Category Archives: Personal

Kenapa Menjadi Kaya Itu Penting

Kenapa harus Kaya?

Kenapa tidak?

Sesuatu yang sangat menggairahkan saya untuk menjadi kaya itu adalah hasrat belajar yang tinggi dan kemampuan berbagi tak berbatas. Semakin bertambah usia, kebutuhan belajar semakin tinggi. Semakin matang sang diri, kebutuhan untuk berbagi semakin besar. Semakin menua, kebutuhan menjadi bermanfaat semakin tak terkendali. Untuk menjadi orang yang memenuhi paling tidak tiga kebutuhan besar tersebut, tentu butuh cara khusus melipatgandakan waktu kehidupan, salah satunya dengan menjadi kaya.

Begini…

Pergi ke sana ke mari yang hampir setiap hari dilakukan, cukup menguras banyak sekali waktu untuk menyetir. Belum lagi waktu tunggu yang tidak sedikit. Belum lagi macet dan hal-hal penyita waktu lainnya. Dengan menjadi kaya, saya bisa membayangkannya dengan sangat jelas, menyetir cukup dilakukan oleh Bapak sopir pribadi, saya tinggal duduk manis di samping atau di belakang melakukan hal yang lebih penting: membaca buku, update majalah bisnis, menelepon orang tua dan kerabat sahabat lebih sering, membantu mengurus persoalan bisnis dan orang lain secara digital, membuat konsep karya-karya besar, memantau perkembangan pasar modal, dan lain sebagainya.

Menyetir memang sebuah kesenangan, tetapi kalau menjadi suatu rutinitas yang karenanya waktu kita jadi sempit, sebaiknya oleh sopir saja. Kalau mau memenuhi kesenangan lewat menyetir, sesekali kalau lagi pengin rehat dari konsep paragraf selanjutnya. Atau sekalian main di sirkuit off road ataupun on road proffesional. Atau paling tidak lewat kegiatan touring keluarga atau touring relasi.

Kalau sekadar kaya dalam konteks punya banyak harta, punya sopir pribadi hanya untuk manja-manjaan atau malas-malasan, saya pikir inilah sedikit kekeliruan yang membuat banyak orang memandang sinis situasi kekayaan, lantas tidak sedikit yang antipati. Baik antipati terhadap orang kaya, maupun antipati terhadap menjadi kaya itu sendiri. Jadilah kaya untuk kemudian menjadi manfaat besar bagi kehidupan.

Dengan kaya juga, hal-hal remeh temeh lain yang menyita waktu dengan hasil manfaat kecil, bisa diganti dengan membayar orang untuk melakukannya, kemudian waktunya kita pakai untuk melakukan hal lebih penting yang manfaatnya besar. Salah satunya dengan terus membuat tulisan inspiratif, yang menggungah selera jiwa sebanyak mungkin umat manusia.

Bahkan yang ada di benak saya, nantinya saya memiliki fotografer sekaligus videografer pribadi dan editor pribadi. Mereka akan sangat sering ke mana-mana bersama saya. Tidak hanya memotret diri dan kegiatan saya, melainkan memotret apa saja konsep yang saya inginkan. Saya terima jadi, tinggal pakai dan posting. Saya tinggal ngomong, baik bicara depan kamera atau biacarain konsep, sudah ada tim yang menggarap hingga jadi. Modal saya yang besar, dan yang bisa saya lakukan dengan maksimal adalah berkata-kata. Jadi, kalau saya mau update IG, foto sudah siap disajikan oleh tim sendiri, saya tinggal meracik caption yang indah dan fantastis. Kalau soal tulis menulis, sampai detik ini, adalah sesuatu yang bagi saya tidak bisa tergantikan. Karena tulisan bagi saya, adalah ide dan pemikiran dan gaya yang di dalamnya saya punya energi besar untuk membuat tulisan menjadi hidup. Bukan dalam rangka berbangga diri berlebihan, melainkan ini tentang area atau hal yang dapat saya lakukan sangat maksimal, dibandingkan kemampuan lain saya yang minimal. Selain menulis, saya juga punya kemampuan yang maksimal dalam berkomunikasi dan berbicara. Keduanya adalah tentang berkata-kata.

Dan yang paling menyenangkan dalam benak saya saat ini, ketika menvisualisasikan itu semua, adalah betapa banyaknya orang yang bekerja bersama saya, mengambil manfaat dari pemikiran dan ide saya, menjadi orang yang tumbuh kembang karena ajakan saya untuk besar dan sukses bersama. Terlebih keluarga, tentu akan memetik manfaat yang sangat besar dari ini semua.

