Category Archives: Review

Duka Cita Perusahaan Smelter

Foto: dari sini

Setiap melihat gambar slag dump, tempat di mana ampas bijih mineral ditumpah-tumpah-ruah-kan, pikiran saya selalu melayang ke Sorowako sepuluh tahun silam. Di sana, pertama kali saya melihat langsung pabrik smelter. Di sana, tempat pertama kali saya melihat lahar yang begitu panas begitu dekat begitu berapi-api. Di sana, tempat pertama kali saya bisa membeli rambutan sepohon buah rimbun hanya cukup di bayar dengan uang seratus ribu. Di sana, tempat pertama kali saya membawa uang kurang dari seratus ribu ditukar dengan durian sekarung kecil. Tidak ada hubungan antara ampas bijih dengan buah, jadi tidak usah dipikirkan. Lanjut membawa saja, ya? Continue reading

Mengenal Adaro Lebih Dekat

Gema suara petugas bandara begitu merdu meski tak saya kenali, menginstruksikan kepada para penumpang yang akan menuju Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin Kalimantan Selatan untuk segera menaiki pesawat melalui pintu 21. Bagian kecil kepala saya berkata, kok semacam disuruh masuk pintu theater bioskop ya? Waktu menunjukan pukul 19:30 WIB, mata saya sudah kantuk tak tertahankan. Itu pula yang membuat saya kegirangan dengan suara merdu tadi, serasa akan menuju kasur menikmati tidur pelepas lelah setelah seharian meeting serius di kantor Bintaro tanpa makan siang sebab sedang bulan Ramadan. Buka puasa yang buru-buru di Bandara Soekarno-Hatta pun menambah porsi ngantuk karena sedikit menyunyah banyak menelan dengan jumlah makanan yang tak sedikit. Begitu menempelkan pantat di bangku pesawat, saya langsung menyerahkan diri pada putri tidur dan pulas begitu saja. Mimpi demi mimpi saling tumpang tindih berebut tayang di alam tak nyata seorang saya, sampai-sampai saya bingung–sebenarnya, saya sedang bermimpi apa dan di mana? Setelah kelelahan menghadapi kebingungan di dalam mimpi, saya terbangun, mendapati pesawat sudah berhenti dan ruang kabin begitu terang dan nyata. “Ya Allah sudah nyampe di Banjar, cepat banget ya kalau tidur pulas begini,”  kata saya kepada punggung bangku depan. Saya mengucek mata, sedikit banyak bingung melihat semua penumpang lain tak ada yang beranjak dari tempat duduknya. Saya mengecek jam, ya, sudah waktu tibanya saya di Banjarmasin. Apakah orang-orang begitu lelah menjalani puasa hari ke dua puluhnya sehingga pada enggan membangkitkan diri? Ada yang aneh. Selidik punya selidik, ternyata pesawatnya masih nyangkut di Bandara Soekarno-Hatta, karena cuaca sedang tidak baik dan jalur penerbangan hanya dibuka satu, sehingga sejumlah banyak pesawat harus mengantri lama. Continue reading

Teman Begadang Baru: Campuran Kopi Hijau

Saya punya masalah yang membuat hati penasaran soal kopi, yakni dampak bau kencingnya. Apakah ini terjadi pada semua orang, atau pada sebagian orang saja, atau hanya saya seorang—kalau minum kopi pasti habis itu bau kencing serupa kopi? Saya menyadari hal ini sekira dua tahun terakhir, dan baru kali ini saya menanyakannya. Seingat saya, sebelumnya tidak pernah mengalami kondisi demikian. Entah karena dulu hidungnya saya mengalami sensor error, atau saya yang kurang peka terhadap bau air seni? Kalau makan durian sih iya, dari dulu pasti bau kencing saya serupa durian. Tetapi kopi ini baru terjadi. Makan jengkol, pete dan sekawanannya juga bikin kencing saya bau baru-baru ini. Dulu gak pernah, karena saya baru mau makan jengkol dan pete di tahun 2017. Terkadang pertanyaan yang muncul di kepala agak banyak unsur khawatirnya: Normal gak yah bau kencing seperti kopi begini? Jangan-jangan ada sistem metabolisme saya yang bermasalah? Jangan-jangan segumpal tuyul masuk tidak sengaja lewat mulut—menelusuri kerongkongan—hingga lolos ke dalam perut saya, dan mencuri salah satu bagian penting dalam tubuh saya yang menyebabkan bau makanan dan minuman yang masuk akan sama dengan bau keluarnya. Semoga ini hanya kekhawatiran berlebihan saya saja, tolong dibantu jawab di kolom komentar untuk membantu menenangkan diri saya. Continue reading

Stop Ekspor Mineral Mentah Indonesia

Gambar dari sini

Coba kita cermati benar-benar gambar di atas ini, tidak usah ditelaah dengan analisa pikiran logis yang berat, nikmati saja kemilau emasnya. Bayangkan tumpukan emas sedemikian megah tersebut tersusun rapi di berbagai sudut pulau negeri ini. Di saat kita sedang berdiri di depan gudang kemegahan emas berdinding kaca yang semakin menyilaukan kebanggaan mata, datang orang asing dari berbagai negara bertanya, “apakah itu emas betulan, saudaraku?” Meski ini asumsi, siapapun kamu yang membayangkan hal itu, pasti akan merasa sangat bangga menjawab, “Ya. Itu emas sungguhan. Emas murni dari negaraku, dari pulauku, dari tanah kelahiranku.” Lalu orang asing tersebut terus memuja-muji, turut bangga hanya dengan melihat saja, bangga hanya dengan tahu bahwa Indonesia ini benar-benar kaya tanpa kata tapi. Continue reading

