Category Archives: Cerita

Security Check Bandara Yang Menggelikan

Baru saja terjadi ketegangan antara saya dan pikiran bingung saya serta petugas saat penggeledahan dalam tanda kutip setelah melewati mesin X-Ray Bandara Soekarno – Hatta.

Laptop sudah saya keluarkan, sabuk tak lagi melekat di pinggang, ponsel di tas, jam tangan sudah dilepas, saya yakin semua pemicu bunyi wiung wiung tidak ada lagi. Seharusnya aman.

Begitu kaki sampai kepala saya berdiri tegak di screening gate machine, bunyi wiung wiung pun mengundang mata melototnya petugas. Seorang petugas langsung menginstruksikan saya untuk masuk ke mesin personnel screening (quickly screens personnel) dengan kecanggihan Automatic Detection Target-nya. Santai saja saya masuk di situ, disuruh angkat tangan saya lakukan, disuruh geser kaki ke titik tapak saya lakukan dengan efek goyang pinggul yang tentunya gak diminta, dan…mesin tersebut mendeteksi adanya metal di area pantat saya. Wuing wuing tak terhindarkan lagi.

Petugas langsung bergegas memutar badan saya dan menjangkau bagian belakang tubuh saya, lalu kaget nanggung karena tidak menemukan apa-apa. Saya bilang memang tidak membawa apa-apa, petugasnya menyahut: paling ada metal bawaan celana di sekitar kantung. Oh, saya bilang kalau anggapan itu gak benar. Saya paling tahu bentuk rupa dan seluk beluk celana yang saya pakai. Saya sampaikan tak ada apa-apa. Petugas kembali merogoh kantung celana saya dan tidak menemukan apa-apa lagi. Dia percaya betul sama mesin keamanannya, tak mungkin salah bekerja. Saya juga percaya betul sama celana dan tubuh saya. Gak mungkin anus saya seketika menjadi besi.

Akhirnya saya raba sendiri bagian belakang tubuh saya, dan saya menemukan sebiji isi staples menempel di tali celana bagian belakang–yang adalah penanda laundry hotel. Saya dan petugas saling tatap-tatapan sambil menertawai.

Sungguh pagi yang sabtu!

Tips Kemudahan Buang Air Besar di Pesawat

INI ADALAH TIPS PALING SPEKTAKULER SEPANJANG SEJARAH KEHIDUPAN MANUSIA

Ketika perutmu mulas dan ampas tak beraroma baik itu berasa di ujung penyemburan, bagaimana perasaanmu ketika itu terjadi di pesawat?

Mari berbagi cerita dan berbagi tips di sini.

Sebelumnya saya tidak pernah kepikiran untuk buang air besar di pesawat, bukan karena tampak ribet, tetapi memang tidak terpikirkan. Semacam menganggap toilet pesawat itu hanya layak untuk buang air kecil. Sebulan terakhir, entah mengapa terpikirkan: “kalau kebelet di pesawat, gimana beol dan ceboknya ya?” tanya saya dalam hati. “Gak usah dipikir keleus!” jawab saya dalam hati.

Berawal dari pikiran yang entah dari mana itu, kurang dari sebulan kemudian kejadianlah. Perut saya mulas tak karuan. Kesungkanan untuk bertanya pun saya tepis. “Kalau mau BAB, cara ngebersihinnya selain pakai tissue gimana ya?” tanya saya ke pramugari. “Pakai ini saja”, jawab pramugari sambil menyodorkan gelas sekali pakai.

Awalnya sempat bingung, ngeuh-nya pas dibilangin manfaatin wastafel. Gelas tadi adalah pengganti gayung.

Singkat cerita, lega lah seorang saya yang berhasil buang air besar di bilik toilet pesawat yang amat sempit itu berkat 5 tips paling spektakuler di bawah ini:
1. Pelorotin celana sambil tersenyum
2. Ngeden tanpa ragu, tetap jaga pose
3. Kalau ada tanda-tanda akan ada bunyi BROT menggelegar, pura-pura batuk saja atau tekan flush supaya gak tengsin sama pramugari yang lagi ngobrol di belakang
4. Sambil ngeden, tekan keran air dengan posisi saluran wastafel tertutup, sampai penuh
5. Arahkan gelas yang terisi air ke ***** secara perlahan, jangan ke mulut. Beres deh

Kekhawatiran terhadap kekuatan sedotan angin kloset pun terjawab sudah, ternyata galak di suaranya saja. Kan repot kalau pas diflush, anus kita kesedot keluar, semacam ambeyen level wahid. Ternyata tidak demikian.