Yang terpenting adalah, kita senantiasa menjadi orang yang pandai bersyukur, dan tidak lupa diri.

gambar diambil dari: sini

Cita-Citaku di Hari Senin

Hari senin aku mencatat cita-citaku di buku tulis berwarna cokelat lembut dan hijau pucuk. Sengaja aku menulis ulang supaya cita-cita yang aku catat di hari senin itu bisa menggandakan dirinya pada hari selasa, rabu, kamis, jumat, dan sabtu. Hari minggu tidak perlu. Bercita-cita pun butuh liburan, seperti pendidikan dan pekerjaan.

Cita-citaku adalah memiliki perusahaan sendiri, yang memperkerjakan ribuan orang-orang baik. Bajingan juga boleh, tetapi yang sudah belajar menjadi baik. Sebenarnya ini adalah kembangan dari cita-cita terdahuluku. Dulu, aku sangat berkeinginan bekerja mengelola ribuan orang, atau ratusan orang tak apalah, mengelola dalam artian sejumlah ratus dan ribu yang kusebut tersebut adalah di bawah kendaliku langsung.

Paling tidak dengan cita-cita seperti itu aku bisa berbuat baik semaksimal mungkin terhadap sebanyak mungkin orang dengan jumlah yang kusebutkan tadi. Bukan mau sok-sokan punya banyak anak buah. Urgh. Aku tidak suka istilah anak buah, seringkali bikin orang tertentu gila hormat dan gila jabatan. Aku lebih suka menyebutnya anggota atau partner, rasanya lebih nyaman di hati dan senyuman.

Cita-cita awal belum kuraih. Aku bekerja tidak memiliki anggota sebanyak itu. Hanya lima orang. Karena tidak kesampaian bekerja mengelola langsung ratusan hingga ribuan orang, jadi cita-citanya kuubah saja dengan memiliki perusahaan sendiri. 

Kalau kamu punya cita-cita yang belum kesampaian, coba saja cara seperti ini. Bukan menurunkan tingkat dari cita-cita itu sendiri, melainkan justru mengubahnya menjadi lebih besar lebih hebat lebih fantastis lebih spektakuler lebih wow lebih aduhai. Tidak perlu terpengaruh dengan bisikan pesimis orang-orang yang bukan isi hatimu sendiri.

Seperti hal lalu yang pernah kualami–meski bukan soal cita-cita–sewaktu kuliah, di mana beberapa kawan menertawaiku yang sedang berbahasa jawa. Cara bicaramu sungguh aneh, katanya. Sebaiknya kau berbahasa Indonesia saja, katanya lagi dan lagi. Sindiran seperti itu seringkali kudengar, tidak sekadar sekali dua. Memang dasarnya aku, bukannya gentar, bukannya mengikuti saran mereka, aku justru semakin bicara dan terus bicara tanpa kenal malu. Mau benar mau salah, peduli setan saja lah, pikirku. Justru karena terdengar aneh itu lah aku harus terus belajar dan berbicara sampai tidak terdengar aneh. Setidaknya tidak aneh-aneh amat.

Sama halnya juga dengan seseorang yang membuat karya video, awalnya tidak begitu dipandang karena karya-nya bisa banget. Orang sukses, harus semakin menempa dirinya supaya lebih pantas untuk dianggap ada. Bukan sebaliknya, meninggalkan usaha dan karya hanya karena sindiran tidak penting itu. Sindiran itu penting sebenarnya jika kita melihatnya sebagai pemicu untuk menjadi lebih baik, tetapi tidak penting jika sindiran itu membuat kita kepikiran dan jadi orang pesimistis.

Kamu kamu yang sudah membaca hingga di barisan ini, tanggung dong kalau sudah sejauh ini tanpa berucap amin? 

Semoga segera datang saatnya saya memiliki perusahaan sendiri. Aaa? Aaamiiinnnn….

Surga di Telapak Kaki Ibu dan Bapak

Katanya, anak yang baik adalah anak yang mengangkat (derajat) orang tuanya. Mari kita menggendong orang tua! 😁

Menurut saya surga itu ada di Ibu dan Bapak. Kita tidak akan memiliki seorang Ibu jika Bapak tidak berjuang merayu Ibu hingga menikahlah keduanya. Kita tidak akan memiliki Ibu jika darah daging Bapak tidak diturunkannya. Ibu itu surga, Bapak itu jalan dan pintu menuju surga. Mana bisa kita bisa tiba di surga jika tidak ada jalan dan pintunya?

