Category Archives: Cerita

Berburu Kebaikan (3)

Judul cerita ini seharusnya “SEMBILAN TAHUN”, karena bercerita tentang seorang lelaki muda yang sudah merantau ke Kalimantan 9 tahun terakhir dan belum bisa pulang karena ada niat dia yang lebih mulia. Tetapi karena saya lebih suka memberi judul Berburu Kebaikan, ya saya biarkan begini adanya saja.

Ini berbeda dengan kisah Sembilan Tahun yang mengenaskan yang dipopulerkan oleh group band Crossbottom pada tahun 2000-an silam, dengan lirik yang masih teringat di kepala saya: “Sembilan tahun lamanya, tak kuduga jadi sia-sia, ku berjuang demi cinta kini sudah tak ada artinya, engaku telah berpaling jauh dariku.”

Kisah ini tentang Kang Ade, yang tidak sengaja ketemu sepulang kerja.

Ia berasal dari Indramayu, anak pertama dari lima bersaudara. Adik bungsunya meninggal dunia, sehingga dia jadi empat bersaudara.

Sembilan tahun lalu, katanya, saya diajak seseorang yang tadinya tidak saya kenali untuk merantau ke Kalimantan. Ini masih katanya Kang Ade. Saya yang dimaksud di bagian ini dan berikutnya, sampai ada pemberitahuan, adalah Kang Ade.

Waktu itu saya dan adik-adik sanggupnya makan nasi aking, yang penting bisa meneruskan hidup dan bersama-sama. Bapak ke Serang mencari peruntungan baru, ibu pergi menjadi TKW berharap bisa pulang membayar utang dan menghidupi kami anak-anaknya lebih baik lagi. Sayangnya, bapak maupun ibu tidak membawa pulang sesuatu yang berarti dari masa perginya. Kami sempat memberontak, terutama terhadap bapak, karena dia lah yang justru menambah susah hidup karena uang ibu yang sedikit ia habiskan pula.

Bersyukur kepada Tuhan, perantauan ke kalimantan membawa hasil yang sangat baik. Berawal dari ikut orang, jadi sopir lepasan yang digaji bulanan cukup untuk memulai hidup, sampai akhirnya diterima jadi driver di perusahaan tambang.

Saya rela tidak mudik bertahun-tahun, supaya uangnya bisa dipakai untuk bangunin rumah buat ibu bapak di Indramayu, bahkan ada sisipan uang yang bisa dipakai membeli sebidang lahan sawah. Sekarang ibu dan bapak sangat akur hidup bahagia sederhana di kampung, mengais rezeki dengan bertani yang halal. Saya bangga dengan itu, terlebih sekarang saya punya rumah sendiri di Kalimantan, tinggal bersama anak istrii yang baik belaka, selalu mendukung saya untuk mengurus keluarga yang lebih baik.

Dan, dua tahun terakhir adik yang kedua saya ajak ke kalimantan juga, dia dapat pekerjaan sebagai welder di perusahaan dan lokasi tambang yang sama tempat saya bekerja. Hidupnya dia enak sekarang. Bersyukurnya lagi, nambah satu orang yang mengurus keluarga.

“Perusahaan ini menjadi perantara rezeki yang sangat baik buat saya dan keluarga, sehingga sekarang bisa hidup selayaknya orang hidup layak pada umummnya. Saya harus mendedikasikan diri dengan cara terbaik yang bisa saya lakukan di perusahaan ini,” tukas Kang Ade menutup pembicaraaan.

Saya yang mendengar kisahnya kagum sakgum-kagumnya. Ada rasa syukur bertubi-tubi di dada saya, dan ada perasaan ditegur sekaligus. Saya di bagian ini sudah saya adalah saya, ya saya yang menulis tulisan ini. Bukan lagi Kang Ade.

Kang Ade hebat. Profesi sebagai driver perusahaan saja bisa bangun rumah sendiri dan bangunin rumah buat orang tua, plus beli sawah dan lain-lain pula.

