Category Archives: Inspirasi

Merayakan Hidup Dengan Cara Bersyukur

Hal paling nomor satu yang harus harus harus kita syukuri karena kita diberi kesempatan hidup adalah memiliki hidung, tenggorokan hingga paru-paru. Dengan itu, kita bisa menghirup udara memasuki lubang hidung, melewati kerongkongan atas atau naro pharinx, kemudian melewati tenggorokan, glotis, trakea, lalu masuk ke bronchus dan bronchiolus. Ujungnya, udara berakhir pada alveolus. Manusia yang penuh dengan istilah keren menyebut menarik napas sebagai inspirasi, dan mengeluarkan napas sebagai ekspirasi.

Saat inspirasi, otot diafragma berkonstraksi alias melengkung menjadi lurus. Kemudian rongga dada terangkat dan membesar, atas otot antar tulang rusuk yang berkontraksi. Karena rongga dada mengembang, maka tekanan udara di dalam lebih kecil dari tekanan udara luar alias mengecil, sehingga udara luar bisa masuk ke dalam paru-paru.

Ketika ekspirasi, kita mengeluarkan udara, otot diafragma berelaksasi alias lurus menjadi lengkung. Rongga dada mengecil atas otot antar tulang yang berelaksasi, maka tekanan udara di dalam lebih besar dari tekanan udara luar alias membesar, akibatnya udara keluar dari dalam.

Begitulah proses kita menghirup gas oksigen (O2) dan mengeluarkan gas karbon dioksida (Co2), yang mana oksigen tersebut kita gunakan dalam proses menguraikan zat glukosa sehingga pada akhirnya kita mendapatkan energi. Proses kompleks namun terasa simpel itu, kita lakukan setiap detik dan detaknya.

Sederhananya: BERSYUKUR KITA MASIH BERNAPAS!

Segala sesuatu yang Tuhan anugerahkan ke kita itu luar biasa, tidak sederhana. Kita hanya perlu mengaguminya dengan cara paling sederhana, yaitu bersyukur.

Mengingat untuk meningat (eling).
Mengingat untuk bersyukur.

MATA
Saat kita melihat laut, pantai, gunung, sawah, pelangi, bangunan megah, kendaraan mewah, manusia rupawan lain dan keindahan lainnya, yang utama kita syukuri adalah anugerah kemampuan untuk melihat.

Sehingga, saat yang kita lihat hanya sudut kamar atau kekeringan belaka, kita masih tetap bisa bersyukur.

TELINGA
Setiap kali telinga kita menangkap suara lantunan merdu ayat-ayat indah, lagu-lagu, kicauan burung, deru angin, ilmu verbal, ungkapan-ungkapan bijak, yang utama kita syukuri adalah anugerah kemampuan mendengar.

Sehingga, saat yang kita dengar hanyalah kritik atau nasihat pahit belaka, kita masih tetap bisa bersyukur.

LIDAH
Berbagai jenis makanan dan minuman enak yang tadinya menggoda mata dan hidung, lantas menggugah selera, masuk ke mulut, dikecap oleh lidah, didalami makna rasanya oleh pangkal lidah, dan mak nyus! Dan, yang utama kita syukuri adalah anugerah kemampuan untuk merasa (mengecap rasa).

Sehingga, saat yang kita rasa hanyalah pahit, asin, atau bahkan hambar belaka, kita masih tetap bisa bersyukur.

Begitu juga dengan indera peraba, dan segala bentuk kenimatan lainnya.

Apalah arti pemandangan indah tanpa mampu kita melihatnya.
Apalah arti suara merdu jika kita tak mampu mendengarnya.
Apalah arti kuliner enak selama kita tidak sanggup mengecap rasanya.
Dan, apalah arti kita tanpa-Nya?

Pemandangan indah, suara merdu, dan makanan minuman enak memang pantas kita syukuri. Tetapi itu semua hanyalah representasi dari betapa mahalnya sesuatu anugerah yang melekat di dalam diri kita. Iya. Dunia di luar diri adalah representasi dari betapa besarnya dunia di dalam diri kita, Mahluk Tuhan semata.

