Category Archives: Cerita

Puasa Media Sosial

Setelah delapan tahun berkutat di dunia media sosial, akhirnya saya bisa tidak bergantung lagi dengan keasikannya. Jujur, delapan tahun saya tidak melepaskan diri seharipun dengan media sosial meskipun saat berada di hutan yang susah sinyal sekian tahun silam. Waktu itu, saya bela-belain jalan kaki ke tanah lapang yang memunculkan seberkas cahaya harapan adanya sedikit sinyal demi bermedia sosial ria. Dari zamannya Friendster, Plurk, terus pindah ke Facebook, Twitter, Instagram, Path dan lainnya. Continue reading

Arus Balik

Setiap orang akan merasa aneh kalau dirinya sedang berlaku sebagai penjual namun orang-orang di sekitar menganggapnya sebagai pembeli. Nawarin bedak ke orang lain, eh orang itu nawarin tepung ke kita. Gak beda halnya dengan saya yang beberapa hari lalu mengupload CV di linkedin, bukannya ditawarin kerjaan, malah diserang sama pencari kerjaan–tak terkendali. Tobat deh. Continue reading

Baby Traveler Seakan-akan

Saya tidak mau bilang kalau Alastair itu masuk golongan Baby Traveler, karena saya bukanlah traveler. Istri juga bukanlah traveler meski dulu dia tukang jalan. Belakangan kami tidak terlalu banyak jalan-jalan. Kalau nanti, bisalah lebih sering lagi. Kami hanyalah tukang putar-keliling dalam kota yang tingkat keseringannya per-minggu melebihi jumlah film Indonesia yang diperankan oleh Reza Rahadian. Continue reading

Semau Gue

Kalau ada laki-laki yang bilang mengurus anak itu gampang apalagi berani mengatakan bahwa perempuan sekaligus ibu banyak drama dalam mendampingi anak, berarti laki-laki macam begitu pantas disunat tiga kali. Sunat pertama secara prosedural lewat mantri/dokter, sunat kedua pakai kapak, sunat ketiga pakai sembilu. Tidak gampang bukan berarti tidak menyenangkan, konteksnya bukan itu.  Continue reading

Oleh-Oleh Dari Kalimantan Selatan

zia-banjar

Dari Kintap, terus, putar balik di Pasar Sungai Danau, lurus sedikit, kemudian belok kiri, terus lagi sampai melewati sekolah dasar, belok kanan, kemudian belok kanan lagi, berhenti di bawah pohon cherry liar atau kersen. Berasa sedang menyamar menjadi kepala daerah yang doyan blusukan, padahal saya dan tim sedang mencari rumah katering untuk melakukan penilaian semesteran.  Continue reading

Bahagia Dengan Cara Hidup Anak Kecil

Dua orang remaja sekira umur tiga belas tahun melaju di atas roda dua melintasi jalur melingkar jalan gunung malang, Balikpapan. Gaya miringnya melewati tikungan tajam seolah-olah mereka jagoan jalanan yang sudah hafal mati dengan teknik berkendara lincah dan berkemampuan menghitung celah dan pergerakan kendaraan lain yang luar biasa. Saat mereka berada sekira seratus meter sebelum pintu gerbang Yova Supermarket, sebuah sepeda motor keluar dari tempat perbelanjaan tersebut tanpa ragu karena melihat kendaraan di kiri dan kanan masih cukup jauh. Saya yang membuntuti dua anak remaja tadi, mengira mereka akan mengurangi kecepatan untuk memberi kesempatan sampai motor yang keluar tadi benar-benar selesai memotong jalan. Dugaan saya meleset, tak sedikitpun mereka mengurangi kecepatan–entah karena tiba-tiba sembelit atau karena tangan kanannya lengket dengan gas sekaligus kaku tak bisa bergerak lagi akibat kebanyakan megang tissue magic–akhirnya dia menabrak ban depan motor yang sedang keluar, hingga motor mereka terbanting hebat dan mereka berdua terlempar dan terseret bersama percikan api yang dihasilkan gesekan besi motor dan aspal. Segera mereka berlari ke pinggir jalan, nampaknya takut terlindas kendaraan lain, air mukanya begitu kepanikan hingga lupa dengan kehebatannya yang sok itu. “Kasihan orang tuanya,” kata istri saya dari bangku depan kiri tanpa menghadap ke arah saya. Continue reading

