Category Archives: kantor

Bekerja Dengan Cinta

Waktu ikut team building di bogor minggu lalu, saya membawa salinan beberapa tulisan Kahlil Gibran yang kesemuanya saya ambil dari bukunya yang berjudul Sang Nabi. Salah satunya adalah tulisan tentang kerja, saya menyebutnya bekerja dengan cinta. Dan, di acara malam, saya meminta tiga orang teman cewek untuk membaca tulisan tersebut–sebagai bagian dari musikalisasi puisi. Gak biasanya acara kantor kami ada pepuisiannya begitu. Tiga cewek yang saya maksud membacakan satu tulisan secara bersambung, dan saya terkejut merinding mendengar cara mereka berpuisi. Katanya gak pernah membaca puisi sebelumnya, sekalinya membaca–saya merasa seperti lagi menonton Dian Sastro sedang syuting film Ada Apa Dengan Cinta. Tulisan yang saya baca berulang dengan sunyi maupun dengan suara tersebut semakin melekat di kepala dan hati dan jiwa saya, begitu indah begitu menggairahkan. Teman-teman yang lain yang mendengarkan mendadak senyap, semua orang menikmati. Cinta memang selalu luar biasa tanpa mengenal ruang dan waktu. Tsah. Continue reading

Jam Tangan Istri

Rabu pertama setiap bulan merupakan agenda rapat besar di kantor–melibatkan seluruh karyawan dari berbagai tingkatan. Alhamdulillah saya dipercayakan menjadi fasilitator rutin dalam agenda ini, mendampingi bapak-bapak Manager.

Berbicara di depan umum pernah menjadi kegiatan paling menakutkan bagi saya. Sepuluh tahun lalu, pertama kali saya bekerja dan disuruh menjadi fasilitator di kegiatan serupa, rasa-rasanya ada tetesan kencing keluar tanpa rencana. Bersyukur hal itu sudah lewat. Kau tahu sendiri, kebiasaan membuat kita menjadi bisa. Rasa percaya diri sudah cukup memadai, setidaknya untuk ukuran saya yang pernah terperangkap di perasaan rendah diri sekian lama. Continue reading

Pamer Mesin Dolce Gusto di Kantor

“Mas, kita sekarang udah jarang yah nongki-nongki cantik—menikmati kopi di manaaa gitu.” Kalimat istri itu membuat saya berpikir, bagaimana mengakali kebiasaan kami menikmati minuman ala-ala kafe tetapi bisa dilakukan di rumah sendiri, tanpa perlu menunggu waktu khusus. Yang penting makna kebersamaannya dan kopi dan teh tubruk dan kami dan cinta. Pertanyaan itu muncul semenjak kami lebih betah menghabiskan waktu di rumah, setelah punya anak yang kini sudah berumur 10 bulan. Awalnya saya membeli teko khusus untuk mengolah teh tubruk tanpa perlu menyaring tanpa perlu berurusan dengan ampas. Namun masih saja ada yang kurang, karena belum punya pengolah kopi spesial. Hingga pada akhirnya saya menemukan beberapa teman media sosial memamerkan Mesin Nescafe Dolce Gusto yang baru-baru ini mereka miliki, dan cukup membuat saya iri. Dengan tidak menunggu lama, saya menghubungi salah satu teman pemilik mesin unyu tersebut, menanyakan pengalaman dan kelebihan mesinnya. Alhamdulillah cocok, sesuai dengan kebutuhan, saya memutuskan untuk beli—teman itu sekaligus saya repotkan, saya titip dibeliin di Jakarta, lalu dipaketin ke Balikpapan. Continue reading

Ngeden dan Nguping di Toliet

Suara 1: “Bro, tumben DP BBM kamu pasang foto istri? Seumur-umur gak pernah loh. Lagi kesambet apa emangnya? Atau jangan-jangan modus karena semalam gak dapat jatah?”

Suara 2: “Lagi dimarahin…hahahaha!”

Gue yang tadinya berjuang keras, ngeden mengeluarkan sisa-sisa makanan yang ikutan dikutuk seperti Malin Kundang, seketika gue ngakak geli di dalam bilik kloset–dari pose super jelek jadi pose ganteng biasa. Baru nyadar, kalo terkadang menguping itu bisa menaikkan level kegantengan. Terimakasih kotoran… Continue reading

Pelajaran di Pojok Pantry

            Gak harus jauh-jauh ke Negeri China untuk mengejar ilmu, kecuali mau belajar bagaimana caranya menduplikasi produk elektronik asli menjadi barang murah pemuas mata belaka. Kita ambil contoh aja ((((KITA)))) di kantor gue; cukup masuk pantry, mendatangi OB pengguna henpon china, bisa dapet ilmu. Semudah membuang angin ketika sendirian di lift.
Continue reading

Jangan Mau Dianggap Lemah, Apalagi Mudah Lemas

Gue tertarik dengan salah satu bahasan debat capres (ketiga) tadi malam, yaitu tentang ‘hubungan Indonesia-Australia’ yang naik-turun alias tidak stabil. Begitu mendengar pembahasan itu, gue yang tadinya nonton TV sambil tidur langsung terbangun dan mendekat. Semacam ada semangat lebih untuk menaikkan harta martabat Negara dan tentu martabat warganya, salah satunya gue sendiri, terhadap Negara lain, terutama Negara Australia. Makanya pada saat Pak Jokowi bilang tentang ‘wibawa’ dalam bahasan ini, gue langsung teriak “yes yes yes…” sambil bertepuk tangan sorak sorai di depan TV, padahal gue sedang tidak nonton bola. Sukseslah istri gue tepok jidat sambil senyum tengil yang dibarengi oleh geleng-geleng kepalanya.

Gue sadar. Reaksi gue mendengar hubungan dengan Australia tersebut, mungkin dampak dari perjalanan berkarir gue di 9 tahun terakhir ini; pindah kerja ke mana-pun, selalu ketemu dan berurusan dengan bule-bule Australia, yang membuat gue dan teman-teman Nasional lainnya mem-pertanyakan kemerdekaan kita sendiri. “Sudah mereka kah kita ini?” Miris.

Continue reading

Surat Pernyataan Penyaluran Pendapatan

Surat pernyataan penyaluran pendapatan atau yang biasa disingkat dan disebut dengan SP3 itu merupakan surat sakti bagi gue dan temen-temen di perusahaan. SP3 tersebut sakti untuk keperluan peminjaman di Bank Mandiri (mitra kerja perusahaan), terutama untuk KTA (kredit tanpa agunan) dan KPR (kredit pemilikan rumah). Waktu jaman bujang dulu, SP3 ini gak pernah gue manfaatin, ya merasa gak perlu ngutang aja. Setelah gue nikah, muncul-lah kebutuhan-kebutuhan besar seperti ‘pengen punya rumah’ atau minimal ‘kendaraan roda 100’ yang pastinya gak mungkin sanggup gue miliki kalo bukan dengan cara mengutang di Bank. Barulah gue merasa butuh dan menganggap SP3 itu penting penting penting banget. Gimana gak penting? Dengan SP3, bunga yang dibebankan relatif rendah. Continue reading