Category Archives: Anak

Alastair dan Jam Tidurnya

Salah satu momen intim dengan anak adalah bersamanya satu bantal, menemaninya hingga tertidur lelap. Ada sentuhan hampir seluruh panca indera yang terlibat, dan saya suka sekali memegang telapak tangannya–saya selalu merasa ada energi terlembut yang ditransfer ke saya. Sentuhan telapak tangan ini hanya bisa saya lakukan lama ketika dia tidur, saat terjaga sulit untuk saya melakukannya. Bisa dipastikan tangan saya dihempas, mungkin dia risih. Atau mungkin dalam hatinya Alastair berkata, “emang gue cowok apaan, pegang-pegangan tangan lama-lama sesama cowok?” Continue reading

Baby Traveler Seakan-akan

Saya tidak mau bilang kalau Alastair itu masuk golongan Baby Traveler, karena saya bukanlah traveler. Istri juga bukanlah traveler meski dulu dia tukang jalan. Belakangan kami tidak terlalu banyak jalan-jalan. Kalau nanti, bisalah lebih sering lagi. Kami hanyalah tukang putar-keliling dalam kota yang tingkat keseringannya per-minggu melebihi jumlah film Indonesia yang diperankan oleh Reza Rahadian. Continue reading

Semau Gue

Kalau ada laki-laki yang bilang mengurus anak itu gampang apalagi berani mengatakan bahwa perempuan sekaligus ibu banyak drama dalam mendampingi anak, berarti laki-laki macam begitu pantas disunat tiga kali. Sunat pertama secara prosedural lewat mantri/dokter, sunat kedua pakai kapak, sunat ketiga pakai sembilu. Tidak gampang bukan berarti tidak menyenangkan, konteksnya bukan itu.  Continue reading

Penggandaan Sutan Takdir Alisyahbana

Setelah terindikasi mengalami tekanan darah tinggi di usianya yang masih kepala dua, Ibu disarankan dokter untuk mengkonsumsi timun. Kebetulan (bahan) makanan yang dipertanyaakan apakah buah atau sayur tersebut sangat mudah didapat, murah dan bahkan bisa didapati secara cuma-cuma di kampung saya. Tak disangka nyana, ibu terus mengkonumsi timun sebagai makanan favorit–bahkan dijadikan camilan. Manis. Gurih. Krauk–hingga akhirnya, lambung ibu mengalami gangguan hebat. Ibu jatuh sakit. Ia tak dapat mengenali orang. Badannya terkulai lemas di tempat tidur beralaskan tikar berbahan daun pandan.

Entah ada hubungannya atau tidak, ibu jatuh sakit setelah meninggalnya adik saya–Sutan Takdir Alisyahbana–yang baru berumur dua bulan, di tahun 1985. Di tengah sakit yang melandanya, Ibu didatangi Almarhum adik lewat mimpi, katanya. “Ibu, bangun. Jangan sakit lagi,” cerita ibu, menirukan apa yang ia lihat di mimpinya. Saya menyandarkan dagu pada lipatan tangan sendiri, mendengarkan cerita-cerita ibu tentang adik yang tak sedikitpun saya bisa ingat garis mukanya. Saya hanya tahu tentang nisan kuburnya di sebelah kepala Nenek Kisman. Itupun kata ibu, dan ibu yakin hanya berdasarkan dia ingat makamnya Nenek Kisman. Keyakinan ibu terkadang meragukanku. Ibu pernah berhenti mengunjungi makam anaknya itu sekian banyak tahun setelah Ibu cerai dengan Bapak pertengahan tahun 1989. Apakah terjadi tumpang tindih dan pergeseran makam di waktu tersebut, bisa iya bisa tidak. Tapi… semoga itu hanya pikiran kirtis saya saja, dan keyakinan ibu tetap benar sampai kapanpun. Jadi saya bisa mengunjungi makam adik saya (lagi) nanti saat pulang kampung, bersama ibu yang masih saja phobia makan timun. Continue reading

Suara Kertas

Soal penataan dokumen dan buku-buku, saya tergolong orang yang rajin dengan predikat kadang-kadang. Tetapi ketika rajinnya muncul, akan begitu khusuk merapikan apa saja yang bisa dirapikan selama sesuatu itu tampak tanpa melibatkan indera keenam. Buku-buku yang tersimpan dengan urutan beda tinggi pasti saya rombak hingga membentuk susunan seragam, semacam barisan pasukan anti huru-hara yang melakukan simulasi.

