Category Archives: Perjalanan

Tips: Menghindari Penipuan Lowongan Kerja

Ketika kau menemukan tips di laman blog ini, itu artinya keajaiban sedang terjadi. Sebab keajaiban adalah hal yang jarang-jarang dijumpai. Begitu juga dengan kesialan. Saya menulis ini karena hal terakhir, dialami orang terdekat saya.

Baru-baru ini kawan saya dan adik saya hampir kena tipu panggilan wawancara kerja yang kurang lebih menggunakan modus serupa. Bedanya, kawan saya dipanggil dari Nusa Tenggara Barat ke Sangatta, Kalimantan Timur, sementara adik saya dari Balikpapan ke Jakarta.

Tidak sulit saya membuktikan kecurigaan bahwa itu adalah penipuan. Saya cek di alamat email; hrd@vico.zz.vc dan pt.indofoodtbk@yandex.com. Itu adalah alamat email kampret! Continue reading

Mudik Meriah dengan Mobil Murah

Pertemuan keluarga, di tempat yang jauh, di acara yang mengumpulkan keluarga dekat keluarga jauh, keluarga dekat yang merasa jauh, keluarga jauh yang merasa dekat, jauh dari kampung, jauh dari kata dekat, pokoknya jauh, selalu menimbulkan obrolan yang mengerucut pada pembahasan mudik, baik berupa pertanyaan maupun pernyataan. Mungkin rindu kampung yang terucapkan dalam bentuk kalimat lain, akan berakhir pada tanya yang nyata atau nyata yang penuh tanya seperti itu—tentang mudik dan lebaran yang tak terpisahkan . Continue reading

100 Hari yang Melelahkan (?)

Seratus hari, waktu yang tidak terlalu singkat juga tidak terlalu panjang. Tergantung dari sisi mana mata melihat sudut pandangnya. Saat-saat ini, ketika kalimat seratus hari muncul di media, dengan mudah orang menangkap maksud di baliknya, sebelum membaca detail isinya. Ya, masa kerja Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla beserta para jajaran Pemerintah yang bekerja di bawah kabinetnya.

Kenapa hari yang melelahkan? Continue reading

Kekuatan Visi dan Indonesia Baru

Dalam perjalanan gue menuju Palembang beberapa waktu lalu, menggunakan jasa Lion Air, gue terdiam melihat salah satu halaman majalah yang tersedia, yaitu sebuah artikel tentang Kekuatan Visi. Ketertarikan gue berawal dari kutipan yang mengawali tulisan tersebut.

“Vision without work is day dream, work without vision is a nightmare.” – Japanese Proverb.

Continue reading

Titik Pertama; Terimakasih Cinta

“Pernikahan bukanlah sebuah tujuan, melainkan awal dari suatu perjalanan panjang.” Untuk itulah kenapa hati teliti mencari bagiannya untuk menuju akhir waktu penuh cinta nan bahagia. Untuk itulah kenapa dua jiwa menyatukan komitmen untuk saling menggenggam, saling menunjukkan jalan agar tak tersesat. Untuk itulah kenapa perjuangan semakin dibutuhkan, biar lidah tak mudah mengucapkan kata lelah yang menimbulkan keeratan cinta kasih menjadi lemah. Continue reading

Cita-Cita, Bali, dan Kenangan

Gw gak inget lagi, apa cita cita gw waktu kecil dulu. Yang gw inget, cita cita semasa SMA. Jadi sopir angkot executive. Angkot yang dikerubutin gadis-gadis SMA di setiap pagi jam berangkat sekolah dan siang jam pulang sekolah. Aneh? Ya biarin aja. Cita cita anak umuran labil ini.

Dan iya, cita cita beberapa tahun lalu. Tepatnya ada dua cita-cita. 1).  Cita cita yang tiba-tiba muncul gara gara baca postingan blognya @ichanx. Yaitu ke Bedugul, Bali, foto di depan pura. Pura yang gambarnya sampe sekarang masih tercantum di duit 50.000 Rupiah. 2). Cita cita punya pacar, dan akan berlibur dengannya ke Bali, termasuk ke Bedugul.

Tapi lama banget baru kesampaian. Padahal tiap cuti, mau pulang ke kampung halaman, Bima, pasti gw transit di Bali. Menginap. Selalu gak sempet ke Bedugulnya. Hmmm…

Nah, liburan terakhir kemarin, akhirnya kesampaian juga. Ke Bedugul hanya beberapa puluh menit saja, selesai foto foto, pulang. Eh, banyak yang ikutan foto-foto sambil megang duit 50.000 gara-gara ngeliat gw. Pada gak kreatif, dan gak nyadar kalo tempat yang mereka kunjungi adalah sama dengan gambar yang ada duit 50.000 itu *Padahal gw juga ikut-ikutan* 😀

Gw ke Bali bersama si pacar. Biasalah, anak muda yang bersahaja ya gitu. Janjian ketemu di sana. Kebetulan pas gw cuti. Si pacar juga cuti. Liburan deh kita. Dan dua cita-cita terwujud juga.