Suara sedotan angin kloset itu tak ubahnya preman pasar yang takut sama jarum suntik. Tampak sangar, tetapi aslinya lemah!

Sebagai bukti valid bahwa kekuatan angin kloset itu tidak ada apa-apanya, saya cek dengan teliti, bahwa tidak ada sehelai bulu pun yang mampu ia rontokkan. Bersih. Tidak ada jejak. 😁

Bukan Tentang Kopiah Jum’at

Ini soal Respect in harmony!

Tiada arti Visi-Misi besar, tanpa diikuti semangat bersama-sama membangun organisasi yang tak kalah besar.

Tiada arti membangun mimpi organisasi yang besar, jika gerak dan langkah tim tak seirama.

Tiada arti jerih payah memperindah peradaban organisasi, apabila tidak dibarengi dengan senyum tawa yang saling menghangatkan.

Kunci dari segala kesuksesan sebuah organisasi adalah RESPECT. Mau pakai metode gerakan perubahan apapun, tak akan pernah berhasil secara maksimal kalau satu dan lainnya tak saling Respect.

Tugas paling besar dalam membangun organisasi, membangun tim, bahkan membangun usaha dan perusahaan adalah memastikan budaya respect each other terjadi di setiap orang yang terlibat di dalamnya.

Respect itu harus ditanam, lalu ditumbuhkan, hingga berbuah, dan tumbuh kembang, lagi dan lagi. Sebab dari situlah lahirnya kepercayaan, motivasi, dan kekuatan.

Jaga energi
Jaga semangat
Jaga kebersamaan

Just respect each other.

Surga di Telapak Kaki Ibu dan Bapak

Katanya, anak yang baik adalah anak yang mengangkat (derajat) orang tuanya. Mari kita menggendong orang tua! 😁

Menurut saya surga itu ada di Ibu dan Bapak. Kita tidak akan memiliki seorang Ibu jika Bapak tidak berjuang merayu Ibu hingga menikahlah keduanya. Kita tidak akan memiliki Ibu jika darah daging Bapak tidak diturunkannya. Ibu itu surga, Bapak itu jalan dan pintu menuju surga. Mana bisa kita bisa tiba di surga jika tidak ada jalan dan pintunya?

Sebelum saya lanjut menulis, daripada para pembaca yang budiman berkutat dengan pertanyaannya, sebaiknya saya jawab dulu pertanyaan para pembaca yang tidak terucap itu. Kok mau sih ibu-bapaknya difoto seperti itu? Kok mau-maunya sih digendong begitu? Kok kuat sih?

Jawabannya sederhananya hanya 2:
1. Untuk meyakinkan orang tua agar mau digendong dan mau difoto sambil digendong dengan hati riang gembira, itu butuh skill komunikasi yang diasah sepanjang hidup dengan cinta dan kasih sayang
2. Menggendong orang tua seberat itu tanpa merasa berat, juga butuh skill, dan hanya mampu dilakukan dengan kekuatan cinta dan kasih sayang.

Ahay!

Setelah mengikuti agenda ‘Indonesia OSH Leader Summit 2018″ di Hotel Anvaya Bali pada tanggal 24-25 Oktober kemarin, Jum’at 26 Oktober saya usahakan ke Bima dua hari, demi bertemu memeluk Ibu sama Bapak. Kangen euy!

Seperti kebiasaan saya yang sudah-sudah, pulang selalu menjadi kejutan. Saya tidak memberitahu orang tua, tiba-tiba nongol saja di rumah. Bahkan waktu mudik lebaran dengan anak istri pun, kami tiba-tiba muncul di depan rumah. Apa orang tuanya gak teriak mau copot jantung? Hahaha.

