Dongeng Kehidupan

Dongeng sebelum tidur…ceritakan yang indah biar ku terlelap~ dongeng sebelum tidur…mimpikan diriku mimpikan yang indah…~

Gue suka lantunan ‘dongeng sebelum tidur’ bukan karena masa kecil gue dipenuhi dengan dongeng-dongeng setiap akan tidur. Lagu itu hanya membantu daya imajinasi gue dalam merasakan betapa indahnya masa kecil yang setiap hari didongengin, ditugguin tidurnya, dibangunin tanpa meributkan petunjuk waktu. Itu, yang membuat gue jatuh cinta pada lagunya Wayang itu.

Bahkan gue mampu mengingat berulang kali kalau gue berada di tengah keluarga bahagia, cemara nan ceria, berkecukupan. Ya. Orang tua gue tidak bercerai, mereka menunjukkan kepada kami betapa harmonisnya hubungan kedua orang tua gue, betapa mereka memberikan kasih sayang luar biasa kepada kami anak-ananknya. Mereka hidup dalam cinta, selama-lamanya.

Dalam imajinasi, begitu keadaannya.

“Mereka hidup bahagia selama-lamanya. Juga, kami, anak-anaknya, hidup bahagia bersama mereka selama-selamanya”.

Dalam imajinasi, begitu gue berdongeng untuk diri sendiri.

Semenjak orang tua bercerai di umur gue sekitar 5 tahun, banyak keinginan dan harapan, yang berhasil gue wujudkan. Tapi dalam batas khayalan. Hari-hari gue penuh dengan ejekan, kalo gue gak lebih dari seorang anak yang tak cukup kasih sayang.

Gigit jari adalah kegemaran gue. Gue sangat suka melakukannya, walau kerap tanah yang tak sempat dibersihkan dari telapat ikut masuk ke mulut. Gue suka gigit jari setiap melihat anak-anak bermain dengan keluarganya, bermain dengan kelimpahan mainannya, bermain dengan sejuta keceriaan, bermain dalam perasaan dikelilingi malaikat atau peri, bermain dengan bacaan-bacaan menyenangkan.

Perkembangan gue, abang gue, dan, adik gue, tidak begitu baik. Entah itu perkembangan fisik maupun mental. Memang, gak begitu mudah hidup dalam kondisi keluarga terpecah belah. Gak begitu mudah hidup melihat kedua orang tua menikah lagi, namun masih tinggal berdekatan, dalam satu kampung hanya berbeda RT. Hari-hari gue penuh dengan ejekan, kalo gue gak lebih dari seorang anak yang tak cukup kasih sayang. Gak lebih dari seorang anak yang tak punya tempat pulang–home.

Dalam keseharian gue, begitu kenyataannya.

“Mereka hidup bahagia selama-lamanya. Juga, kami, anak-anaknya, hidup bahagia selama-lamanya. Dengan cara sendiri-sendiri, dengan jalan sendiri-sendiri. Masing-masing.”

Dalam kesadaran penuh maaf, begitu gue menghibur diri sendiri.

Beruntung punya kakek yang teramat peduli. Yang setiap hari memastikan gue berangkat sekolah, belajar mengaji, punya uang jajan, cukup makanan. Bahkan, kakek sering memastikan kalo gue baik-baik saja setelah perceraian orang tua, “dan akan selalu baik-baik saja.” Tegasnya.

Beliau merupakan teman hidup bagi gue. Salah satu sosok favorit gue.

***

Hidup terus bejalan. Gue bertahan dengan cara ala kadarnya. Hari berganti musim, musim berganti seragam sekolah, seragam sekolah berganti kebebasan, kebebasan berganti tekanan tuntutan pekerjaan. Waktu pun berlalu, jiwa belum sepenuhnya terbebas dari masa lalu.

Kakek meninggal. Gue gak pulang di saat hembusan napas terakhirnya. Gue menangis, kecewa, terpukul, benci dengan peraturan perusahaan yang menyatakan, “cuti darurat hanya dapat diambil apabila orang tua atau saudara kandung meninggal dunia.” Gue mengutuk diri sendiri, karena lebih takut kehilangan pekerjaan daripada tak mengantarkan kakek ke tempat peristrahatan terakhir. Gue mengutuk diri sendiri, karena gak berani melawan pernyataan bos besar. “Sudah aturannya, Zia, kamu hari ini tetap masuk kerja. Dulu, waktu Ibu saya meninggal, saya tidak pulang karena saya sedang bertugas, dan saya harus bertanggungjawab terhadap tugas profesional saya. Kamu apalagi, yang meninggal adalah kakek, bukan keluarga inti.” Gue tidak melakukan perlawanan argumen sedikitpun. Tidak ada reaksi keras yang gue tunjukkan di depannya. “Ya. Semoga Tuhan mengampuni dosa bapak.” Gue menutup mata, gak ingin membayangkan apa yang telah dia putuskan ketika orang terpenting di hidupnya pergi untuk selama-lamanya.

