Digitalization – 2019

Mayoritas proses bisnis saat ini menggunakan sistem digital, tak terkecuali bisnis pertambangan yang berada di lokasi susah sinyal. Unik memang, namun kenyataannya demikian.

Perusahaan layanan servis pertambangan tempat saya bekerja juga tak mau ketinggalan, sebab dengan sistem digitalisasi berhasil meng-efisiensi-kan banyak proses, yang membawa hasil penggandaan produktivitas.

Semua orang di setiap level di proyek yang sudah menggunakan sistem digital diajak mengubah mindset dari konvensional ke digital. Tak sedikit yang butuh waktu lama dan upaya keras untuk bisa mengimbangi modernisasi tersebut. Saya berpikir, saya adalah manusia modern yang tidak perlu beradaptasi.

Congkak? Memang!

Begitu menengok blog pribadi, ternyata saya belumlah sepenuhnya menjadi manusia bermindset digital, sebab halaman blog saya begitu lama kosong lantaran saya hanya mau menulis blog jika membuka laptop. Padahal, saat buka laptop, kalau gak kerja ya belajar, gak tersentuh pula blognya.

Digitalnya saya itu nanggung, memang. Di facebook, saya menulis hampir tidak pernah pendek. Bahkan bisa lebih panjang dari postingan blog, dan semua saya tulis dengan dua ibu jari lewat smartphone saya. Sedangkan di blog tidak saya lakukan.

Di sisi lain, saya merasa jiwa saya agak kering jika terlalu lama tidak menulis, sebab menulis bagi saya adalah kegiatan batin yang menyenangkan.

Di platform social media, saya tidak bisa menulis setiap hari karena ruang di sana terlalu terbuka untuk akses publik dan terlalu sensitif. Alasan kedua itu yang sepertinya paling membuat saya harus tahan diri, tulisan yang mau dipublish di sana harus benar-benar saya seleksi.

Kalau di sini beda, orang yang mampir pada umumnya adalah yang memang niat membaca tulisan saya, jika pun ada hal yang kurang disetujui, diskusi dan masukannya lebih enak. Pada dasarnya, saya lebih suka menulis di sini.

Untuk itulah, saya akan menulis blog dari HP saja, dengan dua jempol saya yang aduhai ini.

Masih ada yang baca, kan? Hahaha…