Di tengah merapikan dokumen dan buku-buku, saya menemukan notebook ukuran sedang bertuliskan merk obat dengan tinta hijau kusam. Saya membuka buku tersebut memastikan apakah perlu dibuang atau dipertahankan. Saat membuka halaman pertama, saya menemukan coretan tak beraturan yang dibubuhi tinta hitam dan tinta biru–saya pikir tidak perlu disimpan. Toh, saya punya buku tulis yang lebih bagus, pikir saya. Sebelum memutuskan dibuang, saya membuka lembaran kedua dengan tangan kanan, sontak tangan dan mata saya terhenti. Saya menemukan catatan istri saya. “ALASTAIR.” Begitu judul tulisannya. Continue reading

Muda, Berprestasi, dan Asik

Saat otaknya memerintahkan mulutnya untuk berkata ‘ke sana’, itu artinya ia bosan di rumah dan ingin main di luar. Tanpa menunggu lama, ia langsung berlari ke luar rumah—menuruni dua belas anak tangga dari lantai dua, lalu belok kanan menembus pintu depan, kemudian belok kanan lagi menuju pintu pagar yang jika dilewati langsung berurusan dengan jalan ramai kendaraan—yang membuat mamanya berteriak sambil mengejar dengan sejuta kepanikannya.  Ketika tangan mamanya meraih lipatan ketiak kanan kirinya, mengangkatnya, lalu membawanya masuk, ia akan terus berteriak, “ na na na… ja ja ja…” Ia akan berontak sedemikian rupa, seperti pesulap yang meloloskan diri dari ikatan rantai di dalam peti yang ditenggelamkan ke kolam lima meter. Segala cara ia lakukan supaya dibiarkan ke luar: menangis, menggigit, menendang-nendang, menelapaki brutal muka mamanya sambil terus berteriak na na na yang berarti ke sana dan ja ja ja yang berarti jangan halangi aku. Continue reading

Pembanding Sebanding Tak Sebanding

Tidak peduli dijadikan suruhan untuk membeli rokok ketengan atau mengambilkan air minum, yang penting saya bisa duduk sedekat mungkin dengan orang yang pandai bermain gitar. Itu saya lakukan di zaman lagu-lagunya Base Jam dan Stinky jadi lagu wajibnya anak nongkrong pinggir jalan di kampung. Di mata saya–waktu itu–orang yang pandai bermain gitar adalah sebahagiabahagianya umat manusia muda. Continue reading

Keajaiban Kasih Sayang Ibu dan Anak

img_20160710_083641_hdr_1468235207711

Kasih Ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menerangi dunia. Lagu berjudul Kasih Ibu karya SM Muchtar tersebut masih sesekali saya dengar hingga kini. Dulu, waktu hanya sebatas sebagai anak, bagi saya lagu tersebut semacam ucapan terimakasih saja—tanpa getaran makna. Sangat berbeda ketika saya mendengarnya sekarang, setelah mejadi bapak yang setiap hari melihat tumbuh kembang anak oleh tangan istri—menangis hati dan mata ini. Ibu mengasihi anaknya sepanjang malam, sepanjang hari, sepanjang napasnya, sepanjang sadar dan tidak sadarnya, sepanjang kesabarannya, sepanjang dunianya. Itulah kenapa  kata ‘sepanjang masa’ paling tepat mewakili sepanjangan-sepanjangan lainnya. Continue reading