Sesaat kemudian.

Emosi gue membuncah. Badan gue terasa kencang, penuh dengan amarah. Perasaan campur aduk. Gue beranjak dari kursi, meninggalkan ruangan bos besar, gue banting pintu sekeras mungkin, hingga sekretaris yang duduk di depan ruangannya terbelalak. Gue berteriak di lorong memecah kesibukan teman-teman kantor, gue jatuhin semua figura bergantungan tanpa sisa, gue mengamuk.

Gue lakuin semua itu hanya dalam batas imajinasi, ketika gue merokok secara membabi buta di smoking area belakang kantor, sekeluarnya gue dari ruangan bos. Gue luapin amarah dalam pikiran. Sebiasa itu. Mungkin seperti itu lah cara orang-orang lemah bersikap.

Sejak saat itu, gue tau persis caranya membenci diri sendiri.

***

Hidup terus bejalan. Gue bertahan dengan cara yang lebih baik. Tekanan tuntutan pekerjaan berganti dengan tekanan tuntutan pekerjaan lain, di tempat lain, di pulau lain, di suasana lain, bendera lain, dan ke-khas-an organisasi lain. Terjadi beberapa kali. Seperti halnya kisah asmara, berganti dan berlalu, setelah lembaran cerita baru siap diisi.

Waktu pun berlalu, jiwa belum sepenuhnya terbebas dari masa lalu.

Gue ketemu dengan seorang gadis pengubah prinsip yang selama ini gue pegang. “Gue akan menikah telat. Gue mau menikmati hidup ini dengan cara gue, tanpa aturan, lebih bebas dari merpati.” Sekuat apa prinsip itu sebelumnya, gue gak bisa mengukur. Karena, tak perlu waktu lama untuk  gue mengubur prinsip kebebasan itu, setelah berkomitmen dengan Ifat, gadis yang sekarang menjadi bagian sangat penting dalam hidup gue.

***

Ifat berasal dari keluarga berkecukupan. Apapun yang dia inginkan selalu dituruti oleh orang tuanya, kecuali berdongeng sebelum ia tidur. Bapaknya membelikan buku dongeng apa saja, sebanyak apapun, asal tidak diminta untuk membacakannya setiap Ifat menjelang tidur.

Orang tuanya tidak bercerai seperti orang tua gue.

Tapi…

Orangtuanya terpisahkan oleh takdir. Bapaknya meninggal ketika Ifat masih duduk di kelas 2 SMP. Semenjak kepergian sang bapak, Ifat menghabiskan banyak waktu bersama kakeknya–dari ibu.

Kurang lebih sama seperti gue, kakek menjadi sosok favorit setelah kasus perceraian terjadi; cerai hidup dan cerai mati.

Sosok favorit Ifat pergi sekitar hampir 10 tahun kemudian, setelah dia lulus kuliah dari salah satu Universitas swasta di Yogyakarta.

***

Hidup terus bejalan. Ifat bertahan dengan cara yang lebih baik. Hari berganti kehilangan. Kehilangan berganti kedatangan. Kedatangan berganti kehilangan sekaligus kedatangan baru, sosok lain, berharap terus ada pelindung dalam hidupnya selain peri dalam dongeng-dongeng yang dibacanya.

Waktu pun berlalu, jiwa belum sepenuhnya terbebas dari masa lalu.

Hingga akhirnya Ifat ketemu sama gue.

Kami menikah.

Kami hidup bahagia selama-lamanya.”

Tidak lagi dalam imajinasi, tapi ini nyata, begitu keyakinannya.

Setiap pulang kerja atau setiap akan tidur, Ifat selalu menagih pengantar tidur ke gue. “Cerita!” Jangan harap dia akan diam atau tidur, kalo gue belum bercerita. Akhirnya, apapun yang gue alami, gue jalani di kesibukan hari itu, gue cerita ulang semuanya. Berasa dua kali hidup dalam setiap harinya.

Ketika dalam seharian banyak kejadian tak menyenangkan, atau hal yang membuat pikiran enggan untuk mengingat, gue menceritakan masa lalu dengan dua kemungkinan tema; kelam atau konyol. Gue terus menjaga daya ingat, gue gak boleh kehabisan cerita, karena gue gak pernah membaca buku dongeng. Tau pun tentang dongeng, tak lebih dari cerita-cerita umum dari para guru jaman dulu. Itu pun, tak lebih dari cerita kancil mencuri timun atau bidadari yang selendangnya diambil hingga tak bisa kembali ke kayangan.

Gue pun tak mau kalah.

Gue kerap meminta Ifat untuk gantian bercerita. Gue memintanya untuk menceritakan kisah-kisah dongeng yang dia baca dulu. Dongeng yang tak sempat gue baca ceritanya. Ifat sangat seru menceritakan kisah-kisah dongeng, seperti Gadis Penjual Korek Api, Maya si Lebah, Raja yang Bodoh, Serigala dan Tujuh Anak Kambing, Penyihir Ozzu, Hanz and Grettel, Beauty and The Beast, Snow whiteRapunzel, dan Dongeng 1001—cerita sebelum tidur lainnya.

