Belajar Banyak Dari Anak

Dulunya Alastair–anak saya–tidak begitu suka dengan mainan. Sampai saya dan istri merasa aneh. Bukan saja tidak doyan meminta dibelikan mainan baru, mainin mainan sepupunya pun tidak bergairah.

Ia lebih suka main kontak fisik, dengan saya, mamanya, neneknya, dan siapa saja yang ada di rumah.

Pernah mamanya membeli mainan ini itu dari toko online, tapi ya berujung dianggurin. Berdebu, kesepian, hingga mainan tersebut berpindah tangan secara gratis ke orang lain yang membutuhkan.

Sekarang? Sungguh dunia terbalik belaka. Minta beli mainan bisa setiap hari, bisa tiga kali sehari, bisa seminggu beberapa kali. Random. Tapi sering.

Saya merenung dan mencoba menelaah apa yang menyebabkan perubahan signifikan itu terjadi, lalu saya mendapat jawaban yang mendekati pasti.

Alastair suka mengoleksi mainan, suka larut dalam dunia mainan di banyak waktu adalah semenjak tahun lalu, tahun di mana neneknya yang bersama dia setiap hari meninggal dunia. Dengan neneknya, bukan saja main kontak fisik di rumah, tetapi bisa main dan berkeliling ke mana saja;

Naik angkot. Main ke pasar. Jalan keliling kampung dengan sepeda dorong. Menelusuri jalanan protokol. Nongkrong di lampu merah menghitung angkot warna Tayo dan kawan-kawan. Merapikan rumah. Main air di kamar mandi. Kecipak-cipuk di kolam renang angin di samping rumah. Pergi ke rumah keluarga.

Sungguh banyak kesenangan sederhana di atas hilang dari rutinitasnya, hilang bersama neneknya yang teramat kami cintai.

Saya dan istri sangat sadar, kasih sayang dan pengorbanan neneknya begitu besar, waktunya untuk Alastair begitu banyak, sedangkan kami (saya terutama) belum mampu melakukan semua yang dilakukan neneknya itu untuk Alastair. Setiap mengingat ini, kesedihan dalam hati saya berlipat ganda. Sedih karena nenek begitu cepat meninggalkan kami semua, sedih karena Alastair kurang maksimal kami layani.

Setiap huruf dalam tulisan ini adalah ajaran Alastair pada saya, tentu pada istri saya juga, tentang kerinduan mendalam yang menerbangkan ingatan ke masa lalu dengan kalimat “seharusnya aku bersyukur berjuta-juta kali lipat waktu itu, waktu neneknya Alastair yang kami panggil Mbah masih hidup bersama gunung cinta kasihnya.”

Saya memang pandai berorganisasi, mengelola masalah sekaligus solusi pekerjaan, mengatur banyak orang di luaran sana, namun kehebatan di luaran sana tiada begitu berarti karena kehebatan di rumah belum bisa saya meneladani Mbahnya Alastair.

Betapa rindu yang diajarkan Alastair ini mengalirkan air mata merambahi pipi mendiamkan kata-kata di mulut. Saya tahu Alastair rindu dengan Mbahnya, meski yang di dalam pikirannya hanya merasa kehilangan rutinitas. Kalau saja usianya sudah cukup paham dengan semua ini, dia pasti tidak begitu peduli dengan rutinitas, melainkan rindu dengan Mbahnya dengan segala hormat dan kecintaan yang medalam.

Saya hanya mampu membelikan Alastair mainan sesering yang dia mau, tetapi tidak mampu bermain bersama sesering yang dia mau. Saya mampu membawanya pergi jauh melintasi pulau dan angkasa, tetapi tidak mampu membawanya pergi dalam waktu yang terlalu sering meski dengan cara yang teramat sederhana.

Istriku lebih lebih lebih lah sedihnya, sebab Mbah adalah ibunya yang teramat sangat ia cintai kasihi sayangi dengan segenap dunia, jiwa raga, bahkan nyawanya. Di sini aku semakin merasa tiada daya, karena dua orang terpenting dalam hidupku harus kehilangan orang yang sangat penting dari hidup mereka, yakni Mbah.

Sekarang kuhanya terus menghibur diri, bahwa semua terjadi atas Kehendak Tuhan yang sempurna.