Berburu Kebaikan (2)

Situasi jalur persimpangan menuju pelabuhan ferry, Kariangau, Balikpapan padat riuh ramai kendaraan seperti biasanya, membuat mata seringkali menengok kiri kanan menikmati hal-hal indah di luar kemacetan di tengah hangat pagi yang mulai bersinar.

Di ujung mata kanan saya melihat seorang ibu-ibu berkerudung biru berlari mundur, meninggalakn sepeda motornya begitu saja di jalur berlawan. Saya kira ia kejatuhan sesuatu, lantas turun segera untuk mengambil sesuatu yang jatuh entah apa itu. Ternyata dia berlari ke arah ibu-ibu tua yang memikul karung setengah isi, sepertinya pemulung.

Ibu-ibu berkerudung biru menyerahkan nasi bungkus, diserahkan dengan senyuman yang dapat saya tangkap dan gerak bibir yang kalimatnya tidak saya dengar. Ibu-ibu pemikul karung setengah isi membalas senyumnya dengan sorot mata yang begitu bersyukur. Sungguh kehangatan pagi yang indah sempurna.

Senang menemukan kebaikan-kebaikan sederhana dan bermakna seperti itu. Sambil meneruskan perjalanan ke kantor, saya pun membayangkan skenario yang dipersiapkan Si Ibu-Ibu Berkerudung Biru;

Ia mempersiapkan diri dan paginya dengan niatan akan membagi makanan, meski makanan yang ingin dibagi tersebut tidak ia buat di rumah. Ia kemudian mencari warung nasi, membelinya, dan berangkat ke arah tujuan yang entah ke mana yang tak mampu saya bayangkan dengan kekuatan imajinasi saya. Sepanjang jalan dari tempat ia membeli nasi bungkus hingga ke tempat tujuan, ia tidak tahu akan berhenti di mana, bertemu orang seperti apa, ia hanya jalan dengan niatnya–membiarkan alam semesta mempertemukannya dengan niatannya itu. Ketika ia melewati pintu gerbang perumahan Bumi Nirwana setelah Hotel Platinum sekaligus melewati ibu-ibu tua yang memikul karung setengah isi, dia baru tersadar, dan sedikit berpikir akan berhenti atau tidak. Dengan cepat ia memutuskan berhenti saja, dengan anggapan setelah ini belum tentu ketemu langsung orang yang dirasa cocok untuk berbagi nasi. Lalu ia berhenti, mematikan motornya dan parkir begitu saja di pinggir jalan raya, lalu berlari kecil ke titik sebelumnya. Setelah ia menyerahkan nasi bungkus, ia berlari kecil kembali ke arah motornya, lalu melanjutkan perjalanan dengan perasaan yang lebih senang dari perasaan ibu tua pemikul karung setengah isi yang menerima pemberian tersebut.

Saya saja yang melihat, begitu merasakan cipratan hati senangnya.

Luar biasa.

Bapak

Pagi-pagi hendak hati mendengar suara beliau lewat telepon, pengin melerai rindu seorang anak yaitu diriku terhadap seorang bapak yaitu dirinya, sayangnya beliau ke sawah tanpa membawa serta telepon genggamnya yang tak pintar itu. Seharusnya teleponnya beliau memilih yang pintar, yang bisa mengikuti Bapak atau menyusul Bapak ketika Si telepon tidak dibawa, dan bisa memahami betul perasaan rindu seorang anak terhadap bapaknya.

Bicara soal bapak, seringkali terngiang di pikiran dan di kengerianku tentang tiga kali kejadian tragis yang menimpanya. Pertama, tahun 1996 silam ketika diri kecilku masih SMP. Kedua, tahun 2002 ketika diri ini baru setahun kuliah. Ketiga, saat diriku di Kalimantan.

