Category Archives: Rumah

Lingkaran Setan (Tambang) Mineral Logam

sumber gambar: www.esdm.go.id

Kehebohan isu tarik ulur kelonggaran sekaligus larangan mengekspor mineral mentah antara pemerintah dan pihak perusahaan pertambangan, semacam menonton dua wanita muda berkelahi di depan kelas merebut buku berharga–saling menarik sekuat tenaga tetapi sama-sama tidak menginginkan buku tersebut sampai robek. Kalau pemerintah terlalu saklek mengenai pelarangan ekspor mineral mentah selalu muncul ancaman kekhawatiran berupa operasi pertambangan terhenti yang berdampak pada terganggunnya stabilitas ekonomi daerah setempat hingga nasional dan kekhawatiran terlalu banyaknya jumlah tenaga kerja yang bakal mengalami pemutusan hubungan kerja. Haruskah kita terus khawatir seperti itu? Tidakkah berlebihan jika kekhawatiran demikian terus terjadi? Haruskah kekhawatiran melemahkan Undang-Undang yang mengatur peningkatan nilai mineral dalam negeri? Haruskah kita terus berada di dalam lingkaran setan ini? Haruskah saya menulis berlembar-lembar, isinya hanya pertanyaan? Oke, cukup.
Continue reading

Penggandaan Sutan Takdir Alisyahbana

Setelah terindikasi mengalami tekanan darah tinggi di usianya yang masih kepala dua, Ibu disarankan dokter untuk mengkonsumsi timun. Kebetulan (bahan) makanan yang dipertanyaakan apakah buah atau sayur tersebut sangat mudah didapat, murah dan bahkan bisa didapati secara cuma-cuma di kampung saya. Tak disangka nyana, ibu terus mengkonumsi timun sebagai makanan favorit–bahkan dijadikan camilan. Manis. Gurih. Krauk–hingga akhirnya, lambung ibu mengalami gangguan hebat. Ibu jatuh sakit. Ia tak dapat mengenali orang. Badannya terkulai lemas di tempat tidur beralaskan tikar berbahan daun pandan.

Entah ada hubungannya atau tidak, ibu jatuh sakit setelah meninggalnya adik saya–Sutan Takdir Alisyahbana–yang baru berumur dua bulan, di tahun 1985. Di tengah sakit yang melandanya, Ibu didatangi Almarhum adik lewat mimpi, katanya. “Ibu, bangun. Jangan sakit lagi,” cerita ibu, menirukan apa yang ia lihat di mimpinya. Saya menyandarkan dagu pada lipatan tangan sendiri, mendengarkan cerita-cerita ibu tentang adik yang tak sedikitpun saya bisa ingat garis mukanya. Saya hanya tahu tentang nisan kuburnya di sebelah kepala Nenek Kisman. Itupun kata ibu, dan ibu yakin hanya berdasarkan dia ingat makamnya Nenek Kisman. Keyakinan ibu terkadang meragukanku. Ibu pernah berhenti mengunjungi makam anaknya itu sekian banyak tahun setelah Ibu cerai dengan Bapak pertengahan tahun 1989. Apakah terjadi tumpang tindih dan pergeseran makam di waktu tersebut, bisa iya bisa tidak. Tapi… semoga itu hanya pikiran kirtis saya saja, dan keyakinan ibu tetap benar sampai kapanpun. Jadi saya bisa mengunjungi makam adik saya (lagi) nanti saat pulang kampung, bersama ibu yang masih saja phobia makan timun. Continue reading

Menerangi Senyum Indonesia

listrik-nasional

Sedang asik menonton film lewat pemutar DVD, saya dikejutkan oleh lampu ruang tamu yang seketika terang benderang tak wajar. Saya tidak bisa menahan mata untuk tidak spontan melempar pandangan ke arah lampu. Baru dua kali saya berkedip, ruangan seketika menjadi gelap gulita. Belum selesai saya mengeluhkan mati lampu, tiba-tiba lampu menyala kembali dengan terang yang masih tak wajar, dan… praaaaaaaaak!   Continue reading

Suara Kertas

Soal penataan dokumen dan buku-buku, saya tergolong orang yang rajin dengan predikat kadang-kadang. Tetapi ketika rajinnya muncul, akan begitu khusuk merapikan apa saja yang bisa dirapikan selama sesuatu itu tampak tanpa melibatkan indera keenam. Buku-buku yang tersimpan dengan urutan beda tinggi pasti saya rombak hingga membentuk susunan seragam, semacam barisan pasukan anti huru-hara yang melakukan simulasi.

Di tengah merapikan dokumen dan buku-buku, saya menemukan notebook ukuran sedang bertuliskan merk obat dengan tinta hijau kusam. Saya membuka buku tersebut memastikan apakah perlu dibuang atau dipertahankan. Saat membuka halaman pertama, saya menemukan coretan tak beraturan yang dibubuhi tinta hitam dan tinta biru–saya pikir tidak perlu disimpan. Toh, saya punya buku tulis yang lebih bagus, pikir saya. Sebelum memutuskan dibuang, saya membuka lembaran kedua dengan tangan kanan, sontak tangan dan mata saya terhenti. Saya menemukan catatan istri saya. “ALASTAIR.” Begitu judul tulisannya. Continue reading

Menggila di Bilik ATM!

Pemilik rumah kontrakan (sebut sapa Pak P) yang masih saya tempati hingga hari ini menawarkan tandon kapasitas 1200 liter beserta dudukannya yang terbuat dari kayu ulin separuh harga baru, karena tahu saya bakal pindah ke rumah sendiri–kurang dari dua bulan lagi. Jelas dia tahu, karena saya kasihtahu saat menyampaikan bahwa saya tidak memperpanjang masa kontrak. Ia yang sedang butuh uang tambahan tak segan meminta saya membayar segera, jika berminat. Tentu saya berminat dengan harga murah, kan bisa dijual untung kalaupun tidak dipakai. Ahaha! Continue reading