Bekerja Dengan Cinta

Waktu ikut team building di bogor minggu lalu, saya membawa salinan beberapa tulisan Kahlil Gibran yang kesemuanya saya ambil dari bukunya yang berjudul Sang Nabi. Salah satunya adalah tulisan tentang kerja, saya menyebutnya bekerja dengan cinta. Dan, di acara malam, saya meminta tiga orang teman cewek untuk membaca tulisan tersebut–sebagai bagian dari musikalisasi puisi. Gak biasanya acara kantor kami ada pepuisiannya begitu. Tiga cewek yang saya maksud membacakan satu tulisan secara bersambung, dan saya terkejut merinding mendengar cara mereka berpuisi. Katanya gak pernah membaca puisi sebelumnya, sekalinya membaca–saya merasa seperti lagi menonton Dian Sastro sedang syuting film Ada Apa Dengan Cinta. Tulisan yang saya baca berulang dengan sunyi maupun dengan suara tersebut semakin melekat di kepala dan hati dan jiwa saya, begitu indah begitu menggairahkan. Teman-teman yang lain yang mendengarkan mendadak senyap, semua orang menikmati. Cinta memang selalu luar biasa tanpa mengenal ruang dan waktu. Tsah.Sepulang dari tim building, saya membaca lagi tulisan tersebut, semakin menggairahkan. Tulisan itu berhasil mengingatkan saya terus menerus untuk bekerja dengan cinta, dari hati, berlandaskan kesukaan dengan apa yang sedang dilakukan. Kalau kebanyakan orang (ingin) mengerjakan apa yang disukai, tulisan itu membuat seseorang (saya terutama) senantiasa (ingin) menyukai apa yang dikerjakan.

Akhirnya, saya memutuskan untuk menyebar tulisan tersebut ke semua karyawan–perusahaan tempat saya bekerja. Bukan semua karyawan di kantor cabang tempat saya bekerja saja, tapi semua karyawan di cabang manapun. Sabang sampai merauke. Dari staf biasa sampai Presiden Direktur. Wow, wow!

Awalnya deg-degan ya. Bagian dalam diri saya berkata, “eh, zia, gak usah ngirim email begituan. Nanti kamu dikira kurang kerjaan atau dikira cari muka. Sok iya, sok tai lo!” Tetapi bagian lain dalam diri saya juga berkata, “Udah… dikirim aja. Kan niatnya baik, berbagi inspirasi berbagi cinta. Kalau lo ngirimnya hanya ke sebagian orang, berarti cinta lo pilih kasih. Toh, lo kan pernah melakukan hal yang sama tahun lalu, mengirim e-book EFT ke semua karyawan–dan gak ada yang protes tuh.” Akhirnya saya  mengikuti kata bagian diri saya yang positif, mengirim email, semuanya saya BCC (blind carbon copy).

Berbagai respon positif berdatangan, tak terkecuali manajer proyek hingga direktur. Saya mengelus dada senang, ternyata memang tak ada yang perlu ditakuti untuk menyebar hal baik ke siapapun. Bahkan kata salah satu direktur yang membalas email tersebut, “semoga di perusahaan ini semakin banyak cinta dan semakin banyak orang yang membawa cinta.” Beliaupun mengucapkan terimakasih hingga dua kali atas inspirasi dari tulisan tersebut. Wow, wow!

Semakin saya baca, semakin saya pengin menyebar tulisan tersebut ke mana saja, ke siapa saja. Sebelum saya kutip di email ini, saya sebar juga lewat fesbuk. Sekarang saya tinggalkan jejak tulisan itu di sini, saya yakin pasti banyak yang membutuhkan inspirasi dari tulisan keren Kahlil Gibran ini. Cekidot.

BEKERJA DENGAN CINTA

Kau bekerja agar dapat menyelaraskan langkah dengan bumi dan inti semesta.
Karena jika kau menganggur, kau akan menjadi orang asing sepanjang musim, dan tersingkir dari prosesi kehidupan yang berbaris dalam keagungan menuju ketakterbatasan.

Ketika kau bekerja, kau adalah seruling yang melaluinya hati berbisik sepanjang waktu dan berubah menjadi musik.
Apakah kau memilih menjadi alang-alang yang bodoh dan diam, sementara yang lain menyanyi bersama?

Kau dihasut bahwa bekerja adalah kutukan dan kerja keras adalah kesialan.
Tetapi kukatakan bahwa bekerja adalah memenuhi bagian dari mimpi dunia yang paling jauh, yang diberikan kepadamu ketika mimpi itu lahir,
Dan saat kau tetap bekerja berarti kau hidup dalam kebenaran yang penuh cinta,
Dan mencintai kehidupan melalui bekerja berarti mendekatkan diri dengan rahasia terdalam kehidupan.

Tetapi bila kau dalam kepedihanmu menyebut kelahiran sebagai penderitaan dan kerja keras untuk menyambung raga sebagai kutukan yang tertulis di dahimu, aku akan menjawab bahwa hanya keringat di dahimu yang dapat menghapus apa yang tertulis di sana.

Kau juga telah dihasut bahwa kehidupan adalah kegelapan, dan dalam kekhawatiranmu kau menggemakan apa yang telah dikatakan oleh rasa khawatir.
Dan aku berkata bahwa hidup memang kegelapan jika dilalui tanpa dorongan,
Dan semua dorongan buta tanpa pengetahuan.
Dan semua pengetahuan sia-sia tanpa kerja,
Dan semua kerja hampa tanpa cinta;
Dan ketika kau bekerja dengan cinta, kau menyatu dengan diri sejatimu dan dengan Tuhan.

Dan apakah bekerja dengan cinta itu?
Yaitu ketika kau menenun kain dengan benang yang diambil dari hatimu, seolah-olah orang yang kau cintai yang akan memakainya.
Yaitu ketika kau membangun rumah dengan kasih sayang, seolah-olah orang yang kau cintai yang akan menempatinya.
Yaitu ketika kau menebar benih dengan kelembutan dan memetik panen dengan riang, seolah-olah orang yang kau cintai yang akan memakan buahnya
Yaitu memberikan semua milikmu dengan tarikan napas roh sejatimu,
Dan mengetahui bahwa orang-orang telah mati yang diberkati berdiri di depanmu dan menyaksikanmu.

Sering aku mendengar kau berkata, seolah-olah berbicara dalam tidur, “Ia yang bekerja dalam pualam, dan menemukan bentuk jiwanya dalam batu, lebih mulia daripada ia yang membajak tanah. Dan ia yang mencari pelangi untuk meletakkanya dalam kain lebih mulia daripada mereka yang membuat sandal untuk kaki kita.”
Tetapi kukatakan—tidak dalam tidur, tetapi saat jaga—bahwa angin tidak berbicara lebih manis pada pohon ek tua daripada pada rerumputan;
Dan ia sendiri adalah keagungan yang mengubah suara angin menjadi lagu yang lebih manis karena cintanya.

Kerja adalah cinta yang mewujud.
Dan bila kau tak dapat bekerja dengan cinta, tetapi hanya dengan enggan, lebih baik kau tinggalkan pekerjaanmu dan duduk di gerbang kuil, menonton mereka yang bekerja dengan sukacita.
Karena bila kau membakar roti dengan terpaksa, roti itu akan terasa pahit dan tak dapat mengenyangkan rasa lapar orang.
Dan bila kau enggan memeras buah anggur, keenggananmu akan mendatangkan racun.
Dan bila kau bernyanyi meniru malaikat, tapi tidak mencintai nyanyianmu, kau hanya akan mengganggu telinga orang dengan suaramu siang dan malam.