Category Archives: Perjalanan

100 Hari yang Melelahkan (?)

Seratus hari, waktu yang tidak terlalu singkat juga tidak terlalu panjang. Tergantung dari sisi mana mata melihat sudut pandangnya. Saat-saat ini, ketika kalimat seratus hari muncul di media, dengan mudah orang menangkap maksud di baliknya, sebelum membaca detail isinya. Ya, masa kerja Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla beserta para jajaran Pemerintah yang bekerja di bawah kabinetnya.

Kenapa hari yang melelahkan? Continue reading

Kekuatan Visi dan Indonesia Baru

Dalam perjalanan gue menuju Palembang beberapa waktu lalu, menggunakan jasa Lion Air, gue terdiam melihat salah satu halaman majalah yang tersedia, yaitu sebuah artikel tentang Kekuatan Visi. Ketertarikan gue berawal dari kutipan yang mengawali tulisan tersebut.

“Vision without work is day dream, work without vision is a nightmare.” – Japanese Proverb.

Continue reading

Titik Pertama; Terimakasih Cinta

“Pernikahan bukanlah sebuah tujuan, melainkan awal dari suatu perjalanan panjang.” Untuk itulah kenapa hati teliti mencari bagiannya untuk menuju akhir waktu penuh cinta nan bahagia. Untuk itulah kenapa dua jiwa menyatukan komitmen untuk saling menggenggam, saling menunjukkan jalan agar tak tersesat. Untuk itulah kenapa perjuangan semakin dibutuhkan, biar lidah tak mudah mengucapkan kata lelah yang menimbulkan keeratan cinta kasih menjadi lemah. Continue reading

Cita-Cita, Bali, dan Kenangan

Gw gak inget lagi, apa cita cita gw waktu kecil dulu. Yang gw inget, cita cita semasa SMA. Jadi sopir angkot executive. Angkot yang dikerubutin gadis-gadis SMA di setiap pagi jam berangkat sekolah dan siang jam pulang sekolah. Aneh? Ya biarin aja. Cita cita anak umuran labil ini.

Dan iya, cita cita beberapa tahun lalu. Tepatnya ada dua cita-cita. 1).  Cita cita yang tiba-tiba muncul gara gara baca postingan blognya @ichanx. Yaitu ke Bedugul, Bali, foto di depan pura. Pura yang gambarnya sampe sekarang masih tercantum di duit 50.000 Rupiah. 2). Cita cita punya pacar, dan akan berlibur dengannya ke Bali, termasuk ke Bedugul.

Tapi lama banget baru kesampaian. Padahal tiap cuti, mau pulang ke kampung halaman, Bima, pasti gw transit di Bali. Menginap. Selalu gak sempet ke Bedugulnya. Hmmm…

Nah, liburan terakhir kemarin, akhirnya kesampaian juga. Ke Bedugul hanya beberapa puluh menit saja, selesai foto foto, pulang. Eh, banyak yang ikutan foto-foto sambil megang duit 50.000 gara-gara ngeliat gw. Pada gak kreatif, dan gak nyadar kalo tempat yang mereka kunjungi adalah sama dengan gambar yang ada duit 50.000 itu *Padahal gw juga ikut-ikutan* 😀

Gw ke Bali bersama si pacar. Biasalah, anak muda yang bersahaja ya gitu. Janjian ketemu di sana. Kebetulan pas gw cuti. Si pacar juga cuti. Liburan deh kita. Dan dua cita-cita terwujud juga.

Errr…Gw pikir liburan perwujudan dua cita-cita ini akan menjadi liburan bersejarah. Sejarah yang mengalahkan kisah romi dan yuli. Ternyata…liburan itu hanyalah awal dari kisah asmara yang akan libur. Ya. Setelahnya, hubungan asmara gw dan si pacar yang liburan. Kita putus *Masalah asmara pada tau lah…gak perlu gw tulis…gitu deh*

Itulah sebabnya, kenapa foto dalam postingan ini jelek. Kualitasnya suram. Waktu itu gw foto foto pake kameranya dia. Foto belum sempat berpindah tangan, malah putus. Gw minta fotonya, kagak dikasih. Yang ada hanya foto yang diambil pake kamera henpon sekarat gw. Pas kabut pula.

Eh, KENAPA GW JADI CURHAT GINI? *tutup blog* 😀

Apah, PIN BBM? Gak Ada!

Pernah diketawain cewek di depan umum? Gw pernah!