San’s Kekpisang Balikpapan

Namanya Nizar, usia tiga tahunan, sudah pandai main badminton semenjak usianya dua setengah tahun dan juga sudah pandai menginterogasi Abinya ketika Sang Abi hendak keluar rumah sendirian. Menggemaskan sekali. Energi anak kecil itu selalu berhasil memancarkan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitar, terutama keluarganya. Kepandaian Nizar di lapangan badminton adalah nurun Abinya yang dulu seorang atlet–namun belakangan lebih memilih berkeringat di dapur ketimbang di lapangan hijau tak berumput tersebut. Continue reading

Revolusi Mental Pertambangan Indonesia

gambar dari sini

Banyak saya jumpai di berbagai tempat kerja; orang yang nurut, patuh, rajin, justru semakin diperas tenaga dan pikirannya dalam konteks cenderung direpotkan. Sementara yang punya perilaku kerja sebaliknya, lebih banyak santainya karena dibungkus dengan kalimat “capek ngurusin orang yang kayak gitu, biarin saja.” Saya yakin orang-orang yang punya pernyataan demikian bertolak belakang dengan hatinya, pasti pengin mengubah etos kerja timnya yang kurang berprestasi, pasti pengin melakukan sesuatu tetapi bingung mengambil sikap yang tepat. Ini masalah mental. Pembiaran akan hal seperti itu memicu penularan penyakit malas kerja, “Ah, ngapain terlalu rajin, si itu aja kerja males-malesan tetap digaji sama.” Lalu harapan kemajuan apa yang ingin dicapai dengan pembiaran mental demikian? Continue reading

Pertamina Kekinian

Gambar Dari Sini

Pagi sedang cantik-cantiknya dihiasi keramahan mentari tanpa amarah panas menyambut kota dan kita dengan kata yang tak terdengar, saya meninggalkan rumah bersama anak dan istri—sekadar menikmati udara segar yang masuk lewat jendela mobil yang sengaja dibiarkan terbuka setelah AC dimatikan. Perjalanan belum sampai satu kilometer, muncul keinginan membeli sosis bakar yang biasa dijual di lapangan Merdeka setiap akhir pekan—saya memutar mobil dari kilometer nol Balikpapan menuju jalan minyak, berniat tembus pelabuhan Semayang yang berdekatan dengan lapangan keramaian yang dituju. Baru memasuki ujung jalan minyak, security sudah menghadang dengan palang yang entah mulai kapan dibentangkan. “Mas, belok kiri, Mas, masuk gang sono,” kata tangan kanan security yang menghadap ke arah saya,  dengan gerakan pelan namun pasti seperti boneka kucing di toko-toko orang china. Sayapun tak menepis arahannya, masuk ke arah lapangan Persiba yang mulai sepi karena adanya stadion baru. Setelah melewati lapangan, dua orang security mengarahkan kami untuk belok kanan. “Woi, buruan woi! Lo pikir berdiri macam begini gak capek apa? Buruan belok kanan dan jangan kembali lagi ke sini,” kata tangan kiri security berkumis aneh yang saya terjemahin secara ngawur. Saya terus jalan, hingga akhirnya keluar ke jalan jalur kilometer nol lagi. Ahelah, capek-capek muter kembali ke asal juga. Continue reading

Kejanggalan Iklan Rokok

Saat menonton televisi, melintasi jalan kota dan kampung, membaca media cetak, banyak iklan yang awalnya saya tidak mengerti produk apa yang sedang dipromosikan, sampai akhirnya saya jadi mengerti kalau produk tersebut ternyata rokok–hanya karena adanya pesan peringatan kesehatan. Lalu muncul pertanyaan besar di kepala saya, “perlukah dimunculkan pesan peringatan di iklan rokok yang sudah punya batasan-batasan itu?”

Mari kita melihatnya dari berbagai sudut pandang. Tapi sebelum meneruskan membaca, tolong pastikan bahwa anda sudah memakai celana dalam dan menaikkan resleting. Oh iya, yang paling penting, jangan lupa membayar utang. Continue reading

Suzuki, Berinovasi dan Menginspirasi

Tak terasa sepuluh tahun sudah berlalu, saya mengambil alih tanggungjawab mengurusi adik saya—Iwan—yang terpisah dengan ibu semenjak usianya sekira enam bulan. Tahun 2006 silam dia lulus SMP, saya minta izin sama bapak untuk menyekolahkannya di STM di kota, berharap lulus sekolah dia bisa mencari kerja sebagai montir. Di tengah jalan saya berubah pikiran, memutuskan untuk membawanya ke Semarang, melanjutkan kuliah di sana. Terjadilah. Tahun 2015 dia wisuda, setelah itu saya ajak ikut tinggal di Balikpapan, Kalimantan Timur. Berasa punya anak yang sudah dewasa, terkadang saya berpikir bahwa saya ini sudah tidak teramat muda lagi. Haha! Continue reading

Angin Segar Bagi Dunia Pertambangan

alat-berat-tambang

Pemandangan alat berat tambang parkir nganggur berjejer panjang lebar begini mudah dijumpai di banyak tempat , terutama di seputaran Kalimantan pada akhir 2014 hingga awal 2016. Kondisi tersebut merupakan dampak dari krisis berkepanjangan–harga komoditas batu-bara, meniral, minyak & gas yang merosot sesuka hati. Namun, beberapa bulan terakhir ini muncul angin segar yang mengantarkan harga komoditas merangkak naik meskipun belum mencapai harga semewah tahun 2011-2012. Continue reading