Category Archives: Review

Antara Nasib Pengusaha Nikel dan ‘Perusahaan Nakal’

Gambar dari sini

Selisih pendapat antara pihak pemerintah dan pengusaha smelter nikel semacam dua orang pemuda yang terus meributkan tentang duluan mana antara telur dan ayam. Padahal sudah jelas telur duluan, karena ketika telur muncul di dunia–ia tidak pernah melihat ayam. Sementara saat ayam melek, ia sering melihat adanya telur. Makin bingung, ya? Sama!

Sebenarnya sih tidak perlu meributkan siapa yang duluan, berdamai saja dengan kesepakatan bahwa ayam berproses dari telur dan telur dihasilkan oleh ayam itu sendiri. Sudah, gampang. Semisal pun ada yang memecahkan misteri duluan mana telur dan ayam, apakah lantas dunia ini akan mendadak indah? Saya pikir sih tidak. Lain halnya kalau dunia ini damai, kesepakatan saling menguntungkan terjadi setiap saat, barulah dunia ini tampak indah.

Indonesia ini sangat kaya. Pendapatan negara saja, yang diterima pada semester pertama 2017 ini sebanyak 32,4 trilliun, padahal dengan kondisi keributan dunia pertambangan yang terjadi di sana-sini. Kalau semuanya selaras, pemerintah dan pengusaha stabil berjalan di tengah tanpa saling sikat sikut, dengan berdiri tegak di atas kebenaran Undang-Undang yang berlaku, pasti pendapatan negara akan jauh lebih besar lagi. Kemakmuran bersama akan lebih terasa dampaknya.

Bijih mentah nikel masih bisa diekspor, mineral mentah emas dan tembaga masih bisa diekspor, sementara UU Minerba pasal 170 yang diterbitkan pertama kali tahun 2009 mewajibkan perusahaan tambang dalam negeri untuk membangun fasilitas smelter selama 5 tahun sejak UU Minerba diterbitkan dan mulai berlaku pada tahun 2014. Belum lagi penguatan Putusan Makhamah Agung No. 10 / PUU-VIII / 2014 saat itu yang melarang ekspor bahan mineral mentah. Hingga saat ini masih terjadi relaksasi ekspor mineral mentah. Sudah hampir 2 X 5 tahun. Di satu sisi, ketika para pengusaha pengelola mineral mentah dalam negeri yang sudah berinvestasi banyak membangun smelter komplain tentang relaksasi–pemerintah tidak mau disalahkan. Apakah pengusaha smelter yang kian merugi itu harus mengadu kepada telur atau kepada ayam? Kan tidak mungkin.

Saat ini biaya produksi smelter nikel bisa mencapai US$9.600 – 9.800 per ton, sementara harga jual nikel hanya US$9.000-9.600 per ton.  Ya rugilah. Itu belum biaya lain-lain, baru biaya produksi belaka. Sebelum pemerintah merelaksasi larangan ekspor mineral mentah, harga nikel bisa mencapai hingga US$ 11.000 per ton. Apakah ini perlu dianggap sebagai kebetulan semata? Hmmm… jadi pengin menarik napas di puncak gunung Sahara rasanya.

Kata Bapak Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi dan Kerja Sama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sih–pada siaran pers beliau bulan Juli lalu–kerugian smelter nikel saat ini lebih karena turunnya harga jual dan meningkatnya biaya produksi. Melemahnya permintaan nikel pada industri stainless steel di kuartal kedua 2017 ditenggarai menjadi penyebab utama turunnya harga nikel dunia. Mari kita telaah kalimatnya, saudara-saudari!

Kerugian karena harga turun dan biaya produksi naik. Iya  iya iya, kami tau, Pak. Ta ta tapi…kenapa harganya bisa turun signifikan? Bukankah dengan adanya relaksasi ekspor mineral mentah, lalu nikel kualitas terbaik diekspor membabi buta dan yang beredar banyak di Indonesia adalah nikel kualitas biasa bahkan rendah yang kalau diproduksi di smelter lokal jadinya barang murahan?

Melemahnya permintaan nikel pada industri stainless steel menjadi sebab kerugian di sisi lain. Iya iya iya, kami tau, Pak. Ta ta tapi…kenapa permintaan itu tiba-tiba turun? Pisang ambon saja kalau pasar gak banyak minta, pasti harganya turun. Tukang parkir magang di Indomaret saja tau soal begituan. Yang terpenting adalah, kenapa permintaan menurun? Bukankah kalau nikel kualitas terbaik kita beredar banyak di luar Indonesia, lalu kualitas stainless steel yang kita produksi jadi kurang bersaing? Kalau kurang bersaing, pasti produksinya sedikit. Ngapain memproduksi banyak barang yang jadinya kurang laku?

