Demi Keluarga Aku Rela…

Semburat matahari siang mengundang kucuran keringat yang ugh! Untungnya bukan saya yang berkeringat berlebihan, jadi tidak terlalu lemas dalam manjalani puasa hehe. Adalah enam belas orang kuli bangunan yang mengucurkan keringat sejagung-jagung, mengerjakan pengecoran tanpa mengenal lelah hingga malam menjelang. Saya iseng mampir mengajak ngobrol bersama mandornya, sekadar berempati terhadap perlindungan keselamatannya yang teramat minim.

Di sisi lain–di waktu yang sama–saya teringat betapa beruntungnya karyawan-karyawan yang bekerja di perusahaan saya berkerja saat ini. Semuanya mendapatkan fasilitas perlindungan yang sangat bagus, dari alat pelindung diri (APD) berkualitas tinggi–seperti helm, kacamata, sarung tangan, baju khusus, dan sepatu–sampai fasilitas asuransi kesehatan yang lebih dari satu. Sementara enam belas orang kuli bangunan tersebut tidak mendapatkan perlindungan sepadan seperti apa yang karyawan-karyawan di tempat kami dapatkan, bahkan tidak mendekati.

Enam belas orang tersebut bekerja di pinggiran bangunan yang di situ mencuat besi-besi panjang tak terhitung jumlahnya, kalau ada yang terpeleset akan tertusuk hingga berdarah-darah bahkan lebih parah dari itu. Mereka turun ke permukaan yang lebih dalam sekitar empat lima meter dengan cara perosotan karena tidak ada tangga. Helm yang mereka pakai rata-rata hanya batok tanpa tali suspensi pelindung, tak ubahnya orang yang menyalahgunakan gayung sebagai pelindung kepala.

Sebagian lainnya sibuk mengoperasikan mesin molen, menangani semen campur pasir campur kerikil dengan kondisi percikan bahan-bahan itu ke mana-mana. Semakin kencang perputaran mesin semakin kencang pula percikan material ke mana-mana. Sementara tidak ada dari mereka yang punya kacamata pelindung. Bajupun tiada berkancing.

Dua orang di antara mereka mengundang perhatian lebih saya. Wajahnya begitu mirip. Satunya tua, satunya muda–bahkan kecil. Tebakan saya benar, ternyata mereka bapak dan anak yang bersama-sama mengumpulkan sedikit rupiah untuk wanita mereka yang bernama ibu sekaligus istri di rumah. Dan saudaranya yang lain. Sedikit sedihnya, anaknya yang diajak menjadi tukang itu masih terlampau kecil. Memang saya tidak menanyakan umur persisnya, tapi saya tebak wajah dan posturnya tampak umur SMA awal-awal–seandainya ia mendapat kesempatan bersekolah.

Enam belas tukang bangunan tersebut bukanlah orang-orang yang punya rumah di Kalimantan, mereka semua datang dari Jawa Timur–serombongan ke Kalimantan mendapat pekerjaan borongan itu. Dan, jauh-jauh kok ya tidak mendapat perlindungan.

Setelah bercerita dan berbagi, kawan saya yang baik hati mengumpulkan alat pelindung  diri bekas namun layak pakai dan dibagikan ke mereka. Merekapun lanjut bekerja dengan keseragaman yang lebih baik.

Saya merasa beruntung berada di tengah orang-orang baik.