CINTA
Setiap rangkaian kebahagiaan yang kita alami karena memiliki keluarga dan hubungan baik, yang utama harus kita syukuri adalah anugerah cinta.

Karena anugerah indah ini, kita bisa mendapatkan cinta melalui proses kita memberi cinta terlebih dahulu. Ingat, memberi baru menerima.

Sehingga, dengan atau tanpa memiliki keluarga, kita tetap bisa bersyukur.

Dengan modal cinta, kita bisa memanen kebahagiaan di mana saja, kapan saja, dan dari siapa serta apa saja.

Selamat menjalani hidup penuh syukur, penuh cinta, dan penuh persatuan yang mendamaikan.

Cerita Ojek Online, GoCar: 101 Jalur Rezeki Ala Pak Hamdani Kadafi

Rezeki sudah ada yang mengatur, kelancaran urusan hidup sudah ada yang mengatur, tinggal bagaimana usaha kita menemukan jalur dan lelancaran dan keteraturan itu, tanpa dicemari oleh nafsu keserakahan gelap mata. Kurang lebih begitulah pelajaran singkat dari Pak Hamdani, sang driver Go-Car siang ini.

“Mas tunggu sebentar ya, saya tidak terlalu jauh dari situ,” ujarnya, lantas menutup telepon, setelah saya melakukan order Go-Car untuk ke Bandara Balikpapan.

Saya menunggu agak lama, beliau tak kunjung muncul. Saya yang tadinya tidak ingin makan, akhirnya makan siang sampai kenyang, namum beliau tak kunjung datang pula. Saya telepon tidak ada respon. Saya keluar depan rumah, sudah pakai sepatu, menenteng dua tas sekaligus. Baru beliau muncul, dan… telolet! Beliau menyalakan klakson saat melihat pria berbaju kuning dengan tentengan tasnya di pinggir jalan komplek, yaitu ES A SA YE A YA, SAYA!

“Maaf, Mas, jadi terlambat. Pas sudah mau masuk jalan sini, saya mendadak kepikiran apakah kompor sudah saya matikan atau belum,” katanya pelan. “Namanya firasat, mending saya putar balik dan memastikan. Apalagi musim panas begini, lebih rawan lagi terjadi kebakaran. Alhamdulillah kompor sudah saya matikan. Tapi paling tidak pikiran saya tenang dan enak ke mana-mana. Tadi saya mau telepon ngabarin Mas, tapi saya urungkan biar cepat-cepat saja.”

Saya mengarahkan wajah ke samping, ke arahnya, mengembangkan sedikit senyum, dengan tatapan agak centil penuh kalimat tidak apa-apa. Woles.” Tenang saja, Pak, saya senang bapak memastikan rumah bapak aman. Apa yang bapak lakukan sangat lah benar. Toh, kita masih punya banyak waktu untuk ke Bandara,” jawab saya menenangkan. Padahal tadinya saya sempat risau, karena waktu yang tidak terlalu longgar sebenarnya.

Awalnya saya meminta untuk keluar lewat jalan potong, di Hotel Sagita, namun beliau minta izin supaya tidak lewat situ. “Sedang ada perbaikan jalan di situ,” katanya. “Saya khawatir macet.”

Beliau menjelaskan beberapa opsi yang lebih aman. Saya pasrahkan saja pada pilihannya, karena orang baik yang begitu peduli sama keselamatan rumahnya ini pasti punya feeling yang lebih mantap. Beliau memutar balik, untuk keluar ke jalur utama Gunung Sari, yang sebenarnya akan lebih jauh lagi. Tetapi saya harus menurut karena opsi itu jalurnya lebih lancar.

