Category Archives: Relationship

Seribu Sembilan Puluh Enam Hari

Waktu tiga tahun untuk perjalanan berkarir di sebuah instansi, sudah merupakan titik aman–karena seseorang sudah melewati masa adaptasi, sudah menguasai berbagai tugas dan tanggungjawab utamanya. Namun pada titik aman pertama ini, seorang pekerja mulai dihinggapi perasaan hitung-hitungan, merasa memberi kontribusi lebih dari seharusnya, yang mana jika cara perhitungannya tidak bijak maka tingkat loyalitasnya terancam menurun. Saya tidak mengatakan hal dan waktu tersebut berlaku untuk semua orang, tapi umumnya yang saya temui demikian.

Saya pikir perjalanan pernikahan agak mirip juga dengan berkarir di pekerjaan. Untuk itulah, saya sangat bangga sudah mencapai usia pernikahan tiga tahun–melewati suka duka sebegitu rupa–dengan berupaya untuk tidak membanding-bandingkan atau tidak banyak perhitungan. Tentunya, saya dan istri sangat amat siap melanjutkan perjalanan yang lebih panjaaaaaaaaang lagi, berharap tak menemukan ujung dan tak menemukan jalan putar kembali. Continue reading

Tentang Anak Pertama dan Orang Tua yang Berusia Sama

Allahuakbar…Allahuakbar…” Kumandang itu nyaris tak terdengar, tertutup oleh pecah tangisan bayi yang merasakan suhu berbeda—antara dunia rahim dan dunia entah baginya. Kumandang adzan dan tangisan bayi itu menumpahkan air mata saya, sebab saya lah yang mengumandangkan adzan, dan saya juga bapak dari bayi tersebut. Kombinasi keduanya adalah hal pertama bagi saya.

Tangan saya gemetar ketika kedua telapak tangan saya merasakan lembut kulit punggungnya, seperti sedang menyentuh bibir mamanya dengan kadar kelembutan 100 kali lipat. Panasnya mirip-mirip, walau berbeda kondisi. Kulitnya merah, lebih merah dari dari pipi gadis remaja china yang ketahuan jatuh cinta diam-diam. Aroma tubuhnya menggugah jiwa kebapakan saya, terutama sebelum terkena air dan bedak-bedakan. Continue reading

Anakmu Sudah Bisa Apa?!

 

Pertanyaan-pertanyaan sejenis, gak akan pernah habis. Dari tingkat pertanyaan yang paling dasar “mana pacarnya?”, hingga tingkat lanjutan yang ada-ada saja. Ada dan tidak adanya jawaban, sesuai dan tidaknya jawaban, ada saja pertanyaan lanjutannya.

Bikin kesal? Bisa ya, bisa tidak. Tergantung bagaimana kita menanggapinya. Ada yang menganggap itu sekadar basa-basi, tak banyak juga yang menanggapinya serius. Menilai apakah pertanyaannya patut ditanggapi (agak) serius atau tidak, itu penting. Jika dirasa pertanyaannya basa-basi, tanggapi saja sepintas lalu, atau tak perlu menanggapinya. Cukup disenyumin.

Mari kita runut tingkatan pertanyaan-pertanyaannya, sekaligus mensimulasikan jawaban dan kemungkinan tanggapannya; Continue reading

Dongeng Kehidupan

Dongeng sebelum tidur…ceritakan yang indah biar ku terlelap~ dongeng sebelum tidur…mimpikan diriku mimpikan yang indah…~

Gue suka lantunan ‘dongeng sebelum tidur’ bukan karena masa kecil gue dipenuhi dengan dongeng-dongeng setiap akan tidur. Lagu itu hanya membantu daya imajinasi gue dalam merasakan betapa indahnya masa kecil yang setiap hari didongengin, ditugguin tidurnya, dibangunin tanpa meributkan petunjuk waktu. Itu, yang membuat gue jatuh cinta pada lagunya Wayang itu.

Bahkan gue mampu mengingat berulang kali kalau gue berada di tengah keluarga bahagia, cemara nan ceria, berkecukupan. Ya. Orang tua gue tidak bercerai, mereka menunjukkan kepada kami betapa harmonisnya hubungan kedua orang tua gue, betapa mereka memberikan kasih sayang luar biasa kepada kami anak-ananknya. Mereka hidup dalam cinta, selama-lamanya.

Continue reading

Titik Pertama; Terimakasih Cinta

“Pernikahan bukanlah sebuah tujuan, melainkan awal dari suatu perjalanan panjang.” Untuk itulah kenapa hati teliti mencari bagiannya untuk menuju akhir waktu penuh cinta nan bahagia. Untuk itulah kenapa dua jiwa menyatukan komitmen untuk saling menggenggam, saling menunjukkan jalan agar tak tersesat. Untuk itulah kenapa perjuangan semakin dibutuhkan, biar lidah tak mudah mengucapkan kata lelah yang menimbulkan keeratan cinta kasih menjadi lemah. Continue reading

Proses Perekrutan Pasangan

“Sesungguhnya pekerjaan dan hubungan-cinta memiliki keterkaitan yang kuat. Pekerjaan cocok-cocokan, rejeki-rejekian. Pekerjaan kadang nyaman, kadang tidak. Kadang suka sama nyaman-nya saja, kadang suka sama gajinya saja. Cinta? Cocok-cocokan, jodoh-jodohan. Kadang hubungan itu nyaman, kadang tidak. Kadang bahagia dengan kenyamanan yang diberikan pasangan, kadang bahagia dengan janji manis semata. Mendapatkan… lalu berpisah… atau mendapatkan, hingga akhir.”  

