Category Archives: Keluarga

Pahala: Pacaran Halal Asik

“Hai, terimakasih untuk waktu dan keseruan malam minggunya,” kataku setelah lampu indikator parking brake mobil dalam kondisi aktif, di depan rumah. “Dan terimakasih telah menganggapku pantas menjadi teman hidupmu.” Aku memegang tangannya, sedikit menariknya ke arahku, lalu… ah, aku malu untuk menceritakan secara rinci–betapa ciuman di mobil itu begitu hangat dan begitu muda. Rasanya seperti sepasang kekasih yang belum menikah, yang mana ciuman intim itu langka adanya. Semacam ada perasaan deg-degan takut kepergok orang tuanya.  Continue reading

Baby Traveler Seakan-akan

Saya tidak mau bilang kalau Alastair itu masuk golongan Baby Traveler, karena saya bukanlah traveler. Istri juga bukanlah traveler meski dulu dia tukang jalan. Belakangan kami tidak terlalu banyak jalan-jalan. Kalau nanti, bisalah lebih sering lagi. Kami hanyalah tukang putar-keliling dalam kota yang tingkat keseringannya per-minggu melebihi jumlah film Indonesia yang diperankan oleh Reza Rahadian. Continue reading

Semau Gue

Kalau ada laki-laki yang bilang mengurus anak itu gampang apalagi berani mengatakan bahwa perempuan sekaligus ibu banyak drama dalam mendampingi anak, berarti laki-laki macam begitu pantas disunat tiga kali. Sunat pertama secara prosedural lewat mantri/dokter, sunat kedua pakai kapak, sunat ketiga pakai sembilu. Tidak gampang bukan berarti tidak menyenangkan, konteksnya bukan itu.  Continue reading

Kenapa Saya Harus Kaya?

air-surga

Hidup berkelimpahan, kaya raya, adalah hak semua umat manusia. Untuk mendapatkan hak, tentu kita harus memenuhi kewajiban-kewajiban–salah satunya dengan bertindak mewujudkan mimpi-mimpi, tak peduli siang malam penuh peluh keringat, usaha dan doa harus senantiasa terjaga pada tingkat tertinggi. Tidak terkecuali saya yang suka kentut sembarangan ini, punya hak dan kewajiban yang sama. Continue reading

Penggandaan Sutan Takdir Alisyahbana

Setelah terindikasi mengalami tekanan darah tinggi di usianya yang masih kepala dua, Ibu disarankan dokter untuk mengkonsumsi timun. Kebetulan (bahan) makanan yang dipertanyaakan apakah buah atau sayur tersebut sangat mudah didapat, murah dan bahkan bisa didapati secara cuma-cuma di kampung saya. Tak disangka nyana, ibu terus mengkonumsi timun sebagai makanan favorit–bahkan dijadikan camilan. Manis. Gurih. Krauk–hingga akhirnya, lambung ibu mengalami gangguan hebat. Ibu jatuh sakit. Ia tak dapat mengenali orang. Badannya terkulai lemas di tempat tidur beralaskan tikar berbahan daun pandan.

Entah ada hubungannya atau tidak, ibu jatuh sakit setelah meninggalnya adik saya–Sutan Takdir Alisyahbana–yang baru berumur dua bulan, di tahun 1985. Di tengah sakit yang melandanya, Ibu didatangi Almarhum adik lewat mimpi, katanya. “Ibu, bangun. Jangan sakit lagi,” cerita ibu, menirukan apa yang ia lihat di mimpinya. Saya menyandarkan dagu pada lipatan tangan sendiri, mendengarkan cerita-cerita ibu tentang adik yang tak sedikitpun saya bisa ingat garis mukanya. Saya hanya tahu tentang nisan kuburnya di sebelah kepala Nenek Kisman. Itupun kata ibu, dan ibu yakin hanya berdasarkan dia ingat makamnya Nenek Kisman. Keyakinan ibu terkadang meragukanku. Ibu pernah berhenti mengunjungi makam anaknya itu sekian banyak tahun setelah Ibu cerai dengan Bapak pertengahan tahun 1989. Apakah terjadi tumpang tindih dan pergeseran makam di waktu tersebut, bisa iya bisa tidak. Tapi… semoga itu hanya pikiran kirtis saya saja, dan keyakinan ibu tetap benar sampai kapanpun. Jadi saya bisa mengunjungi makam adik saya (lagi) nanti saat pulang kampung, bersama ibu yang masih saja phobia makan timun. Continue reading

