlihat, bukannya tampak seperti bapak-bapak muda kelebihan kasih sayang, justru lebih tampak seperti mahasiswa DO yang kurang darah.

Aku dan Anakku

“Al sayang papa,” katanya mengharukan. Satu kalimat pendek yang membuat hati meleleh.

Anak mengajarkan kita untuk lebih menghargai orang tua. Dan, kita tidak benar-benar paham sepenuhnya tentang pemikiran orang tua sebelum kita sendiri menjadi orang tua.

Setelah punya anak itu…
Rasanya pengin minta maaf ke orang tua setiap hari.

Setelah punya anak itu…
Jadi tahu, banyak hal yang dulu dikesalkan ke orang tua, adalah kasih sayangnya belaka.

Setelah punya anak itu…
Semakin diri sadar, betapa seorang bapak sangat pantas untuk menangis.

Kekuatan Cinta

KEKUATAN CINTA YANG MENGGERAKAN
KEKUATAN ALAM SEMESTA LEWAT
KEKUATAN SANG MAHA

Sepanjang judul inilah kisah kejutan cinta saya dan istri hari ini.

Jam 2 siang saya meninggalkan kantor, kembali ke rumah, siap-siap berangkat ke ujung Timur Indonesia pada pukul 5.40 sore. Selesai Ashar saya ke bandara, diantar Alastair dan Ifat -if. Begitu turun dari mobil persis di depan pintu keberangkatan kami sama-sama terkejut, “LOH, TAS PAKAIANNYA MANA?”

Rupanya tertinggal di balkon rumah, di samping pintu rumah, sebelah kursi kayu berwarna cokelat tua. Mau kembali ke rumah, butuh waktu lebih dari satu jam untuk pulang dan pergi. Sementara kurang dari satu jam ke depan pesawat akan diberangkatkan. “JANGAN PANIK JANGAN PANIK JANGAN PANIK,” kata saya dalam hati.

Ifat tampak sedikit bingung, saya tidak mau membuatnya makin khawatir. Kami memutuskan untuk berlomba menelepon keluarga yang kemungkinan bisa membantu, membawakan tas ke bandara. “Tidak ada yang angkat telepon nih,” kata Ifat tanpa senyum sedikitpun.

Selang beberapa puluh detik, telepon saya terhubung ke kakak ipar–Umi Hanik–yang ternyata lagi di jalan sepulang dari tempat kerja. Beruntung sekali kakak bersedia membantu, bakal mampir ke rumah, mengambil sekaligus mengantar tasnya ke bandara. Janjian akan ketemu di parkiran bandara. Di saat yang bersamaan, saya meminta Ifat untuk ke tempat parkir menunggu kakak, sedangkan saya bergegas ke counter check in.

“MAAF, PAK, KEBERANGKATAN PESAWATNYA AKAN DITUNDA PADA PUKUL 7 MALAM,” kata petugas sembari mengembalikan KTP saya. “BENERAN, MBAK?!” tanya saya kegirangan, memastikan. “WUAAAA REZEKI!” Petugasnya kebingungan melihat respon saya, yang menghentakkan kedua tangan ke udara, saking senangnya pesawat delay.

Saya langsung menelepon kakak untuk tak melanjutkan perjalanan ke bandara, lalu saya telepon Ifat untuk keluar dari parkiran menuju pintu keberangkatan lagi, kita akan kembali ke rumah bersama, mengambil tas!

Ini bukan tentang keteledoran, tidak juga soal keterburu-buruan. Ini tentang cinta yang bekerja dengan caranya, dengan kekuatannya yang misteri.

Kami bergerak tepat waktu, hanya saja tas tertinggal belaka. Waktu keluar rumah, saya menenteng tas laptop dan menggandeng Alastair menuju mobil duluan, karena harus manasin mobil. Ifat menyusul, dan saya meminta tolong untuk dibawakan tas pakaiannya ke mobil. Saya minta tolongnya sambil mengikat tali sepatu. Suara saya rupanya kurang jelas, sedikit miskomunikasi, eh dapat hadiah waktu ekstra bersama. Begitu.

Beruntung sekali kami tidak sampai panik, dan tidak sampai saling menyalahkan. Begitu kembali naik mobil, kami bertiga saling berpelukam haha hihi. Begitu berharganya waktu satu jam. Terlebih sebulan terakhir ini saya sering pergi ke luar kota.

Ketika kita tak mencoba mengendalikan dunia, ketika kita membiarkan alam semesta bekerja, ketika kita percaya pada cinta, ketika kita yakin dengan segala rencana-Nya, ketika itu pula kita diliputi keberlimpahan rahmat kehidupan penuh cinta penuh kasih penuh sayang.

Tidak salah saya pergi mengenakan kaus dan jaket yang sama dengan yang saya pakai waktu bermalam mingguan dengan Ifat, dua hari lalu, seperti pada gambar di bawah. Suasana saling berbagi hangatnya teh poci malam minggu rupanya ikut terbawa hingga hari ini.

