Berburu Kebaikan (2)

Situasi jalur persimpangan menuju pelabuhan ferry, Kariangau, Balikpapan padat riuh ramai kendaraan seperti biasanya, membuat mata seringkali menengok kiri kanan menikmati hal-hal indah di luar kemacetan di tengah hangat pagi yang mulai bersinar.

Di ujung mata kanan saya melihat seorang ibu-ibu berkerudung biru berlari mundur, meninggalakn sepeda motornya begitu saja di jalur berlawan. Saya kira ia kejatuhan sesuatu, lantas turun segera untuk mengambil sesuatu yang jatuh entah apa itu. Ternyata dia berlari ke arah ibu-ibu tua yang memikul karung setengah isi, sepertinya pemulung.

Ibu-ibu berkerudung biru menyerahkan nasi bungkus, diserahkan dengan senyuman yang dapat saya tangkap dan gerak bibir yang kalimatnya tidak saya dengar. Ibu-ibu pemikul karung setengah isi membalas senyumnya dengan sorot mata yang begitu bersyukur. Sungguh kehangatan pagi yang indah sempurna.

Senang menemukan kebaikan-kebaikan sederhana dan bermakna seperti itu. Sambil meneruskan perjalanan ke kantor, saya pun membayangkan skenario yang dipersiapkan Si Ibu-Ibu Berkerudung Biru;

Ia mempersiapkan diri dan paginya dengan niatan akan membagi makanan, meski makanan yang ingin dibagi tersebut tidak ia buat di rumah. Ia kemudian mencari warung nasi, membelinya, dan berangkat ke arah tujuan yang entah ke mana yang tak mampu saya bayangkan dengan kekuatan imajinasi saya. Sepanjang jalan dari tempat ia membeli nasi bungkus hingga ke tempat tujuan, ia tidak tahu akan berhenti di mana, bertemu orang seperti apa, ia hanya jalan dengan niatnya–membiarkan alam semesta mempertemukannya dengan niatannya itu. Ketika ia melewati pintu gerbang perumahan Bumi Nirwana setelah Hotel Platinum sekaligus melewati ibu-ibu tua yang memikul karung setengah isi, dia baru tersadar, dan sedikit berpikir akan berhenti atau tidak. Dengan cepat ia memutuskan berhenti saja, dengan anggapan setelah ini belum tentu ketemu langsung orang yang dirasa cocok untuk berbagi nasi. Lalu ia berhenti, mematikan motornya dan parkir begitu saja di pinggir jalan raya, lalu berlari kecil ke titik sebelumnya. Setelah ia menyerahkan nasi bungkus, ia berlari kecil kembali ke arah motornya, lalu melanjutkan perjalanan dengan perasaan yang lebih senang dari perasaan ibu tua pemikul karung setengah isi yang menerima pemberian tersebut.

Saya saja yang melihat, begitu merasakan cipratan hati senangnya.

Luar biasa.