KEJADIAN PERTAMA

Di sore hari penuh angin dan sedikit debu di kandang sapi di tepian sawah kampung, Bapak sedang memindahkan tumpukan pakan-pakan kering untuk dimakan sapi, seperti rutinitas yang sudah sangat sering ia lakukan belasan tahun. Ia sendirian.  Ketika mengangkat tumpukan pakan terakhir, seketika itu ia berteriak meminta tolong. Beruntunglah ada orang-orang yang tidak begitu jauh dari tempat bapak berteriak hebat, melawan kesakitan tiada tara tiada ampun tak terkira sebelum akhirnya ia terkapar di tanah dengan badan yang mulai kaku dan sedikit membiru. Kurang lebih begitu cerita keluarga yang melihatnya kepadaku.

Bapak digigit ular, konon ular kobra.

Tak bisa kubayangkan sakit dan perihnya dan pasrahnya dan tak berdayanya bapak, selain kengerian yang menggigilkan tubuhku dari kaki sampai kepala.

Bapak langsung dilarikan ke puskesmas kecamatan, lalu dirujuk ke rumah sakit umum daerah di kota Bima, yang jauhnya 80 kilometer. Tiada sedikitpun kulihat wajah bapak, hanya cerita-cerita orang. Aku menangis senangis-nangisnya di rumah, sebab tidak ada yang memperbolehkanku ikut ke kota, melihat keadaan bapak, atau sekadar menemani ketidakberdayaannya. Aku dianggap anak kecil yang disuruh di rumah saja, berhari-hari hanya kerinduan anak kecil yang bisa kulakukan, tentang kabar bapak yang semoga tetap hidup.

Setelah berhari-hari, Alhamdulillah bapak kembali ke rumah, meski dalam keadaan lebih kurus, rambutnya rontok, dan tampak luntur gagah beraninya yang gagah dan berani itu. Semua tentang bapak selain yang kulihat di hari kepulangannya dari rumah sakit, hanyalah cerita-cerita belaka.

KEJADIAN KEDUA

Setelah hampir dua tahun kuliah di Solo dan tak punya kesempatan pulang kampung lantaran tak cukup biaya, akhirnya aku bisa menikmati indahnya melepas rindu berjumpa orang tua sanak saudara meski di kampung tiada memiliki kemegahan seperti di kota. Aku terkejut melihat bapak yang sedang tidak mengenakan baju. Bukan karena telanjang dadanya yang kukejutkan, melainkan bekas luka dan bekas jahitan panjang di perutnya.

Sekalinya perut sang gagah beraninya bapak itu terkoyak belati tajam hingga menumpah ruahkan isi perutnya bersama kucuran darah yang begitu hebatnya.

Bapak bercerita. Ibu di waktu dan ruang lain bercerita. Abang bercerita. Cerita berulang dari mulut orang terkasihku yang berbeda-beda itu hanya menguras air mata saja.

Kata abang yang saat itu sedang bersama bapak, dan membopong bapak hingga ke puskemas, betapa ngerinya usus yang harus ditahan bersama darah bapak.

Kejadiannya adalah saat bapak dan abang mengurusi sapi-sapi liar yang tadinya dilepas di bukit-bukit, lalu dibawa ke kandang, untuk diberi tanda dan dirawat. Pada saat bapak memotong sesuatu untuk si sapi liar itu dengan belati, sekita itu juga si sapi mengamuk ke arah bapak, hingga belati di tangannya menusuk sekaligus menyobek perutnya sendiri. Tak bisa kubayangkan kucuran darahnya, dan kengeriannya–apakah melebihi ketragisan gigitan ular atau tidak.

Hebatnya bapak adalah, pada dua kejadian itu, beliau kembali sehat segar dan gagah berani setelah pulih.

“Kenapa aku tidak dikabari sama sekali?” Tanyaku.

“Bapak tidak mau kamu khawatir di tanah rantauan sana, toh bapak baik-baik saja,” jawabnya. Ketika kutanya keluarga yang lain, jawabannya begitu juga. Bapak berpesan tak usah meresahkan hatiku dengan kabarnya.

KEJADIAN TERAKHIR

Bapak keracunan pestisida hingga terkapar dan tak bisa bangun. Katanya, tak pernah ia rasakan ketidakberdayaan seperti itu. Dalam hatiku, berarti kengerian racun ini lebih parah dari dua kejadian yang mengancam nyawanya lalu lalu? Atau jangan-jangan ia sendiri sudah lupa sama kengerian kejadian masa lalu?

