Category Archives: kantor

Bukan Tentang Kopiah Jum’at

Ini soal Respect in harmony!

Tiada arti Visi-Misi besar, tanpa diikuti semangat bersama-sama membangun organisasi yang tak kalah besar.

Tiada arti membangun mimpi organisasi yang besar, jika gerak dan langkah tim tak seirama.

Tiada arti jerih payah memperindah peradaban organisasi, apabila tidak dibarengi dengan senyum tawa yang saling menghangatkan.

Kunci dari segala kesuksesan sebuah organisasi adalah RESPECT. Mau pakai metode gerakan perubahan apapun, tak akan pernah berhasil secara maksimal kalau satu dan lainnya tak saling Respect.

Tugas paling besar dalam membangun organisasi, membangun tim, bahkan membangun usaha dan perusahaan adalah memastikan budaya respect each other terjadi di setiap orang yang terlibat di dalamnya.

Respect itu harus ditanam, lalu ditumbuhkan, hingga berbuah, dan tumbuh kembang, lagi dan lagi. Sebab dari situlah lahirnya kepercayaan, motivasi, dan kekuatan.

Jaga energi
Jaga semangat
Jaga kebersamaan

Just respect each other.

4 Hal Penentu Betah dan Tidaknya Seseorang di Tempat Kerja

Tulisan ini hanya kupindahkan dari linimasa burung biru alias twitter tanpa kukurangi dan kutambahi lagi kata dan kalimatnya. Soalnya kalau di sana, semakin tertimbun dan sulit untuk melacak keberadaannya di kemudian hari. Mending aku simpan juga di sini, supaya lebih mudah dibaca ulang oleh orang-orang yang membutuhkan. Bisa jadi bagian dari orang itu adalah aku sendiri.

Berikut ya tulisannya (kata orang zaman now, thread twitter)…

Ada 4 hal penting yang menjadi faktor penyebab betah dan tidak betahnya seseorang di tempat kerjanya. Sangat penting dipahami, supaya gak melulu ngomongin gaji.

“Yah, gaji lo sudah gede di situ, sayang kalo lo tinggal resign?!”

“Kok lo bisa betah sih dengan gaji sekecil itu?”

Boy, gaji itu hanya salah satu faktor saja di dalam eksistensi seseorang bekerja dengan sepenuh hati. Banyak faktor lain yang mempengaruhi kinerja dan loyalitas. Bahkan bukan hanya 4 faktor, banyak. Tapi umumnya adalah 4 yang mau saya bahas ini.

1. Faktor Intelektual

Ini berkaitan dengan: pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman. Tak heran banyak pekerja baru yang tidak peduli soal gaji, yang penting dapat kerjaan dulu. Karena mereka butuh bisa bekerja dengan baik, dari pengalaman dan pelatihan yang diberikan.

Semakin seseorang di tempat kerjanya merasa: mendapat banyak ilmu, keterampilannya meningkat signifikan, banyak exposure dan challenge dalam mengalami berbagai tugas yang membuat pengalamannya kerjanya semakin kaya–maka semakin ia betah dan loyal.

Makanya penting di awal bekerja atau saat bekerja di tempat baru, beradaptasi menyerap ilmu dan pengalaman sebanyak mungkin. Kalau bisa jangan pasrah sama keadaan, gak ada pelatihan formal–dekati senior atau orang yang menurut kita mumpuni. Dengan begitu kerja gak bosan.

Kalau kamu atasan, bahkan pemberi kerja: beri pelatihan memadai buat pekerja, bimbing mereka supaya lebih terampil. Beri kepercayaan, beri tantangan, supaya pengalaman mereka memiliki nilai tinggi. Dengan demikian, pekerja dan pengusaha saling diuntungkan. Juga, mencerdaskan.

Banyak kasus begini: awalnya bilang mau kerja apa saja, yang penting kerja. Di tengah jalan, mendadak mengeluh dan resign tanpa babibu, banyak yang mengaku karena gajinya gak layak. LOH! GAJI INI DIBERITAHU DARI AWAL, KENAPA DIAMBIL KALAU RECEH, MALIH?!

Karena… Orang yang melanggar ucapannya sendiri “yang penting kerja”, lantas resign karena gaji gak layak yang sudah dia tahu dari awal, itu karena benefit ilmu, keterampilan, dan pengalaman berharga tidak ia dapat juga. Tapi gak nyadar faktornya apa saja…

Jadi taunya mengkambinghitamkan gaji saja. Padahal… Dengan tahu faktor-faktor penentu kita mencintai pekerjaan, kita bisa memilih dari awal: gaji kecil, yang penting kerja, tapi kerja yang ada value intelektual. Kalau tanpa faktor penunjang yang baik, berarti itu terpaksa.