Errr…Gw pikir liburan perwujudan dua cita-cita ini akan menjadi liburan bersejarah. Sejarah yang mengalahkan kisah romi dan yuli. Ternyata…liburan itu hanyalah awal dari kisah asmara yang akan libur. Ya. Setelahnya, hubungan asmara gw dan si pacar yang liburan. Kita putus *Masalah asmara pada tau lah…gak perlu gw tulis…gitu deh*

Itulah sebabnya, kenapa foto dalam postingan ini jelek. Kualitasnya suram. Waktu itu gw foto foto pake kameranya dia. Foto belum sempat berpindah tangan, malah putus. Gw minta fotonya, kagak dikasih. Yang ada hanya foto yang diambil pake kamera henpon sekarat gw. Pas kabut pula.

Eh, KENAPA GW JADI CURHAT GINI? *tutup blog* 😀

Apah, PIN BBM? Gak Ada!

Pernah diketawain cewek di depan umum? Gw pernah!

Bukan karena resleting celana gw rusak, terus si cewek ketawa jungkir balik karena melihat isi celana gw yang super unyu. Bukan. Ini hanya soal selera dan persepsi saja. Halah!

Bosen menunggu boarding time di Bandara Sokerano-Hatta, menunggu kedatangan pesawat berlambang singa ngondek yang terlalu kemayu sampe selalu datang setelah semangat penumpang layu, bikin gw pengen melakukan sesuatu untuk mengalihkan konsentrasi kejenuhan. Ya. Foto foto. Tapi sama siapa? gw kan sendiri?

Lirik kiri lirik kanan. Ehm…nemu Mbak Mbak seksi. Maju sok cuek secara teratur, ehm ehm pura pura batuk biar ketauan kalo gw ada di sampingnya si Mbak. Dia melirik selewat. Tapi gw merasa, keberhasilan sudah di depan mata.

“Misi, Mbak. Minta tolong fotoin Saya, bisa?”

“Hahahaha….geloooo!” *ngakak sampe megang perut, dan nunduk nunduk*

“Loh kenapa, Mbak? Ada yang salah? Atau gak mau?”

“Ada yah cowok kayak situ. Gak punya malu. Di tempat serame ini, sok akrab minta difotoin”

“Mau gak? Ish…malah ngejek!”

“Hahahahaha…boleh deh. Tapi saya ketawa dulu yah?!”

Ok. Daftar cewek lebay dalam kehidupan gw bertambah satu. Hanya minta tolong difotoin aja, ketawanya sampe segitunya. Kayak lagi ngeliat kucing kawin sama ayam, terus cakar-cakar hingga membentuk lambang lope lope di tanah. Kalo gak mau, ya tinggal bilang…”Mas, gak perlu foto-foto deh. Kamu udah ganteng kok. Saya takut jatuh cinta sama situ”. Ok, fine! Gw suka cewek jujur. Gw gak akan memaksa untuk difotoin kalo dia jujur seperti itu.

Setelah dia puas ketawa, BBnya gw kasih. Dia menyambut (masih) penuh dengan kegelian. Jepret pertama, hasil kurang memuaskan. Jepret lagi, masih juga kurang puas. Jepret lagi dan lagi hingga kesekian kali, hasilnya kurang lebih dan si Mbak mulai terlihat muak.

Ok, cukup. Memang hasilnya gak akan bisa berubah banyak. Tampangnya memang sudah maksimal segitu. Gak bisa dipaksain. Hasil yang paling bagus aja kayak foto di samping. Kusut. Bungkuk. Kayak orang cacingan. Gw gak bikin si Mbak ketawa puas untuk kesekian kalinya.

Gak disangka. Setelah itu malah berbincang ringan, dengan candaan renyah. Sampe obrolin soal asalnya dari mana, kerja di mana, mau ke mana. Yah, walaupun awalnya mbulet, si mbak seakan gak mau mengakui asalnya dari mana. Sampe akhirnya ngaku juga kalo dia orang Samarinda yang saat ini kerja bolak balik Jakarta-Lombok.

Mendengar kata Lombok, gw langsung bilang “Saya pernah kerja di deket sana yang hampir tiap libur saya pasti ke Lombok”. Obrolan pun semakin asik. Ehm...(bukan sombong sih ya) dia yang malah ketagihan untuk mengobrol.

Tiba-tiba gw dan penumpang lainnya dengan tujuan yang sama disuruh pindah ke pintu masuk lainnya. Dan obrolan dengan si Mbak mau gak mau harus disudahi. Sebelum gw melangkahkan kaki, si Mbak nanya, “Ada PIN BB, Mas?”. Dengan lantang penuh kesombongan gw bilang “Gak ada!”. Hahahaha…akhirnya 1-1. Akhirnya gw bisa kejam, bales dendam menertawakan. Pertanyaannya salah sih. Tadinya kan Blackberry gw dia pegang. Harusnya minta PIN dong, bukan nanya ada PIN apa enggak 😛

Oh ya, buat kalian yang Jomblo, bisa tuh modus minta tolong fotoin dijadikan senjata untuk mendapatkan nomor henpon/PIN BBM/Alamat mail atau sekedar dapet temen ngobrol di kala terlantar dalam kesendirian di jalan *Dikeplak semua orang*