Ibu kan ada kios. Pulang kemarin saya datang berpura-pura jadi pembeli, jaket dan helm dan wajah yang agak ditutup tak saya lepas. Begitu beliau nanya mau beli apa, saya buka helmnya, dan… Eaaaaaa Ibu menangis. Lalu saya diamkan dengan pelukan dan kecupan. Muah!

Tak lama saya ke tempat Bapak. Bapak sedang duduk di motor, menunggu seseorang. Dengan gaya rem mendadak tapi gak sampai ban berdecit, saya berhenti persis di samping bapak sambil berteriak, “Assalamualaikuum…” Bapak kaget dan hampir terjatuh dari duduknya. Lalu beliau terus bicara kok gak dikasihtahu, kok diam-diam bae, kok gitu kok gini, diulang-ulang. Bapak agak susah diam meski sudah dipeluk. Mungkin karena gak dikecup muah seperti ibu. Hahaha.

Satu malam tidur di tempat Ibu.
Satu malam tidur di tempat Bapak.
Di tempat Ibu dulu, baru di tempat Bapak.
Semoga adil adanya.

Alhamdulillah, diberi rezeki dan kesempatan untuk menengok orang tua. Dan hari ini harus mengucapkan sampai jumpa kembali, melanjutkan perputaran dunia seperti biasanya.

Mari menyayangi orang tua mumpung beliau-beliau hidup, siapa dan apapun beliau-beliau adanya, mumpung kita masih diberi kesempatan hidup, sebab hidup di dunia tiada terjadi dua kali.

Hidup Hari Ini Adalah Yang Terbaik, Selebihnya Serba Tidak Pasti

Ini adalah foto lima tahun lalu, di waktu saya menikah. Kami berlima berkumpul, tinggal di rumah kontrakan saya. Saat itu saya ngomong sendiri di kamar, “lima orang ini berada di waktu dan atap yang sama, terakhir saat aku umur 5 tahun-an. Puluhan tahun silam.” lalu saya tersenyum, hidup sudah sejauh ini.

Bapak dan Ibu dulu adalah sepasang orang bodoh, lalu oleh waktu ia buktikan bahwa ternyata mereka begitu hebat dan tidak bodoh.

Mereka menikah melawan dunia di usia 19 tahun, meluluh-lantah-kan restu yang ditarik ulur. Ibu di waktu itu adalah yatim piatu, tiadalah repot soal restu. Bapak yang adalah harapan orang tuanya untuk menempa ilmu lebih tinggi atau bekerja di kantoran tentu sulit mendapat restu, sebab menikah muda saat status pengangguran bukan pilihan yang tepat. Dasar pemuda keras kepala yang tak bisa dibelokkan keinginannya, ia menikah, dan oleh orang tuanya tidak diberi modal kecuali sepuluh jari tangannya. Pernikahan yang dibangun penuh peluh keringat itu hanya bertahan kurang lebih sepuluh tahun. Mereka bercerai di usai 30 tahun. Usia di bawah usia saya saat ini. Bodoh, kan?

Waktu SMA saya pernah punya misi menyatukan mereka, dan akan melakukan segala daya upaya. Saya sampaikan kemauan itu satu per satu ke mereka, lantas ibu menangis tetapi tidak berkata apa-apa. Lantas Om Em, adiknya Ibu datang menasihati Si Zia kecil yang sok-sokan ingin mengendalikan dunia. “Niatmu baik sebenarnya,” katanya pelan. “Tapi kamu hanya akan mengulangi kedukaanmu pada adik-adikmu yang lain. Bapakmu punya kehidupan sendiri, dengan anak istrinya yang lain. Ibumu punya kehidupan sendiri, dengan suami anaknya yang lain. Jumlah mereka lebih banyak dari kalian. Kan cukup kalian saja yang merasakan orang tua pisah, jangan mereka lagi.”

