Bapak

Pagi-pagi hendak hati mendengar suara beliau lewat telepon, pengin melerai rindu seorang anak yaitu diriku terhadap seorang bapak yaitu dirinya, sayangnya beliau ke sawah tanpa membawa serta telepon genggamnya yang tak pintar itu. Seharusnya teleponnya beliau memilih yang pintar, yang bisa mengikuti Bapak atau menyusul Bapak ketika Si telepon tidak dibawa, dan bisa memahami betul perasaan rindu seorang anak terhadap bapaknya.

Bicara soal bapak, seringkali terngiang di pikiran dan di kengerianku tentang tiga kali kejadian tragis yang menimpanya. Pertama, tahun 1996 silam ketika diri kecilku masih SMP. Kedua, tahun 2002 ketika diri ini baru setahun kuliah. Ketiga, saat diriku di Kalimantan.

KEJADIAN PERTAMA

Di sore hari penuh angin dan sedikit debu di kandang sapi di tepian sawah kampung, Bapak sedang memindahkan tumpukan pakan-pakan kering untuk dimakan sapi, seperti rutinitas yang sudah sangat sering ia lakukan belasan tahun. Ia sendirian.  Ketika mengangkat tumpukan pakan terakhir, seketika itu ia berteriak meminta tolong. Beruntunglah ada orang-orang yang tidak begitu jauh dari tempat bapak berteriak hebat, melawan kesakitan tiada tara tiada ampun tak terkira sebelum akhirnya ia terkapar di tanah dengan badan yang mulai kaku dan sedikit membiru. Kurang lebih begitu cerita keluarga yang melihatnya kepadaku.

Bapak digigit ular, konon ular kobra.

Tak bisa kubayangkan sakit dan perihnya dan pasrahnya dan tak berdayanya bapak, selain kengerian yang menggigilkan tubuhku dari kaki sampai kepala.

Bapak langsung dilarikan ke puskesmas kecamatan, lalu dirujuk ke rumah sakit umum daerah di kota Bima, yang jauhnya 80 kilometer. Tiada sedikitpun kulihat wajah bapak, hanya cerita-cerita orang. Aku menangis senangis-nangisnya di rumah, sebab tidak ada yang memperbolehkanku ikut ke kota, melihat keadaan bapak, atau sekadar menemani ketidakberdayaannya. Aku dianggap anak kecil yang disuruh di rumah saja, berhari-hari hanya kerinduan anak kecil yang bisa kulakukan, tentang kabar bapak yang semoga tetap hidup.

Setelah berhari-hari, Alhamdulillah bapak kembali ke rumah, meski dalam keadaan lebih kurus, rambutnya rontok, dan tampak luntur gagah beraninya yang gagah dan berani itu. Semua tentang bapak selain yang kulihat di hari kepulangannya dari rumah sakit, hanyalah cerita-cerita belaka.

KEJADIAN KEDUA

Setelah hampir dua tahun kuliah di Solo dan tak punya kesempatan pulang kampung lantaran tak cukup biaya, akhirnya aku bisa menikmati indahnya melepas rindu berjumpa orang tua sanak saudara meski di kampung tiada memiliki kemegahan seperti di kota. Aku terkejut melihat bapak yang sedang tidak mengenakan baju. Bukan karena telanjang dadanya yang kukejutkan, melainkan bekas luka dan bekas jahitan panjang di perutnya.

Sekalinya perut sang gagah beraninya bapak itu terkoyak belati tajam hingga menumpah ruahkan isi perutnya bersama kucuran darah yang begitu hebatnya.

Bapak bercerita. Ibu di waktu dan ruang lain bercerita. Abang bercerita. Cerita berulang dari mulut orang terkasihku yang berbeda-beda itu hanya menguras air mata saja.

Kata abang yang saat itu sedang bersama bapak, dan membopong bapak hingga ke puskemas, betapa ngerinya usus yang harus ditahan bersama darah bapak.

Kejadiannya adalah saat bapak dan abang mengurusi sapi-sapi liar yang tadinya dilepas di bukit-bukit, lalu dibawa ke kandang, untuk diberi tanda dan dirawat. Pada saat bapak memotong sesuatu untuk si sapi liar itu dengan belati, sekita itu juga si sapi mengamuk ke arah bapak, hingga belati di tangannya menusuk sekaligus menyobek perutnya sendiri. Tak bisa kubayangkan kucuran darahnya, dan kengeriannya–apakah melebihi ketragisan gigitan ular atau tidak.

Hebatnya bapak adalah, pada dua kejadian itu, beliau kembali sehat segar dan gagah berani setelah pulih.

“Kenapa aku tidak dikabari sama sekali?” Tanyaku.

“Bapak tidak mau kamu khawatir di tanah rantauan sana, toh bapak baik-baik saja,” jawabnya. Ketika kutanya keluarga yang lain, jawabannya begitu juga. Bapak berpesan tak usah meresahkan hatiku dengan kabarnya.

KEJADIAN TERAKHIR

Bapak keracunan pestisida hingga terkapar dan tak bisa bangun. Katanya, tak pernah ia rasakan ketidakberdayaan seperti itu. Dalam hatiku, berarti kengerian racun ini lebih parah dari dua kejadian yang mengancam nyawanya lalu lalu? Atau jangan-jangan ia sendiri sudah lupa sama kengerian kejadian masa lalu?

Bapak hampir tak pernah sakit biasa seumur hidupnya–efek dari sikap pamernya rajin meminum susu kuda–paling kecapekan minta dipijit. Mungkin bapak pernah sakit biasa, tetapi tak pernah seumur hidupku melihatnya sakit. Sekalinya terkapar, adalah celaka yang mengerikan.

Kabar kejadian terkahir ini pun bernasib seperti kejadian kedua, sengaja tidak ingin diberitahukan kepadaku agar supaya tidak meresahkan hati dan pikiranku. Hal ini membuatku sedih tiada terkira. Dalam hatiku berkata, “Apa iya aku harus dapat kabar hanya ketika Bapak meninggal?” Aku memohon pada Tuhan, aku belum ingin bapak berpulang.

Beberapa hari lalu kubicarakan betul-betul tentang ini, untuk tidak lagi berpikiran aneh soal kabar bekabar, yang harus dikhawatirkan adalah dirinya yang menua, bukan diriku. Aku ingin diberi kabar segera, supaya aku bisa pulang seketika apapun yang terjadi. Aku tidak ingin menyesal seumur hidup hanya karena keluarga terlalu memikirkan ketenanganku, dan aku terlalu sibuk dengan urusan kehidupanku sendiri.

Aku hanya ingin bilang, “tak ada urusan dunia yang lebih penting dari keluarga.”