Bagi kami, hari ini begitu romantis.

Bertindaklah Untuk Perubahan Yang Diinginkan, Jika Ingin!

YA, BERTINDAKLAH UNTUK PERUBAHAN YANG DIINGINKAN, JIKA INGIN! Meskipun hanya sedikit dan kecil.

Jika merasa jelek, ubah menjadi bagus. Jika kecil, buat itu menjadi besar. Jika lemah, kuatkan. Jika jauh, dekatkan. Jika rendah tinggikan. Jika ketinggian, rendahkan. Jika kotor, bersihkan. Jika buntu, lancarkan. Jika bingung, cerdaskan. Semua perubahan itu sederhana, yang penting nyata ada tindakan.

Tak ada guna punya banyak keinginan, tapi hanya sedikit tindakan. Apalagi tidak ada.

Tanda tangan saya tidak pernah berubah semenjak kuliah, belakangan saya merasa bentuknya kurang bagus, bahkan terasa membosankan. Guratan garis-garis memanjang berjejeran tanpa ada bentuk yang bisa dibaca, semacam rumah kotak yang tiada motif dan kelok sekat dan aksesoris. Atau, semacam kopi tanpa rasa tanpa aroma.

Sementara, setiap nama-nama besar, nama-nama terkenal, yang saya lihat, goresan tanda tangan mereka sangat menarik. Tampak hidup. Berjiwa. Menyenangkan. Satu kesamaan dari tanda tangan mereka, adalah tulisan nama yang diindahkan. Sehingga cenderung tak perlu menulis nama lagi di bawah tanda tangannya, karena sudah terwakilkan oleh tanda tangan itu sendiri.

Berangkat dari ketertarikan dengan jenis tanda tangan seperti itu, saya pun mengajukan permohonan perubahan tanda tangan ke kantor catatan sipil. Singkat cerita, disetujui. Akhirnya, kartu keluarga dan KTP dan buku-buku tabungan, dibuat baru untuk dijejaki tanda tangan baru.

Repot?

Sama sekali tidak.

Hanya soal mengurus ulang dokumen kependudukan, itu perkara remah dan remeh.

Justru yang repot adalah ketika setiap hari kita membiarkan rasa penasaran yang tak tersalurkan, rasa bosan yang tiada terhibur, keinginan perubahan yang tak nyata, dan kebuntuan-kebuntuan lain karena kita malas bertindak.

Saking sukanya saya dengan tanda tangan baru, saya membeli notebook kulit baru, buku tulis yang saya suka, dan saya toreh tanda tangan di pojok kanan hampir di setiap lembarnya. Seperti contoh yang tampak di gambar.

Bertindak. Setidaknya membuat kita menjalani hidup tanpa sambil ‘tertidur’.

Bertindak. Setidaknya membuat kehidupan kita menjadi lebih nyata.

Bertindak…. SUDAH! MARI KITA SUDAHI TULISAN SEKALIGUS BACAAN INI. TARUH PONSELNYA. MARI BERTINDAK, APAPUN YANG BISA KITA TINDAK SAAT INI.

Sekolah Tanpa Ijazah

Hidup adalah perkara pilihan belajar dari guru-guru bermacam rupa. Bahkan plastik bekas bungkus sari roti yang menyumbat saluran selokan pun bisa menjadi guru, jika kita mau belajar darinya.

Tadi siang, seseorang baik yang luar biasa berkata padaku, kurang lebih seperti yang kusesuaikan bahasanya berikut ini:

“Hidup ini tak ubahnya sekolah, Mas.
Belajar adalah tugas utamanya.

Ketika kau melihat seseorang tiada mendapat ujian kehidupan, besar kemungkinan ia memilih untuk tidak sekolah. Tidak salah, sepanjang ia mempertanggungjawabkan kedataran hidup yang dialaminya sendiri. Akan jadi masalah jika ia mengeluh tak naik kelas, padahal sekolah saja tidak mau.

Ketika kau melihat orang lain mendapatkan ujian yang cukup ringan, tak seberat ujian kehidupanmu, bisa jadi dia masih TK. Tak perlu kau bandingkan. Namanya anak TK, ujiannya ya palingan disuruh nyanyi tralala trilili.

Semakin tinggi sekolah kita, SD, SMP, SMA, dan seterusnya, ujiannya tentu semakin ketat. Bukankah sewajarnya kehidupan memang harus demikian?

Ketika ujianmu terasa begitu berat, ya berbanggalah terhadap diri sendiri, karena sudah menempuh sekolah kehidupan yang begitu tinggi. Pastikan kau lulus, dan jadilah ahli kehidupan untuk dirimu, dan jadilah manfaat untuk sebanyak mungkin orang.

Belajar lah lagi dan lagi
Belajar lah terus dan terus
Tak perlu kau pedulikan lembar ijazah
Sebab bukan lembar fana itu yang bakal kau bawa mati, melainkan ilmu dan amalannya semata.”

Tak ada sedikitpun yang bisa kusangkal kalimat-kalimat di atas.