Itu pemikiran sederhana saya, Pak. Semoga tidak tampak lancang. Menurut saya yang punya pendapat, itu lebih masuk akal. Berbicara tentang sebab lebih mencerahkan ketimbang hanya berbicara tentang akibat awal dan akibat lanjutan. Kita tidak bisa menjual nama akibat sebagai sebab. Sebab adalah sebab. Akibat adalah akibat. Raisa adalah cantik dan Hamish adalah ganteng. Meski banyak orang yang patah hati atas pernikahan mereka, mereka tetaplah pasangan ideal. *siul-siul bengis*

Nasib pengusaha smelter nikel bisa dibilang memprihatinkan. Di sisi lain, para pengusaha tambang yang terus meminta relaksasi ekspor mineral mentah–diam-diam tertawa cekikikan. Ih, nakaaaaal!

Lagian nih ya, kalau relaksasi terus terjadi, negara akan mengalami sejumlah kerugian seperti hilangnya kesempatan untuk meningkatkan aspek ekonomi dalam negeri, berkurangnya penerimaan pendapatan pajak, terjadinya PHK besar-besaran (diperkirakan hingga 21,000 karyawan terdampak PHK), dan hilangnya investasi asing sebesar US$ 18 miliar. Ujung-ujungnya sama-sama rugi. Apa untungnya sama-sama merugi? Eh, sudah sama merugi, memang gak akan ada untungnya sih ya. 

Ya mending sama-sama untunglah. Pemerintah dengan tegas menghentikan ekspor mineral mentah, se ge ra! Pabrik-pabrik smelter kembali beroprasi dan bersinar terang. Pengusaha untung, pembayaran pajak lebih lancar, negara pun meningkat pendapatannya. Rakyat pekerja tidak ada yang mengalami pemutusan hubungan kerja, tingkat pengangguran tidak meningkat, citra keberhasilan negara pun bakal mendapat sorak sorai tepuk tangan. Kan e n a k!

Kalau ada pihak yang merasa keadaan saat ini cukup sulit untuk berlaku saling menguntungkan, ya mari kita sama-sama main ke taman menemui sang kupu-kupu dan para bunga nan indah. Dua mahluk yang menjalin hubungan simbiosis mutualisme itu, selain menggemaskan juga cukup untuk menjadi guru kehidupan dalam hal untung menguntungkan; Kupu-kupu begitu suka memakan sari manis atau nektar yang ada di berbagai jenis bunga. Sedangkan bunga sebagai organ reproduksi pada tumbuhan sangat terbantu karena kupu-kupu bekerja menyebarkan serbuk sari. Ketika kupu-kupu hinggap di bunga, kakinya akan menyentuh bagian putik dan benang sari pada bunga yang mereka hinggapi sehingga mengakibatkan serbuk sari menempel pada putik dan terjadi proses penyerbukan pada bunga.

Simbiosis mutualisme antara kupu-kupu dan bunga kalau diterjamahkan ke urusan pemerintah dan pengusaha smelter…emmm…nganu...boleh mikir sendiri kan, ya? Saya mau masuk dulu, teman-teman SMP saya sudah menunggu. Guru Biologi saya galak, kalau telat saya bakal dihukum. Bye!

Duka Cita Perusahaan Smelter

Foto: dari sini

Setiap melihat gambar slag dump, tempat di mana ampas bijih mineral ditumpah-tumpah-ruah-kan, pikiran saya selalu melayang ke Sorowako sepuluh tahun silam. Di sana, pertama kali saya melihat langsung pabrik smelter. Di sana, tempat pertama kali saya melihat lahar yang begitu panas begitu dekat begitu berapi-api. Di sana, tempat pertama kali saya bisa membeli rambutan sepohon buah rimbun hanya cukup di bayar dengan uang seratus ribu. Di sana, tempat pertama kali saya membawa uang kurang dari seratus ribu ditukar dengan durian sekarung kecil. Tidak ada hubungan antara ampas bijih dengan buah, jadi tidak usah dipikirkan. Lanjut membawa saja, ya? Continue reading