Bapak hampir tak pernah sakit biasa seumur hidupnya–efek dari sikap pamernya rajin meminum susu kuda–paling kecapekan minta dipijit. Mungkin bapak pernah sakit biasa, tetapi tak pernah seumur hidupku melihatnya sakit. Sekalinya terkapar, adalah celaka yang mengerikan.

Kabar kejadian terkahir ini pun bernasib seperti kejadian kedua, sengaja tidak ingin diberitahukan kepadaku agar supaya tidak meresahkan hati dan pikiranku. Hal ini membuatku sedih tiada terkira. Dalam hatiku berkata, “Apa iya aku harus dapat kabar hanya ketika Bapak meninggal?” Aku memohon pada Tuhan, aku belum ingin bapak berpulang.

Beberapa hari lalu kubicarakan betul-betul tentang ini, untuk tidak lagi berpikiran aneh soal kabar bekabar, yang harus dikhawatirkan adalah dirinya yang menua, bukan diriku. Aku ingin diberi kabar segera, supaya aku bisa pulang seketika apapun yang terjadi. Aku tidak ingin menyesal seumur hidup hanya karena keluarga terlalu memikirkan ketenanganku, dan aku terlalu sibuk dengan urusan kehidupanku sendiri.

Aku hanya ingin bilang, “tak ada urusan dunia yang lebih penting dari keluarga.”

Berburu Kebaikan

Lelaki gagah berani ini hendak meninggalkan Musholla selepas shalat ashar. Ia sudah memakai sepatu, beranjak dari bangku, dan hendak melangkah pergi, tadinya. Langkahnya lantas terhenti lantaran sebuah pertanyaan dari seorang wanita asing dipedulikannya betul-betul.

“Tempat wudhu wanita di mana ya?” tanya Si Wanita Asing, menghentikan langkahnya Si Lelaki Gagah Berani. Saya yang juga sebagai orang asing di Musholla lantai 2 sebuah kantor di Bintaro tersebut tak menanggapi apa-apa.

Si Lelaki Gagah Berani melepas kembali sepatunya setelah menunjukkan tempat wudhu wanita, lalu masuk ke Musholla.

Apa yang dia lakukan?

Dia memasang sekat untuk shalatnya Si Wanita Asing, karena saat shalat berjamaah ashar tadi semua jamaah adalah lelaki, dan penuh. Sehingga tiada ruang khusus untuk wanita. Atas dasar itulah ia masuk, memasang sekat kain hijau, dan membuat bentuk kotak khusus di pojok belakang Musholla, meski tidak luas, cukup leluasa untuk dipakai Si Wanita Asing.

Setelah itu Si Lelaki Gagah Berani keluar Musholla, memakai sepatunya kembali, berdiri di samping pintu tanpa kata. Ia hanya ingin memastikan Si Wanita Asing itu tidak kebingungan, dan siap shalat dengan khusuk. Barulah ia pergi, dengan kelegaan tarik napas yang memuaskan.

Rasa kagum saya persembahkan untuk Si Lelaki Gagah Berani, dengan kebaikan sederhana yang begitu bermakna itu.

Dia pun memberi inspirasi buat saya, untuk menemukan kebaikan-kebaikan kecil setiap harinya, untuk saya tulis di sini, buat dibagi dan pengingat diri.

Kebaikan menarik lebih banyak kebaikan.

1 Dekade Blog Zulhaq

Sudah begitu panjang cerita dan perjalanan hidup yang dijejaki di blog ini, sudah mencapai angka sepuluh tahun. Masih satu bulan lagi sih, tapi sudah gak sabar pengin menulis sesuatu tentang perjalanan ini.

Begitu banyak perubahan yang terjadi di perjalanan saya merawat blog, dari kesulitan penuh usaha juang hingga di kemudahan memanjakan saat ini, seringkali menjadi jebakan kemalasan.

