Duka Cita Perusahaan Smelter

Foto: dari sini

Setiap melihat gambar slag dump, tempat di mana ampas bijih mineral ditumpah-tumpah-ruah-kan, pikiran saya selalu melayang ke Sorowako sepuluh tahun silam. Di sana, pertama kali saya melihat langsung pabrik smelter. Di sana, tempat pertama kali saya melihat lahar yang begitu panas begitu dekat begitu berapi-api. Di sana, tempat pertama kali saya bisa membeli rambutan sepohon buah rimbun hanya cukup di bayar dengan uang seratus ribu. Di sana, tempat pertama kali saya membawa uang kurang dari seratus ribu ditukar dengan durian sekarung kecil. Tidak ada hubungan antara ampas bijih dengan buah, jadi tidak usah dipikirkan. Lanjut membawa saja, ya?

Waktu saya di sana, tahun 2007, tambang nikel Sorowako masih menyandang nama PT Inco (International Nickel Indonesia), sebelum akhirnya diganti menjadi PT Vale. Tahun 1976 fasilitas pengolahan nikel yang disebut smelter dan fasilitas penambangan lainnya dibangun–konon menurut sejarah PT Vale–melibatkan 10.000 tenaga kerja Indonesia dan 1000 tenaga kerja asing. Saya tidak bisa membayangkan manusia sebegitu banyak bergumul di satu lokasi yang berdekatan. Membayangkan tenaga kerja asing yang jumlahnya mencapai angka ribu begitu pun kepala saya langsung pirang dan lidah saya mendadak cadel. Zaman segitu sarana pendukung belum banyak, alat berat belum sehebat sekarang, teknologi belum canggih, admin lambe turah masih direncanakan proses bikin oleh orang tuanya, wajar kalau banyak menggunakan tenaga manusia. Saking banyaknya pekerja yang terlibat, setahun kemudian fasilitas penambangan dan pengolahan nikel diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia yang tidak ingin saya sebutkan namanya di sini, saat ini.

Seminggu pertama di Sorowako, saya dibuat kagum sekaligus bingung dengan jadwal hujan yang konsisten di sore hari. Seringkali mendatangkan petir yang berulang kali menghancurkan TV dan barang elektronik lainnya di mess. Saya hanya menerka-nerka soal intensitas sambaran petir yang begitu tinggi. Mungkin karena lempengan mineral di perut bumi sorowako sangat tinggi atau karena–entah mengapa–hampir semua bangunan beratapkan seng. Yang jelas, hujan yang konsisten itu ternyata hujan buatan. Saya tersadarkan setelah memperhatikan lalu-lalang helikopter, dan tentu bertanya setelah itu. Setiap sore helikopter diterbangkan membawa berkarung-karung bahan pemicu hujan berupa garam dapur atau Natrium Chlorida (NaCl). Bahan tersebut teruji dapat menggabungkan butir-butir atmosphere di awan yang dikenal dengan istilah higroskopis. NaCl ditumpahkan, menyebar bebas di udara, lalu terjadilah hujan yang mengguyur daerah setempat. Hal itu dilakukan karena di sana menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), yang butuh air tidak sedikit setiap harinya.

Di Sorowako ada danau keren, namanya Danau Matano. Luasnya 28 X 8 kilometer dengan kedalaman 590 meter. Airnya begitu bening, tak pernah surut apalagi mengering. Terkadang pikiran bodoh saya waktu itu bertanya, kenapa melulu pakai hujan buatan kalau di sini ada danau sebegini besar? Dan isi kepala saya sendiri juga yang menjawab meski asal-asalan; air danau tersebut menjadi sumber air bersih seluruh warga. Itu milik umum, tidak boleh digunakan untuk kepentingan perusahaan. Gara-gara urusan air saya jadi sering ngobrol dengan diri sendiri, tetapi tidak mau juga disebut gila.

Saya hitung-hitung, umur smelter nikel PT Vale itu sudah berumur 40 tahun. Sudah sangat lama. Dan masih beroperasi riang gembira hingga saat ini. Entah sudah berapa juta banyak ton nikel yang sudah dihasilkan dari sana. Tapi, meski masih beroperasi, konon Vale mengalami kerugian dalam mengoperasikan smelternya.

Belakangan ini, tersebar berbagai berita yang mengkhabarkan banyaknya perusahaan smelter yang gulung tikar. Semoga saja pengusaha tikar tidak gulung smelter, pasti mereka akan sangat kerepotan.

Menurut Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan Pengolahan dan Pemurnian Mineral Indonesia (AP3I) Jonatan Handjojo, ada 25 perusahaan yang membangun smelter nikel. Dari jumlah yang tak sedikit itu, hanya dua smelter di Morowali, Sulawesi Tengah yang masih beroperasi secara lancar jaya. Sisanya merintih kesakitan. Lebih menyedihkannya lagi, 11 perusahaan smelter benar-benar berhenti beroperasi.  Ah, terbayang betapa banyaknya karyawan yang kembali menganggur dan mendekap harapan hampa.

Kalau penasaran tentang 11 perusahaan yang berhenti beroperasi dan 12 perusahaan yang merugi dengan smelternya, bisa baca ulasannya di https://kumparan.com/angga-sukmawijaya/tanggapan-esdm-soal-11-pabrik-smelter-tutup-akibat-relaksasi-ekspor

Kekusutan industri pemurnian mineral Indonesia terjadi karena relaksasi ekspor mineral mentah, lagi dan lagi. Perusahaan penambang memilih langsung ekspor sebelum mengolah dan memurnikan mineralnya, mungkin supaya cepat dapat untung tanpa harus menunggu proses pemurnian. Sayang sekali jika pola pikirnya seperti itu. Negara lain yang terbahak-bahak menertawakan kita. Mereka tidak perlu menggerus perut bumi negaranya, tetapi bisa mendapatkan bahan mentah yang bisa dimurnikan. Setelah terwujud sebagai bahan jadi, barangnya dijual mahal ke Indonesia. Sungguh lingkaran setan yang menyesatkan.

Kalau boleh menebak, sikap-sikap pengusaha yang tidak mengindahkan Undang-Undang Minerba tersebut adalah politik bisnis gambling. Mengulur-ulur kepatuhan, kemudian berharap susunan Pemerintahan periode mendatang berganti, lalu ada kebijakan baru yang lebih longgar lagi, dan akhirnya terus melenggang kangkung membawa ke luar hasil bumi Indonesia dengan harga yang relatif rendah. Sedih tau gak sih, membayangkan hal-hal yang seperti ini. Berasa harga diri Bangsa tidak dihargai. Semoga hanya perasaan saya saja. Apapun itu, mari kita terus turut bersuara menjaga harkat dan martabat Negara ini. Menjaga kekayaan alam Indonesia tercinta ini untuk dinikmati maksimal oleh kita-kita rakyatnya.

“Jangan menangis, Bumi Pertiwiku. Biarlah hati kami yang menangis untukmu. Tertawalah, Bumi Pertiwiku. Jangan sampai ada pihak yang menertawaimu. Aku percaya, kita akan menang tanpa harus ada tumpahan darah dan air mata.”

…Hiduplah Indonesia Raya~~~~

MERDEKA!!!