2. Faktor Sipiritualitas

Berkaitan dengan: nilai ibadah, unsur agamis, dan meaning (sesuatu yang dirasa sangat berarti, apa saja, tetapi bukan uang dan intelektualitas).

Jangan heran, dan jangan menyepelekan ketika ada seseorang yang menanggapi kritik dan saranmu terhadap pekerjaannya: “aku rapopo. Kerja kie ibadah. Opo meneh kerjaane melayani orang banyak. Aku ikhlas, aku senang menjalaninya.” Nilai dia di situ!

Atau di unsur agamis… Teman saya (muslim) dulunya banyak yang berlomba-lomba pindah kerja ke luar negeri karena gajinya besar menggila, dan ilmu serta pengalamannya juga oke. Tapi begitu merasa jadi minoritas, beribadah susah, Jumatan seringkali terlewat, resign juga.

Permudah proses orang beribadah, apapaun agamanya, akan memperkuat orang itu betah dan loyal terhadap pekerjaan dan instansinya.

Atau paling tidak, saling menumbuhkan nilai kehidupan yang berarti, juga bisa membuat orang mikir-mikir untuk kerja loncat sana loncat sini seperti kutu yang… ya begitulah. Kerja bukan sekadar: finger print, kelarin tugas, balik kanan pulang. Betapa membosankan jika iya.

3. Faktor yang mewujud (physical)

Berkaitan dengan: gaji, bonus, fasilitas kesehatan, penghargaan. Yang begitu-begitulah. Sekali lagi, ini bukan faktor utama. Ini adalah salah satu faktor saja. Baru mau kerja sudah mengejar faktor ketiga ini, hmmm… bakal jadi tukang ngeluh!

Orang yang sangat pantas mengincar bayaran terbaik, fasilitas terbaik, adalah mereka yang: pengetahuan, skill, pengalamannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Jangan anggap songong competent persons yang jual mahal, karena faktor lainnya tidak begitu ia kejar lagi.

4. Faktor sosial/emosional

Terakhir, ini berkaitan dengan: – Keterbukaan – Kenyamanan – Hubungan baik antar personal, antar superior dan subordinat, lintas departemen, dll. Terkadang, hal ini dianggap jauh lebih penting dari uang. Apalagi bagi yang punya penghasilan sampingan.

Bayaran gede, perusahaannya kelas setinggi langit, tantangannya bergengsi, tetapi manusia di dalamnya mayoritas brengsek, saling sikut, saling menjatuhkan, apalah artinya ya… Neraka dunia itu sih…

akanya pahami kebutuhan diri sendiri, faktor mana yang paling dititikberatkan dari 4 faktor tersebut, cari tempat kerja yang bisa memenuhi kebutuhan yang sudah kamu identifikasi itu.

Begitu juga saat kamu memutuskan untuk resign, pahami faktor mana dari 4 itu yang membuat kamu harus mundur. Lalu, cari tempat baru yang menyediakan kebutuhan itu, yang tidak ada di tempat yang ditinggalkan.

Banyak orang resign, gak 100% jelas akar masalah ia ketahui, dan gak 100% tahu apa yang disediakan tempat baru. Jadinya menyesal. Anehnya, di tempat baru mengeluh, bahkan memuji tempat lama, padahal jelas-jelas tempat lama membuatnya bengah sampai resign. MENURUT NGANA?

Akhirnya lagi, orang ‘linglung kebutuhan dirinya sendiri’ begitu banyak yang gagal move on. Kembali ke tempat lama, sedikit pasang muka tembok melupakan keluh kesahnya dulu. Dalil “ternyata tidak ada tempat yang lebih baik di luar sana, seperti di sini” keluar bertubi-tubi.

DASAR MANUSIA PLIN MANUSIA PLAN! Bukan gak ada tempat yang lebih baik di luar sana, lo sendiri yang gak paham masalah lo sendiri dan dunia luar yang luas membentang cakrawala. Huh!

Kalau sudah mengetahui kebutuham sendiri, punya usaha mencari tahu tempat mana saja yang bisa mengakomodir kebutuhan kamu, paling tidak kamu akan menjadi: Orang yang tidak mudah menyalahkan orang lain. Orang yang tidak mudah menyalahkan keadaan. Orang yang mudah introspeksi.

