Bapak Gojek dan Nilai Kejujuran

Seringkali saya merasa aneh saat membaca kalimat “ternyata di dunia ini masih ada orang baik” tersebar di media sosial. Ya jelas ada, bahkan orang baik itu sangat banyak. Sampai kapanpun dunia ini eksis, orang baik akan selalu dan selalu ada dalam jumlah yang banyak. Bukan orang baik yang jumlahnya semakin menurun, tetapi (mungkin) perhatian kita yang sudah terlalu sibuk ke peristiwa-peristiwa yang tidak positif. Setidaknya itu menurut saya.

Contoh salah satu dari sekian banyak orang baik yang beredar di sekitar kita adalah bapak gojek yang mengantar istri saya beberapa waktu lalu, yang atas kebaikannya dia mendapat balas dalam wujud ‘kalau rezeki tak akan ke mana’.

Pada hari selasa cerah, Ifat mengantar Alastair ke sekolah menggunakan jasa Gojek yang dikendarai oleh Bapak Ciye (asli nama samaran). Berhubung masih ada urusan di rumah, Ifat harus langsung kembali setelah ngedrop Alastair. Dia membujuk Bapak Ciye untuk langsung mengantarnya kembali dengan bayaran dua kali lipat, supaya gak perlu mencari dan menunggu Tukang Gojek lainnya. Ifat tahu itu melanggar peraturan Gojek, tetapi berharap dimaklumi kali ini saja, dan berharap Bapak Ciye mau menonaktifkan aplikasinya atau lokasinya sehingga tidak terlacak jalurnya yang bolak-balik di rute yang sama–cukup menggunakan sistem bayar cincai. “Maaf, Mbak. Saya tidak mau melanggar prosedur yang sudah ditetapkan. Sebaiknya Mbak order ulang saja, cari Tukang Gojek lainnya saja,” kata Bapak Ciye, menolak. Lalu dia pergi.

Akhirnya Ifat melakukan pengorderan baru. Beberapa saat menunggu pelacakan tukang gojek oleh sistem, Ifat pun mendapatkan tukang gojek yang akan mengantarnya kembali pulang ke rumah. Ternyata Bapak Ciye lagi. Mengingat obrolan penolakan tadi, Ifat berinisiatif melakukan konfirmasi, langsung menelepon Bapak Ciye untuk menanyakan apakah jadi bisa mengantarnya atau tidak, karena ini bukan lagi transaksi non prosedural, melainkan kerja sistem otomatis. Ifat tidak mendapat respon, nomornya Bapak Ciye sedang sibuk. Beberapa kali Ifat mencoba menelepon dan tidak terhubung, Bapak Ciye akhirnya menelepon. “Maaf, Mbak, tadi saya telepon kantor pusat dulu untuk melakukan konfirmasi apakah saya boleh mengangkut Mbak atau tidak–meski ini bukan orderan fiktif, tetapi lebih baik saya melakukan konfirmasi. Soalnya ada aturan, apabila mengangkut penumpang yang sama dalam waktu yang berdekatan apalagi di jalur yang sama bisa terancam kena suspend–karena dicurigai itu orderan fiktif,” ujar Bapak Ciye, menjelaskan. Syukurnya petugas atau CS-nya Gojek mempersilakan.

Pada jam 10 yang sudah mulai panas, Ifat harus ke sekolah lagi menjemput Alastair, masih menggunakan jasa Gojek. Ifat kaget tak karuan karena tukang Gojek yang didapat lagi dan lagi adalah Bapak Ciye. Begitu juga dengan Bapak Ciye, tak kalah kagetnya. Padahal dia sudah ke mana-mana dan banyak tukang gojek lain berbedar di sekitarnya. Bahkan sekitar satu jam-an Bapak Ciye menonaktifkan aplikasinya karena sedang ada urusan pribadi yang membuatnya tidak bisa melayani penumpang. Orderannya Ifat masuk itu persis sesaat Bapak Ciye mengaktifkan kembali aplikasinya, setelah urusan pribadinya beres. Sungguh kejutan hidup yang lucu sekali.

Bapak Ciye pun mengantar Ifat ke sekolahnya Alastair, dan mereka berdua membuat kesepakatan untuk mengatur strategi supaya gak kena order lagi. Ifat membiarkan Bapak Ciye pergi cukup jauh dulu–beberapa waktu–baru mengorder. Akhirnya dapat tukang gojek lainnya. Dan cerita tentang Bapak Ciye pun berakhir.

Rezeki memang tak ke mana kok.