Napas saya terhenti, seakan dicabut dari atas kepala, lalu dihembuskan kembali lewat telinga kiri dan kanan serta lewat hidung dan mulut dengan kesejukan yang begitu melegakan. Betul. Betul itu. Betul betul kebenaran itu. Aku tak boleh egois. Itu betul. Aku menyetujui nasihat Si Om itu hingga aku mengulang-ulang kata betul di dalam hati dan kepalaku. Semenjak saat itu, kukuburkan rencana gila itu. Apa yang ada di depan mata, situasi hidup yang sedang dijalani, itulah yang terbaik. Selebihnya, serba tidak pasti. Jika kita (khususnya saya) menuruti nafsu memaksakan yang tidak pasti, kemungkinan besar hal lebih buruk bisa terjadi, dan saat ini tidak akan ada tulisan ini.

Aku meneruskan hidup dengan bertumpu pada pesan ibu, “kau tak hidup sendirian. Tuhan selalu menyertai. Berjuanglah. Jangan takut!”

Iya, aku tidak takut, Bu. Aku pemberani! Buktinya aku berhasil berdamai dengan dunia dan segala pelosok nusantara, kan kan kan? Buktinya aku berhasil berdamai dengan diri sendiri, kan?

Sialan. Saya menangis sebentar. Sialan.
Maaf, bagian di atas (3-4) paragraf di atas adalah momen paling emosional, saya mesti menangis bahagia karena merasa berhasil pernah melewati itu. Dan kalau kalian sadar, saya pun baru menyadarinya setelah menulis paragraf ini, kalau sebutan untuk saya berubah menjadi aku. Kalau kalian perhatikan (maaf jadi membuat kalian kembali membaca lagi ke atas).

Mereka adalah pemuda bodoh yang oleh waktu membuktikan ternyata mereka hebat dan tidak bodoh.

Ibu adalah orang hebat. Kelebihannya adalah menyadari bahwa manusia tiada daya, semua daya adalah milik Tuhan. Ia tak pandai memasak, tak pandai berkata manis yang menyenangkan hati anaknya, tak pandai mengumpulkan uang buat beli mainan anaknya, tak pandai ilmu pengetahuan untuk mengajari anak-anaknya. Ia tak pandai semua persoalan itu. Tapi… oleh karena kekurangan yang adalah kelebihannya itu, ia sukses membuat anaknya bisa rindu dan kagum dan cinta dan bangga dengan dirinya tanpa embel-embel. Oleh karenanya, anak-anaknya tidak rindu dengan masakannya atau kenangannya atau lainnya, kami hanya rindu dengan ibu, apa ada dirinya. Sebab kehebatannya yang luar biasa adalah do’a murni. Do’a yang berangkat dari kesadaran bahwa ia bukanlah apa-apa, semua daya adalah milik Tuhan. Ia terus berdoa meminta segala kekuatan Tuhan itu, untuk anaknya. Itu dahsyat sekali.

Bapak juga hebat. Kehebatannya adalah pernah melakukan banyak sekali kesalahan di masa lalu, sehingga seumur hidupnya dihabiskan dengan meminta maaf pada dirinya sendiri. Oleh karenanya, ia tak pernah merasa lebih baik dari orang lain, apalagi dari anak-anaknya. Dari situlah energi kecintaan itu begitu kuat di hati kami. Ia tak malu untuk menangis didepan kami atau bersama kami, jika ia ingin. Kami tak pernah ragu untuk saling berpelukan hingga menua bersama. Lalu kekuatan apalagi yang melebihi kekuatan cinta seperti itu? Kesalahannya lah yang selalu menjaga kami untuk menjalani hidup dengan baik. Dan saya sangat sayang sama dia. Bapak adalah inspirasi besar saya, untuk mengenal dunia di dalam diri.

Ini bukan cerita kesedihan. Ini adalah cerita tentang kekuatan dan kesenangan hidup. Saya sangat bangga dengan semua jalan hidup yang menyenangkan ini. Punya orang tua yang mengantarkan saya pada dunia yang luar biasa ini.

Situasi hidup hari ini adalah yang terbaik, bagi semua orang, selebihnya serba tidak pasti.

Jalani hidup dengan sebenar-benarnya hidup. Jangan hidup dalam angan apalagi dalam sesal.

Bersyukurlah
Berbanggalah
Berbahagialah!