Kenapa Saya Harus Kaya?

air-surga

Hidup berkelimpahan, kaya raya, adalah hak semua umat manusia. Untuk mendapatkan hak, tentu kita harus memenuhi kewajiban-kewajiban–salah satunya dengan bertindak mewujudkan mimpi-mimpi, tak peduli siang malam penuh peluh keringat, usaha dan doa harus senantiasa terjaga pada tingkat tertinggi. Tidak terkecuali saya yang suka kentut sembarangan ini, punya hak dan kewajiban yang sama. Continue reading

Suzuki, Berinovasi dan Menginspirasi

Tak terasa sepuluh tahun sudah berlalu, saya mengambil alih tanggungjawab mengurusi adik saya—Iwan—yang terpisah dengan ibu semenjak usianya sekira enam bulan. Tahun 2006 silam dia lulus SMP, saya minta izin sama bapak untuk menyekolahkannya di STM di kota, berharap lulus sekolah dia bisa mencari kerja sebagai montir. Di tengah jalan saya berubah pikiran, memutuskan untuk membawanya ke Semarang, melanjutkan kuliah di sana. Terjadilah. Tahun 2015 dia wisuda, setelah itu saya ajak ikut tinggal di Balikpapan, Kalimantan Timur. Berasa punya anak yang sudah dewasa, terkadang saya berpikir bahwa saya ini sudah tidak teramat muda lagi. Haha! Continue reading

Penggandaan Sutan Takdir Alisyahbana

Setelah terindikasi mengalami tekanan darah tinggi di usianya yang masih kepala dua, Ibu disarankan dokter untuk mengkonsumsi timun. Kebetulan (bahan) makanan yang dipertanyaakan apakah buah atau sayur tersebut sangat mudah didapat, murah dan bahkan bisa didapati secara cuma-cuma di kampung saya. Tak disangka nyana, ibu terus mengkonumsi timun sebagai makanan favorit–bahkan dijadikan camilan. Manis. Gurih. Krauk–hingga akhirnya, lambung ibu mengalami gangguan hebat. Ibu jatuh sakit. Ia tak dapat mengenali orang. Badannya terkulai lemas di tempat tidur beralaskan tikar berbahan daun pandan.

Entah ada hubungannya atau tidak, ibu jatuh sakit setelah meninggalnya adik saya–Sutan Takdir Alisyahbana–yang baru berumur dua bulan, di tahun 1985. Di tengah sakit yang melandanya, Ibu didatangi Almarhum adik lewat mimpi, katanya. “Ibu, bangun. Jangan sakit lagi,” cerita ibu, menirukan apa yang ia lihat di mimpinya. Saya menyandarkan dagu pada lipatan tangan sendiri, mendengarkan cerita-cerita ibu tentang adik yang tak sedikitpun saya bisa ingat garis mukanya. Saya hanya tahu tentang nisan kuburnya di sebelah kepala Nenek Kisman. Itupun kata ibu, dan ibu yakin hanya berdasarkan dia ingat makamnya Nenek Kisman. Keyakinan ibu terkadang meragukanku. Ibu pernah berhenti mengunjungi makam anaknya itu sekian banyak tahun setelah Ibu cerai dengan Bapak pertengahan tahun 1989. Apakah terjadi tumpang tindih dan pergeseran makam di waktu tersebut, bisa iya bisa tidak. Tapi… semoga itu hanya pikiran kirtis saya saja, dan keyakinan ibu tetap benar sampai kapanpun. Jadi saya bisa mengunjungi makam adik saya (lagi) nanti saat pulang kampung, bersama ibu yang masih saja phobia makan timun. Continue reading

Menerangi Senyum Indonesia

listrik-nasional

Sedang asik menonton film lewat pemutar DVD, saya dikejutkan oleh lampu ruang tamu yang seketika terang benderang tak wajar. Saya tidak bisa menahan mata untuk tidak spontan melempar pandangan ke arah lampu. Baru dua kali saya berkedip, ruangan seketika menjadi gelap gulita. Belum selesai saya mengeluhkan mati lampu, tiba-tiba lampu menyala kembali dengan terang yang masih tak wajar, dan… praaaaaaaaak!   Continue reading