Category Archives: Cerita

Pertanyaan Cinta

Sepasang kekasih menjalani pacaran selama beberapa tahun, bahkan dari masa kuliah hingga mereka menjadi sepasang orang yang sibuk dengan karirnya masing-masing, di Ibu Kota.

Selama masa pacaran, tidak ada masalah berarti yang mereka hadapi. Hanya menjalani hubungan biasa seperti orang pacaran pada umumnya. Dan, mereka cukup bahagia dengan itu semua. Continue reading

Bapak Gojek dan Nilai Kejujuran

Seringkali saya merasa aneh saat membaca kalimat “ternyata di dunia ini masih ada orang baik” tersebar di media sosial. Ya jelas ada, bahkan orang baik itu sangat banyak. Sampai kapanpun dunia ini eksis, orang baik akan selalu dan selalu ada dalam jumlah yang banyak. Bukan orang baik yang jumlahnya semakin menurun, tetapi (mungkin) perhatian kita yang sudah terlalu sibuk ke peristiwa-peristiwa yang tidak positif. Setidaknya itu menurut saya.

Contoh salah satu dari sekian banyak orang baik yang beredar di sekitar kita adalah bapak gojek yang mengantar istri saya beberapa waktu lalu, yang atas kebaikannya dia mendapat balas dalam wujud ‘kalau rezeki tak akan ke mana’. Continue reading

Malu-Malu Yang Tak Kucing Lagi

Saya punya guru keluarga baru, namanya Asep. Saya bertemu tidak sengaja dengannya, di perjalanan panjang penuh tantangan. Dia belum berkeluarga, tetapi dia punya segudang ilmu cinta tentang keluarga.  Tentu, nasib bertemu dengannya adalah keberuntungan buat saya.

Pertengahan November 2017 saya ada tugas ke salah satu Tambang Batu-Bara di daerah Tabang, Kutai Kartanegara—sekira sebelas jam perjalanan dari Balikpapan—melewati Samarinda, Tenggarong, dan Kota Bangun. Sepulang dari sana lah saya bertemu dengan Asep. Continue reading

Mensyukuri Keberuntungan

Istri adalah inspirasi terbesar saya. Ia telah membuat saya belajar sangat banyak hal, salah satunya tentang mendengarkan. Keberhasilan terbesarnya adalah mengubah seorang saya yang keras kepala sekaligus telinga, menjadi manusia yang melunak–setidaknya untuk ukuran saya yang tahu persis perubahan itu. Continue reading

Tersenyum Dalam Kesederhanaan

Delapan setengah tahun lalu, hal yang membuat laman blog ini jadi ada adalah kebiasaan saya mengikuti tulisan-tulisan lucu di berbagai blog orang-orang yang sangat asing bagi saya saat itu. Saya selalu membawa pulang tawa dan kesenangan usai mengunjungi blog-blog yang sudah saya tandai. Di kepala saya, blog itu adalah kelucuan yang melimpah. Lalu tergeraklah hati dan jari untuk membuat blog sendiri supaya bisa berbagi tawa ala kadar, bukan saja sebagai penikmat. Tanpa pikir panjang saya beri tema blog ‘Tersenyum Dalam Kesederhanaan’.

Selain tema senyum yang sederhana, foto profile yang saya pakai pun tak kalah sederhana; sesosok saya di atas batu sungai besar yang dikelilingi hutan hijau dengan kaus oblong pinjaman serta kacamata hitam pinjaman bertengger di hidung minim ciuman. Gambaran singkat dari foto saya kala itu adalah Ian Kasela gagal rekaman. Begitulah kebanyakan orang menilainya. Continue reading

Hidup dan Mati Bersama

Ketika tak ada lagi usaha yang dapat kau lakukan dengan tanganmu, maka serahkan segala sesuatu sepenuhnya pada tuhan. Lewat. Doa.

Tanggal 23 Juni 2017 merupakan pengalaman mendebarkan buat saya dan Ifat dan Alastair, seakan-akan diingatkan “hiduplah bersama-sama dengan sebaik-baiknya karena kalian telah diberi kesempatan untuk itu.” Continue reading

Duka Cita Perusahaan Smelter

Foto: dari sini

Setiap melihat gambar slag dump, tempat di mana ampas bijih mineral ditumpah-tumpah-ruah-kan, pikiran saya selalu melayang ke Sorowako sepuluh tahun silam. Di sana, pertama kali saya melihat langsung pabrik smelter. Di sana, tempat pertama kali saya melihat lahar yang begitu panas begitu dekat begitu berapi-api. Di sana, tempat pertama kali saya bisa membeli rambutan sepohon buah rimbun hanya cukup di bayar dengan uang seratus ribu. Di sana, tempat pertama kali saya membawa uang kurang dari seratus ribu ditukar dengan durian sekarung kecil. Tidak ada hubungan antara ampas bijih dengan buah, jadi tidak usah dipikirkan. Lanjut membawa saja, ya? Continue reading

Rezeki Yang Tak Tertukar

“Beb, motor kita gak ada loh,” kata saya ke istri–Ifat–sesaat setelah kami membalikkan badan usai membeli tolak angin di sebuah apotek.

Kami duduk dan menaruh helm depan apotek, membicarakan kesalahan apa saja yang baru-baru ini kami perbuat. Apakah ada orang yang sengaja dan tidak sengaja kita sakiti? Kami sama-sama menggelengkan kepala setelah berusaha mengingat untuk mengoreksi diri. Motor hanya berjarak sedikit meter, stang motor terkunci, transaksi di apotek hanya sedikit menit. Agak janggal memang kalau motor itu hilang. Continue reading

The Power of Keberuntungan

“Mohon maaf seat pesawatnya penuh, Pak,” kata petugas di counter check in Garuda sedikit gugup. “Saya antar ke kantor customer service ya, Pak, untuk bantu menjelaskan permasalahannya.” Saya melempar senyum, berjalan gegas namun tenang. Tak ingin menjadi bagian dari masalah, saya menunjukan sikap biasa yang tak sedikitpun menggambarkan kekesalan. “Tuhan tahu apa yang terbaik buat hambaNya,” kata saya dalam hati. Continue reading