Cerita Ojek Online, GoCar: 101 Jalur Rezeki Ala Pak Hamdani Kadafi

Rezeki sudah ada yang mengatur, kelancaran urusan hidup sudah ada yang mengatur, tinggal bagaimana usaha kita menemukan jalur dan lelancaran dan keteraturan itu, tanpa dicemari oleh nafsu keserakahan gelap mata. Kurang lebih begitulah pelajaran singkat dari Pak Hamdani, sang driver Go-Car siang ini.

“Mas tunggu sebentar ya, saya tidak terlalu jauh dari situ,” ujarnya, lantas menutup telepon, setelah saya melakukan order Go-Car untuk ke Bandara Balikpapan.

Saya menunggu agak lama, beliau tak kunjung muncul. Saya yang tadinya tidak ingin makan, akhirnya makan siang sampai kenyang, namum beliau tak kunjung datang pula. Saya telepon tidak ada respon. Saya keluar depan rumah, sudah pakai sepatu, menenteng dua tas sekaligus. Baru beliau muncul, dan… telolet! Beliau menyalakan klakson saat melihat pria berbaju kuning dengan tentengan tasnya di pinggir jalan komplek, yaitu ES A SA YE A YA, SAYA!

“Maaf, Mas, jadi terlambat. Pas sudah mau masuk jalan sini, saya mendadak kepikiran apakah kompor sudah saya matikan atau belum,” katanya pelan. “Namanya firasat, mending saya putar balik dan memastikan. Apalagi musim panas begini, lebih rawan lagi terjadi kebakaran. Alhamdulillah kompor sudah saya matikan. Tapi paling tidak pikiran saya tenang dan enak ke mana-mana. Tadi saya mau telepon ngabarin Mas, tapi saya urungkan biar cepat-cepat saja.”

Saya mengarahkan wajah ke samping, ke arahnya, mengembangkan sedikit senyum, dengan tatapan agak centil penuh kalimat tidak apa-apa. Woles.” Tenang saja, Pak, saya senang bapak memastikan rumah bapak aman. Apa yang bapak lakukan sangat lah benar. Toh, kita masih punya banyak waktu untuk ke Bandara,” jawab saya menenangkan. Padahal tadinya saya sempat risau, karena waktu yang tidak terlalu longgar sebenarnya.

Awalnya saya meminta untuk keluar lewat jalan potong, di Hotel Sagita, namun beliau minta izin supaya tidak lewat situ. “Sedang ada perbaikan jalan di situ,” katanya. “Saya khawatir macet.”

Beliau menjelaskan beberapa opsi yang lebih aman. Saya pasrahkan saja pada pilihannya, karena orang baik yang begitu peduli sama keselamatan rumahnya ini pasti punya feeling yang lebih mantap. Beliau memutar balik, untuk keluar ke jalur utama Gunung Sari, yang sebenarnya akan lebih jauh lagi. Tetapi saya harus menurut karena opsi itu jalurnya lebih lancar.

Alam semesta mendukung. Begitu keluar jalur utama, pas ada mobil Alphard TNI yang sedang dikawal oleh Pajero putih di depannya dan Innova hitam beserta ambulance TNI di belakangnya. Kami berada persis di belakang ambulance. Akhirnya jalan bebas hambatan sampai di Bandara, karena mobil-mobil TNI yang menyalakan lampu hazard beramai-ramai tersebut beriringan ke arah bandara. Entah ke mana tujuan akhirnya, kami belok kanan ke Bandara, mobil TNI terus ke arah depan. Pak Hamdani tidak ikut menyalakan lampu hazard memanfaatkan situasi, hanya ikut saja di belakang, dan beruntungnya tak ada yang memotong dan ya tak ada hambatan. Inilah maksud dari kelancaran hidup itu memang ada yang mengatur, selama tidak dicemari dengan nafsu gelap mata.

Tiba di bandara saya minta izin untuk mengobrol sebentar, beliau tidak langsung pulang. Saya bertanya lebih detail soal dia kembali ke rumah memastikan kompor. Saya juga menanyakan apakah tidak ada orang di sana.

Singkat cerita hasil obrolan:

Tidak ada orang di rumah Pak Hamdani, anaknya yang baru lulus STM lagi ke suatu tempat yang tidak diceritakan. Istri bekerja di salah satu hotel. Jadi, beliau sendiri lah yang tadinya di rumah.