Alam semesta mendukung. Begitu keluar jalur utama, pas ada mobil Alphard TNI yang sedang dikawal oleh Pajero putih di depannya dan Innova hitam beserta ambulance TNI di belakangnya. Kami berada persis di belakang ambulance. Akhirnya jalan bebas hambatan sampai di Bandara, karena mobil-mobil TNI yang menyalakan lampu hazard beramai-ramai tersebut beriringan ke arah bandara. Entah ke mana tujuan akhirnya, kami belok kanan ke Bandara, mobil TNI terus ke arah depan. Pak Hamdani tidak ikut menyalakan lampu hazard memanfaatkan situasi, hanya ikut saja di belakang, dan beruntungnya tak ada yang memotong dan ya tak ada hambatan. Inilah maksud dari kelancaran hidup itu memang ada yang mengatur, selama tidak dicemari dengan nafsu gelap mata.

Tiba di bandara saya minta izin untuk mengobrol sebentar, beliau tidak langsung pulang. Saya bertanya lebih detail soal dia kembali ke rumah memastikan kompor. Saya juga menanyakan apakah tidak ada orang di sana.

Singkat cerita hasil obrolan:

Tidak ada orang di rumah Pak Hamdani, anaknya yang baru lulus STM lagi ke suatu tempat yang tidak diceritakan. Istri bekerja di salah satu hotel. Jadi, beliau sendiri lah yang tadinya di rumah.

Di depan rumahnya ada warung klontong, Pak Hamdani sendiri lah yang menjaga warung itu. Bingung kan? Saya tadi juga bingung.

Pak Hamdani membuka dan menjaga warung klontong sambilan menjadi driver go-car. Bingung? Sudah, lanjut baca saja. Usai mengantar penumpang beliau akan kembali ke warungnya dan standby di sana.

“Tenang saja, selalu ada orang di sekitar warung, dan aman saja tanpa harus saya tutup,” ucapnya penuh percaya diri. “Saya biarkan warungnya terbuka.

Beliau menyediakan dua papan catur di samping warungnya, kebetulan tidak jauh dari situ juga ada pangkalan ojek konvensional. Orang-orang yang mampir main catur itulah yang menjaga warungnya ketika beliau narik. “untunya dua, Mas,” katanya. “Warung aman saya tinggal, dan mereka pasti membeli rokok dan kopi di warung saya.”

Wueee hebat bener!

Beliau dulu tulang ojek angkalan. Begitu gojek masuk, beliau memilih jati tulang ojek online. Atas kerja kerasnya, seiarang beliau punya mobil, makanya jadi driver Go-Car.

Bahkan sebagian rumahnya lagi dibongkar untuk usaha bengkel kecil-kecilan anaknya. “Anak saya itu pengin kerja di rumah saja,” ucapnya penuh antusias. “Yasudah, saya bongkar saja sebagian rumahnya.”

LUAR BIASA! *beri hormat, cekrek!*

Cerita Ojek Online, Gojek: Berguru Sama Pak Fa’at

Beliau adalah rider Gojek, usia 57 tahun, memiliki dua orang puteri. Puteri pertamanya lulusan Sastra Inggris UGM, puteri keduanya sedang kuliah semester 3 jurusan Hukum di Universitas Islam Indonesia (UII).

Awal mula kami mengobrol adalah ketika saya menggunakan jasanya dari KM 5 untuk menuju ke KM 14 Kaliurang, Yogyakarta, beliau bilang: “Kebetulan, Mas, rezeki. Mas mau ke UII, pas saya berniat mau menjemput anak saya di UII. Alhamdulillah ketemunya pas.”

Beliau bertanya apa sih bedanya jurusan Hukum Umum dengan Hukum Islam, beliau hanya pengin tahu lebih banyak tentang pendidikan anaknya. Saya menjawab ala kadarnya yang saya paham: mahasiswa/i Hukum Islam bakal menyandang gelar Sarjana Hukum Islam atau SHI, bukan SH saja seperti pada umumnya. Soal peluang kerja sesuai jurusan, ya, bisa menjadi hakim di Pengadilan Agama (PA), Panitera PA, Staf KUA, Pengacara di PA, Dosen Syari’ah, Peneliti di bidang sosial dan keperdataan Islam, SDM Departemen Agama, dan ini dan itu. Beliau semakin memperlambat laju motor karena kami sama-sama tidak terburu waktu. Santai.

