Cita-Citaku di Hari Senin

Hari senin aku mencatat cita-citaku di buku tulis berwarna cokelat lembut dan hijau pucuk. Sengaja aku menulis ulang supaya cita-cita yang aku catat di hari senin itu bisa menggandakan dirinya pada hari selasa, rabu, kamis, jumat, dan sabtu. Hari minggu tidak perlu. Bercita-cita pun butuh liburan, seperti pendidikan dan pekerjaan.

Cita-citaku adalah memiliki perusahaan sendiri, yang memperkerjakan ribuan orang-orang baik. Bajingan juga boleh, tetapi yang sudah belajar menjadi baik. Sebenarnya ini adalah kembangan dari cita-cita terdahuluku. Dulu, aku sangat berkeinginan bekerja mengelola ribuan orang, atau ratusan orang tak apalah, mengelola dalam artian sejumlah ratus dan ribu yang kusebut tersebut adalah di bawah kendaliku langsung.

Paling tidak dengan cita-cita seperti itu aku bisa berbuat baik semaksimal mungkin terhadap sebanyak mungkin orang dengan jumlah yang kusebutkan tadi. Bukan mau sok-sokan punya banyak anak buah. Urgh. Aku tidak suka istilah anak buah, seringkali bikin orang tertentu gila hormat dan gila jabatan. Aku lebih suka menyebutnya anggota atau partner, rasanya lebih nyaman di hati dan senyuman.

Cita-cita awal belum kuraih. Aku bekerja tidak memiliki anggota sebanyak itu. Hanya lima orang. Karena tidak kesampaian bekerja mengelola langsung ratusan hingga ribuan orang, jadi cita-citanya kuubah saja dengan memiliki perusahaan sendiri. 

Kalau kamu punya cita-cita yang belum kesampaian, coba saja cara seperti ini. Bukan menurunkan tingkat dari cita-cita itu sendiri, melainkan justru mengubahnya menjadi lebih besar lebih hebat lebih fantastis lebih spektakuler lebih wow lebih aduhai. Tidak perlu terpengaruh dengan bisikan pesimis orang-orang yang bukan isi hatimu sendiri.

Seperti hal lalu yang pernah kualami–meski bukan soal cita-cita–sewaktu kuliah, di mana beberapa kawan menertawaiku yang sedang berbahasa jawa. Cara bicaramu sungguh aneh, katanya. Sebaiknya kau berbahasa Indonesia saja, katanya lagi dan lagi. Sindiran seperti itu seringkali kudengar, tidak sekadar sekali dua. Memang dasarnya aku, bukannya gentar, bukannya mengikuti saran mereka, aku justru semakin bicara dan terus bicara tanpa kenal malu. Mau benar mau salah, peduli setan saja lah, pikirku. Justru karena terdengar aneh itu lah aku harus terus belajar dan berbicara sampai tidak terdengar aneh. Setidaknya tidak aneh-aneh amat.

Sama halnya juga dengan seseorang yang membuat karya video, awalnya tidak begitu dipandang karena karya-nya bisa banget. Orang sukses, harus semakin menempa dirinya supaya lebih pantas untuk dianggap ada. Bukan sebaliknya, meninggalkan usaha dan karya hanya karena sindiran tidak penting itu. Sindiran itu penting sebenarnya jika kita melihatnya sebagai pemicu untuk menjadi lebih baik, tetapi tidak penting jika sindiran itu membuat kita kepikiran dan jadi orang pesimistis.

Kamu kamu yang sudah membaca hingga di barisan ini, tanggung dong kalau sudah sejauh ini tanpa berucap amin? 

Semoga segera datang saatnya saya memiliki perusahaan sendiri. Aaa? Aaamiiinnnn….