Bukan karena resleting celana gw rusak, terus si cewek ketawa jungkir balik karena melihat isi celana gw yang super unyu. Bukan. Ini hanya soal selera dan persepsi saja. Halah!

Bosen menunggu boarding time di Bandara Sokerano-Hatta, menunggu kedatangan pesawat berlambang singa ngondek yang terlalu kemayu sampe selalu datang setelah semangat penumpang layu, bikin gw pengen melakukan sesuatu untuk mengalihkan konsentrasi kejenuhan. Ya. Foto foto. Tapi sama siapa? gw kan sendiri?

Lirik kiri lirik kanan. Ehm…nemu Mbak Mbak seksi. Maju sok cuek secara teratur, ehm ehm pura pura batuk biar ketauan kalo gw ada di sampingnya si Mbak. Dia melirik selewat. Tapi gw merasa, keberhasilan sudah di depan mata.

“Misi, Mbak. Minta tolong fotoin Saya, bisa?”

“Hahahaha….geloooo!” *ngakak sampe megang perut, dan nunduk nunduk*

“Loh kenapa, Mbak? Ada yang salah? Atau gak mau?”

“Ada yah cowok kayak situ. Gak punya malu. Di tempat serame ini, sok akrab minta difotoin”

“Mau gak? Ish…malah ngejek!”

“Hahahahaha…boleh deh. Tapi saya ketawa dulu yah?!”

Ok. Daftar cewek lebay dalam kehidupan gw bertambah satu. Hanya minta tolong difotoin aja, ketawanya sampe segitunya. Kayak lagi ngeliat kucing kawin sama ayam, terus cakar-cakar hingga membentuk lambang lope lope di tanah. Kalo gak mau, ya tinggal bilang…”Mas, gak perlu foto-foto deh. Kamu udah ganteng kok. Saya takut jatuh cinta sama situ”. Ok, fine! Gw suka cewek jujur. Gw gak akan memaksa untuk difotoin kalo dia jujur seperti itu.

Setelah dia puas ketawa, BBnya gw kasih. Dia menyambut (masih) penuh dengan kegelian. Jepret pertama, hasil kurang memuaskan. Jepret lagi, masih juga kurang puas. Jepret lagi dan lagi hingga kesekian kali, hasilnya kurang lebih dan si Mbak mulai terlihat muak.

Ok, cukup. Memang hasilnya gak akan bisa berubah banyak. Tampangnya memang sudah maksimal segitu. Gak bisa dipaksain. Hasil yang paling bagus aja kayak foto di samping. Kusut. Bungkuk. Kayak orang cacingan. Gw gak bikin si Mbak ketawa puas untuk kesekian kalinya.

Gak disangka. Setelah itu malah berbincang ringan, dengan candaan renyah. Sampe obrolin soal asalnya dari mana, kerja di mana, mau ke mana. Yah, walaupun awalnya mbulet, si mbak seakan gak mau mengakui asalnya dari mana. Sampe akhirnya ngaku juga kalo dia orang Samarinda yang saat ini kerja bolak balik Jakarta-Lombok.

Mendengar kata Lombok, gw langsung bilang “Saya pernah kerja di deket sana yang hampir tiap libur saya pasti ke Lombok”. Obrolan pun semakin asik. Ehm...(bukan sombong sih ya) dia yang malah ketagihan untuk mengobrol.

Tiba-tiba gw dan penumpang lainnya dengan tujuan yang sama disuruh pindah ke pintu masuk lainnya. Dan obrolan dengan si Mbak mau gak mau harus disudahi. Sebelum gw melangkahkan kaki, si Mbak nanya, “Ada PIN BB, Mas?”. Dengan lantang penuh kesombongan gw bilang “Gak ada!”. Hahahaha…akhirnya 1-1. Akhirnya gw bisa kejam, bales dendam menertawakan. Pertanyaannya salah sih. Tadinya kan Blackberry gw dia pegang. Harusnya minta PIN dong, bukan nanya ada PIN apa enggak 😛

Oh ya, buat kalian yang Jomblo, bisa tuh modus minta tolong fotoin dijadikan senjata untuk mendapatkan nomor henpon/PIN BBM/Alamat mail atau sekedar dapet temen ngobrol di kala terlantar dalam kesendirian di jalan *Dikeplak semua orang*

Dari Babon Hingga Hiu (Asam Garam)

Dari kecil, istilah “asam garam” sudah sangat familiar di telinga. Tapi tetep aja gw merasa aneh dengan istilah itu. Banyak makan asam garam = sudah sangat berpengalaman (lebih banyak ditujukan untuk orang tua). Kenapa peribahasa untuk orang yang banyak pengalaman, adalah banyak makan asam garam? Kenapa gak yang lain? Apa karena kecut asinnya? Lah…melewati proses pengalaman itu kan ada pahitnya, ada manisnya, gak melulu kecut dan asin. Ah, percuma juga gw protes, peribahasa itu tetep aja (akan) digunakan sampe gw punya anak istri entah kapan nanti, bahkan sampe waktu yang tidak ditentukan lagi.

