Category Archives: sahabat

Menerangi Senyum Indonesia

listrik-nasional

Sedang asik menonton film lewat pemutar DVD, saya dikejutkan oleh lampu ruang tamu yang seketika terang benderang tak wajar. Saya tidak bisa menahan mata untuk tidak spontan melempar pandangan ke arah lampu. Baru dua kali saya berkedip, ruangan seketika menjadi gelap gulita. Belum selesai saya mengeluhkan mati lampu, tiba-tiba lampu menyala kembali dengan terang yang masih tak wajar, dan… praaaaaaaaak!   Continue reading

[#29 Kembar Sial] 6 Tahun Kemudian

 Kau sedang tidak salah membaca judul, memang aku sengaja menceritakan kau kehidupanku enam tahun kemudian, setelah terakhir aku berjumpa Hary pada awal tahun 2005 lalu. Hidup terus berjalan—seringkali begitu cepat berlalu—seperti kau yang setia mengikuti ceritaku, tak terasa sudah hampir bagian terakhir ini. Terimakasih. Continue reading

[#28 Kembar Sial] Ikut-Ikutan (tak) Melamar Pekerjaan

 Tiga bulan sudah aku lulus kuliah, belum pernah satupun surat lamaran pekerjaan yang aku buat apalagi mengirimnya ke perusahaan-perusahaan. Tak apa. Tanpa itu semua aku sudah bisa hidup enak—tinggal di kos tanpa bayar, butuh uang makan tinggal kumpulin buku-buku bekas dan koran dan kertas yang bisa kau jual kilo, butuh uang hiburan tinggal bantu-bantu kawan yang suka ngumpulin handphone mati total untuk diperbaiki dan dijual segera—kalau kelamaan tidak laku, bakal mati total kembali. Continue reading

[#26 Kembar Sial] Lelaki dan Rembulan dan Nyanyian

            Seringnya diri bertandang ke rental komputer mengetik ulang laporan yang bernasib robek dan mencetaknya kembali membuat kantongku lebih kempis dari pantat kurusku, sementara uang jatah bulanan dari bapak tak bertambah seribu tiga ratus rupiah pun. Aku tak punya pekerjaan sampingan yang menghasilkan, bahkan tak terpikirkan untuk mencarinya. Continue reading

[#25 Kembar Sial] Berat Dipikul Sendiri, Ringan Dijinjing Sendiri

Sebulan rasanya seperti setahun, bahkan lebih. Begitu lamban waktu berjalan selama aku magang di PT. Newmont. Keterbatasan pengetahuan dan keterampilanku yang menyebabkan semua itu terjadi, dan beberapa hambatan yang tak bisa aku kendalikan.

Di hari pertama magang saja aku sudah dibuat keringat dingin oleh keadaan yang mempertemukan aku dengan manajer departemen yang ternyata orang bule. Tak sepatah katapun dari mulutnya dapat aku mengerti, sampai dia tampak kesal, lalu memanggil sekretarisnya untuk membantu menerjemahkan. Continue reading

[#24 Kembar Sial] PKL: Praktik Kehidupan Lelaki

Aku, Hary, dan Yadi sudah mengajukan proposal praktik kerja lapangan atau magang di PT. Newmont Nusa Tenggara—tambang emas ternama yang sering dibicarakan orang-orang di mana saja. Aku mendengar adanya perusahaan tambang emas besar ini waktu aku SMA di kota, orang-orang yang membicarakannya mengatakan, kalau tambang ini adalah tempat kerja paling bergengsi di Nusa Tenggara Barat.

Hary dan Yadi sudah jauh-jauh hari membayangkan bakal mampir di pantai senggigi hingga gili terawangan jika proposal magang disetujui. Aku mengiyakan permintaan mereka berdua untuk memperkenalkannya pada keindahan pulau lombok. Continue reading

[#22 Kembar Sial] Musuh Luar Selimut

            Aku mengenakan kaus oranye bersablon bunga dan celana kain berbahan dril warna krem—pakaian yang sesungguhnya tidak aku sukai. Aku tidak begitu suka warna oranye: mengingatkanku dengan panggilan banci yang sering menyerangku semasa kecil. Aku tidak suka celana kain, sebab karenanya aku merasa lebih tua sepuluh tahun. Tetapi aku juga tidak suka membiarkan pakaian pemberian keluarga menganggur belaka di lemari, untuk menghargai, aku mengenakannya di malam yang aneh ini. Continue reading