Category Archives: Cerita

Kalau Sudah Dapat Yang Baik, Ya Sudahlah Ya…

Tentang tempat kerja, kota tinggal, makanan, acara TV, seseorang, musik, dan apa saja. Kalau sudah dapat yang baik, tak usah terlalu sibuk mencari yang lebih baik, sebab itu akan menguras energi dan membuat kita lupa dengan kesyukuran.

Ketika kita mendengarkan musik dengan setingan volume tertentu, sudah nyaman dan sangat menikmati, tiba-tiba terdengar lagu yang lebih disukai dari lagu lainnya, lantas tangan kita usil menaikkan volume. Begitu muncul lagu yang tidak begitu kita sukai setelah itu, spontan menurunkan volume bahkan lebih kecil dari yang semula. Parahnya lagi, jadi sibuk ganti CD atau ganti folder atau ganti channel radio. Padahal bisa jadi kenyamanan yang timbul di awal itu, selain karena lagu-lagunya, juga karena tingkat volumenya sudah pas untuk telinga dan saraf kita. Keasikan itu tak melulu soal volume menggelegar.

Saat kita sudah tahu penjual nasi goreng enak adalah di warung Skidipapap Subidab sebelah pangkalan ojek gang Harapan, ya kembali beli saja di situ saat pengin beli nasi goreng lagi. Tak usah sibuk coba-coba nasi goreng yang kita tidak tahu referensinya. Kecuali tutup, atau ada referensi jelas lain yang sama-sama enak. Memperkaya referensi tempat makan enak boleh, tetapi tidak dengan niat mencari yang lebih enak untuk meninggalkan warung Skidipapap Subidab.

Begitu pun tentang seseorang. Kalau sudah menemukan seseorang yang baik buat kita, nyambung dan nyaman dengan keadaan kita saaat ini, tak usah mencari seseorang yang lebih baik lagi. Jika suatu saat kemudian keadaan kita berubah dan seseorang itu belum mengikuti perubahan, maka ingatlah keadaan kita dulu. Atau, bantu dia untuk lebih mampu menyesuaikan keadaan yang berubah, bukan menuntut tanpa membantu apa-apa. Apalagi dengan berpaling mencari yang lebih baik dan menganggap seseorang itu gak asik lagi, itu namanya lupa diri.

Terus mencari yang lebih baik itu hanya akan menempatkan diri kita pada situasi yang serba tidak pasti. Selalu ada dua sisi kemungkinan, memang dapat yang lebih baik atau malah dapat yang buruk lalu menyesal tiada berguna.

Contoh nyata dari teori ‘sudah dapat yang baik tapi sibuk mencari yang lebih baik’ adalah foto selfie Bapak-Bapak Muda yang lagi nungguin anaknya main, di samping ini. Sudah dapat pose yang pas, eh diulang-ulang sampai garuk-garuk kepala hingga rambutnya kusut. Pada akhirnya dikira orang, dia adalah Ian Kasela habis naik Gojek lupa pakai helm. Daradam daradam hoek…daradam daradam uh!

Habis itu malah diedit pakai beauty camera: menghaluskan kulit wajah, meniruskan pipi, memancungkan hidung. Begitu selesai diedit: hasil yang terlihat, bukannya tampak seperti bapak-bapak muda kelebihan kasih sayang, justru lebih tampak seperti mahasiswa DO yang kurang darah.

Aku dan Anakku

“Al sayang papa,” katanya mengharukan. Satu kalimat pendek yang membuat hati meleleh.

Anak mengajarkan kita untuk lebih menghargai orang tua. Dan, kita tidak benar-benar paham sepenuhnya tentang pemikiran orang tua sebelum kita sendiri menjadi orang tua.

Setelah punya anak itu…
Rasanya pengin minta maaf ke orang tua setiap hari.

Setelah punya anak itu…
Jadi tahu, banyak hal yang dulu dikesalkan ke orang tua, adalah kasih sayangnya belaka.

Setelah punya anak itu…
Semakin diri sadar, betapa seorang bapak sangat pantas untuk menangis.

Bertindaklah Untuk Perubahan Yang Diinginkan, Jika Ingin!

YA, BERTINDAKLAH UNTUK PERUBAHAN YANG DIINGINKAN, JIKA INGIN! Meskipun hanya sedikit dan kecil.

Jika merasa jelek, ubah menjadi bagus. Jika kecil, buat itu menjadi besar. Jika lemah, kuatkan. Jika jauh, dekatkan. Jika rendah tinggikan. Jika ketinggian, rendahkan. Jika kotor, bersihkan. Jika buntu, lancarkan. Jika bingung, cerdaskan. Semua perubahan itu sederhana, yang penting nyata ada tindakan.

Tak ada guna punya banyak keinginan, tapi hanya sedikit tindakan. Apalagi tidak ada.

Tanda tangan saya tidak pernah berubah semenjak kuliah, belakangan saya merasa bentuknya kurang bagus, bahkan terasa membosankan. Guratan garis-garis memanjang berjejeran tanpa ada bentuk yang bisa dibaca, semacam rumah kotak yang tiada motif dan kelok sekat dan aksesoris. Atau, semacam kopi tanpa rasa tanpa aroma.

Sementara, setiap nama-nama besar, nama-nama terkenal, yang saya lihat, goresan tanda tangan mereka sangat menarik. Tampak hidup. Berjiwa. Menyenangkan. Satu kesamaan dari tanda tangan mereka, adalah tulisan nama yang diindahkan. Sehingga cenderung tak perlu menulis nama lagi di bawah tanda tangannya, karena sudah terwakilkan oleh tanda tangan itu sendiri.