Menerangi Senyum Indonesia

listrik-nasional

Sedang asik menonton film lewat pemutar DVD, saya dikejutkan oleh lampu ruang tamu yang seketika terang benderang tak wajar. Saya tidak bisa menahan mata untuk tidak spontan melempar pandangan ke arah lampu. Baru dua kali saya berkedip, ruangan seketika menjadi gelap gulita. Belum selesai saya mengeluhkan mati lampu, tiba-tiba lampu menyala kembali dengan terang yang masih tak wajar, dan… praaaaaaaaak!   Continue reading

Suara Kertas

Soal penataan dokumen dan buku-buku, saya tergolong orang yang rajin dengan predikat kadang-kadang. Tetapi ketika rajinnya muncul, akan begitu khusuk merapikan apa saja yang bisa dirapikan selama sesuatu itu tampak tanpa melibatkan indera keenam. Buku-buku yang tersimpan dengan urutan beda tinggi pasti saya rombak hingga membentuk susunan seragam, semacam barisan pasukan anti huru-hara yang melakukan simulasi.

Di tengah merapikan dokumen dan buku-buku, saya menemukan notebook ukuran sedang bertuliskan merk obat dengan tinta hijau kusam. Saya membuka buku tersebut memastikan apakah perlu dibuang atau dipertahankan. Saat membuka halaman pertama, saya menemukan coretan tak beraturan yang dibubuhi tinta hitam dan tinta biru–saya pikir tidak perlu disimpan. Toh, saya punya buku tulis yang lebih bagus, pikir saya. Sebelum memutuskan dibuang, saya membuka lembaran kedua dengan tangan kanan, sontak tangan dan mata saya terhenti. Saya menemukan catatan istri saya. “ALASTAIR.” Begitu judul tulisannya. Continue reading

Bincang Keluarga Bareng Anji Manji

anjimanji

Selama ini saya hanya berinteraksi lewat media sosial dengan penyanyi solo yang belum lama mengeluarkan single DIA–yang viewers video klipnya di youtube menembus angka dua puluh juta–ini. Saya menghubunginya sekira seminggu lalu saat melihat baliho, bahwa Manji bakal tampil di Balikpapan. Dia membalas pesan saya dan bersedia ditemui untuk bincang-bincang. Singkat cerita, kami ketemu saat soundcheck, berasa sudah sering ketemu sebelumnya meskipun di awal saya agak kagok. hahaha. Continue reading

Seribu Sembilan Puluh Enam Hari

Waktu tiga tahun untuk perjalanan berkarir di sebuah instansi, sudah merupakan titik aman–karena seseorang sudah melewati masa adaptasi, sudah menguasai berbagai tugas dan tanggungjawab utamanya. Namun pada titik aman pertama ini, seorang pekerja mulai dihinggapi perasaan hitung-hitungan, merasa memberi kontribusi lebih dari seharusnya, yang mana jika cara perhitungannya tidak bijak maka tingkat loyalitasnya terancam menurun. Saya tidak mengatakan hal dan waktu tersebut berlaku untuk semua orang, tapi umumnya yang saya temui demikian.

Saya pikir perjalanan pernikahan agak mirip juga dengan berkarir di pekerjaan. Untuk itulah, saya sangat bangga sudah mencapai usia pernikahan tiga tahun–melewati suka duka sebegitu rupa–dengan berupaya untuk tidak membanding-bandingkan atau tidak banyak perhitungan. Tentunya, saya dan istri sangat amat siap melanjutkan perjalanan yang lebih panjaaaaaaaaang lagi, berharap tak menemukan ujung dan tak menemukan jalan putar kembali. Continue reading

Diam Itu Berlian

Seringkali keangkuhan kepala serta-merta merendahkan orang lain yang tidak menampakkan kemampuannya di muka umum, menyepelekan orang-orang diam yang memilih berdiri di barisan belakang. Ya, saya sedang membicarakan kebusukan isi kepala saya sendiri yang tak jarang berlaku tidak adil dalam pikiran. Bahkan terhadap pasangan saya ketika awal-awal mengenalnya. Continue reading