2009 silam, mau terhubung ke internet begitu sulitnya, terutama bagi saya yang bekerja di lokasi tambang, hutan gitu lah. Di kantor tidak ada fasilitas internet, kecuali untuk manager. Beruntungnya ada sobat fakir-net yang memainkan kelincahn proxy-nya untuk membobol akses internet, berhasil. Ketahuan IT, diblok lagi, bobol lagi, ketahuan lagi, diblok lagi, bobol lagi. Sungguh keterlaluan kami saat itu.

Lalu pada suatu hari, muncul lah kabar bahwa di mini bar mess tambang ada fasilitas wifi, kami berbondong-bondong ke sana. Meski hampir gak pernah beli minuman, hampir setiap hari kami ke sana–tentu setelah mampu beli laptop pribadi. Tapi lama kelamaan bosan juga, dihajar nyamuk dan kedinginan. Kalau gak beli minum, duduknya di rerumputan bukan di meja yang beradab. Malu lah!

Akhirnya beralih ke LAN. IT perusahaan pemilik tambang bekerjasama dengan perusahaan penunjang telekomunikasi, menyedialan koneksi internet di kamar mess. Yang penting bayar bulanan, dengan sistem potong gaji. Lama kelamaan kami merasa rugi pula, karena waktu di kamar sangat sedikit kecuali hari libur. Belum kepotong tidur yang harus mencukupi. Sampai akhirnya muncul lah musim modem, paling terkenal saat itu huawei, terus pakai kartu telkomsel dengan paket data bulanan yang ala kadarnya jika dibandingkan dengan kelimpahan paket data murah zaman now.

Semua itu dilakukan demi memenuhi hasrat ngeblog, kegiatan paling utama ngenet tuh. Kebetulan saya gak ngaskus dan lainnya waktu itu. Media sosial pun paling rajin di friendster sebelum ia hilang ditelan kemajuan. Lalu mulai menjajaki facebook, tapi pasiflah, cenderungnya merusuh di kolom komentar. Plurk juga gak begitu aktif, kesel ngejar dan menjaga poin. Selain menulis di blog, saat itu saya rajin menulis di halaman ngerumpi. Blogwalking, merusuh sana sini, tak terhitung setiap harinya. Rajiiin, pokoknya. Oh ya, saya tidak punya akun twitter 10 tahun lalu. 2010 saya baru mulai melirik twitter.

Belakangan, blog semakin kerap ditinggalkan. Diisipun kalau ingat. Sampai akhirnya minggu ini saya memantapkan hati kembali ke awal di mana saya memulai semuanya, yaitu blog tercinta ini.

Twitter, facebook, Instagram sudah saya deaktivasi, saya tidak diketemukan lagi di sana. Kabar lebih baiknya, saya lebih mudah dan sering ditemukan di sini, halaman yang lebih pribadi.

Hal paling besar yang saya dapatkan dari kegiatan ngeblog adalah: keluar dari kungkungan ketakutan dan keminderan hidup yang sangat menantang untuk diperjuangkan ini.

Blog membawa saya dari manusia yang rendah diri menjadi sangat percaya diri. Blog membawa saya dari manusia yang malas belajar menjadi doyan membaca dan mencoba banyak hal untuk kemajuan. Blog telah membawa saya dari manusia takut bicara menjadi orang yang begitu cerewet. Kemajuan karir saya, justru banyak berkembang dari blog, tepatnya saya banyak belajar dari orang-orang yang saya kenal dari blog. Itu yang membuat saya kembali ke permulaan saya, di sini, sekaligus sebagai pengingat untuk saya tidak menjadi orang yang lupa diri.

Semangat!

Belajar Banyak Dari Anak

Dulunya Alastair–anak saya–tidak begitu suka dengan mainan. Sampai saya dan istri merasa aneh. Bukan saja tidak doyan meminta dibelikan mainan baru, mainin mainan sepupunya pun tidak bergairah.

Ia lebih suka main kontak fisik, dengan saya, mamanya, neneknya, dan siapa saja yang ada di rumah.

Pernah mamanya membeli mainan ini itu dari toko online, tapi ya berujung dianggurin. Berdebu, kesepian, hingga mainan tersebut berpindah tangan secara gratis ke orang lain yang membutuhkan.