Berangkat dari ketertarikan dengan jenis tanda tangan seperti itu, saya pun mengajukan permohonan perubahan tanda tangan ke kantor catatan sipil. Singkat cerita, disetujui. Akhirnya, kartu keluarga dan KTP dan buku-buku tabungan, dibuat baru untuk dijejaki tanda tangan baru.

Repot?

Sama sekali tidak.

Hanya soal mengurus ulang dokumen kependudukan, itu perkara remah dan remeh.

Justru yang repot adalah ketika setiap hari kita membiarkan rasa penasaran yang tak tersalurkan, rasa bosan yang tiada terhibur, keinginan perubahan yang tak nyata, dan kebuntuan-kebuntuan lain karena kita malas bertindak.

Saking sukanya saya dengan tanda tangan baru, saya membeli notebook kulit baru, buku tulis yang saya suka, dan saya toreh tanda tangan di pojok kanan hampir di setiap lembarnya. Seperti contoh yang tampak di gambar.

Bertindak. Setidaknya membuat kita menjalani hidup tanpa sambil ‘tertidur’.

Bertindak. Setidaknya membuat kehidupan kita menjadi lebih nyata.

Bertindak…. SUDAH! MARI KITA SUDAHI TULISAN SEKALIGUS BACAAN INI. TARUH PONSELNYA. MARI BERTINDAK, APAPUN YANG BISA KITA TINDAK SAAT INI.

Sekolah Tanpa Ijazah

Hidup adalah perkara pilihan belajar dari guru-guru bermacam rupa. Bahkan plastik bekas bungkus sari roti yang menyumbat saluran selokan pun bisa menjadi guru, jika kita mau belajar darinya.

Tadi siang, seseorang baik yang luar biasa berkata padaku, kurang lebih seperti yang kusesuaikan bahasanya berikut ini:

“Hidup ini tak ubahnya sekolah, Mas.
Belajar adalah tugas utamanya.

Ketika kau melihat seseorang tiada mendapat ujian kehidupan, besar kemungkinan ia memilih untuk tidak sekolah. Tidak salah, sepanjang ia mempertanggungjawabkan kedataran hidup yang dialaminya sendiri. Akan jadi masalah jika ia mengeluh tak naik kelas, padahal sekolah saja tidak mau.

Ketika kau melihat orang lain mendapatkan ujian yang cukup ringan, tak seberat ujian kehidupanmu, bisa jadi dia masih TK. Tak perlu kau bandingkan. Namanya anak TK, ujiannya ya palingan disuruh nyanyi tralala trilili.

Semakin tinggi sekolah kita, SD, SMP, SMA, dan seterusnya, ujiannya tentu semakin ketat. Bukankah sewajarnya kehidupan memang harus demikian?

Ketika ujianmu terasa begitu berat, ya berbanggalah terhadap diri sendiri, karena sudah menempuh sekolah kehidupan yang begitu tinggi. Pastikan kau lulus, dan jadilah ahli kehidupan untuk dirimu, dan jadilah manfaat untuk sebanyak mungkin orang.

Belajar lah lagi dan lagi
Belajar lah terus dan terus
Tak perlu kau pedulikan lembar ijazah
Sebab bukan lembar fana itu yang bakal kau bawa mati, melainkan ilmu dan amalannya semata.”

Tak ada sedikitpun yang bisa kusangkal kalimat-kalimat di atas.

Mabuk Beling

Bapak-bapak lanjut usia itu menatap ke arah kiri, kepalanya tampak tenang menatap ke satu titik. Saya yang berjalan terus mendekat ke arah situ seketika salah tingkah. Begitu posisi saya lurus dengan posisi duduknya, bapak-bapak lanjut usia itu terus menatap ke arah lorong, dengan cara yang sama. Rupanya saya kegeeran. Continue reading

Bayi Dalam Genggaman

Ramadan adalah bulan kemuliaan bagi (hampir) seluruh umat muslim. Orang-orang berbondong-bondong memperbanyak ibadah, tak ingin menyia-nyiakan bulan mulia ini. Ibarat petani, ramadan adalah musim panen yang disambut gegap gempita, di mana kebanyakan orang lebih rela kurang tidur tadi melewatkan setiap detik waktunya. Continue reading

Demi Keluarga Aku Rela…

Semburat matahari siang mengundang kucuran keringat yang ugh! Untungnya bukan saya yang berkeringat berlebihan, jadi tidak terlalu lemas dalam manjalani puasa hehe. Adalah enam belas orang kuli bangunan yang mengucurkan keringat sejagung-jagung, mengerjakan pengecoran tanpa mengenal lelah hingga malam menjelang. Saya iseng mampir mengajak ngobrol bersama mandornya, sekadar berempati terhadap perlindungan keselamatannya yang teramat minim. Continue reading

So far so good, too fast not good

Puasa, menahan lapar dan haus itu tentu sesuatu yang mudah. Yang sulit itu adalah menahan rindu dengan anak istri saat perut lapar dan tenggorokan kering. Adalah saya yang sedang mendapat tugas ke luar kota selama empat hari, harus menumpuk kerinduan. Puasa-puasa sebelumnya sering mendapat tugas sesekali saat puasa, tetapi kali ini rasanya beda saja. Sahur tidak dengan istri itu rasanya begitu datar. Continue reading