Di depan rumahnya ada warung klontong, Pak Hamdani sendiri lah yang menjaga warung itu. Bingung kan? Saya tadi juga bingung.

Pak Hamdani membuka dan menjaga warung klontong sambilan menjadi driver go-car. Bingung? Sudah, lanjut baca saja. Usai mengantar penumpang beliau akan kembali ke warungnya dan standby di sana.

“Tenang saja, selalu ada orang di sekitar warung, dan aman saja tanpa harus saya tutup,” ucapnya penuh percaya diri. “Saya biarkan warungnya terbuka.

Beliau menyediakan dua papan catur di samping warungnya, kebetulan tidak jauh dari situ juga ada pangkalan ojek konvensional. Orang-orang yang mampir main catur itulah yang menjaga warungnya ketika beliau narik. “untunya dua, Mas,” katanya. “Warung aman saya tinggal, dan mereka pasti membeli rokok dan kopi di warung saya.”

Wueee hebat bener!

Beliau dulu tulang ojek angkalan. Begitu gojek masuk, beliau memilih jati tulang ojek online. Atas kerja kerasnya, seiarang beliau punya mobil, makanya jadi driver Go-Car.

Bahkan sebagian rumahnya lagi dibongkar untuk usaha bengkel kecil-kecilan anaknya. “Anak saya itu pengin kerja di rumah saja,” ucapnya penuh antusias. “Yasudah, saya bongkar saja sebagian rumahnya.”

LUAR BIASA! *beri hormat, cekrek!*

Cerita Ojek Online, Gojek: Berguru Sama Pak Fa’at

Beliau adalah rider Gojek, usia 57 tahun, memiliki dua orang puteri. Puteri pertamanya lulusan Sastra Inggris UGM, puteri keduanya sedang kuliah semester 3 jurusan Hukum di Universitas Islam Indonesia (UII).

Awal mula kami mengobrol adalah ketika saya menggunakan jasanya dari KM 5 untuk menuju ke KM 14 Kaliurang, Yogyakarta, beliau bilang: “Kebetulan, Mas, rezeki. Mas mau ke UII, pas saya berniat mau menjemput anak saya di UII. Alhamdulillah ketemunya pas.”

Beliau bertanya apa sih bedanya jurusan Hukum Umum dengan Hukum Islam, beliau hanya pengin tahu lebih banyak tentang pendidikan anaknya. Saya menjawab ala kadarnya yang saya paham: mahasiswa/i Hukum Islam bakal menyandang gelar Sarjana Hukum Islam atau SHI, bukan SH saja seperti pada umumnya. Soal peluang kerja sesuai jurusan, ya, bisa menjadi hakim di Pengadilan Agama (PA), Panitera PA, Staf KUA, Pengacara di PA, Dosen Syari’ah, Peneliti di bidang sosial dan keperdataan Islam, SDM Departemen Agama, dan ini dan itu. Beliau semakin memperlambat laju motor karena kami sama-sama tidak terburu waktu. Santai.

Beliau tampak senang mendengar bahwa hukum yang dipelajari–selain ilmu dasar hukum umum–adalah hukum berdasarkan sudut pandang agama, yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dab Hadist. “Syukurlah, anak saya bisa belajar seimbang antara ilmu dunia dan akhirat,” katanya.

Waktu di tengah jalan Alastair minta berhenti karena kebelet pipis, kami pun mengobrol lebih banyak lagi, dan… cekrek!

Beliau pernah menjadi karyawan swasta, dua tahun-an lalu pensiun. Beliau pensiun saat puteri pertamanya baru lulus kuliah. Dua wisuda yang berbeda kepentingan.

Uang pensiun dan dana tabungan yang beliau kumpulin selama bekerja, ia pakai buat bangun kos-kosan. Untuk operasional hari-hari beliau memilih menjadi rider ojek online.

Jadi tukang ojek bukan terpaksa, bukan perkara semata tuntutan ekonomi. Beliau senang berinteraksi dengan banyak orang, memberi salam sapa senyum sesering mungkin sepanjang hari setiap hari, mengantarkan orang pada tujuannya dengan selamat, membantu orang tiba di tujuan tepat waktu, dan mengobrol banyak hal dengan banyak orang, semua itu sesuatu yang sangat bernilai baginya. Uang halal adalah bonusnya. Jiwa sehat karena memiliki banyak kegiatan meski sudah pensiun juga bonus plus plus.

