Gagal Fokus

Tak ada keinginan melakukan sesuatu setiap ke Musholla–selain niat tarawih berjamaah–apalagi mencampuri urusan orang lain. Sayangnya, kemampuan saya untuk fokus hanya di tujuan utama tidak sebegitu optimal. Kenyataannya, saya masih sering teralihkan fokusnya dengan hal-hal lain. Susah memang jadi lelaki tampan menawan idaman istri begini.

Sederetan bocah kecil di barisan paling belakang ribut dalam bisik berbisik di antara mereka, lantaran salah satu dari mereka menumpahkan air gelasan di karpet Musholla. Awalnya hanya saling tatap-tatapan, lama-lama muncullah suara saling tuding saling tuduh setelah air itu mengenai kaki bapak-bapak di sebelahnya. Kejadian tersebut terjadi selama shalat isya berlangsung. Begitu salam, air sudah kering diserap karpet dan waktu. Bocah-bocah kecil tampak tenang setelahnya. Sempat fokus saya teralihkan atas kejadian itu.

Begitu mulai tarawih, saya pindah ke depan setelah satu dua orang keluar, tepatnya di barisan kedua. Lega bisa lebih dekat ke imam, dan jauh dari sederatan bocah-bocah kecil yang kerap becanda.  “Posisi aman nih,” pikir saya.

Awalnya saya tidak begitu peduli dengan laki-laki muda di sebelah. Habis salam, ya berdiri lagi, lanjut shalat lagi. Begitu di tengah-tengah, saya mulai gagal fokus karena melihat si laki-laki muda sebelah selalu meraih HP-nya setiap putaran tarawih selesai. Awalnya tampak di pelupuk mata saja, lama-lama saya menengok dan memerhatikan. Duh!

Saya jadi harus menenangkan diri dan mengingatkan untuk tak usah peduli. Toh, itu urusan orang lain. Bukan urusan saya. Setiap dua rakaat tarawih selesai, si laki-laki muda sebelah sempat-sempatnya membalas chat. Tidak hanya itu, dia juga bermain games. Selain saya yang duduk di sebelah kanannya, laki-laki dewasa di sebelah kirinya selang satu orang pun ikut melirik ke arahnya.

Untungnya, setelah saya mengingatkan diri sendiri, saya pun tidak fokus lagi dengan si laki-laki muda sebelah. Saya tidak peduli lagi dengan apapun yang dilakukannya, dengan urusannya yang tak perlu saya campuri itu. Soalnya tarawih sudah selesai, dan saya cabut. Dia cabut. Semua orang cabut.

Kalau sudah selesai, jangan lupa cabut.