Category Archives: Cerita

Sekolah Tanpa Ijazah

Hidup adalah perkara pilihan belajar dari guru-guru bermacam rupa. Bahkan plastik bekas bungkus sari roti yang menyumbat saluran selokan pun bisa menjadi guru, jika kita mau belajar darinya.

Tadi siang, seseorang baik yang luar biasa berkata padaku, kurang lebih seperti yang kusesuaikan bahasanya berikut ini:

“Hidup ini tak ubahnya sekolah, Mas.
Belajar adalah tugas utamanya.

Ketika kau melihat seseorang tiada mendapat ujian kehidupan, besar kemungkinan ia memilih untuk tidak sekolah. Tidak salah, sepanjang ia mempertanggungjawabkan kedataran hidup yang dialaminya sendiri. Akan jadi masalah jika ia mengeluh tak naik kelas, padahal sekolah saja tidak mau.

Ketika kau melihat orang lain mendapatkan ujian yang cukup ringan, tak seberat ujian kehidupanmu, bisa jadi dia masih TK. Tak perlu kau bandingkan. Namanya anak TK, ujiannya ya palingan disuruh nyanyi tralala trilili.

Semakin tinggi sekolah kita, SD, SMP, SMA, dan seterusnya, ujiannya tentu semakin ketat. Bukankah sewajarnya kehidupan memang harus demikian?

Ketika ujianmu terasa begitu berat, ya berbanggalah terhadap diri sendiri, karena sudah menempuh sekolah kehidupan yang begitu tinggi. Pastikan kau lulus, dan jadilah ahli kehidupan untuk dirimu, dan jadilah manfaat untuk sebanyak mungkin orang.

Belajar lah lagi dan lagi
Belajar lah terus dan terus
Tak perlu kau pedulikan lembar ijazah
Sebab bukan lembar fana itu yang bakal kau bawa mati, melainkan ilmu dan amalannya semata.”

Tak ada sedikitpun yang bisa kusangkal kalimat-kalimat di atas.

Mabuk Beling

Bapak-bapak lanjut usia itu menatap ke arah kiri, kepalanya tampak tenang menatap ke satu titik. Saya yang berjalan terus mendekat ke arah situ seketika salah tingkah. Begitu posisi saya lurus dengan posisi duduknya, bapak-bapak lanjut usia itu terus menatap ke arah lorong, dengan cara yang sama. Rupanya saya kegeeran. Continue reading

Bayi Dalam Genggaman

Ramadan adalah bulan kemuliaan bagi (hampir) seluruh umat muslim. Orang-orang berbondong-bondong memperbanyak ibadah, tak ingin menyia-nyiakan bulan mulia ini. Ibarat petani, ramadan adalah musim panen yang disambut gegap gempita, di mana kebanyakan orang lebih rela kurang tidur tadi melewatkan setiap detik waktunya. Continue reading

Demi Keluarga Aku Rela…

Semburat matahari siang mengundang kucuran keringat yang ugh! Untungnya bukan saya yang berkeringat berlebihan, jadi tidak terlalu lemas dalam manjalani puasa hehe. Adalah enam belas orang kuli bangunan yang mengucurkan keringat sejagung-jagung, mengerjakan pengecoran tanpa mengenal lelah hingga malam menjelang. Saya iseng mampir mengajak ngobrol bersama mandornya, sekadar berempati terhadap perlindungan keselamatannya yang teramat minim. Continue reading

So far so good, too fast not good

Puasa, menahan lapar dan haus itu tentu sesuatu yang mudah. Yang sulit itu adalah menahan rindu dengan anak istri saat perut lapar dan tenggorokan kering. Adalah saya yang sedang mendapat tugas ke luar kota selama empat hari, harus menumpuk kerinduan. Puasa-puasa sebelumnya sering mendapat tugas sesekali saat puasa, tetapi kali ini rasanya beda saja. Sahur tidak dengan istri itu rasanya begitu datar. Continue reading

Gagal Fokus

Tak ada keinginan melakukan sesuatu setiap ke Musholla–selain niat tarawih berjamaah–apalagi mencampuri urusan orang lain. Sayangnya, kemampuan saya untuk fokus hanya di tujuan utama tidak sebegitu optimal. Kenyataannya, saya masih sering teralihkan fokusnya dengan hal-hal lain. Susah memang jadi lelaki tampan menawan idaman istri begini. Continue reading

Tarawih Itu Ternyata…

Jujur, saya tidak betul-betul mempelajari apa makna dari tarawih. Taunya, setiap ramadan, ikut tarawih, sudah. Begitu saja. Dibilang malu sih, tidak juga. Kenyataannya saya memang banyak sekali kekurangan di pemahaman agama. Baru ramadan kali ini saya mendapat penjelasan dari ustad di Musholla sebelah, ketika beliau memberikan kultum ba’da isya. Tentu saya manggut-manggut, tidak sampai kejedot tembok. Continue reading