Beliau tampak senang mendengar bahwa hukum yang dipelajari–selain ilmu dasar hukum umum–adalah hukum berdasarkan sudut pandang agama, yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dab Hadist. “Syukurlah, anak saya bisa belajar seimbang antara ilmu dunia dan akhirat,” katanya.

Waktu di tengah jalan Alastair minta berhenti karena kebelet pipis, kami pun mengobrol lebih banyak lagi, dan… cekrek!

Beliau pernah menjadi karyawan swasta, dua tahun-an lalu pensiun. Beliau pensiun saat puteri pertamanya baru lulus kuliah. Dua wisuda yang berbeda kepentingan.

Uang pensiun dan dana tabungan yang beliau kumpulin selama bekerja, ia pakai buat bangun kos-kosan. Untuk operasional hari-hari beliau memilih menjadi rider ojek online.

Jadi tukang ojek bukan terpaksa, bukan perkara semata tuntutan ekonomi. Beliau senang berinteraksi dengan banyak orang, memberi salam sapa senyum sesering mungkin sepanjang hari setiap hari, mengantarkan orang pada tujuannya dengan selamat, membantu orang tiba di tujuan tepat waktu, dan mengobrol banyak hal dengan banyak orang, semua itu sesuatu yang sangat bernilai baginya. Uang halal adalah bonusnya. Jiwa sehat karena memiliki banyak kegiatan meski sudah pensiun juga bonus plus plus.

Pak Fa’at senantiasa berusaha untuk tidak merepotkan anak-anaknya. Repot itu bagian orang tua. Nanti anak akan mendapatkan bagian itu saat menjadi orang tua. Sehingga, saat puteri pertamanya berhenti bekerja karena memutuskan untuk menikah waktu baru dua tahun lulus, beliau sangat ridha. Puterinya memutuskan ikut suaminya tinggal di Jakarta, ya tidak ada sedikitpun keberatan.

Tapi yang namanya rezeki ya… tak disangka nyana, tahun lalu beliau dan istrinya mendapat kejutan dari menantunya: berangkat umroh bareng-bareng.

Yang paling berkesan lagi dari Pak Fa’at adalah murah senyumnya. Saya melihat beliau selalu tersenyum. Lebih tepatnya, saat sedang tidak tersenyum pun, wajahnya tetap tampak tersenyum.

“Senyum dulu baru bahagia.
Bukan menunggu bahagia dulu baru senyum.”

Kalau Sudah Dapat Yang Baik, Ya Sudahlah Ya…

Tentang tempat kerja, kota tinggal, makanan, acara TV, seseorang, musik, dan apa saja. Kalau sudah dapat yang baik, tak usah terlalu sibuk mencari yang lebih baik, sebab itu akan menguras energi dan membuat kita lupa dengan kesyukuran.

Ketika kita mendengarkan musik dengan setingan volume tertentu, sudah nyaman dan sangat menikmati, tiba-tiba terdengar lagu yang lebih disukai dari lagu lainnya, lantas tangan kita usil menaikkan volume. Begitu muncul lagu yang tidak begitu kita sukai setelah itu, spontan menurunkan volume bahkan lebih kecil dari yang semula. Parahnya lagi, jadi sibuk ganti CD atau ganti folder atau ganti channel radio. Padahal bisa jadi kenyamanan yang timbul di awal itu, selain karena lagu-lagunya, juga karena tingkat volumenya sudah pas untuk telinga dan saraf kita. Keasikan itu tak melulu soal volume menggelegar.

Saat kita sudah tahu penjual nasi goreng enak adalah di warung Skidipapap Subidab sebelah pangkalan ojek gang Harapan, ya kembali beli saja di situ saat pengin beli nasi goreng lagi. Tak usah sibuk coba-coba nasi goreng yang kita tidak tahu referensinya. Kecuali tutup, atau ada referensi jelas lain yang sama-sama enak. Memperkaya referensi tempat makan enak boleh, tetapi tidak dengan niat mencari yang lebih enak untuk meninggalkan warung Skidipapap Subidab.