Mengenal Adaro Lebih Dekat

Gema suara petugas bandara begitu merdu meski tak saya kenali, menginstruksikan kepada para penumpang yang akan menuju Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin Kalimantan Selatan untuk segera menaiki pesawat melalui pintu 21. Bagian kecil kepala saya berkata, kok semacam disuruh masuk pintu theater bioskop ya? Waktu menunjukan pukul 19:30 WIB, mata saya sudah kantuk tak tertahankan. Itu pula yang membuat saya kegirangan dengan suara merdu tadi, serasa akan menuju kasur menikmati tidur pelepas lelah setelah seharian meeting serius di kantor Bintaro tanpa makan siang sebab sedang bulan Ramadan. Buka puasa yang buru-buru di Bandara Soekarno-Hatta pun menambah porsi ngantuk karena sedikit menyunyah banyak menelan dengan jumlah makanan yang tak sedikit. Begitu menempelkan pantat di bangku pesawat, saya langsung menyerahkan diri pada putri tidur dan pulas begitu saja. Mimpi demi mimpi saling tumpang tindih berebut tayang di alam tak nyata seorang saya, sampai-sampai saya bingung–sebenarnya, saya sedang bermimpi apa dan di mana? Setelah kelelahan menghadapi kebingungan di dalam mimpi, saya terbangun, mendapati pesawat sudah berhenti dan ruang kabin begitu terang dan nyata. “Ya Allah sudah nyampe di Banjar, cepat banget ya kalau tidur pulas begini,”  kata saya kepada punggung bangku depan. Saya mengucek mata, sedikit banyak bingung melihat semua penumpang lain tak ada yang beranjak dari tempat duduknya. Saya mengecek jam, ya, sudah waktu tibanya saya di Banjarmasin. Apakah orang-orang begitu lelah menjalani puasa hari ke dua puluhnya sehingga pada enggan membangkitkan diri? Ada yang aneh. Selidik punya selidik, ternyata pesawatnya masih nyangkut di Bandara Soekarno-Hatta, karena cuaca sedang tidak baik dan jalur penerbangan hanya dibuka satu, sehingga sejumlah banyak pesawat harus mengantri lama. Continue reading

Teman Begadang Baru: Campuran Kopi Hijau

Saya punya masalah yang membuat hati penasaran soal kopi, yakni dampak bau kencingnya. Apakah ini terjadi pada semua orang, atau pada sebagian orang saja, atau hanya saya seorang—kalau minum kopi pasti habis itu bau kencing serupa kopi? Saya menyadari hal ini sekira dua tahun terakhir, dan baru kali ini saya menanyakannya. Seingat saya, sebelumnya tidak pernah mengalami kondisi demikian. Entah karena dulu hidungnya saya mengalami sensor error, atau saya yang kurang peka terhadap bau air seni? Kalau makan durian sih iya, dari dulu pasti bau kencing saya serupa durian. Tetapi kopi ini baru terjadi. Makan jengkol, pete dan sekawanannya juga bikin kencing saya bau baru-baru ini. Dulu gak pernah, karena saya baru mau makan jengkol dan pete di tahun 2017. Terkadang pertanyaan yang muncul di kepala agak banyak unsur khawatirnya: Normal gak yah bau kencing seperti kopi begini? Jangan-jangan ada sistem metabolisme saya yang bermasalah? Jangan-jangan segumpal tuyul masuk tidak sengaja lewat mulut—menelusuri kerongkongan—hingga lolos ke dalam perut saya, dan mencuri salah satu bagian penting dalam tubuh saya yang menyebabkan bau makanan dan minuman yang masuk akan sama dengan bau keluarnya. Semoga ini hanya kekhawatiran berlebihan saya saja, tolong dibantu jawab di kolom komentar untuk membantu menenangkan diri saya. Continue reading

Stop Ekspor Mineral Mentah Indonesia

Gambar dari sini

Coba kita cermati benar-benar gambar di atas ini, tidak usah ditelaah dengan analisa pikiran logis yang berat, nikmati saja kemilau emasnya. Bayangkan tumpukan emas sedemikian megah tersebut tersusun rapi di berbagai sudut pulau negeri ini. Di saat kita sedang berdiri di depan gudang kemegahan emas berdinding kaca yang semakin menyilaukan kebanggaan mata, datang orang asing dari berbagai negara bertanya, “apakah itu emas betulan, saudaraku?” Meski ini asumsi, siapapun kamu yang membayangkan hal itu, pasti akan merasa sangat bangga menjawab, “Ya. Itu emas sungguhan. Emas murni dari negaraku, dari pulauku, dari tanah kelahiranku.” Lalu orang asing tersebut terus memuja-muji, turut bangga hanya dengan melihat saja, bangga hanya dengan tahu bahwa Indonesia ini benar-benar kaya tanpa kata tapi. Continue reading