Continue reading

Korban Perasaan

Semenjak kecil, gw sering dengar perceraian yang terjadi pada pasangan yang menyebut diri mereka sebagai suami istri. Gw gak begitu mengerti dengan permasalahan orang dewasa, saat itu. Seringkali juga mendengar istilah talak satu, talak dua, dan talak tiga. Karena umur gw masih terlampu kecil, saat itu gak begitu mengerti apa itu talak. Gw cuman taua ketela goreng. *tolong untuk tidak menertawakan gw atas guyonan yang tidak lucu ini. Terimakasih.*

 Hingga akhirnya, Tuhan memberi kesempatan ke gw untuk hidup lebih lama. Hidup hingga dewasa seperti orang orang yang mengalami perceraian di atas, hidup hingga dewasa seperti mereka yang telah mempopulerkan istilah talak satu sampe talak sekian itu. Dan gw diperkenalkan dengan seseorang yang semakin memberi pemahaman tentang talak dan rujuk.

 Sebut saja namanya Poniman (Asli nama samaran, tanpa acara potong kambing segala macam), driver salah satu perusahaan Mining Services di Balikpapan. Dia pernah menikah dengan seorang cewek yang saat itu dia sebut istri. Mereka menikah dengan alasan Cinta dan Agama. Bukan alasan karena keterpaksaan oleh Hansip. Mereka bahagia? Iya, saat itu.

 Seiring dengan berjalannya waktu mereka berumah tangga, mereka memutuskan untuk berpisah. Cerai. Pasti mereka punya alasan tersendiri saat itu. Gw gak tau persis apa alasannya. Biarlah Tuhan dan Pengadilan Agama yang mengetahuinya. Yang jelas, saat itu Poniman melakukan talak 3 terhadap istrinya. Talak dengan level yang mengharuskan keduanya untuk menikah dengan orang lain, lalu pisah dengan pasangan pasangannya masing-masing, jika ingin rujuk.

 Sekarang, cinta mereka kembali bersemi. Mereka seperti remaja baru tumbuh bulu vital yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya. Penampilan Poniman mendadak super klimis, aroma wangi (walaupun kadang wanginya terlalu murka) menembus seluruh sudut mobil kantor yang dia kendarai. Mereka ingin kembali menjadi suami istri yang sah, seperti apa yang pernah mereka sia-siakan dulunya.

 Mantan Istrinya belum menikah dengan lelaki lain.

 Poniman pun begitu. Belum menikah dengan wanita lain.

 Kesibukan pasangan yang mengulang kembali proses jatuh cinta ini adalah mencari pasangan masing-masing. Untuk dinikahi lalu diceraikan. Dicampakkan begitu saja (?) Hanya sebagai syarat supaya Poniman dan mantan istrinya bisa kembali menikah. Lalu punya anak, yang sebelumnya belum terjadi.

 Nikah sebagai syarat?

Ok. Mereka mau menyelamatkan kembali hubungan dan perasaannya. Karena mereka masih punya perasaan cinta yang besar. Berperasaan. Tapi bagaiamana dengan yang dinikihai hanya sebagai syarat, yang pasti akan diceraikan? Pasangan formalitas tersebut pastinya punya perasaan. Juga sama seperti orang-orang pada umumnya. Masihkah Poniman dan mantan istrinya disebut berperasaan?

 Atau mereka akan membayar orang saja untuk mau menjadi suami/istri sebagai syarat mereka rujuk? Lalu mereka membuat peraturan sebelum memutuskan untuk menikah (sementara) dulu:

  1. Menikah dengan jangka waktu yang ditentukan. Kalo udah waktunya, cerai.
  2. Tidak boleh timbul perasaan cinta, karena pernikahan ini hanya sebagai syarat.
  3. Kalo tidur, harus di kamar masing-masing. Jangan pernah ada hasrat untuk bercinta. Kalo terpaksa, silakan gunakan tangan atau sabun.
  4. Grepe grepe, bacok.
  5. Apabila ada pelanggaran terhadap peraturan di atas, makan akan disumpahin impotensi.

 Dan peraturan-peraturan lainnya. Apa iya bisa seperti itu? Apa iya di-sah-kan oleh Agama dan pemberi kehidupan yang kita sebut Tuhan? Bukankah berarti itu memanipulasi peraturan/syarat? Atau hanya demi menjaga reputasi sosial saja? Gak peduli dengan syarat dalam arti yang sebenarnya.