Baik. Daripada ngomongin peribahasa, yang peri-nya entah dimana, cantiknya seperti apa, mending ngomongin gw. Jelas. Jelas ketidakjelasannya dan ketidakwarasannya. Bhihik…

Setelah enam tahun gw terjebak di hutan belantara, tanpa peradaban yang mendebarkan jiwa muda yang membara, sempat terpikir gw akan selamanya menjadi pengembara *gigit gigit bra* **cih! blah! Ternyata masker bekas tukang sedot tinja* ~ Ternyata tidak. Sekarang terpotong waktunya. Gw terbawa nasib di daratan yang sangat deket dengan bibir laut.

Yak. Gw sekarang menjadi seorang pekerja di daerah pinggir laut, di belahan Kalimantan Timur. Tepatnya Balikpapan. Tinggalnya sih di Kota. Tapi…tiap pagi dan sore, gw harus naik boat dari/menuju tempat kerja. Makan angin laut, minum air laut, kecupin ikan hiu, adalah menu hari hari gw. Menyenangkan??? HENTIKAN PERTANYAAN ITU, BARBARA!!! ~ Jawabannya tidak.

Nah, dari pengalaman gw yang sekian lama main sama babon di hutan, kemudian sekarang (udah hampir 2 bulan) tiap hari main sama hiu di laut, gw mendapat pencerahan tentang istilah “asam garam” itu *berharapnya pencerahan tentang jodoh…tapi dapetnya pencerahan asam garam, yasudahlah…*.

[Babon=Hutan=Asam].

[Hiu=Laut=Garam].

[Gw=Jomblo=Terlantar].

Ya ya ya…itu toh rumus pengalaman.

Pengalaman dan perjalanan panjang. Proses melewati pengalaman, meraih mimpi, bertanggungjawab dengan kehidupan, gw lebih suka menyebutnya “pahit manisnya kehidupan”. Walaupun sudah dapet pencerahan tentang rumus pengalaman asam garam tadi. Teteup…

Dan…inilah alat transportasi yang gw tumpangin tiap hari. Media yang mempertemukan gw dengan hiu. Si asin yang sama sekali gak gw harepin akan jadi jodoh gw *Yakaliii…*

Sekarang gw harus menanggung perut kembung, mual-mual, kulit kering, bibir pecah belah, mata merah putih, dengan intensitas waktu yang cukup sering. Karena keseringan bercinta hebat dengan hiu??? Gw rasa (mungkin) tidak. Itu karena terpapar angin laut sehari-hari, dalam kondisi gw yang belum terbiasa dengan kehidupan yang semakin aneh ini.

Solusinya: Harus ada yang merawat, yang memperhatikan, yang menemani, dalam wujud yang halal serta dihalalkan.

Masaaaa….dari gw akrab sama babon hingga gw akrab sama hiu, gak ada satupun cewek yang nyantol dengan nama gw di catatan KUA?! Hasek!

Ada yang berminat??? Eaaaa….. *eaaa sampe Lebaran Haji* #mureee

Kutukan Airport

Bandara lagi dan lagi. Bosen? Ah, gw yang ngalamin dan punya cerita aja bosen kok. Apalagi yang baca ceritanya. Tapi gak apa-apa, daripada gak punya cerita, yang lama kelamaan blog ini jadi ruang kosong yang hampa, sehampa hati pecinta yang tak pernah dicintai.

