Generasi Bangun Negeri

“Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, kecuali buah yang diangkut truk terjatuh karena sopirnya menyetir ngawur—itupun namanya sudah buah-buahan jualan.”

Melanjutkan tulisan saya beberapa waktu lalu mengenai anaknya Teddy Thohir yakni Garibaldi Thohir alias Boy Thohir yang merupakan kakak dari Erick Thohir, yang mana saat ini telah muncul generasi baru dari keluarga Thohir tersebut yang menjadi bahan pembicaraan banyak media. Dia adalah Gamma Abdurrahman Thohir, anak dari Boy Thohir, yang dengan hebatnya menciptakan gerakan perubahan di usia belianya melalui proyek pengadaan PLTA (pembangkit listrik tenaga air) mini menggunakan teknologi microhydro untuk daerah terpencil—Kasepuhan Ciptagelar, Sukabumi. Wow!

Kenapa daerah Kasepuhan yang dipilih? Tentunya karena daerah itu belum terjamah oleh aliran listrik memadai, yang kebetulan di daerah tersebut juga memiliki debit air sungai yang cukup untuk dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik yang diharapkan. Dari situ kelihatan, proyek PLTA mini tersebut tidak sekadar proyek asal jadi, melainkan terdapat misi kemanusiaan yang dibawa. Tidak menutup kemungkinan setelah proyek pertamanya berjalan—estimasi Juli 2016, akan ada proyek-proyek sejenis di tempat lain yang saat ini hanya bisa menikmati listrik lewat mimpi. Kita doakan saja.

Meski keberhasilannya tidak terlepas dari dukungan orang-orang sekitar, terutama keluarga (terutama lagi bapaknya, Boy Thohir), Gamma tidak mau menggantungkan kemajuan demi kemajuan dirinya hanya kepada orang tua. Dari beberapa pemberitaan yang saya ikuti dan baca, tampak jelas semangat besarnya untuk mandiri—baik dari tulisan-tulisan maupun dari foto saat ia presentasi di America Pacific Place pada 12 November lalu. Ya, memang subyektif, tapi keyakinan saya mengatakan demikian.

Demi suksesnya proyek tersebut,  Gamma dan tim melakukan penggalangan dana melalui online crodwfunding, meskipun ia tahu bahwa tantangannya akan sangat besar. Tapi apalah sebuah tantangan jika mimpi mulia yang diimbangi semangat besar menjadi sebuah dasar gerakan perubahan yang kuat. Inilah kenapa saya tidak meragukan kemandiriannya. Bisa saja dia palakin Boy Thohir, bapaknya, untuk meminta suntikan dana besar, tetapi ia tidak memilih cara manja seperti itu. Saya kagum dengan orang-orang kaya mental demikian.

Tidak hanya sumbangsih dana yang diperlukan, melainkan juga ide-ide lain yang dapat menyempurnakan proyek tersebut. Semakin banyak uluran tangan dan pikiran dan semangat dalam bentuk ide-ide pembaharuan, semakin jelas pengembangan proyek serupa di masa mendatang.

Memang, Gamma tidak bekerja sendiri dalam merumuskan proyek ini, ada Yayasan Adaro Bangun Negeri (YABN) yang tergerak untuk membantu dan mendampingi sepenuhnya, sebab YABN meyakini bahwa generasi muda adalah calon pemimpin masa depan. Terlebih lagi generasi muda yang dimaksud, punya ide cemerlang: memang layak mendapat dukungan.

Bicara tentang YABN, mereka bukan mendukung Gamma semata karena YABN dibentuk oleh Adaro yang tidak terlepas dari Boy Thohir, tetapi YABN memang memiliki prinsip: melaksanakan program-program pengembangan masyarakat secara berkelanjutan.

Memfokuskan programnya pada pengembangan pendidikan terutama bagi generasi muda, adalah salah satu misi penting YABN. Gamma adalah bukti nyata betapa YABN peduli akan pengembangan generasi muda.

YABN sudah banyak berkiprah dalam program pengembangan pendidikan masyakarakat, terutama masyarakat lingkar tambang—baik pengadaan beasiswa untuk siswa dan mahasiswa, maupun program pengembangan guru-guru pengajar. Bahkan YABN telah bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Lambung Mungkarat, Banjarmasin, dalam mensukseskan programnya di aspek pendidikan.

Target akhir dari YABN adalah menumbuhkan generasi muda lokal yang mampu berpikir kritis, terdidik memecahkan masalah, mampu berinovasi dan menjadi pribadi kreatif. Itu sangat penting dalam menghadapi persaingan global yang kian ketat. Oleh karena itulah, kenapa semenjak 2010 lalu YABN memperkuat program pendidikannya—berangkat dari ide dasar: ilmu pengetahuan itu menyenangkan. Science is fun, tagline yang seharusnya digaungkan di semua tempat pendidikan, biar kepala para pelajar tak mudah berasap.

Sebagai hasil nyata dari segala daya upaya yang dilakukan Adaro lewat YABN, lebih dari 800 siswa lokal turut berpartisipasi dalam Olimpiade Sains Kuark (OSK) yang rutin diadakan setiap tahun, semenjak tahun 2007. Ajang kompetisi berskala nasional ini sangat membangun antusias anak-anak sekolah dalam hal sains. Tahun 2015 ini, OSK diikuti oleh 92 ribu siswa dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Siswa lokal sekitar Adaro sendiri, ada yang mengikuti OSK sampai babak final—tepatnya tiga orang.

Dalam pengembangan pendidikan dan juga bagian dari persiapan OSK, YABN mengadakan forum yang melibatkan siswa, orang tua, guru, dan kepala sekolah—membahas proyek-proyek ilmu pengetahuan yang memanfaatkan sumber daya lokal. Berawal dari forum tersebut jualah, dua grup dari sekolah di Tanjung berhasil menemukan tenaga listrik dari pasir karet. Mereka turut berkompetisi di OSK Juni 2015 lalu.

Sekelompok guru yang dilatih YABN juga beberapa waktu lalu menghasilkan karya buku yang menjabarkan ide-ide bagaimana memaksimalkan konten lokal dalam mengajarkan sains kepada para murid. Bahkan buku tersebut telah direkomendasikan pemerintah setempat untuk juga digunakan sebagai bahan pembelajaran sains bagi guru dan siswa di Kalimantan. Mantap!

Ngomong-ngomong, kalau saya menulis serius begini, sudah mirip Boy Thohir belum ya? 😀