Sebelum saya lanjut menulis, daripada para pembaca yang budiman berkutat dengan pertanyaannya, sebaiknya saya jawab dulu pertanyaan para pembaca yang tidak terucap itu. Kok mau sih ibu-bapaknya difoto seperti itu? Kok mau-maunya sih digendong begitu? Kok kuat sih?

Jawabannya sederhananya hanya 2:
1. Untuk meyakinkan orang tua agar mau digendong dan mau difoto sambil digendong dengan hati riang gembira, itu butuh skill komunikasi yang diasah sepanjang hidup dengan cinta dan kasih sayang
2. Menggendong orang tua seberat itu tanpa merasa berat, juga butuh skill, dan hanya mampu dilakukan dengan kekuatan cinta dan kasih sayang.

Ahay!

Setelah mengikuti agenda ‘Indonesia OSH Leader Summit 2018″ di Hotel Anvaya Bali pada tanggal 24-25 Oktober kemarin, Jum’at 26 Oktober saya usahakan ke Bima dua hari, demi bertemu memeluk Ibu sama Bapak. Kangen euy!

Seperti kebiasaan saya yang sudah-sudah, pulang selalu menjadi kejutan. Saya tidak memberitahu orang tua, tiba-tiba nongol saja di rumah. Bahkan waktu mudik lebaran dengan anak istri pun, kami tiba-tiba muncul di depan rumah. Apa orang tuanya gak teriak mau copot jantung? Hahaha.

Ibu kan ada kios. Pulang kemarin saya datang berpura-pura jadi pembeli, jaket dan helm dan wajah yang agak ditutup tak saya lepas. Begitu beliau nanya mau beli apa, saya buka helmnya, dan… Eaaaaaa Ibu menangis. Lalu saya diamkan dengan pelukan dan kecupan. Muah!

Tak lama saya ke tempat Bapak. Bapak sedang duduk di motor, menunggu seseorang. Dengan gaya rem mendadak tapi gak sampai ban berdecit, saya berhenti persis di samping bapak sambil berteriak, “Assalamualaikuum…” Bapak kaget dan hampir terjatuh dari duduknya. Lalu beliau terus bicara kok gak dikasihtahu, kok diam-diam bae, kok gitu kok gini, diulang-ulang. Bapak agak susah diam meski sudah dipeluk. Mungkin karena gak dikecup muah seperti ibu. Hahaha.

Satu malam tidur di tempat Ibu.
Satu malam tidur di tempat Bapak.
Di tempat Ibu dulu, baru di tempat Bapak.
Semoga adil adanya.

Alhamdulillah, diberi rezeki dan kesempatan untuk menengok orang tua. Dan hari ini harus mengucapkan sampai jumpa kembali, melanjutkan perputaran dunia seperti biasanya.

Mari menyayangi orang tua mumpung beliau-beliau hidup, siapa dan apapun beliau-beliau adanya, mumpung kita masih diberi kesempatan hidup, sebab hidup di dunia tiada terjadi dua kali.

Hidup Hari Ini Adalah Yang Terbaik, Selebihnya Serba Tidak Pasti

Ini adalah foto lima tahun lalu, di waktu saya menikah. Kami berlima berkumpul, tinggal di rumah kontrakan saya. Saat itu saya ngomong sendiri di kamar, “lima orang ini berada di waktu dan atap yang sama, terakhir saat aku umur 5 tahun-an. Puluhan tahun silam.” lalu saya tersenyum, hidup sudah sejauh ini.

Bapak dan Ibu dulu adalah sepasang orang bodoh, lalu oleh waktu ia buktikan bahwa ternyata mereka begitu hebat dan tidak bodoh.

Mereka menikah melawan dunia di usia 19 tahun, meluluh-lantah-kan restu yang ditarik ulur. Ibu di waktu itu adalah yatim piatu, tiadalah repot soal restu. Bapak yang adalah harapan orang tuanya untuk menempa ilmu lebih tinggi atau bekerja di kantoran tentu sulit mendapat restu, sebab menikah muda saat status pengangguran bukan pilihan yang tepat. Dasar pemuda keras kepala yang tak bisa dibelokkan keinginannya, ia menikah, dan oleh orang tuanya tidak diberi modal kecuali sepuluh jari tangannya. Pernikahan yang dibangun penuh peluh keringat itu hanya bertahan kurang lebih sepuluh tahun. Mereka bercerai di usai 30 tahun. Usia di bawah usia saya saat ini. Bodoh, kan?