Telat nyampe bandara lagi? Enggak juga. Walaupun gw gak pinter, tapi gak sebodoh itu juga untuk terus melakukan kesalahan yang sama. Telat kok hobi. Ngaji tuh dijadiin hobi *ehm* **benerin peci**

Waktu gw dari Jakarta ke Medan, yang akan di teruskan ke Aek Godang (Googling kalo gak tau), gw harus transit di Bandara Polonia Medan selama 2 jam. Nunggu penerbangan berikutnya dengan menggunakan Susi Air. Loket untuk check in Susi Air masih belum buka. Harus nunggu 1 Jam. Fiuh…

Setelah menunggu dari jam 1 sampe jam 2 siang, loket akhirnya buka juga. Nasib deh. Habis check in, gejala kutukan mulai kerasa. Perut gw yang mulai membuncit mendadak mules. Dem! “Kenapa gak dari tadi sih!”, ucap gw menyalahi diri sendiri.

Sibuk nyari toilet terdekat. Masuk toilet. Oh tidak….toiletnya toilet jongkok, bukan toilet duduk. Mana gak ada buat gantungin celana pula. Ok. Gw copot sepatu, copot celana. Terus celananya gw lipet kecil, ditaruh di atas sepatu. Cerdas banget gak sih gw? *halah*

Hampir sejam gw di toilet, perut masih juga gak beres. Terdengar dari kejauhan, “Panggilan kepada para penumpang Susi Air, silakan masuk ke ruang tunggu”. Hati gw mulai gak tenang. Takut masih lama aja mulesnya. Gak lama kemudian, terdengar lagi panggilan, “Kepada para penumpang Susi Air tujuan Aek Godang, silakan naik ke Pesawat melalui pintu 4”. Buru buru gw beresin hajatannya. Dari pada ketinggalan? Tuntas gak tuntas, pokoknya disudahi ajalah.

Nah, kekuatiran gw masih ada. Mules lagi di Pesawat. Sementara Susi Air yang hanya bekapasitas 12 orang itu gak ada toilet. Gw sempetin nyari obat mules dulu dong. Ihirrrr…padahal udah panik tingkat Dewa gw.

Waktu gw bayar obat, terdengar lagi panggilan, “PANGGILAN KEPADA IBU ZIA ULHAQ, HARAP NAIK KE PESAWAT MELALUI PINTU 4”. Aih…matek! Masa ganteng begini dipanggil Ibu sih *Nangis di pangkuannya Bunda Dorce*

Lariiiii….

Bener-bener kutukan deh kalo gw berurusan dengan Airport dan Penerbangan. Dateng lebih awal 2 jam, tetep aja hampir ketinggalan. Sama kayak kejadian dulu dan waktu itu.

Nyampe di atas Pesawat, orang orang udah pada duduk manis. Seperti biasa, semua mata menatap sinis ke arah gw. Berhubung gw dapet nomor kursinya nomor 2, gw maju kedepan (pintu aksesnya dari belakang). Tapi habis itu gw ke belakang lagi. Soalnya ada 1 kursi paling belakang yang kosong. Habis itu gw maju lagi, kayaknya enak di depan. Dan….untuk terakhir kalinya, gw ke belakang lagi. Yang di depan tua tua sih he2. Kayaknya orang orang udah mau makan gw semua. Tatapannya penuh emosi melihat gw yang mondar-mandir. Gw pura pura gak tau aja.

Nyampe Aek Godang, gw kaget. Tumben Airport-nya rame banget. Penuh dengan kerumunan orang-orang. “Tau aja kalo ada Artis dateng”, ujar gw dengan najisnya ke penumpang yang ada di sebelah.

Turun dari pesawat. Yang jemputin penumpang lain banyak banget. Pejabat-pejabat, kepolisian. Ada apa ini??? Ah, cuek aja. Gw malah minta Pilotnya yang mirip banget ama gw untuk turun dan foto bareng.

Pas gw nyampe parkiran, wow…penuh dengan mobil mewah dengan plat merah beserta dengan mobil polisi. Dan orang banyak banget Penasaran dong gw.

“Rame banget, ada apaan, Pak?”, tanya gw sama salah satu Pak Polisi yang ada disitu. “Ada Gubernur Sumatera Utara, Mas”, jawab Pak Polisi dengan tegasnya. “Gubernur? Emangnya dari mana mau ke mana, Pak?”, tanya gw lagi. “Lah, tadi yang se-pesawat sama Mas, itu Bapak Gubernur. Pak Gatot”.

APAAAHHH??? *zoom in zoom out*

Pantesan aja waktu gw telat pada heboh manggil manggil Ibu Zia Ulhaq. Terus waktu gw maju mundur di Pesawat penuh dengan tatapan tatapan yang mengandung unsur emosi. Ada Bapak Gubernur beserta pengawalnya pemirsa *Kutuk diri sendiri jadi Nicholas*