Bincang Keluarga Bareng Anji Manji

anjimanji

Selama ini saya hanya berinteraksi lewat media sosial dengan penyanyi solo yang belum lama mengeluarkan single DIA–yang viewers video klipnya di youtube menembus angka dua puluh juta–ini. Saya menghubunginya sekira seminggu lalu saat melihat baliho, bahwa Manji bakal tampil di Balikpapan. Dia membalas pesan saya dan bersedia ditemui untuk bincang-bincang. Singkat cerita, kami ketemu saat soundcheck, berasa sudah sering ketemu sebelumnya meskipun di awal saya agak kagok. hahaha.

Saya coba menyusun ulang obrolan kami dengan penyesuaian kalimat dan cara penyampaian versi saya dengan sisipan-sisipan cerita terkait, namun tidak mengubah inti obrolan yang sesungguhnya:

“Kenapa belum berani menambah anak? Khawatir soal finansial, waktu, atau apa?” tanya Manji terhadap pernyataan saya yang merasa cukup dengan satu anak saja, setidaknya untuk saat ini. Saya menjawab apa adanya, bahwa satu anak yang sekarang saja saya belum sepenuhnya bijak menjadi seorang bapak. Sebenarnya saya malu menyatakan itu di depan Manji yang punya kesibukan super padat dan punya anak lima–yang setahu saya, punya kualitas waktu bersama keluarga yang sangat baik.

Sebenarnya Manji sudah menyampaikan banyak cerita hingga tips soal keluarga di vlog-nya, tetapi saya merasa klimaks kalau mengobrol langsung. Semacam menikmati musik favorit, ada sensasi luar biasa ketika menonton langsung di panggung besar.

Manji dan saya punya sejarah perjalanan hidup keluarga di masa lalu yang memiliki kemiripan. Orang tua kami sama-sama bercerai. Orang tua kami yang bercerai, sama-sama menikah lagi dengan pasangan barunya. Bedanya, bapak kedua Manji sangat bijak dan bisa menjadi panutan untuknya. Bedanya lagi, Manji hanya dekat dengan ibunya namun tidak dengan bapak kandungnya dan saya dekat dengan bapak dan ibu kandung saya. Bahkan, kami punya pendapat yang sama tentang isu Mario Teguh dan keluarganya–tidak jelas arahnya, tidak jelas duduk permasalahan paling pentingnya apa, dan tidak ada yang bisa disimpulkan.

Dari pengalaman berumah tangga orang tua yang serupa, saya dan Manji tentu punya komitmen yang sangat besar untuk membangun keluarga harmonis yang berbahagia dunia akhirat. Terlebih bagi Manji dan Minda, mereka memiliki lima anak yang tidak semuanya anak kandung mereka berdua, namun harus disayang tanpa pandang bulu. Ini salah satu yang saya kagumi dari seorang Manji.

Manji tidak hanya bergelut di industri musik, dia juga punya beberapa usaha yang dijalaninya, tanpa mengurangi kualitas kebersamaan dengan keluarga. Strateginya sih bagus, termasuk lokasi kantor, dia punya kantor hanya empat menit dari rumah. Anak-anak juga bisa main ke situ.

“Memang sih, saya pakai baby sitter di rumah. Tetapi lebih untuk melakukan tugas pekerjaan yang ‘sayang kalau dikerjain sendiri’. Seperti nyuci botol, nyuciin pakaian anak-anak, beberes, dan tugas rumah lainnya yang menyita waktu dan tenaga, tetapi rentan menguras porsi kebersamaan dengan anak. Kalau suapin anak dan tugas lain yang sifatnya interaksi aktif dengan anak, itu kami lakukan sendiri,” kata Manji sambil menghisap rokok elektriknya.”Interaktif dengan anak adalah prioritas.”

“Ketika saya bersama dengan anak-anak, saya selalu mengusahakan untuk tidak memegang gadget, meski tujuannya untuk mengambil foto atau video anak. Karena biasanya kita terpancing untuk mem-posting foto/video itu ke media sosial, dan yang bikin menyita waktu adalah balas mention/komentar, scrolling lagi, dan interaksi maya yang bikin lupa waktu lainnya. Akhirnya waktu bersama anak terbaikan, sayang aja gitu. Saya pasti mengambil foto/video anak tetapi pake kamera ini,” kata Manji lagi sembari mengangkat kamera canon-nya dengan tangan kanan. “Jadi, memori di rumah saya itu buaaaanyak.”

Obrolan kami pun melebar ke soal senyum dan karya. Tapi saya hanya menceritakan soal senyum di sini, di mana tagline-nya Manji sangat bagus menurut saya: jangan lupa senyum hari ini. Saya ceritakan ke dia, kalau saya juga punya tagline soal itu: tak ada alasan untuk tidak tersenyum. Tapi saya akui di depan Manji, kalau istilah yang dia pakai lebih sederhana, lebih ngena, dan lebih mudah diingat.

“Ungkapan senyum sengaja saya gunakan, terutama untuk mengingatkan diri saya supaya menjadi orang yang positif, berkarya positif kreatif, dan ini terus saya sebarkan supaya orang lain juga selalu menjadi pribadi yang positif,” kata Manji lagi. Dia menceritakan proses proses berkarya-nya yang dikatir dengan senyum dan energi positif. Juga, menceritakan perjalanan tour-nya keliling desa-desa di berbagai daerah–dengan waktu yang cukup panjang dan bayaran setengah dari bayaran yang biasa dia terima–dijalaninya dengan senyum dan kesenangan yang luar biasa. Bayaran memang tidak wah, tetapi inspirasi dan suntikan semangat dari orang desa merupakan pengalaman hebat, yang juga mahal harganya.

Begitupun saya, menceritakan bagaimana kekuatan senyum ini berpengaruh besar terhadap kehidupan. Kalau saya, selalu membawa smiling face ke berbagai urusan dan masalah. Misalkan saya sedang berkendara, tiba-tiba ada pengendara lain yang sembarang nyerobot, dengan sengaja saya akan memasang muka senyum. Itu sangat membantu untuk menahan emosi, menghalau sumpah serapah, dan memutar otak untuk lebih bernalar positif, sehingga energi lebih terjaga. Tak beda halnya ketika ada kritik pedas orang yang rentan memancing emosi, baik di forum formal maupun informal, saya berusaha untuk lansung pasang muka senyum sebelum bereaksi lebih lanjut. Memang tidak mudah dan tidak selalu otomatis saya lakukan, tetapi proses itu sudah saya lakukan dan akan terus saya tempa. Ah, jadi pengin nyanyi lagunya Dewa: “hadapi dengan senyuman…. semua yang terjadi biar terjadi…”

Dan, oh ya, mendengar berbagai cerita Manji yang terus produktif berkarya, saya jadi tersuntik semangat untuk kembali menulis lebih konsisten–dan doakan–supaya bisa menghasilkan karya buku lagi. Semoga kalian tidak garuk-garuk kepala dengan akhir tulisan yang begini adanya. 😀