Waktu SMA saya pernah punya misi menyatukan mereka, dan akan melakukan segala daya upaya. Saya sampaikan kemauan itu satu per satu ke mereka, lantas ibu menangis tetapi tidak berkata apa-apa. Lantas Om Em, adiknya Ibu datang menasihati Si Zia kecil yang sok-sokan ingin mengendalikan dunia. “Niatmu baik sebenarnya,” katanya pelan. “Tapi kamu hanya akan mengulangi kedukaanmu pada adik-adikmu yang lain. Bapakmu punya kehidupan sendiri, dengan anak istrinya yang lain. Ibumu punya kehidupan sendiri, dengan suami anaknya yang lain. Jumlah mereka lebih banyak dari kalian. Kan cukup kalian saja yang merasakan orang tua pisah, jangan mereka lagi.”

Napas saya terhenti, seakan dicabut dari atas kepala, lalu dihembuskan kembali lewat telinga kiri dan kanan serta lewat hidung dan mulut dengan kesejukan yang begitu melegakan. Betul. Betul itu. Betul betul kebenaran itu. Aku tak boleh egois. Itu betul. Aku menyetujui nasihat Si Om itu hingga aku mengulang-ulang kata betul di dalam hati dan kepalaku. Semenjak saat itu, kukuburkan rencana gila itu. Apa yang ada di depan mata, situasi hidup yang sedang dijalani, itulah yang terbaik. Selebihnya, serba tidak pasti. Jika kita (khususnya saya) menuruti nafsu memaksakan yang tidak pasti, kemungkinan besar hal lebih buruk bisa terjadi, dan saat ini tidak akan ada tulisan ini.

Aku meneruskan hidup dengan bertumpu pada pesan ibu, “kau tak hidup sendirian. Tuhan selalu menyertai. Berjuanglah. Jangan takut!”

Iya, aku tidak takut, Bu. Aku pemberani! Buktinya aku berhasil berdamai dengan dunia dan segala pelosok nusantara, kan kan kan? Buktinya aku berhasil berdamai dengan diri sendiri, kan?

Sialan. Saya menangis sebentar. Sialan.
Maaf, bagian di atas (3-4) paragraf di atas adalah momen paling emosional, saya mesti menangis bahagia karena merasa berhasil pernah melewati itu. Dan kalau kalian sadar, saya pun baru menyadarinya setelah menulis paragraf ini, kalau sebutan untuk saya berubah menjadi aku. Kalau kalian perhatikan (maaf jadi membuat kalian kembali membaca lagi ke atas).

Mereka adalah pemuda bodoh yang oleh waktu membuktikan ternyata mereka hebat dan tidak bodoh.

Ibu adalah orang hebat. Kelebihannya adalah menyadari bahwa manusia tiada daya, semua daya adalah milik Tuhan. Ia tak pandai memasak, tak pandai berkata manis yang menyenangkan hati anaknya, tak pandai mengumpulkan uang buat beli mainan anaknya, tak pandai ilmu pengetahuan untuk mengajari anak-anaknya. Ia tak pandai semua persoalan itu. Tapi… oleh karena kekurangan yang adalah kelebihannya itu, ia sukses membuat anaknya bisa rindu dan kagum dan cinta dan bangga dengan dirinya tanpa embel-embel. Oleh karenanya, anak-anaknya tidak rindu dengan masakannya atau kenangannya atau lainnya, kami hanya rindu dengan ibu, apa ada dirinya. Sebab kehebatannya yang luar biasa adalah do’a murni. Do’a yang berangkat dari kesadaran bahwa ia bukanlah apa-apa, semua daya adalah milik Tuhan. Ia terus berdoa meminta segala kekuatan Tuhan itu, untuk anaknya. Itu dahsyat sekali.