San’s Kekpisang Balikpapan

Namanya Nizar, usia tiga tahunan, sudah pandai main badminton semenjak usianya dua setengah tahun dan juga sudah pandai menginterogasi Abinya ketika Sang Abi hendak keluar rumah sendirian. Menggemaskan sekali. Energi anak kecil itu selalu berhasil memancarkan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitar, terutama keluarganya. Kepandaian Nizar di lapangan badminton adalah nurun Abinya yang dulu seorang atlet–namun belakangan lebih memilih berkeringat di dapur ketimbang di lapangan hijau tak berumput tersebut. Continue reading

Revolusi Mental Pertambangan Indonesia

gambar dari sini

Banyak saya jumpai di berbagai tempat kerja; orang yang nurut, patuh, rajin, justru semakin diperas tenaga dan pikirannya dalam konteks cenderung direpotkan. Sementara yang punya perilaku kerja sebaliknya, lebih banyak santainya karena dibungkus dengan kalimat “capek ngurusin orang yang kayak gitu, biarin saja.” Saya yakin orang-orang yang punya pernyataan demikian bertolak belakang dengan hatinya, pasti pengin mengubah etos kerja timnya yang kurang berprestasi, pasti pengin melakukan sesuatu tetapi bingung mengambil sikap yang tepat. Ini masalah mental. Pembiaran akan hal seperti itu memicu penularan penyakit malas kerja, “Ah, ngapain terlalu rajin, si itu aja kerja males-malesan tetap digaji sama.” Lalu harapan kemajuan apa yang ingin dicapai dengan pembiaran mental demikian? Continue reading

Pertamina Kekinian

Gambar Dari Sini

Pagi sedang cantik-cantiknya dihiasi keramahan mentari tanpa amarah panas menyambut kota dan kita dengan kata yang tak terdengar, saya meninggalkan rumah bersama anak dan istri—sekadar menikmati udara segar yang masuk lewat jendela mobil yang sengaja dibiarkan terbuka setelah AC dimatikan. Perjalanan belum sampai satu kilometer, muncul keinginan membeli sosis bakar yang biasa dijual di lapangan Merdeka setiap akhir pekan—saya memutar mobil dari kilometer nol Balikpapan menuju jalan minyak, berniat tembus pelabuhan Semayang yang berdekatan dengan lapangan keramaian yang dituju. Baru memasuki ujung jalan minyak, security sudah menghadang dengan palang yang entah mulai kapan dibentangkan. “Mas, belok kiri, Mas, masuk gang sono,” kata tangan kanan security yang menghadap ke arah saya,  dengan gerakan pelan namun pasti seperti boneka kucing di toko-toko orang china. Sayapun tak menepis arahannya, masuk ke arah lapangan Persiba yang mulai sepi karena adanya stadion baru. Setelah melewati lapangan, dua orang security mengarahkan kami untuk belok kanan. “Woi, buruan woi! Lo pikir berdiri macam begini gak capek apa? Buruan belok kanan dan jangan kembali lagi ke sini,” kata tangan kiri security berkumis aneh yang saya terjemahin secara ngawur. Saya terus jalan, hingga akhirnya keluar ke jalan jalur kilometer nol lagi. Ahelah, capek-capek muter kembali ke asal juga. Continue reading

Kejanggalan Iklan Rokok

Saat menonton televisi, melintasi jalan kota dan kampung, membaca media cetak, banyak iklan yang awalnya saya tidak mengerti produk apa yang sedang dipromosikan, sampai akhirnya saya jadi mengerti kalau produk tersebut ternyata rokok–hanya karena adanya pesan peringatan kesehatan. Lalu muncul pertanyaan besar di kepala saya, “perlukah dimunculkan pesan peringatan di iklan rokok yang sudah punya batasan-batasan itu?”

Mari kita melihatnya dari berbagai sudut pandang. Tapi sebelum meneruskan membaca, tolong pastikan bahwa anda sudah memakai celana dalam dan menaikkan resleting. Oh iya, yang paling penting, jangan lupa membayar utang. Continue reading

Suzuki, Berinovasi dan Menginspirasi

Tak terasa sepuluh tahun sudah berlalu, saya mengambil alih tanggungjawab mengurusi adik saya—Iwan—yang terpisah dengan ibu semenjak usianya sekira enam bulan. Tahun 2006 silam dia lulus SMP, saya minta izin sama bapak untuk menyekolahkannya di STM di kota, berharap lulus sekolah dia bisa mencari kerja sebagai montir. Di tengah jalan saya berubah pikiran, memutuskan untuk membawanya ke Semarang, melanjutkan kuliah di sana. Terjadilah. Tahun 2015 dia wisuda, setelah itu saya ajak ikut tinggal di Balikpapan, Kalimantan Timur. Berasa punya anak yang sudah dewasa, terkadang saya berpikir bahwa saya ini sudah tidak teramat muda lagi. Haha! Continue reading