Baby Traveler Seakan-akan

Saya tidak mau bilang kalau Alastair itu masuk golongan Baby Traveler, karena saya bukanlah traveler. Istri juga bukanlah traveler meski dulu dia tukang jalan. Belakangan kami tidak terlalu banyak jalan-jalan. Kalau nanti, bisalah lebih sering lagi. Kami hanyalah tukang putar-keliling dalam kota yang tingkat keseringannya per-minggu melebihi jumlah film Indonesia yang diperankan oleh Reza Rahadian.

Pertama kali Alastair ke luar kota adalah saat dia berusia empat bulan sebagai janin. Waktu itu perjalanan yang ditempuh cukup panjang, yakni dari Balikpapan ke Jakarta, lanjut ke Bali dan Bima. Beberapa hari di Bima, kami berkunjung ke Lombok–sampai ke Gili Terawangan. Alastair ikut snorkeling di tiga gili yang ada di sana. Waktu itu judulnya, mamah muda hamil nyemplung laut.

Hampir setahun kemudian, waktu Alastair berusia hitungan bulan–bukan sebagai janin lagi, tetapi sudah menjadi bayi–kami melakukan perjalanan lagi ke Bima. Mampir di Bali hanya sebentar. Perjalanan kedua ini Al sakit, jadi jalan-jalannya kurang maksimal. Bukan kurang, tidak maksimal. Ini perjalanan kami bertiga yang pertama kali, bertiga dalam hitungan yang sesungguhnya.

Perjalanan ketiga di tahun 2015, yakni ke Semarang, lanjut Pekalongan, terus ke Jogja. Waktu di Semarang dan Pekalongan, Alastair masih kuat. Masih heboh diajak renang. Pada saat perjalanan darat menggunakan jasa travel menuju Jogja, Alastair langsung sakit. Panas tinggi, susah makan, rewel, tidak mau tidur. Akhirnya, di Jogja kami hanya berkutat di hotel, sampai pulang ke Balikpapan. Tiba di Balikpapan dia sembuh begitu saja. Yeaaa….

Perjalanan ke luar kota keempat, hanya ke Jakarta. Al tidak sakit di perjalanan ini, tetapi saya dan istri akhirnya tidak fit. Sampai elek juga di seputaran hotel saja, keluar hanya waktu ke kondangan.

Perjalanan kelima baru-baru ini yang benar-benar panjang tanpa sakit di antara kami bertiga. Saya benar-benar salut sama Alastair yang justru kalau bisa maunya jalan terus. Dari Balikpapan kami berangkat menggunakan pesawat pertama, pagi, menuju Semarang. Dari Semarang ke Pekalongan menggunakan mobil lebih dari dua jam, istrahat beberapa jam, kami melanjutkan perjalanan darat menuju Cirebon–memakan waktu lebih dari empat jam. Tiba di Cirebon, kami menginap semalam–tidak ada masalah dengan Alastair. Dia hanya rewel sedikit minta jalan ke sana ke mari.

Sekembalinya kami dari Cirebon, istrahat sebentar di Pekalongan, kami lanjut ke Tegal memakan waktu empat jam. Kondisi jalan cukup ramai karena musim liburan. Di Tegal hanya satu malam, sore keesokan harinya sudah di Pekalongan. Besoknya lagi, pergi ke sungai di pinggiran kota perjalan satu jam. Kembali ke rumah sudah malam. Benar-benar tidak ada istrahatnya, kecuali tidur malam. Sampai kembali ke Balikpapan pun Alastair sehat walafiat.

 Hal yang paling kami perbaiki dalam keberhasilan perjalanan terakhir ini adalah pola makan Alastair. Sebelumnya kami hanya membawa cemilan, yang menghancurkan pola makan teraturnya Al–dia makan nasi hanya ketika kami berhenti dan makan besar. Di kali terakhir ini tidak begitu, mengingat Al adalah tipe anak yang doyan makan nasi, kami sudah siap sedia dengan dua wadah tupperware berisi nasi dan lauk pauk. Saat waktu makan tiba–meski masih dalam perjalanan–Al kami kasih makan nasi. Waktu tidurnya pun tidak terganggu. Intinya, stok nasi di perjalanan tidak pernah kehabisan. Selain makanan berat, yang senantiasa kami bawa selama perjalanan adalah obat berupa Sanmol dan Tremenza sekadar untuk jaga-jaga kalau Al demam atau terserang flu. Syukurnya sih tidak terpakai.

Sekarang bawaannya pengin jalan-jalan terus, kalau ada sponsor yang berkenan memberi kami paket liburan keluarga gratis gak bakalan menolak loh. Hahaha!