Barisan Para Mantan

Sore di suatu hari di suatu tempat, hilanglah kartu-kartu dan surat penting beserta beberapa lembar uang merah karena dompet hilang. Dompet hilang karena tas hilang. Tas hilang karena ada maling yang mengambil di samping, ketika shalat ashar berjamaah, di sebuah mesjid, yang menurut keterangan polisi–sering ada laporan kehilangna dari tempat tersebut. Tak disangka kalo kejadian ini ada kaitannya dengan mantan!

Begini ceritanya…

Kembali ke kontrakan lama, rumah milik Pak RT, untuk mengurus berkas pembuatan KTP baru sekaligus mencicipi teh kotak dan beberapa camilan di warungnya Pak RT secara gratis. Sekitar setengah jam saya dan istri bertandang ke sana, sekaligus melihat-lihat keadaan kampung sekitar. Wah, sudah semakin bagus. Rupa-rupanya.

Rumah yang dulu kami tempati sedikit lebih rapi dan manis oleh bunga-bunga baru. Cat baru. Lampu pekarangan baru. Dan penghuni baru yang lebih rajin. Gang masuk rumah sudah tidak ada lobang lobang kecil, plus paritnya sudah rapi bebas hambatan.

Lahan parkir mobil komplek yang tadinya tidak ada menjadi ada, meski sementara menggunakan tanah kosong orang. Beberapa kendaraan yang tidak tertampung oleh lahan parkir sementara, tetap parkir di pinggir jalan utama seperti biasanya—dulu jaman saya tinggal di situ juga demikian adanya. Bedanya, sekarang sudah dikongkrit sampai ujung parit, tidak lagi ada lumpur kala hujan, atau debu bertebaran hingga ke rongga hidung kala kemarau. Bahkan, setiap beberapa meter, dilengkapi dengan bunga bunga yang dilindungi oleh ban bekas ukuran dosa siswa pencontek. Kesimpulannya sudah jauh lebih bagus.

Karena melihat bekas kontrakan bagus, saya pun ke daerah bekas kos-kosan jaman bujang. Dulu, mau cari makan susah–warung warung jauh, kecuali warung padang yang tak layak disebut warung padang atas rasanya yang tidak semahal harganya. Sekarang, hanya beberapa puluh meter di depan kosan saya itu terdapat indomaret, ATM centre, warung lesehan panjang yang kadang dilengkapi dengan tampilan musisi lokal. Wah, bagus pokoknya.

Dari kondisi dua tempat tersebut, istri saya nyeletuk, “mantan tuh gitu ya, begitu ditinggal, lama gak ketemu, eh dianya udah jauh lebih baik,” Saya hanya tertawa, sejenak mencerna maksudnya sambil mengingat-ingat. Hmmm…

“Bisa ya bisa enggak. Banyak hal terjadi, dan gak jarang menjadi jauh lebih baik. Seharusnya memang seperti itu, orang hidup,” Saya membuang puntung rokok tanpa dimatiin.

“Emang yang mana mantanmu yang lebih baik? Kapan ketemunya?” Sepertinya ada yang salah. Tiba-tiba saya disenggol sedikit kecurigaan. “Hayo loooh.”

Saya diam sejenak, mencari jawaban yang tepat.

“Mantan yang lebih baik itu ya kita berdua ini… di mata mantan-mantan kita.”

Eaaaaaa…” Rambut saya pun tambah hancur karena dijambaknya.

“Sebenarnya segala sesuatu dalam keseharian bersama kita, ada di sekitar kita, pastinya mengalami perubahan, hanya saja kita kurang sensitif karena sudah terlalu terbiasa. Beda dengan sesuatu hal yang ditinggalkan sekian waktu, karena gak bersama dalam keseharian, perubahaannya lebih terasa. Tak terkecuali mantan kekasih. Jadi, jangan melihat sisi bagus seseorang hanya ketika menjadi mantan,” Jawab saya sok bijak, berharap obrolan tentang mantan tidak berlanjut panjang.

Meski di kepala saya, mengasumsikan pertanyaan demikian bisa menimbulkan pertanyaan lanjutan. “Jadi mau bela mantan, nih?” dan lain sebagainya dan lain sebagainya.

Bahasan demikian berakhir sampai di situ. Aman.

Ketika saya posting quotes dari novel ‘lelaki terakhir yang menangis di bumi’ karya M. Aan Mansyur pada 29 September lalu, istri saya juga tak membahas apa-apa. Dia hanya meninggalkan sedikit komentar, “Bagus quote nya,” Plus emot melotot.

“Mantan kekasih persis seperti utang, kita tidak pernah betul-betul melupakannya. Kita hanya selalu pura-pura melupakannya,” Quotesnya demikian. “Setidaknya itulah yang dirasakan jiwa–tokoh utama–dalam kisah cintanya yang berakhir menyendiri. Seumur hidup,” Tambah saya pada postingan, untuk menenangkan hati banyak orang, yang menimbulkan muncul keterangan ‘edited‘ di atasnya.