Category Archives: Keluarga

Diam Itu Berlian

Seringkali keangkuhan kepala serta-merta merendahkan orang lain yang tidak menampakkan kemampuannya di muka umum, menyepelekan orang-orang diam yang memilih berdiri di barisan belakang. Ya, saya sedang membicarakan kebusukan isi kepala saya sendiri yang tak jarang berlaku tidak adil dalam pikiran. Bahkan terhadap pasangan saya ketika awal-awal mengenalnya. Continue reading

Pembanding Sebanding Tak Sebanding

Tidak peduli dijadikan suruhan untuk membeli rokok ketengan atau mengambilkan air minum, yang penting saya bisa duduk sedekat mungkin dengan orang yang pandai bermain gitar. Itu saya lakukan di zaman lagu-lagunya Base Jam dan Stinky jadi lagu wajibnya anak nongkrong pinggir jalan di kampung. Di mata saya–waktu itu–orang yang pandai bermain gitar adalah sebahagiabahagianya umat manusia muda. Continue reading

Keajaiban Kasih Sayang Ibu dan Anak

img_20160710_083641_hdr_1468235207711

Kasih Ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menerangi dunia. Lagu berjudul Kasih Ibu karya SM Muchtar tersebut masih sesekali saya dengar hingga kini. Dulu, waktu hanya sebatas sebagai anak, bagi saya lagu tersebut semacam ucapan terimakasih saja—tanpa getaran makna. Sangat berbeda ketika saya mendengarnya sekarang, setelah mejadi bapak yang setiap hari melihat tumbuh kembang anak oleh tangan istri—menangis hati dan mata ini. Ibu mengasihi anaknya sepanjang malam, sepanjang hari, sepanjang napasnya, sepanjang sadar dan tidak sadarnya, sepanjang kesabarannya, sepanjang dunianya. Itulah kenapa  kata ‘sepanjang masa’ paling tepat mewakili sepanjangan-sepanjangan lainnya. Continue reading

My First Book – By Alastair

Saya baru benar-benar menyadari, kalau Pekerjaan Rumah (PR) yang diberikan guru kepada anak murid–sesungguhnya bukan bertujuan mengurangi jatah mainnya anak di luar jam sekolah, melainkan bertujuan untuk melibatkan orang tua secara aktif terhadap proses pendidikan anaknya sekaligus untuk mendekatkan anak dan orang tua dalam proses belajar dan bermain bersama, selalu.

Minggu lalu, guru kelompok bermainnya Alastair memberikan PR untuk membuat foto bercerita dengan tema My First Book. Alastair harus bercerita tentang dirinya, kesehariannya, dan orang tuanya. Bagaimana mungkin anak sekecil itu mampu membuat cerita? Tentu, itu PR yang ditujukan untuk orang tuanya–saya dan istri–supaya menulis dari sudut pandang Alastair. Ini yang membuat saya sadar tentang pernyataan saya di awal tentang PR.

Saya mengambil beberapa foto yang saya sisipkan di paragaraf terkait–tetapi di postingan blog ini, saya menyatukan semua foto yang saya gunakan di buku kecil yang sudah dijilid dan dikumpulkan ke gurunya Alastair itu, supaya tidak kepanjangan. Berikut sepenggal kisahnya Alastair: Continue reading

Menyapih Pakai Hati Dengan Hati-Hati

ZA

Anak adalah suara, warna, dan rasa yang lebih kompleks dari sekadar apa yang bisa dikenali oleh panca indera. Ia mampu membuat orang tuanya: senang sekaligus sedih, kuat sekaligus lemah, berwibawa sekaligus berantakan, sabar sekaligus emosian, kenyang sekaligus lapar, segar sekaligus ngantuk, cakap sekaligus jelek, rajin sekaligus malas. Anak jualah yang mengajarkan gue arti menyayangi orang tua dengan tulus, dan mengingatkan gue untuk terus meminta maaf terhadap orang tua yang perjuangannya membesarkan tak pernah bisa dibalas. Anak itu sungguh luar biasa. Bahkan menghentikan kebiasaan bujang gue tidur telanjang hanya berbalut selimut, karena gue khawatir anak mengira ada batang mainan yang bisa ditarik dan dipindah posisi-kan. Horor! Continue reading

Basa-Basi Bahasa

Berkat cuti beberapa hari, saya jadi tahu ada acara Trans TV yang namanya basa basi—bahas sana bahas sini—yang dipandu oleh Cici Panda. Dan, saya juga baru tahu kalau jerawat Cici Panda yang tumbuh di antara dagu dan mulutnya cukup besar sehingga bedak cukup kesulitan menutupinya.

Yang menarik perhatian saya adalah bahasannya soal parenting, yaitu memahami anak yang terlambat bicara, dengan bintang tamu—saya lupa namanya karena artis tersebut gak begitu laku lagi. Continue reading

Menggila di Bilik ATM!

Pemilik rumah kontrakan (sebut sapa Pak P) yang masih saya tempati hingga hari ini menawarkan tandon kapasitas 1200 liter beserta dudukannya yang terbuat dari kayu ulin separuh harga baru, karena tahu saya bakal pindah ke rumah sendiri–kurang dari dua bulan lagi. Jelas dia tahu, karena saya kasihtahu saat menyampaikan bahwa saya tidak memperpanjang masa kontrak. Ia yang sedang butuh uang tambahan tak segan meminta saya membayar segera, jika berminat. Tentu saya berminat dengan harga murah, kan bisa dijual untung kalaupun tidak dipakai. Ahaha! Continue reading