Pak Fa’at senantiasa berusaha untuk tidak merepotkan anak-anaknya. Repot itu bagian orang tua. Nanti anak akan mendapatkan bagian itu saat menjadi orang tua. Sehingga, saat puteri pertamanya berhenti bekerja karena memutuskan untuk menikah waktu baru dua tahun lulus, beliau sangat ridha. Puterinya memutuskan ikut suaminya tinggal di Jakarta, ya tidak ada sedikitpun keberatan.

Tapi yang namanya rezeki ya… tak disangka nyana, tahun lalu beliau dan istrinya mendapat kejutan dari menantunya: berangkat umroh bareng-bareng.

Yang paling berkesan lagi dari Pak Fa’at adalah murah senyumnya. Saya melihat beliau selalu tersenyum. Lebih tepatnya, saat sedang tidak tersenyum pun, wajahnya tetap tampak tersenyum.

“Senyum dulu baru bahagia.
Bukan menunggu bahagia dulu baru senyum.”

Kalau Sudah Dapat Yang Baik, Ya Sudahlah Ya…

Tentang tempat kerja, kota tinggal, makanan, acara TV, seseorang, musik, dan apa saja. Kalau sudah dapat yang baik, tak usah terlalu sibuk mencari yang lebih baik, sebab itu akan menguras energi dan membuat kita lupa dengan kesyukuran.

Ketika kita mendengarkan musik dengan setingan volume tertentu, sudah nyaman dan sangat menikmati, tiba-tiba terdengar lagu yang lebih disukai dari lagu lainnya, lantas tangan kita usil menaikkan volume. Begitu muncul lagu yang tidak begitu kita sukai setelah itu, spontan menurunkan volume bahkan lebih kecil dari yang semula. Parahnya lagi, jadi sibuk ganti CD atau ganti folder atau ganti channel radio. Padahal bisa jadi kenyamanan yang timbul di awal itu, selain karena lagu-lagunya, juga karena tingkat volumenya sudah pas untuk telinga dan saraf kita. Keasikan itu tak melulu soal volume menggelegar.

Saat kita sudah tahu penjual nasi goreng enak adalah di warung Skidipapap Subidab sebelah pangkalan ojek gang Harapan, ya kembali beli saja di situ saat pengin beli nasi goreng lagi. Tak usah sibuk coba-coba nasi goreng yang kita tidak tahu referensinya. Kecuali tutup, atau ada referensi jelas lain yang sama-sama enak. Memperkaya referensi tempat makan enak boleh, tetapi tidak dengan niat mencari yang lebih enak untuk meninggalkan warung Skidipapap Subidab.

Begitu pun tentang seseorang. Kalau sudah menemukan seseorang yang baik buat kita, nyambung dan nyaman dengan keadaan kita saaat ini, tak usah mencari seseorang yang lebih baik lagi. Jika suatu saat kemudian keadaan kita berubah dan seseorang itu belum mengikuti perubahan, maka ingatlah keadaan kita dulu. Atau, bantu dia untuk lebih mampu menyesuaikan keadaan yang berubah, bukan menuntut tanpa membantu apa-apa. Apalagi dengan berpaling mencari yang lebih baik dan menganggap seseorang itu gak asik lagi, itu namanya lupa diri.

Terus mencari yang lebih baik itu hanya akan menempatkan diri kita pada situasi yang serba tidak pasti. Selalu ada dua sisi kemungkinan, memang dapat yang lebih baik atau malah dapat yang buruk lalu menyesal tiada berguna.

Contoh nyata dari teori ‘sudah dapat yang baik tapi sibuk mencari yang lebih baik’ adalah foto selfie Bapak-Bapak Muda yang lagi nungguin anaknya main, di samping ini. Sudah dapat pose yang pas, eh diulang-ulang sampai garuk-garuk kepala hingga rambutnya kusut. Pada akhirnya dikira orang, dia adalah Ian Kasela habis naik Gojek lupa pakai helm. Daradam daradam hoek…daradam daradam uh!