Begitu pun tentang seseorang. Kalau sudah menemukan seseorang yang baik buat kita, nyambung dan nyaman dengan keadaan kita saaat ini, tak usah mencari seseorang yang lebih baik lagi. Jika suatu saat kemudian keadaan kita berubah dan seseorang itu belum mengikuti perubahan, maka ingatlah keadaan kita dulu. Atau, bantu dia untuk lebih mampu menyesuaikan keadaan yang berubah, bukan menuntut tanpa membantu apa-apa. Apalagi dengan berpaling mencari yang lebih baik dan menganggap seseorang itu gak asik lagi, itu namanya lupa diri.

Terus mencari yang lebih baik itu hanya akan menempatkan diri kita pada situasi yang serba tidak pasti. Selalu ada dua sisi kemungkinan, memang dapat yang lebih baik atau malah dapat yang buruk lalu menyesal tiada berguna.

Contoh nyata dari teori ‘sudah dapat yang baik tapi sibuk mencari yang lebih baik’ adalah foto selfie Bapak-Bapak Muda yang lagi nungguin anaknya main, di samping ini. Sudah dapat pose yang pas, eh diulang-ulang sampai garuk-garuk kepala hingga rambutnya kusut. Pada akhirnya dikira orang, dia adalah Ian Kasela habis naik Gojek lupa pakai helm. Daradam daradam hoek…daradam daradam uh!

Habis itu malah diedit pakai beauty camera: menghaluskan kulit wajah, meniruskan pipi, memancungkan hidung. Begitu selesai diedit: hasil yang terlihat, bukannya tampak seperti bapak-bapak muda kelebihan kasih sayang, justru lebih tampak seperti mahasiswa DO yang kurang darah.

Kekuatan Cinta

KEKUATAN CINTA YANG MENGGERAKAN
KEKUATAN ALAM SEMESTA LEWAT
KEKUATAN SANG MAHA

Sepanjang judul inilah kisah kejutan cinta saya dan istri hari ini.

Jam 2 siang saya meninggalkan kantor, kembali ke rumah, siap-siap berangkat ke ujung Timur Indonesia pada pukul 5.40 sore. Selesai Ashar saya ke bandara, diantar Alastair dan Ifat -if. Begitu turun dari mobil persis di depan pintu keberangkatan kami sama-sama terkejut, “LOH, TAS PAKAIANNYA MANA?”

Rupanya tertinggal di balkon rumah, di samping pintu rumah, sebelah kursi kayu berwarna cokelat tua. Mau kembali ke rumah, butuh waktu lebih dari satu jam untuk pulang dan pergi. Sementara kurang dari satu jam ke depan pesawat akan diberangkatkan. “JANGAN PANIK JANGAN PANIK JANGAN PANIK,” kata saya dalam hati.

Ifat tampak sedikit bingung, saya tidak mau membuatnya makin khawatir. Kami memutuskan untuk berlomba menelepon keluarga yang kemungkinan bisa membantu, membawakan tas ke bandara. “Tidak ada yang angkat telepon nih,” kata Ifat tanpa senyum sedikitpun.

Selang beberapa puluh detik, telepon saya terhubung ke kakak ipar–Umi Hanik–yang ternyata lagi di jalan sepulang dari tempat kerja. Beruntung sekali kakak bersedia membantu, bakal mampir ke rumah, mengambil sekaligus mengantar tasnya ke bandara. Janjian akan ketemu di parkiran bandara. Di saat yang bersamaan, saya meminta Ifat untuk ke tempat parkir menunggu kakak, sedangkan saya bergegas ke counter check in.

“MAAF, PAK, KEBERANGKATAN PESAWATNYA AKAN DITUNDA PADA PUKUL 7 MALAM,” kata petugas sembari mengembalikan KTP saya. “BENERAN, MBAK?!” tanya saya kegirangan, memastikan. “WUAAAA REZEKI!” Petugasnya kebingungan melihat respon saya, yang menghentakkan kedua tangan ke udara, saking senangnya pesawat delay.