Bagian yang paling gak enak di setiap Ifat selesai berdongeng buat gue adalah ketika dia menanyakan dua seri Buku Dongeng 1001 nya dulu. Buku yang dia miliki ketika gue sering mandi telanjang di sungai dekat rumah, di tempat jauh yang pastinya sangat asing buat dia.

“Mas, dua buku aku yang Dongeng 1001 itu kira-kira di mana, ya?”

“Mana Mas, tau! Mas kecilnya di mana, Adik kecilnya di mana?”

“Mas gak boleh jawabnya kayak gitu. Gak membantu!”

“Dua buku yang mas tau sih yang warna hijau dan merah maroon aja.”

“Buku apaan?”

“Buku nikah!”

“MAS!!!! Ihhhh….”  Rambut gue dijambak habis-habisan. Tak jarang dikekep pake bantal panjang.

Kini kami punya anak, cowok, usia 5 bulan, namanya Alastair. Dan, kami punya PR untuk membangun kisah dongeng kehidupan untuknya. Kisah yang mudah-mudahan berbeda dengan masa kecil kami berdua.

Ifat sangat takut akan kehilangan. Dia tak ingin apa yang dialami Ibunya terjadi juga padanya. “Mas gak boleh pergi duluan.” Kalimat itu sangat sering disampaikan ke gue. Disampaikan justru ketika kami sedang senang-senangnya, ketika kami sedang bermain riang dengan Alastair.

Gue juga sangat takut dengan kegagalan. Gue gak ingin apa yang dialami orang tua gue, terjadi di rumah tangga gue. Untuk itulah kenapa keterbukaan, saling mengerti, setia, saling percaya, serta  saling menghargai, begitu gigih kami jaga—kami sama-sama belajar. Supaya kami terus bisa menjadi teman hidup yang berbahagia seperti kebanyakan akhir cerita dari sebegitu banyak kisah dongeng.

***

IMG_2992

Tiga hari lalu gue baca buku Happily Ever After karya Winna Efendi. Sebelum gue masuk ke dalam dunia cerita di dalamnya, gue udah jatuh cinta duluan pada quote di sampul bergambar rumah pohon berlatar krem itu.

“Alam semesta punya rahasianya sendiri. Tetap percayalah akan rencana yang dipersiapkannya.”

Setelah membuka halaman demi halaman, kekuatan tokoh dan cerita  di dalamnya membuat gue menghabiskan 355 halaman hanya dalam waktu setengah hari.

Bagaimana Lulu yang menjadi tokoh utama dalam buku itu memiliki orang tua luar biasa, memiliki Ayah yang super cool yang menjadi orang favoritnya di seluruh dunia—bapak sekaligus teman hidup baginya.

Namun…

Orang favorit yang membacakan dongeng setiap hari untuknya, yang sering mengajaknya berkemah di belakang rumah, harus pergi selama-lamanya karena suatu penyakit yang dideritanya. Saat itu, Lulu merasa hidupnya seakan sudah berakhir—bahwa hidup ini tak seperti dongeng.

Begitu banyak kebahagiaan dalam kisah ini, juga begitu banyak ketakutan yang muncul karena ketidaksiapan para tokohnya, terutama Lulu, akan kehilangan kebahagian-kebahagiaan itu. Terlebih, pengkhianatan yang dilakukan oleh sahabat satu-satunya, Karin, yang terjadi pada waktu berdekatan dengan kepergian Ayahnya, membuat Lulu semakin takut dengan akhir sebuah cerita—kehidupannya.

Hingga pada akhirnya, Lulu bertemu dengan sosok lelaki, yang menjadi teman hidupnya, yang menguatkan. Yang pada  akhirnya, membuat Lulu percaya pada kisah dongeng yang berakhir di ‘mereka bahagia selama-lamanya’, walaupun tidak semua dongeng berakhir bahagia. Memang.

Gue merasa banya kejadian yang mewakili cerita hidup gue dan ifat di dalamnya, terutama tentang emosinal yang muncul dari setiap kejadian kehilangan atau kegagalan tertentu; gue dapat merasakan secara nyata bentuk emosi dari ceritanya, sedetail mungkin.

Usai membaca, gue menceritakan sebagian besar isi ceritanya ke Ifat. Gue memintanya untuk ikut membaca. Karena buku tersebut cukup mewakilkan ketakutan-ketakutan yang sempat muncul di perjalanan rumah tangga kami, juga di perjalanan hidup masa lalu kami, sekaligus harapan besar kami ke depannya.

Seperti apa yang disampaikan Ayah Lulu lewat catatan kecilnya, “Hidup adalah kanvas kosong; kamu bebas menciptakan ceritamu dan menentukan akhirnya…”

Kami pun (akan) melakukan hal itu.

Kami (akan) bahagia selama-selamanya. Bersama anak-anak kami.