Habis itu malah diedit pakai beauty camera: menghaluskan kulit wajah, meniruskan pipi, memancungkan hidung. Begitu selesai diedit: hasil yang terlihat, bukannya tampak seperti bapak-bapak muda kelebihan kasih sayang, justru lebih tampak seperti mahasiswa DO yang kurang darah.

Aku dan Anakku

“Al sayang papa,” katanya mengharukan. Satu kalimat pendek yang membuat hati meleleh.

Anak mengajarkan kita untuk lebih menghargai orang tua. Dan, kita tidak benar-benar paham sepenuhnya tentang pemikiran orang tua sebelum kita sendiri menjadi orang tua.

Setelah punya anak itu…
Rasanya pengin minta maaf ke orang tua setiap hari.

Setelah punya anak itu…
Jadi tahu, banyak hal yang dulu dikesalkan ke orang tua, adalah kasih sayangnya belaka.

Setelah punya anak itu…
Semakin diri sadar, betapa seorang bapak sangat pantas untuk menangis.

Bertindaklah Untuk Perubahan Yang Diinginkan, Jika Ingin!

YA, BERTINDAKLAH UNTUK PERUBAHAN YANG DIINGINKAN, JIKA INGIN! Meskipun hanya sedikit dan kecil.

Jika merasa jelek, ubah menjadi bagus. Jika kecil, buat itu menjadi besar. Jika lemah, kuatkan. Jika jauh, dekatkan. Jika rendah tinggikan. Jika ketinggian, rendahkan. Jika kotor, bersihkan. Jika buntu, lancarkan. Jika bingung, cerdaskan. Semua perubahan itu sederhana, yang penting nyata ada tindakan.

Tak ada guna punya banyak keinginan, tapi hanya sedikit tindakan. Apalagi tidak ada.

Tanda tangan saya tidak pernah berubah semenjak kuliah, belakangan saya merasa bentuknya kurang bagus, bahkan terasa membosankan. Guratan garis-garis memanjang berjejeran tanpa ada bentuk yang bisa dibaca, semacam rumah kotak yang tiada motif dan kelok sekat dan aksesoris. Atau, semacam kopi tanpa rasa tanpa aroma.

Sementara, setiap nama-nama besar, nama-nama terkenal, yang saya lihat, goresan tanda tangan mereka sangat menarik. Tampak hidup. Berjiwa. Menyenangkan. Satu kesamaan dari tanda tangan mereka, adalah tulisan nama yang diindahkan. Sehingga cenderung tak perlu menulis nama lagi di bawah tanda tangannya, karena sudah terwakilkan oleh tanda tangan itu sendiri.

Berangkat dari ketertarikan dengan jenis tanda tangan seperti itu, saya pun mengajukan permohonan perubahan tanda tangan ke kantor catatan sipil. Singkat cerita, disetujui. Akhirnya, kartu keluarga dan KTP dan buku-buku tabungan, dibuat baru untuk dijejaki tanda tangan baru.

Repot?

Sama sekali tidak.

Hanya soal mengurus ulang dokumen kependudukan, itu perkara remah dan remeh.

Justru yang repot adalah ketika setiap hari kita membiarkan rasa penasaran yang tak tersalurkan, rasa bosan yang tiada terhibur, keinginan perubahan yang tak nyata, dan kebuntuan-kebuntuan lain karena kita malas bertindak.

Saking sukanya saya dengan tanda tangan baru, saya membeli notebook kulit baru, buku tulis yang saya suka, dan saya toreh tanda tangan di pojok kanan hampir di setiap lembarnya. Seperti contoh yang tampak di gambar.

Bertindak. Setidaknya membuat kita menjalani hidup tanpa sambil ‘tertidur’.

Bertindak. Setidaknya membuat kehidupan kita menjadi lebih nyata.

Bertindak…. SUDAH! MARI KITA SUDAHI TULISAN SEKALIGUS BACAAN INI. TARUH PONSELNYA. MARI BERTINDAK, APAPUN YANG BISA KITA TINDAK SAAT INI.