Saya langsung menelepon kakak untuk tak melanjutkan perjalanan ke bandara, lalu saya telepon Ifat untuk keluar dari parkiran menuju pintu keberangkatan lagi, kita akan kembali ke rumah bersama, mengambil tas!

Ini bukan tentang keteledoran, tidak juga soal keterburu-buruan. Ini tentang cinta yang bekerja dengan caranya, dengan kekuatannya yang misteri.

Kami bergerak tepat waktu, hanya saja tas tertinggal belaka. Waktu keluar rumah, saya menenteng tas laptop dan menggandeng Alastair menuju mobil duluan, karena harus manasin mobil. Ifat menyusul, dan saya meminta tolong untuk dibawakan tas pakaiannya ke mobil. Saya minta tolongnya sambil mengikat tali sepatu. Suara saya rupanya kurang jelas, sedikit miskomunikasi, eh dapat hadiah waktu ekstra bersama. Begitu.

Beruntung sekali kami tidak sampai panik, dan tidak sampai saling menyalahkan. Begitu kembali naik mobil, kami bertiga saling berpelukam haha hihi. Begitu berharganya waktu satu jam. Terlebih sebulan terakhir ini saya sering pergi ke luar kota.

Ketika kita tak mencoba mengendalikan dunia, ketika kita membiarkan alam semesta bekerja, ketika kita percaya pada cinta, ketika kita yakin dengan segala rencana-Nya, ketika itu pula kita diliputi keberlimpahan rahmat kehidupan penuh cinta penuh kasih penuh sayang.

Tidak salah saya pergi mengenakan kaus dan jaket yang sama dengan yang saya pakai waktu bermalam mingguan dengan Ifat, dua hari lalu, seperti pada gambar di bawah. Suasana saling berbagi hangatnya teh poci malam minggu rupanya ikut terbawa hingga hari ini.

Bagi kami, hari ini begitu romantis.

Bertindaklah Untuk Perubahan Yang Diinginkan, Jika Ingin!

YA, BERTINDAKLAH UNTUK PERUBAHAN YANG DIINGINKAN, JIKA INGIN! Meskipun hanya sedikit dan kecil.

Jika merasa jelek, ubah menjadi bagus. Jika kecil, buat itu menjadi besar. Jika lemah, kuatkan. Jika jauh, dekatkan. Jika rendah tinggikan. Jika ketinggian, rendahkan. Jika kotor, bersihkan. Jika buntu, lancarkan. Jika bingung, cerdaskan. Semua perubahan itu sederhana, yang penting nyata ada tindakan.

Tak ada guna punya banyak keinginan, tapi hanya sedikit tindakan. Apalagi tidak ada.

Tanda tangan saya tidak pernah berubah semenjak kuliah, belakangan saya merasa bentuknya kurang bagus, bahkan terasa membosankan. Guratan garis-garis memanjang berjejeran tanpa ada bentuk yang bisa dibaca, semacam rumah kotak yang tiada motif dan kelok sekat dan aksesoris. Atau, semacam kopi tanpa rasa tanpa aroma.

Sementara, setiap nama-nama besar, nama-nama terkenal, yang saya lihat, goresan tanda tangan mereka sangat menarik. Tampak hidup. Berjiwa. Menyenangkan. Satu kesamaan dari tanda tangan mereka, adalah tulisan nama yang diindahkan. Sehingga cenderung tak perlu menulis nama lagi di bawah tanda tangannya, karena sudah terwakilkan oleh tanda tangan itu sendiri.

Berangkat dari ketertarikan dengan jenis tanda tangan seperti itu, saya pun mengajukan permohonan perubahan tanda tangan ke kantor catatan sipil. Singkat cerita, disetujui. Akhirnya, kartu keluarga dan KTP dan buku-buku tabungan, dibuat baru untuk dijejaki tanda tangan baru.

Repot?

Sama sekali tidak.

Hanya soal mengurus ulang dokumen kependudukan, itu perkara remah dan remeh.