Sekarang? Sungguh dunia terbalik belaka. Minta beli mainan bisa setiap hari, bisa tiga kali sehari, bisa seminggu beberapa kali. Random. Tapi sering.

Saya merenung dan mencoba menelaah apa yang menyebabkan perubahan signifikan itu terjadi, lalu saya mendapat jawaban yang mendekati pasti.

Alastair suka mengoleksi mainan, suka larut dalam dunia mainan di banyak waktu adalah semenjak tahun lalu, tahun di mana neneknya yang bersama dia setiap hari meninggal dunia. Dengan neneknya, bukan saja main kontak fisik di rumah, tetapi bisa main dan berkeliling ke mana saja;

Naik angkot. Main ke pasar. Jalan keliling kampung dengan sepeda dorong. Menelusuri jalanan protokol. Nongkrong di lampu merah menghitung angkot warna Tayo dan kawan-kawan. Merapikan rumah. Main air di kamar mandi. Kecipak-cipuk di kolam renang angin di samping rumah. Pergi ke rumah keluarga.

Sungguh banyak kesenangan sederhana di atas hilang dari rutinitasnya, hilang bersama neneknya yang teramat kami cintai.

Saya dan istri sangat sadar, kasih sayang dan pengorbanan neneknya begitu besar, waktunya untuk Alastair begitu banyak, sedangkan kami (saya terutama) belum mampu melakukan semua yang dilakukan neneknya itu untuk Alastair. Setiap mengingat ini, kesedihan dalam hati saya berlipat ganda. Sedih karena nenek begitu cepat meninggalkan kami semua, sedih karena Alastair kurang maksimal kami layani.

Setiap huruf dalam tulisan ini adalah ajaran Alastair pada saya, tentu pada istri saya juga, tentang kerinduan mendalam yang menerbangkan ingatan ke masa lalu dengan kalimat “seharusnya aku bersyukur berjuta-juta kali lipat waktu itu, waktu neneknya Alastair yang kami panggil Mbah masih hidup bersama gunung cinta kasihnya.”

Saya memang pandai berorganisasi, mengelola masalah sekaligus solusi pekerjaan, mengatur banyak orang di luaran sana, namun kehebatan di luaran sana tiada begitu berarti karena kehebatan di rumah belum bisa saya meneladani Mbahnya Alastair.

Betapa rindu yang diajarkan Alastair ini mengalirkan air mata merambahi pipi mendiamkan kata-kata di mulut. Saya tahu Alastair rindu dengan Mbahnya, meski yang di dalam pikirannya hanya merasa kehilangan rutinitas. Kalau saja usianya sudah cukup paham dengan semua ini, dia pasti tidak begitu peduli dengan rutinitas, melainkan rindu dengan Mbahnya dengan segala hormat dan kecintaan yang medalam.

Saya hanya mampu membelikan Alastair mainan sesering yang dia mau, tetapi tidak mampu bermain bersama sesering yang dia mau. Saya mampu membawanya pergi jauh melintasi pulau dan angkasa, tetapi tidak mampu membawanya pergi dalam waktu yang terlalu sering meski dengan cara yang teramat sederhana.

Istriku lebih lebih lebih lah sedihnya, sebab Mbah adalah ibunya yang teramat sangat ia cintai kasihi sayangi dengan segenap dunia, jiwa raga, bahkan nyawanya. Di sini aku semakin merasa tiada daya, karena dua orang terpenting dalam hidupku harus kehilangan orang yang sangat penting dari hidup mereka, yakni Mbah.

Sekarang kuhanya terus menghibur diri, bahwa semua terjadi atas Kehendak Tuhan yang sempurna.

Digitalization – 2019

Mayoritas proses bisnis saat ini menggunakan sistem digital, tak terkecuali bisnis pertambangan yang berada di lokasi susah sinyal. Unik memang, namun kenyataannya demikian.