 Jika harus benar-benar menikah dalam arti yang sebenarnya. Dengan perasaan, cinta, ibadah. Melakukan hubungan suami istri sewajarnya. Walaupun akhirnya Poniman dan Mantan istrinya punya niat bulat untuk berpisah dengan pasangan (baru) nya masing-masing yang hanya dijadikan syarat, apa iya bisa dijamin akan cerai beneran dan mereka berdua rujuk?

 Kalo tiba-tiba Poniman atau Mantan Istrinya bener bener jatuh cinta dengan pasangan barunya karena sesuatu hal, gimana? Entah karena perlakuan, getaran cinta itu sendiri, atau kepuasan ranjang mungkin? *untuk yang terkahir ini diskip aja. Terimakasih.*

 Dengan cara yang kedua ini, pun akhirnya akan pisah dengan pasangan barunya masing-masing, mereka tentu akan menyakiti perasaan lain, demi perasaan mereka sendiri. Menyakiti dengan cara yang sangat disenjaga dan sangat terang-terangan.

 Rumit. Sungguh rumit. Seandainya boleh menikah dengan tumbuh-tumbuhan, mereka lebih baik menikah dengan tumbuh-tumbuhan aja. Lalu cerai beberapa waktu kemudian. Supaya tidak ada perasaan yang disakiti, supaya tidak ada perasaan yang dikorbankan.

 Begitu menurut pandangan gw yang belum pernah menikah.

Panggilan Sayang (???????)

Jaman semakin berkembang. Dulunya ‘tak kenal maka tak sayang’, sekarang justru lebih banyak ‘belum kenal udah sayang dan sayang-sayangan’. Di Timeline twitter apalagi, sangat gak asing untuk hal seperti itu. Bahkan yang cemburu pada yang bukan pacarnya, yang cemburu pada gebetannya yang notabene belum kenal dia juga ada. Banyak?!

Well. Kembali pada panggilan sayang, yang juga mengikuti perkembangan jaman (?). Yang gw maksud di sini adalah pelaku pacaran, bukan pasangan yang sudah menjadi suami istri.

Gak asing terdengar di telinga, anak anak yang masih remaja, yang bau keringat dan kentutnya aja masih labil, memiliki panggilan sayang terhadap pacarnya, walaupun masih sebatas cinta monyet. Saking pesatnya perkembangan jaman, panggilan sayang untuk mereka yang masih usia belia, itu  jauh lebih tua dari umur mereka. Papi… mami…. ayah… bunda… tetek… bengek…. telek… becek!

‘Say, Ayank, Honey, Bebeb, Mbul, Ndut, Bun, Twintah,’ dan lain lain, juga familiar untuk panggilan panggilan sayang. Ya, wajar sih masing masing orang mengekspresikan rasa sayangnya lewat panggilan. Cuman ya itu… ada yang tidak menyesuaikan dengan umurnya. Sayangnya lagi, panggilan khusus itu hanya sebatas sampai hubungan pacaran berakhir. Kalo udah putus, boro boro dipanggil bebeb atau kerabat lainnya, diinget aja kadang enggak lagi. Lebih frontalnya, sering muncul kalimat “buanglah mantan pada tempatnya.” Segitu amat. *Apa kabar panggilan sayang, yang pernah mengalahkan nama yang adalah do’a?!*

Gw juga punya panggilan tersendiri untuk pacar. Gak umum sih. Karena memang gak mau ikut-ikutan. Apalagi menjadikan panggilan sayang sebuah kewajiban. Cukup untuk seru-seruan aja. Biar gak cepet matik *eh

Pada normalnya, panggil aku-kamu aja sih. Tapi karena pas gw ditelfon pacar, atau ketika gw ditanya lagi ngapain, gw sering bilang “lagi pup.  mau pup. baru selesai pup.” Akhirnya gw sering mendapatkan ucapan selamat yang teramat sangat romantis. “Selamat puppiiiiii…..” yay!

Lama-lama gw mendapat panggilan sayang yang khusus dari si pacar. ‘Pupi!’

Gw gak terima dong. Protes pastinya kan pastinya dong… ya kan ya dong?!!!

GW: “Gak boleh. Dimana-mana ‘Pupi’ itu panggilan untuk cewek. Kalo cowok panggilnya ‘Pupa’ dong.”

PACAR: “Oh tidak bisa…’Pupi’ tetep untuk cowok. Kalo cewek panggilnnya ‘Mumi’. Ya, kan?”

GW: “No no no! kamu ‘Pupi’. Sampe SBY jadi penyanyi tenar-pun, kamu yang tetep dipanggil Pupi.”

PACAR: “Yaudah. Daripada ribut iya aja deh.”

GW: “Horeee… menang! Gitu dong. Pacar yang baik.”

PACAR: “IYA, AKU PUPI. KAMU BE’OL!!! SAMPE ORANG-ORANGAN SAWAH BISA TWITTERAN-PUN, KAMU TETEP DIPANGGIL BE’OL.”

GW: *Pasrah*

Muahahahaha…. Nyihahahaha… Ziahahahanjrit!

Gw sama si pacar emang sama sama aneh. Cuman ngomongin panggilan sayang aja bikin kencing di celana. Dasar pasangan yang aneh. Aneh bin abi thoyib.