Bapak juga hebat. Kehebatannya adalah pernah melakukan banyak sekali kesalahan di masa lalu, sehingga seumur hidupnya dihabiskan dengan meminta maaf pada dirinya sendiri. Oleh karenanya, ia tak pernah merasa lebih baik dari orang lain, apalagi dari anak-anaknya. Dari situlah energi kecintaan itu begitu kuat di hati kami. Ia tak malu untuk menangis didepan kami atau bersama kami, jika ia ingin. Kami tak pernah ragu untuk saling berpelukan hingga menua bersama. Lalu kekuatan apalagi yang melebihi kekuatan cinta seperti itu? Kesalahannya lah yang selalu menjaga kami untuk menjalani hidup dengan baik. Dan saya sangat sayang sama dia. Bapak adalah inspirasi besar saya, untuk mengenal dunia di dalam diri.

Ini bukan cerita kesedihan. Ini adalah cerita tentang kekuatan dan kesenangan hidup. Saya sangat bangga dengan semua jalan hidup yang menyenangkan ini. Punya orang tua yang mengantarkan saya pada dunia yang luar biasa ini.

Situasi hidup hari ini adalah yang terbaik, bagi semua orang, selebihnya serba tidak pasti.

Jalani hidup dengan sebenar-benarnya hidup. Jangan hidup dalam angan apalagi dalam sesal.

Bersyukurlah
Berbanggalah
Berbahagialah!

Selingkuh Itu Indah?

Selingkuh itu indah bagi pelakunya–pelaku yang belum sadar kalau ternyata selingkuh itu tidaklah indah. Bagaimana mau indah, kalau orang pertama melakukannya berawal dari ketidakbahagiaan dia dengan pasangan resminya dan si orang ketiga menjalaninya dengan perasaan tidak diperlakukan adil. Terlebih, mereka menjalani hubungan itu secara diam-diam daradubidam dagdigdug!

Si orang ketiga merasa tidak adilnya di bagian mana? Well. Orang pertama punya pasangan, lalu menjalin hubungan dengan si orang ketiga. Artinya si orang pertama mendua alias punya dua kekasih. Sementara si orang ketiga tidak boleh melakukan hal yang sama–mendua–kecuali siap diberi sumpah serapah dan dituding tidak setia. What the…hah? Continue reading

Model Gagal Kena Kutukan!

Sebenarnya gue pengin malu menampilkan (lagi) foto-foto di bawah ini, karena sepertinya gue memang punya malu. Tapi kadarnya sedikit. Tapi malu ya malu. Tapi gak malu-malu amat sih. Tapi malu. Tapi….somebody stop me, please.

Foto hasil jepretan Agus Hafi yang dia share 4 tahun lalu itu tiba-tiba dimunculkan oleh fitur memorinya facebook–sontak gue bilang, “ini kekhilafan masa lalu!”

FB_IMG_1461218921586 Continue reading

Menjajal Jualan (Diri) di Udara, Dengan Diskon Mengejutkan!

Studio

“Kamu diterima sebagai penyiar di sini, tetapi harus mengikuti tahapan-tahapan pelatihan yang disyaratkan.” Mendapat pernyataan tersebut, gue seperti orang yang baru saja mendapat hadiah kejutan puluhan juta rupiah. Saking senangnya, gue mengelilingi kota menyanyikan lagu-lagu kemenangan. Setiap hal yang gue temui di jalan waktu itu, tampak menyenangkan. Pohon dan bunga sepanjang jalan, gedung-gedung, poster, biru langit, seakan sedang memberi selamat ke gue. Bahkan angkot yang asal berhenti, motor main serobot, pejalan kaki nyebrang sembangaran, sama sekali gak mengusik kesenangan hati gue.

Continue reading

Barisan Para Mantan

Sore di suatu hari di suatu tempat, hilanglah kartu-kartu dan surat penting beserta beberapa lembar uang merah karena dompet hilang. Dompet hilang karena tas hilang. Tas hilang karena ada maling yang mengambil di samping, ketika shalat ashar berjamaah, di sebuah mesjid, yang menurut keterangan polisi–sering ada laporan kehilangna dari tempat tersebut. Tak disangka kalo kejadian ini ada kaitannya dengan mantan! Continue reading

Angka 3 (tiga)

31 Desember; dunia disibukkan oleh pro-kontra pesta kembang api, suara petasan, warna-warni hiasan persiapan sambutan tahun baru, dan resolusi demi resolusi. Meriah. Tak dipungkiri itu. Tak ada yang benar-benar bisa menghalangi euphoria-nya.

31 Desember; waktu di mana seorang malaikat yang gue sebut Ibu melahirkan anak keduanya, di kampung, jauh dari mimpi-mimpi tinggi. Ia hanya tau, anaknya ini akan menjadi senyum baginya, pada waktu yang tak terbatasi. Continue reading