Perusahaan layanan servis pertambangan tempat saya bekerja juga tak mau ketinggalan, sebab dengan sistem digitalisasi berhasil meng-efisiensi-kan banyak proses, yang membawa hasil penggandaan produktivitas.

Semua orang di setiap level di proyek yang sudah menggunakan sistem digital diajak mengubah mindset dari konvensional ke digital. Tak sedikit yang butuh waktu lama dan upaya keras untuk bisa mengimbangi modernisasi tersebut. Saya berpikir, saya adalah manusia modern yang tidak perlu beradaptasi.

Congkak? Memang!

Begitu menengok blog pribadi, ternyata saya belumlah sepenuhnya menjadi manusia bermindset digital, sebab halaman blog saya begitu lama kosong lantaran saya hanya mau menulis blog jika membuka laptop. Padahal, saat buka laptop, kalau gak kerja ya belajar, gak tersentuh pula blognya.

Digitalnya saya itu nanggung, memang. Di facebook, saya menulis hampir tidak pernah pendek. Bahkan bisa lebih panjang dari postingan blog, dan semua saya tulis dengan dua ibu jari lewat smartphone saya. Sedangkan di blog tidak saya lakukan.

Di sisi lain, saya merasa jiwa saya agak kering jika terlalu lama tidak menulis, sebab menulis bagi saya adalah kegiatan batin yang menyenangkan.

Di platform social media, saya tidak bisa menulis setiap hari karena ruang di sana terlalu terbuka untuk akses publik dan terlalu sensitif. Alasan kedua itu yang sepertinya paling membuat saya harus tahan diri, tulisan yang mau dipublish di sana harus benar-benar saya seleksi.

Kalau di sini beda, orang yang mampir pada umumnya adalah yang memang niat membaca tulisan saya, jika pun ada hal yang kurang disetujui, diskusi dan masukannya lebih enak. Pada dasarnya, saya lebih suka menulis di sini.

Untuk itulah, saya akan menulis blog dari HP saja, dengan dua jempol saya yang aduhai ini.

Masih ada yang baca, kan? Hahaha…

Security Check Bandara Yang Menggelikan

Baru saja terjadi ketegangan antara saya dan pikiran bingung saya serta petugas saat penggeledahan dalam tanda kutip setelah melewati mesin X-Ray Bandara Soekarno – Hatta.

Laptop sudah saya keluarkan, sabuk tak lagi melekat di pinggang, ponsel di tas, jam tangan sudah dilepas, saya yakin semua pemicu bunyi wiung wiung tidak ada lagi. Seharusnya aman.

Begitu kaki sampai kepala saya berdiri tegak di screening gate machine, bunyi wiung wiung pun mengundang mata melototnya petugas. Seorang petugas langsung menginstruksikan saya untuk masuk ke mesin personnel screening (quickly screens personnel) dengan kecanggihan Automatic Detection Target-nya. Santai saja saya masuk di situ, disuruh angkat tangan saya lakukan, disuruh geser kaki ke titik tapak saya lakukan dengan efek goyang pinggul yang tentunya gak diminta, dan…mesin tersebut mendeteksi adanya metal di area pantat saya. Wuing wuing tak terhindarkan lagi.

Petugas langsung bergegas memutar badan saya dan menjangkau bagian belakang tubuh saya, lalu kaget nanggung karena tidak menemukan apa-apa. Saya bilang memang tidak membawa apa-apa, petugasnya menyahut: paling ada metal bawaan celana di sekitar kantung. Oh, saya bilang kalau anggapan itu gak benar. Saya paling tahu bentuk rupa dan seluk beluk celana yang saya pakai. Saya sampaikan tak ada apa-apa. Petugas kembali merogoh kantung celana saya dan tidak menemukan apa-apa lagi. Dia percaya betul sama mesin keamanannya, tak mungkin salah bekerja. Saya juga percaya betul sama celana dan tubuh saya. Gak mungkin anus saya seketika menjadi besi.

Akhirnya saya raba sendiri bagian belakang tubuh saya, dan saya menemukan sebiji isi staples menempel di tali celana bagian belakang–yang adalah penanda laundry hotel. Saya dan petugas saling tatap-tatapan sambil menertawai.

