Beratnya Berkata Tidak

Tanggal segini banyak orang sudah mempersiapkan keperluan mudik. Tiket sudah pada di tangan, kecuali mereka yang siap berebutan atau membayar harga tinggi–bakal membeli di waktu mepet. Kecuali saya, tidak ada rencana mudik lebaran tahun ini.

Seorang kawan di Jakarta menulis di status fesbuknya, ia akan mudik–road trip–dari Jakarta ke Lombok. Ia mencari teman seperjalanan, biar ramai biar makin asik. Nah, ajakan ini menggoda iman saya. Pengiiiin banget rasanya untuk menyetir mobil sejauh itu dengan perasaan tak sabar bertemu keluarga di kampung. Sayangnya, hanya sebatas ingin dan angan saja. Tinggal di Kalimantan, pilihan road trip ke Nusa Tenggara Barat bukan sesuatu yang mudah. Biayanya pun bisa sangat mahal kalau mobil mau dikirim ke Surabaya terlebih dahulu. Kalau mau naik kapal dulu dari Balikpapan ke Surabaya, waktu cuti akan habis di jalan. Huhuhu…

Saya tidak mudik lebaran tahun ini bukan karena tidak bisa road trip, tetapi lagi gak bisa pulang saja.

Kemarin menelepon bapak dan ibu, beliau-beliau menanyakan apakah saya dan keluarga akan pulang atau tidak. Abang dan istrinya menanyakan hal yang sama. Bahkan, mantan istri ketiga bapak juga menanyakan tentang mudiknya saya. Begitu berat hati saya harus berkata tidak. Terlebih dari nada-nada pertanyaannya mengandung harapan penuh kerinduan. Ya. Saya pun rindu untuk berjumpa sua, menikmati suasana lebaran yang hanya sekali setahun itu.

“Kalau pas waktunya tepat, tidak perlu menunggu lebaran tiba, kami akan pulang,” kata saya menutup pembicaraan.

Kamu kapan mudik, dan ke mana?