Justru yang repot adalah ketika setiap hari kita membiarkan rasa penasaran yang tak tersalurkan, rasa bosan yang tiada terhibur, keinginan perubahan yang tak nyata, dan kebuntuan-kebuntuan lain karena kita malas bertindak.

Saking sukanya saya dengan tanda tangan baru, saya membeli notebook kulit baru, buku tulis yang saya suka, dan saya toreh tanda tangan di pojok kanan hampir di setiap lembarnya. Seperti contoh yang tampak di gambar.

Bertindak. Setidaknya membuat kita menjalani hidup tanpa sambil ‘tertidur’.

Bertindak. Setidaknya membuat kehidupan kita menjadi lebih nyata.

Bertindak…. SUDAH! MARI KITA SUDAHI TULISAN SEKALIGUS BACAAN INI. TARUH PONSELNYA. MARI BERTINDAK, APAPUN YANG BISA KITA TINDAK SAAT INI.

Bekerja Dengan Cinta

Waktu ikut team building di bogor minggu lalu, saya membawa salinan beberapa tulisan Kahlil Gibran yang kesemuanya saya ambil dari bukunya yang berjudul Sang Nabi. Salah satunya adalah tulisan tentang kerja, saya menyebutnya bekerja dengan cinta. Dan, di acara malam, saya meminta tiga orang teman cewek untuk membaca tulisan tersebut–sebagai bagian dari musikalisasi puisi. Gak biasanya acara kantor kami ada pepuisiannya begitu. Tiga cewek yang saya maksud membacakan satu tulisan secara bersambung, dan saya terkejut merinding mendengar cara mereka berpuisi. Katanya gak pernah membaca puisi sebelumnya, sekalinya membaca–saya merasa seperti lagi menonton Dian Sastro sedang syuting film Ada Apa Dengan Cinta. Tulisan yang saya baca berulang dengan sunyi maupun dengan suara tersebut semakin melekat di kepala dan hati dan jiwa saya, begitu indah begitu menggairahkan. Teman-teman yang lain yang mendengarkan mendadak senyap, semua orang menikmati. Cinta memang selalu luar biasa tanpa mengenal ruang dan waktu. Tsah. Continue reading

Oleh-Oleh Dari Kalimantan Selatan

zia-banjar

Dari Kintap, terus, putar balik di Pasar Sungai Danau, lurus sedikit, kemudian belok kiri, terus lagi sampai melewati sekolah dasar, belok kanan, kemudian belok kanan lagi, berhenti di bawah pohon cherry liar atau kersen. Berasa sedang menyamar menjadi kepala daerah yang doyan blusukan, padahal saya dan tim sedang mencari rumah katering untuk melakukan penilaian semesteran.  Continue reading

Pembanding Sebanding Tak Sebanding

Tidak peduli dijadikan suruhan untuk membeli rokok ketengan atau mengambilkan air minum, yang penting saya bisa duduk sedekat mungkin dengan orang yang pandai bermain gitar. Itu saya lakukan di zaman lagu-lagunya Base Jam dan Stinky jadi lagu wajibnya anak nongkrong pinggir jalan di kampung. Di mata saya–waktu itu–orang yang pandai bermain gitar adalah sebahagiabahagianya umat manusia muda. Continue reading

Generasi Bangun Negeri

“Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, kecuali buah yang diangkut truk terjatuh karena sopirnya menyetir ngawur—itupun namanya sudah buah-buahan jualan.”

Melanjutkan tulisan saya beberapa waktu lalu mengenai anaknya Teddy Thohir yakni Garibaldi Thohir alias Boy Thohir yang merupakan kakak dari Erick Thohir, yang mana saat ini telah muncul generasi baru dari keluarga Thohir tersebut yang menjadi bahan pembicaraan banyak media. Dia adalah Gamma Abdurrahman Thohir, anak dari Boy Thohir, yang dengan hebatnya menciptakan gerakan perubahan di usia belianya melalui proyek pengadaan PLTA (pembangkit listrik tenaga air) mini menggunakan teknologi microhydro untuk daerah terpencil—Kasepuhan Ciptagelar, Sukabumi. Wow! Continue reading