Bekerja Dengan Cinta

Waktu ikut team building di bogor minggu lalu, saya membawa salinan beberapa tulisan Kahlil Gibran yang kesemuanya saya ambil dari bukunya yang berjudul Sang Nabi. Salah satunya adalah tulisan tentang kerja, saya menyebutnya bekerja dengan cinta. Dan, di acara malam, saya meminta tiga orang teman cewek untuk membaca tulisan tersebut–sebagai bagian dari musikalisasi puisi. Gak biasanya acara kantor kami ada pepuisiannya begitu. Tiga cewek yang saya maksud membacakan satu tulisan secara bersambung, dan saya terkejut merinding mendengar cara mereka berpuisi. Katanya gak pernah membaca puisi sebelumnya, sekalinya membaca–saya merasa seperti lagi menonton Dian Sastro sedang syuting film Ada Apa Dengan Cinta. Tulisan yang saya baca berulang dengan sunyi maupun dengan suara tersebut semakin melekat di kepala dan hati dan jiwa saya, begitu indah begitu menggairahkan. Teman-teman yang lain yang mendengarkan mendadak senyap, semua orang menikmati. Cinta memang selalu luar biasa tanpa mengenal ruang dan waktu. Tsah. Continue reading

Jam Tangan Istri

Rabu pertama setiap bulan merupakan agenda rapat besar di kantor–melibatkan seluruh karyawan dari berbagai tingkatan. Alhamdulillah saya dipercayakan menjadi fasilitator rutin dalam agenda ini, mendampingi bapak-bapak Manager.

Berbicara di depan umum pernah menjadi kegiatan paling menakutkan bagi saya. Sepuluh tahun lalu, pertama kali saya bekerja dan disuruh menjadi fasilitator di kegiatan serupa, rasa-rasanya ada tetesan kencing keluar tanpa rencana. Bersyukur hal itu sudah lewat. Kau tahu sendiri, kebiasaan membuat kita menjadi bisa. Rasa percaya diri sudah cukup memadai, setidaknya untuk ukuran saya yang pernah terperangkap di perasaan rendah diri sekian lama. Continue reading

Pamer Mesin Dolce Gusto di Kantor

“Mas, kita sekarang udah jarang yah nongki-nongki cantik—menikmati kopi di manaaa gitu.” Kalimat istri itu membuat saya berpikir, bagaimana mengakali kebiasaan kami menikmati minuman ala-ala kafe tetapi bisa dilakukan di rumah sendiri, tanpa perlu menunggu waktu khusus. Yang penting makna kebersamaannya dan kopi dan teh tubruk dan kami dan cinta. Pertanyaan itu muncul semenjak kami lebih betah menghabiskan waktu di rumah, setelah punya anak yang kini sudah berumur 10 bulan. Awalnya saya membeli teko khusus untuk mengolah teh tubruk tanpa perlu menyaring tanpa perlu berurusan dengan ampas. Namun masih saja ada yang kurang, karena belum punya pengolah kopi spesial. Hingga pada akhirnya saya menemukan beberapa teman media sosial memamerkan Mesin Nescafe Dolce Gusto yang baru-baru ini mereka miliki, dan cukup membuat saya iri. Dengan tidak menunggu lama, saya menghubungi salah satu teman pemilik mesin unyu tersebut, menanyakan pengalaman dan kelebihan mesinnya. Alhamdulillah cocok, sesuai dengan kebutuhan, saya memutuskan untuk beli—teman itu sekaligus saya repotkan, saya titip dibeliin di Jakarta, lalu dipaketin ke Balikpapan. Continue reading

Ngeden dan Nguping di Toliet

Suara 1: “Bro, tumben DP BBM kamu pasang foto istri? Seumur-umur gak pernah loh. Lagi kesambet apa emangnya? Atau jangan-jangan modus karena semalam gak dapat jatah?”

Suara 2: “Lagi dimarahin…hahahaha!”

Gue yang tadinya berjuang keras, ngeden mengeluarkan sisa-sisa makanan yang ikutan dikutuk seperti Malin Kundang, seketika gue ngakak geli di dalam bilik kloset–dari pose super jelek jadi pose ganteng biasa. Baru nyadar, kalo terkadang menguping itu bisa menaikkan level kegantengan. Terimakasih kotoran… Continue reading

Pelajaran di Pojok Pantry

            Gak harus jauh-jauh ke Negeri China untuk mengejar ilmu, kecuali mau belajar bagaimana caranya menduplikasi produk elektronik asli menjadi barang murah pemuas mata belaka. Kita ambil contoh aja ((((KITA)))) di kantor gue; cukup masuk pantry, mendatangi OB pengguna henpon china, bisa dapet ilmu. Semudah membuang angin ketika sendirian di lift.
Continue reading