Sungguh pagi yang sabtu!

Tips Kemudahan Buang Air Besar di Pesawat

INI ADALAH TIPS PALING SPEKTAKULER SEPANJANG SEJARAH KEHIDUPAN MANUSIA

Ketika perutmu mulas dan ampas tak beraroma baik itu berasa di ujung penyemburan, bagaimana perasaanmu ketika itu terjadi di pesawat?

Mari berbagi cerita dan berbagi tips di sini.

Sebelumnya saya tidak pernah kepikiran untuk buang air besar di pesawat, bukan karena tampak ribet, tetapi memang tidak terpikirkan. Semacam menganggap toilet pesawat itu hanya layak untuk buang air kecil. Sebulan terakhir, entah mengapa terpikirkan: “kalau kebelet di pesawat, gimana beol dan ceboknya ya?” tanya saya dalam hati. “Gak usah dipikir keleus!” jawab saya dalam hati.

Berawal dari pikiran yang entah dari mana itu, kurang dari sebulan kemudian kejadianlah. Perut saya mulas tak karuan. Kesungkanan untuk bertanya pun saya tepis. “Kalau mau BAB, cara ngebersihinnya selain pakai tissue gimana ya?” tanya saya ke pramugari. “Pakai ini saja”, jawab pramugari sambil menyodorkan gelas sekali pakai.

Awalnya sempat bingung, ngeuh-nya pas dibilangin manfaatin wastafel. Gelas tadi adalah pengganti gayung.

Singkat cerita, lega lah seorang saya yang berhasil buang air besar di bilik toilet pesawat yang amat sempit itu berkat 5 tips paling spektakuler di bawah ini:
1. Pelorotin celana sambil tersenyum
2. Ngeden tanpa ragu, tetap jaga pose
3. Kalau ada tanda-tanda akan ada bunyi BROT menggelegar, pura-pura batuk saja atau tekan flush supaya gak tengsin sama pramugari yang lagi ngobrol di belakang
4. Sambil ngeden, tekan keran air dengan posisi saluran wastafel tertutup, sampai penuh
5. Arahkan gelas yang terisi air ke ***** secara perlahan, jangan ke mulut. Beres deh

Kekhawatiran terhadap kekuatan sedotan angin kloset pun terjawab sudah, ternyata galak di suaranya saja. Kan repot kalau pas diflush, anus kita kesedot keluar, semacam ambeyen level wahid. Ternyata tidak demikian.

Suara sedotan angin kloset itu tak ubahnya preman pasar yang takut sama jarum suntik. Tampak sangar, tetapi aslinya lemah!

Sebagai bukti valid bahwa kekuatan angin kloset itu tidak ada apa-apanya, saya cek dengan teliti, bahwa tidak ada sehelai bulu pun yang mampu ia rontokkan. Bersih. Tidak ada jejak. 😁

Bukan Tentang Kopiah Jum’at

Ini soal Respect in harmony!

Tiada arti Visi-Misi besar, tanpa diikuti semangat bersama-sama membangun organisasi yang tak kalah besar.

Tiada arti membangun mimpi organisasi yang besar, jika gerak dan langkah tim tak seirama.

Tiada arti jerih payah memperindah peradaban organisasi, apabila tidak dibarengi dengan senyum tawa yang saling menghangatkan.

Kunci dari segala kesuksesan sebuah organisasi adalah RESPECT. Mau pakai metode gerakan perubahan apapun, tak akan pernah berhasil secara maksimal kalau satu dan lainnya tak saling Respect.

Tugas paling besar dalam membangun organisasi, membangun tim, bahkan membangun usaha dan perusahaan adalah memastikan budaya respect each other terjadi di setiap orang yang terlibat di dalamnya.

Respect itu harus ditanam, lalu ditumbuhkan, hingga berbuah, dan tumbuh kembang, lagi dan lagi. Sebab dari situlah lahirnya kepercayaan, motivasi, dan kekuatan.

Jaga energi
Jaga semangat
Jaga kebersamaan

Just respect each other.